
Kilas balik,
Siang itu sesampainya di Busan...
Jam 01.30 siang, Rabu.
Setelah 5 jam perjalanan akhirnya Anastasia sampai dirumah nenek dan kakeknya. Dia sangat merindukan tempat itu, mereka turun dari mobil. Lalu mengetuk pintu rumah zaman dulu yang sudah di renovasi beberapa bagiannya. Tapi rumah itu sangat kokoh dan juga rapih, karena neneknya terkenal resik.
Wanita tua yang agak membungkuk datang membukakan pintu, betapa terkejutnya dia saat melihat keluarganya pulang.
"Yaampun anak-anak ku," nenek itu memeluk ibu Ana dan ayahnya. Dilihatnya seorang cucu kecilnya kini sudah beranjak dewasa.
"Bellaaa cucuku," Kata neneknya. Ana mendengus pelan.
Fyuhhh... Kenapa Bella? Apa nenek sudah pikun?
Anastasia membatin, Dia menggeleng lalu mendekat ke arah neneknya. Dia pun agak membungkuk untuk memeluk wanita yang beruban itu.
"Aku Anastasia nek," ucapnya dengan lembut. Ana tersenyum ke arah neneknya. Kedua orang tuanya berdiri disamping nenek Ana hanya bisa memperhatikan mereka dengan seksama, sebelum keduanya dipersilahkan untuk berisitirahat.
"Maafkan nenek ya Ana, nenek memang sudah sering lupa heheh." Neneknya tersenyum sambil menatap Anastasia agak lama.
Kemudian, seorang kakek tua yang sepertinya baru selesai berkebun datang masuk ke rumah.
"Ada siapa?" Tanyanya, lalu terhenti saat melihat anak mantunya sedang mengobrol dengan istrinya. Ayah dan Ibu Ana langsung memeluk kakek itu, begitupun Anastasia.
Yang mereka kunjungi adalah kakek nenek dari ibunya, sedangkan kakek nenek dari ayahnya sudah lama meninggal. Neneknya mempersilahkan Ana dan ibunya beristirahat dulu diruang tamu sambil dia membereskan kamar untuk mereka. Ibu Ana langsung duduk disana.
Sedangkan, kakek dan ayah Ana keluar menemui Johan ke kursi yang ada di teras rumah. Neneknya terlihat akan merapikah kamar kosong untuk Ana dan ibunya. Jadi Ana berinisiatif membantu neneknya dengan mengikutinya dari belakang.
"Aku akan membantu nenek," ucap wanita itu. Neneknya tersenyum ke arah Ana, nenek membukakan pintu kamar yang sepertinya milik adik terakhir ibunya yang baru dua tahun kemarin menikah.
Tapi, kamar itu sudah kosong sekarang. Jadi, Ana dan ibunya bisa menempati kamar itu untuk sementara. Lagipula. Ana tidak akan lama disana.
Ana melihat seisi kamar itu, barang-barang yang tertata rapih, kebanyakan isinya adalah barang bernuansa coklat muda. Nenek yang mengambil batang rotan untuk di pukulkan ke kasur menoleh ke arah Ana.
Dia tersenyum melihat cucunya yang sedang mengitari kamar itu, "Nenek dengar, kamu kuliah di Hankuk kan?" Tanya nenek sambil mengepakkan rotan ke kasur.
Ana mengangguk dan menyeringai ke arah neneknya, dia mendekat ke arah lukisan yang ada didekat jendela.
__ADS_1
"Kenapa baru sekarang kesini? Nenek sangat merindukanmu." Nenek sudah selesai membersihkan tempat tidurnya, lalu Ana segera membawa tasnya dan milik ibunya ke kasur.
Dia mulai mengeluarkan beberapa barang miliknya, seperti ponsel, alat pengisi daya dan juga earphone. Tidak lupa juga, buku gambar yang lain, Ana sangat suka menggambar, bakatnya dibidang itu tidak dapat dielakkan. Hanya saja, dia belum ada waktu untuk menekuni hobinya itu.
"Maaf nek, aku baru bisa kesini karena aku baru mendapatkan libur. Oh iya itu lukisan siapa nek?" Ana beralasan, lalu berjalan menunjuk lukisan tadi, neneknya menoleh kearah lukisan itu sambil tersenyum.
"Itu, bibi mu yang buat. Dia sangat berbakat." Sorot mata Neneknya terlihat bangga, andai saja ibunya melihat sama seperti nenek pada bibinya.
"Andai ibu seperti nenek," Ana menunduk, neneknya langsung menghampirinya lalu mengajaknya duduk di kasur.
Neneknya mendengus pelan lalu mengusap punggung Ana, neneknya menceritakan bahwa ibunya Ana selalu iri terhadap adik keduanya, Ibu Ana tidak punya bakat yang luar biasa seperti adiknya, sehingga dia merasa cemburu karena sering kali perhatian orang tuanya hanya terfokus pada adiknya.
