MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 40 : Kejutan yang gagal


__ADS_3

Ana segera berlari keluar kampus, dia harus mengejar waktu karena bus yang akan dia tuju sebentar lagi lewat. Nafasnya tidak beraturan, selang beberapa menit Bus itu tiba, dia langsung naik dan duduk di dalam bus.


"Syukurlah aku dapat bus ini" katanya sambil terengah


Johan yang melihat Ana keluar kampus terkejut dan langsung menelepon Bumi, sedangkan dia sudah mempersiapkan truk makanan dan juga makanan ringan berisi kue-kue untuk di kantin, yang dikirim oleh Bumi sebagai kejutan untuk Anastasia.


"Halo bos"


"Ada apa?"


"Nona Ana pergi dari kampus"


"Apa maksudmu? Kemana dia?" Bumi membelalak


"Saya tidak tahu pak, saya sedang tidak bisa mengikutinya sekarang, karena truk makanan pesanan kita sudah sampai di kampus jadi harus segera diurus"


"ck yasudah biar aku yang bertanya padanya"


Bumi mematikan panggilannya, dia yang sedang menandatangani dokumen langsung berjalan ke arah dinding kaca di ruangannya. Dia mencoba menelepon Anastasia dan menunggu jawabannya.


"halo..." Kata Ana


"Kau dimana? Johan bilang kau pergi dari kampus" Bumi mengernyitkan dahinya, dia mulai posesi**f ¹.


"ck, kau membuntuti ku huh? " Ana mendengus lalu menaiki suara nya satu oktaf


"Kau dimana itu yang terpenting, jangan berpergian sendiri, bagaimana jika ada yang berniat menjahati mu lagi? Ingat kau itu sekarang Kekasih Avaneesh Bumi, salah satu orang terpenting di negeri ini"


Bumi langsung keluar meraih kunci mobil, dia berjalan sambil berbicara di telepon dengan Ana. Dongmin melihat Bumi yang tergesa-gesa keluar dari ruangannya.


"Kau berlebihaaaan... kau mengkhawatirkan ku ya? Ya ya ya , aku tidak apa-apa aku bisa pergi sendiri" Ana mwmbuat Bumi makin geregetan


Bumi berjalan sambil mengomel di telepon, dia berpapasan dengan sekretarisnya ,


"Jangan lupa telepon Jung Corp untuk datang ke sini" Bumi menutup ponselnya dengan tangan dan berbicara pada sekretarisnya


Wanita itu mengangguk mengerti, Bumi kembali berjalan dengan cepat , para ajudannya membukakan pintu untuknya.


"Apa kau perlu supir pak?"


"tidak-tidak perlu, aku akan pergi sendiri"


Bumi masuk kedalam mobilnya lalu melanjutkan obrolannya dengan Ana.


"turun lah dari bus itu"


"Aku ada urusan!!" Ana masih bersikeras


"Turun dari bus itu!" mereka sama keras kepalanya.


Bumi membawa mobil dengan kecepatan tinggi


"Halo apa kau wanita ini? Kekasih Avaneesh Bumi ? Boleh kah kami meminta foto" seorang wanita menunjukan foto Ana di ponselnya


Ana terkejut melihat beberapa orang mendekatinya, dia agak canggung karena mereka hampir mengerumuni nya. Bumi bisa mendengar suara orang itu lewat panggilan teleponnya dengan Ana.


Bumi semakin mempercepat laju mobilnya, sedangkan Ana berfoto dengan orang-orang di Bus itu.


"terimakasih"


Ana mengangguk lalu kembali menaruh ponselnya di telinga, menyambung obrolannya dengan Bumi.


"Halo.."

__ADS_1


"Benar kan yang kukatakan" Bumi mulai mengomel lagi


"Kau di bus yang mana?"


"Seoul menuju Paju"


"Baiklah"


Bumi melihat bus itu didepannya dia segera mempercepat lajunya lagi.


"Aku dibelakang" Ana menoleh lalu melihat Mobil itu menyalip dan berhenti di depan Bus saat bus itu memperlambat kecepatannya.


"Aish bahaya sekali, dasar...!!"


Semua orang melihat Bumi yang keluar turun dari mobilnya,


"Ini terlihat seperti di drama-drama" semua orang berbisik


Bumi masuk kedalam Bus mencari Ana. Dia melihat wanita itu menutup wajahnya dengan buku karena malu.


"Maafkan aku semuanya, aku sedang mencari seseorang" Bumi mendekat


"Dia kan?" Seorang ibu paruh baya membuka buku yang menutupi Ana


Pipinya semerah tomat sekarang, beberapa orang memotret mereka, Bumi menggandeng tangan Ana lalu membawanya keluar dari Bus.


