
"Apakah penting?"
Bumi masih terlihat bingung.
"Katanya dia sudah membuat janji denganmu."
"Ah iya, aku baru ingat biarkan dia masuk." Bumi mengangguk, dia baru saja ingat mengenai wanita yang dia tabrak kemarin.
Perempuan itupun melenggang masuk, dengan gaya pakaiannya yang disengaja berlebihan membuat Bumi hampir kehilangan napas.
"Sebenarnya pak, dia adalah keponakanku." kata sekretaris Bumi yang berdiri di samping wanita itu.
"Keponkanmu?" Bumi mengerutkan dahi lalu menoleh ke arah Rose dan sekretarisnya.
"Rose adalah keponakanku dan dia yang ingin aku kenalkan padamu. Dia mempunyai latar belakang pendidikan yang bagus. Jadi, pastinya dia cocok untuk.menggantikanku sebagai sekretarismu."
Bumi mengangguk, kemudian menelaah wanita tadi. Sebenarnya dia ragu, apakah dia akan menerimanya atau tidak. Tapi, jika sekretarisnya yang sudah dia percayai selama ini yang merekomendasikannya, Bumi akan mengikuti sarannya.
"Baiklah, kalau begitu silahkan ajari dia segala tugasku. Aku akan memberinya masa percobaan selama 3 bulan. Jika tidak memenuhi standar ku, aku mungkin akan tetao menolak sekalipun itu rekomendasimu." Bumi meraih pulpen di mejanya, kemudian sibuk mendatangani beberapa berkas.
"Tentu pak. Saya akan sebaik mungkin mengajarinya agar dia bisa membantumu dengan baik."
Bumi pun mengangguk, kemudian fokus pada pekerjaannya lagi.
"Terimakasih," Rose memberi salam lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Setelah pekerjaannya selesai, dia mulai menghadiri pertemuan penting dengan para karyawan perusahaan yang sudah menyiapkan penyambutan kembali untuk Bumi.
"Selamat pak Bumi, selamat datang kembali."
Beberapa orang bertepuk tangan untuk pria itu, Bumi menyeringai lalu menyapa semua orang.
Disisi lain, Anastasia sedang berada di ruang praktik bersama Minhyun.
"Senang melihatmu kembali di kampus."
"Kau tahu, Dongmin sudah berangkat sejak pagi tadi ke Busan." lanjut Minhyun.
"Dia menitipkan ini padaku," Minhyun menyerahkan sepucuk surat beramplop.
Ana tertegun dan menatap Minhyun sebentar, dia membuka amplop itu secara perlahan.
Dilihatnya sebuah kalung yang dulu pernah dia tolak.
Dear Ana,
Aku tahu, aku sudah keterlaluan. Maafkan aku atas semuanya.
Aku harap kau makan dengan baik, hidup dengan baik dan menjalani harimu dengan bahagia.
Mungkin, kita akan bertemu lagi nanti. Entah kapan, namun yang harus kau tahu, aku adalah orang yang paling mengagumimu. Bahkan sejak pertama kali kita bertemu di halte bus dekat Bandara.
__ADS_1
Ana, aku akan berhenti disini, aku harus fokus pada pekerjaanku.
Jadi, hiduplah dengan baik bersama kakak sepupu, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.
Dan, hadiah ini... Aku tahu kau menolaknya, tapi aku harap kau mau menyimpannya sebagai kenangan terkahir kita sebagai sahabat.
Terimakasih.
Salam,
Dongmin.
Setiap untaian kata yang tertulis dengan sempurna oleh Dongmin membuat hatinya meringis. Bagaimanapun, Dongmin adalah sahabatnya. Ana sangat mengagumi pria itu juga sebagai sahabatnya, tapi jika memang hubungan keduanya bisa meperburuk keadaan Bumi dan Ana.
Dia tidak ada pilihan lain, Ana pun akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Dongmin disana.
Ana melipat kembali surat yang telah ia baca, matanya mulai berkaca-kaca. Sebuah sodoran sapu tangan di hadapannya membuatnya tertegun menatap pria itu, Minhyun juga sangat berarti baginya.
Semua sahabatnya yang kini perlahan menjauh sangat berarti bagi dirinya.
"Terimakasih Minhyun, mari kita selesaikan ini dan memajangnya di pameran minggu depan." Ana tersenyum kemudian menyeka air matanya dengan sapu tangan yang Minhyun berikan.
Pria itu mengangguk lalu membantu Ana menyelesaikan proyek patung yang tertinggal.
Jadwal pameran akan dilakukan minggu depan, hanya patung Ana yang belum sempurna, jadi mereka akan begadang untuk menyelesaikannya semalaman.
Tapi, banyaknya urusan membuat Ana sering kehilangan konsentrasi sehingga Minhyun beberapa kali menyuruhnya untuk istirahat.
