
Tepat di hadapan Bumi, Dongmin berdiri masih dengan tangan menggenggam kerah kemeja pria itu. Dia menatap Bumi tajam seolah ingin melahap sepupunya itu.
"Apa-apaan kau!" Bumi melotot ke arah Dongmin, dia mendelik ke arah pria itu.
Bumi menampik tangan Dongmin dengan kasar, "Lepaskan aku brengsek!"
Dongmin masih berdiam diri disana, dia mundur beberapa langkah. Nafasnya berderu dengan emosi, dia menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya.
"Kenapa kau buat pernyataan itu huh?" Dongmin mengerutkan dahi.
"A-aku tidak tahu, tadi keluar begitu saja. Kupikir itu akan menyelesaikan masalah!" Buminmenatap lurus laptop di depannya.
Keduanya berakhir dengan diam, tidak ada satu pun diantara mereka yang berbicara selama beberapa saat sampai Bumi akhirnya angkat bicara.
"Aku membawa Ana ke apartemen ku semalam," Bumi menyandarkan tubuhnya di kursi kerja nya yang empuk. Dongmin belum berkomentar apapun,, dia masih memperhatikan pria itu dengan sinis.
"Aku tidak melakukan apapun padanya, pagi tadi kami terlambat bangun, jadi Ana keluar dengan tergesa, ternyata banyak wartawan yang sudah menunggu ku diluar. "
"Agar wartawan itu berhenti mengejar Ana dan aku, Akhirnya aku dengan spontan membuat pernyataan palsu itu, kupikir akan lebih mudah memberi mereka pernyataan palsu itu ketimbang mengelak rumor yang ada, apalagi banyak foto dan audio rekaman yang beredar." Bumi membuang muka ke arah dinding kaca ruangannya.
Avaneesh Bumi juga tidak ingin hal ini terjadi, tapi semuanya sudah terlanjur. Dia juga tidak bisa menarik lagi perkataannya dan memutar waktu. Jadi untuk saat ini, dia dan Ana akan berpura-pura menjadi sepasang kekasih.
"Apa Ana setuju?" Hanya itu yang Dongmin pikirkan, tidak ada yang lain.
"Ya, dia setuju." kata Bumi sambil mendengus pelan.
Dongmin tidak berkomentar apapun lagi setelah itu, dia keluar dari ruangan dan berjalan kembali ke ruangannya. lalu duduk di kursi kerjanya sambil merenung, pria itu mencoba menelepon Ana tapi ponselnya masih tidak aktif. Dia menyandarkan diri sambil memejamkan matanya.
Kemudian, ponsel pria itupun berdering, tertera nama Minhyun di layar ponselnya , "Dongmin, ini Ana ada yang harus aku bicarakan padamu."
Dongmin diam untuk sesaat, "Aku akan ke apartemen mu sepulang kerja nanti" katanya.
"Okay," jawab Ana lalu memutus panggilannya.
Setelah panggilannya selesai, wanita itu kemudian menyerahkan ponsel itu kembali pada Minhyun, dia sekarang sedang berjalan beriringan dengan pemuda itu di taman sekitar kampus.
"Ada yang harus ku katakan padamu," dia menoleh ke arah pria itu.
__ADS_1
"Aku dan Bumi hanya bersandiwara., tidak ada hal lain lagi yang bisa kami lakukan saat terpojok oleh media tadi pagi." Ana menunduk, ini bukan sesuatu yang dia harapkan.
"Lalu, sampai kapan kalian akan bersandiwara?" Minhyun mengerutkan dahi, menunggu jawaban Ana.
"Kau juga tidak bisa bekerja di cafe, saat statusmu menjadi kekasihnya, semua orang akan mencari informasi tentangmu." Minhyun merasa khawatir padanya, dia sama kesalnya seperti Dongmin tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Apalagi, wanita itu terlihat tidak terlalu keberatan dengan pernyataan Bumi.
"Dia setuju untuk bertemu dengan mu?" Tanya Minhyun, yang dia maksud adalah Dongmin.
Ana mengangguk, "ya , dia akan menemuiku sepulang kerjanya nanti." mereka sudah berjalan sampai di halte bus, kemudian mereka pun duduk bersama.
"Aku merasa, seseorang sedang memerhatikan kita." Minhyun tanpa merubah posisi nya berbisik kepada Ana, dia sudah terbiasa dengan hal itu makanya dia sangat peka.
Mobil Rover hitam berhenti tepat didepan mereka, Pria berkaca mata itupun turun.
...(Anggap aja bukan di baseman ya guys wkwk)...
"Bumi?" Ana mengernyitkan dahi, pria itu menyeringai membalas sapaan wanita itu.