"Terimakasih pak" Bumi memberi salam pada Supir Bus


"Sudah tampan, bertatakrama pula uuuh aku mau yang seperti itu" gadis berseragam SMP menggerakan badannya


"Tugasmu belajar saja! kau masih kecil" Kata Ibu disampingnya.


Ana dan Bumi berjalan lalu masuk ke mobil yang Bumi kendarai, Ana menoleh ke arah Bumi, dia sedang memakai sabuk pengamannya dengan serius.


"Yak kau mau apa???" Kata Ana


Bumi menarik sabuk pengaman Ana lalu memasangnya. Pria itu menatap wajah Ana dengan hanya berjarak beberapa inchi saja.


Ana berkedip pelan, Bumi melihat mata Ana lalu turun ke bibirnya, bibir pink yang berukuran tebal itu menarik perhatiannya. Dia kembali ke posisi mengemudi bertingkah bodoh dan mencoba mengontrol dirinya, dia menyalakan mesin lalu segera melaju.


Sedangkan Ana memalingkan wajahnya dan berusaha mengatur nafasnya dengan baik.


huuf haa huuf haa


Bumi menyeringai mendengarnya,


"Bisakah kau tidak melakukan hal-hal di luar dugaan?" Ana masih menatap jendela


"Aku hanya memasangkan sabuk pengamanmu"


"Bilang saja padaku, 'Ana pakai sabuk pengamanmu' begitu " Kata Ana sambil menoleh ke arah pria itu


Bumi tertawa,


"Ya baiklah aku akan melakukannya lain kali" dia masih fokus ke jalanan.


"Mau apa ke Paju?" Bumi menoleh ke arah wanita itu


"Aku mau menemui Minhyun"


"Minhyun di Paju? Sedang apa?"


"Aku tidak tahu, sepertinya dia ada masalah, Dosen di kampus tiba-tiba saja mengumumkan kepindahan Minhyun ke Paris"

__ADS_1


Ana terlihat khawatir, setidaknya dia mungkin bisa mendengarkan keluh kesah sahabatnya itu.


"Tidak masuk akal, bagaimana bisa seperti itu? Ini pasti karena Rojun" Bumi mengerucutkan bibirnya


Ana terdiam, pandangannya menembus keluar jendela. Ditengah perjalanan Ana tertidur didalam mobil.


Bumi menoleh ke arah Ana,


"dia pikir aku siapa? Supir pribadinya? Ck " Dia lalu fokus lagi kejalanan.


setelah 1 jam lebih dengan kecepatan yang lumayan tinggi akhirnya mereka sampai.


"Ana, sudah sampai" Bumi membangunkan Ana pelan


Ana terbangun langsung mengucek matanya, dia melihat kesekeliling. Mereka ada di pemakaman umum yang hanya diisi beberapa makam saja.


(Apa Minhyun menunggu lama disini?) Batinnya


"Kau tunggu disini, aku akan menemui Minhyun"


"Kau kira aku supirmu huh?" Bumi terlihat kesal, tapi dia tetap mengikuti apa yang Ana katakan


Ana membuka pintu mobil, lalu berjalan ke depan, dia mencari Minhyun.


Tidak jauh dari situ Ana melihat Minhyun sedang duduk.


"Ana" Bumi mengejar Ana,


"Ya?" Ana menoleh ke belakang


"Bawakan ini" Bumi memberi Ana bunga yang cantik, itu untuk mendiang ibunya Minhyun


"Terimakasih" Ana mencium bunga itu menghirup wanginya


"Itu untuk mendiang ibunya, bukan untukmu. Lagipula ini anyelir putih ²" Bumi menyeringai lalu kembali ke dalam mobil


"ck aku juga tahu" Ana mendengus kesal.


Dia berjalan menghampiri Minhyun, Minhyun yang melihat Ana langsung berdiri dan tersenyum. Ana melihat hidung pria itu memerah, rupanya dia baru saja menangis.


Ana meletakan bunga tadi dia atas makam ibunya.


"Beristirahatlah dengan tenang"


"Terimakasih Ana, hari ini adalah peringatan kematian Ibuku yang ke 5 tahun, makanya aku disini" Minhyu menatap Ana dengan tatapan sedih


"Kau mau bicara?" Ana memastikan Minhyun siap menjelaskan kondisinya


"Ya, duduklah"


Ana duduk disamping Minhyun, pemakaman ini ada disekitar bukit jadi mereka bisa melihat matahari terbenam dari sana. Sedangkan Bumi sedang tiduran dikap mobil dengan mengenakan kaca mata hitamnya.



...****************...


...****************...


Kamus Author


Posessif : sifat merasa menjadi pemilik atau mempunyai sifat cemburu.


Anyelir putih : identik dengan simbol penghormatan kepada ibu yang sudah meninggal.

__ADS_1


__ADS_2