"Sangat sulit melakukan tugas kuliah setelah menikah," Ana berjalan mengambil sebuah amplas kasar untuk menghaluskan beberapa bagian dari patung.
"Aku harus menjemput Beby di rumah sakit sebentar lagi."
"Um, Beby?" Minhyun mengerutkan dahi.
"Anak kami," Ana tersenyum dan membuat Minhyun mengangguk mengerti.
Kemudian, ponsel Ana mendapatkan panggilan dari sang suami.
"Halo, baiklah aku akan kesana sekarang."
Ana kembali memasukan ponselnya setelah menjawab panggilan Bumi.
"Minhyun, terimakasih sudah membantuku. Sekarang sudah jam istirahat jadi, kau bisa makan siang dulu. Aku akan kembali setelah menjemput Beby dan mengantarkannya ke rumah kami. Oh iya, jangan lupa juga untuk datang malam nanti ke acara."
Ana menyeringai kemudian melambaikan tangan pada Minhyun, seraya kakinya berjalan keluar dari ruang praktik.
Sedangkan, Minhyun berjalan keluar dan menemui Jadu di cafeteria.
Sesampainya di dekat parkiran, Anastasia berlari kecil menemui suaminya yang sedang menunggunya di kursi taman.
__ADS_1
"Jangan berlari dengan sepatu seperti itu!" Bumi memerhatikan sang istri yang menemuinya dengan sumringah.
"Aku tidak ingin melihat satu luka pun di tubuh istriku tersayang," Dia mengeratkan pelukannya pada Ana.
"Kau selalu bisa menggodaku!" Ana tersenyum dibalik dada bidang Bumi.
"Kau mau beli sesuatu dulu? Atau langsung ke rumah sakit?"
"Mari kita langsung kerumah sakit," Ana melepaskan pelukannya dan beralih merangkul lengan Bumi.
"Baiklah, ayo." Bumi menyeringai dan mereka berjalan beriringan sampai masuk ke mobil.
"Biar aku yang pasangkan sabuk pengamannya." Bumi mencondongkan tubuh dan menarik sabuk pengaman pada Ana.
"Kenapa semakin hari kau bertambah sangat manis seperti ini," Ana mneyeringai dia merasa di ratukan oleh suaminya yang penyayang itu.
"Karena kau memang pantas mendapatkan yang terbaik dariku," Bumi mengelus lembut pucuk rambut sang istri.
Mereka berdua segera berkendara menuju rumah sakit, disana Beby sudah menunggu kedua orang tuanya untuk datang bersama pengasuhnya.
Bayi mungil cantik itu, sudah menunjukan kemiripannya dengan mendiang ibunya, Bella. Namun, itu tidak akan menjadi masalah. Karena dia terlihat memiliki hidung seperti Ana juga.
"Selamat siang," Ana menyapa menyambut bayinya dengan gembira.
"Ah anak ibu terlihat sangat cantik dengan baju ini."
"Sayang, lihatlah. Manis sekali anak kita," Ana menoleh ke arah Bumi sembari memajukan mukutnya gemas.
"Dia cantik sepertimu," dunia bagaikan milik mereka berdua bahkan sang pengasuh terlihat senyum-senyum melihat keharmonisan keduanya.
"Mari pulang bersama ibu dan appamu."
"Kau yakin ingin dia memanggilmu itu?" Bumi menyilangkan lengannya di dada.
Ana menoleh ke arahnya dan menatapnya agak lama, "hmm, lalu kau ada ide lain?"
"Tidak ada," jawab Bumi sembari tertawa kecil.
"Aish, ibu juga sudah bagus." jawab Ana sembari menggendong bayi kecil itu.
"Ayo Nanny Eun," ajak Ana pada pengasuh bayinya.
"Baik Nona," dia pun mengikuti Bumi dari belakang.
"Apakah tidak apa-apa kau yang menggendong?" Nanny Eun menatap Ana yang ada di depannya.
"Benar kata Nanny Eun, lebih baik Beby dibawa olehnya di mobil yang lain. Kau tahu, para wartawan akan menghadang kita saat kau membawa bayi itu. Bukankah kau tidak mau jika wajah Beby terekspose untuk saat ini?" Bumi mengehentikan langkahnya dan istrinya.
Ana pun mengangguk pelan, "kau benar, baiklah ini." Ana menyerahkan Beby ke pengasuhnya.
"Sampai bertemu di rumah," Ana melambai pada bayi itu.
__ADS_1
"Johan, tolong jaga Beby dan Nanny Eun! Aku dan istriku akan lewat pintu utama." Seru Bumi pada ajudannya.
"Baik Tuan." Jawab Johan singkat padat dan jelas.