Ana merasa ragu-ragu untuk masuk kedalam mobil, dia pun menoleh ke arah Minhyun untuk memastikan itu adalah keputusan terbaik.
"Lebih baik kau ikut Bumi, daripada ada rumor aneh mengenai kebersamaan kita." Minhyun melihat Ana yang masih ragu, wanita itupun kini berdiri mengikuti saran sahabatnya.
"Silahkan, masuklah!" Ujar Bumi, diapun akhirnya dengan terpaksa masuk ke mobil pria itu.
"Minhyun kau mau ikut bersama kami?" ajak Bumi pada sepupunya.
"Tidak terimakasih, aku naik bus saja." Minhyun menggeleng lalu mempersilahkan mereka untuk pergi lebih dulu.
"Baiklah, sampai jumpa!" Bumi masuk ke dalam mobil, memasang sabuk pengaman kemudian menyalakan mesin mobil.
Kebanyakan orang yang melihat pria itupunmemuji ketampanannya.
"Woah itu Avaneesh Bumi kan? Dia terlihat lebih tampan jika dilihat langsung!" Seorang wanita menutup mulutnya sampai tidak berkedip melihat Bumi yang melintas di area kampus.
"Kenapa kau menjemputku?" Ana melirik Bumi, wanita itu merasa ada yang aneh dengan tingkah Bumi, kadang dia berpikir apakah dia sedang di jebak? Tapi itu tidak mungkin, untuk apa pria itu menjebaknya, sedangkan masih banyak wanita cantik dan dewasa yang menunggu nya.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku meminta salah seorang ajudan ku mengikuti dan mengawasimu." Pria itu menoleh sambil menyeringai.
"Ada paparazzi sedang membuntuti mu, mendengar hal itu kemudian aku segera datang kesini." Lanjut pria itu sambil menatap Ana , sudut kanan bibirnya terangkat.
"Wah kau sangat perhatian yah terhadapku sampai menyewa seseorang untuk mengawasiku." Ana menoleh ke arah pria itu agak sinis.
"Demi keselamatanmu," Bumi mengetukan jari jemarinya ke stir mobil. Siang itu mereka pulang bersama, pemuda itu menawarkan banyak hal kepada Ana tapi dia dengan tegas menolak,
"Apa kau dan kakak ku masih berhubungan? Kenapa tidak kau akui saja bahwa kau punya kekasih!" Ana memalingkan wajahnya kesal, dia mengeratkan tas selempangnya didepan dada.
"Kami sudah lama putus!" jawab pria itu singkat padat dan jelas.
"Putus?" Ekspresi Ana penuh rasa penasaran.
"Iya, bisakah tidak bahas itu? Kami sudah lama putus sejak kakakmu ke Amerika. Ngomong-ngomong sekarang jau tidak bisa bekerja di cafe KIK." Bumi sesekali melirik Ana, lalu terfokus lagi ke jalan raya.
"Fyuhhh..." Ana menunduk, rumit sekali hidupnya.
"Aku akan membiayai semua kebutuhanmu, kau tinggal katakan apapun yang kau butuhkan dan berapa." Bumi masih terfokus pada jalanan.
"Awalnya kupikir semua akan baik-baik saja jika ada bayaran atas hal ini, tapi justru, aku merasa perasaan ku lebih penting dari segalanya. Sebenarnya.... Aku menyukai Dongmin, aku tidak ingin menyakitinya dengan hal ini." Ana menatap Bumi agak lama, terlihat ekspresi sedih di wajah Ana.
"Kau yakin hubungan mu dengannya akan berhasil?" Bumi menaikan sudut alisnya.
"Tapi, itu kuserahkan padamu. Aku hanya butuh kau menandatangani perjanjian, Aku akan memenuhi semua kebutuhan mu dan aku tidak akan melarangmu berhubungan dengan Dongmin, asalkan tidak didepan layar. Di depan semua orang kau tetap kekasihku dan jika aku harus menghadiri acara penting kau wajib ikut denganku. Aku tidak menerima penolakan!" Bumi menatap Ana serius lalu membuka kunci mobilnya.
"Aku tidak akan mengantarmu sampai sana, aku harus kembali ke kantorku." Bumi menatap Ana dengan sinis. Wanita itupun langsung keluar dari mobil tanpa sepatah kata pun, pria itu melihat Ana masuk ke dalam lift.
Bumi langsung berkendara lagi, di tengah perjalanan dia menepikan mobilnya, dia menunduk dan menyandarkan kepalanya ke stir mobil.
"Dongmin? Apa ini drama Korea? Kenapa tidak memudahkan urusanku saja Anastasia." gumam pria itu.
...****************...
...****************...
...****************...
__ADS_1