Mungkin, itu juga penyebab dia bertindak seperti itu pada Ana, luka masa kecilnya yang dia bawa dalam pengasuhan.
Setelah mengobrol lama dengan neneknya, Ana berisitirahat di kamar.
Ana merasa gelisah, rasanya tidak tenang saja berada jauh dari pria itu. Bukan karena dia tidak percaya padanya. Tapi karena dia sangat merindukannya.
Ana berjalan keluar, mencari udara segar. Dia turun ke tangga lalu keluar ke arah perkebunan neneknya. Disana terlihat ada ayah dan Johan yang sedang berbincang.
Ana pun menyapa mereka sambil tersenyum tipis, "Halo" kata Ana.
"Kau mau kemana?" Tanya ayahnya, Anastasia menoleh lalu tersenyum. Dia menunjuk ke arah perkebunan disana. Terlihat kakeknya ternyata sudah ada dikebun lagi.
"Kakeeek," Ana melambaikan tangannya sambil tertawa kecil, dia menggemaskan sekali. Kakeknya melihat cucunya datang, dia langsung melepas topinya dan memberikan itu pada Ana.
"Pakailah, panas!" Kata kakeknya, tapi Ana dengan sopan menolak. Dia juga tidak perlu khawatir dengan panas karena dia sudah memakai sunscreen.
*
*
DI AMERIKA...
06.30 Pagi, Hari Rabu.
Terlihat Bumi dan Bella masih sedang menyantap sarapannya sedikit lagi, ekspresi bahagia Bumi tidak bisa disembunyikan. Dia sangat bahagia mendengar calon anaknya adalah perempuan.
Setelah selesai, Bumi membawa piring-piring itu ke wastafel. Dia mulai mencucinya. Bella diam-diam mengambil foto Bumi yang sedang mencuci piring.
__ADS_1
Dia kemudian tertawa melihat hasilnya, kemudian Bumi baru ingat kalau dia belum mengabari Ana. Dia harus segera membeli ponsel agar bisa selalu mengabari kekasihnya, Ana.
"Aku mau keluar hari ini," Kata Bumi sambil menggosok-gosok piring dengan sapu tangan cuci.
"Kemana? Aku ikut," Bella berbicara dengan nada manja. Bumi masih terfokus pada piring didepannya. Dia tidak menoleh pada Bella kali ini.
"Aku harus membeli ponsel baru." Bumi mendengus pelan, dia membilas piring yang tadi dia cuci lalu menaruh ya di rak bawah.
"Mari kita belanja perlengkapan bayi, aku tidak bisa belanja sendiri. Kau tahu itu kan?" Bella merengek, dia berjalan dan mendekat ke arah Bumi.
Wanita itu dengan cepat memeluk Bumi dari belakang, tindakannya membuat Bumi tidak nyaman sehingga dia langsung menjauhkan diri dari Bella. Bella pun agak terdorong ke belakang.
"Aw!" Katanya sambil mundur selangkah.
Bumi dengan panik menghampiri Bella, dia memeriksa kondisinya. Dia jadi merasa bersalah karena refleknya hampir menyakiti wanita itu.
"Maafkan aku, kau baik-baik saja?" Tanya Bumi dengan wajah cemas, Bella melihat ke arah Bumi, dia tidak melewatkan kesempatan. Saat Bumi dekat dengannya dia segera memeluk pria itu lagi.
"Kau mau kan mengantarku berbelanja perlengkapan bayi kita?" Dengan mata puppy Bella memohon pada Bumi.
Ck.. Bagaimana caraku menolak.
Bumi membatin, lagi-lagi dia tidak bisa menolak rengekan wanita itu. Akhirnya dia menyetujui permintaan Bella. Tapi sebelum itu, Bumi akan mandi dahulu dan membersihkan tubuhnya.
Bumi berjalan ke arah kamar mandi setelah mengambil handuk yang dia bawa, sedangkan Bella masih didapur duduk di kursi meja makan. Dia melihat laptop Bumi tergeletak disana.
Disaat Bumi mandi, Bella mencoba membuka laptop yang ada dimeja itu. Sayangnya, laptopnya terkunci, dia mencoba beberapa kali angka yang dia tahu. Seperti tanggal lahir Bumi, tapi ternyata salah.
Dia mencoba lagi, dengan tanggal lahir dirinya sendiri, tentu saja bukan. Dia tidak menyerah sampai disitu. Dia mencoba lagi dengan tanggal jadian mereka, nyatanya gagal.
Bella mendengus kencang, dia sudah berniat menutup laptopnya lagi. Tapi seketika seperti ada bisikan dari dalam pikirannya. Bella mencoba dengan menggunakan tanggal lahir Anastasia.
Dan... Berhasil.
...****************...
...****************...
CATATAN :
__ADS_1
Agar tidak membingungkan, perbedaan waktu Ana dan Bumi adalah - 10 jam.
Contoh : Di Amerika jam 07.00 pagi hari Rabu, di Busan jam 05.00 sore hari yang sama.