MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 24 : Foto di lorong


__ADS_3

...APARTEMEN BUMI...



Sesampainya di kawasan elit itu, Ana dan Bumi keluar dari mobil. Mereka kini sedang ada di baseman dan berjalan menuju lift yang ada disana. Ana menghela nafas panjang, dia merasa kesal karena adanya pemadaman listrik secara tiba-tiba itu.


Tapi, dia tidak kepikiran bahwa setiap apartemen punya alat pembangkit listrik sendiri, jadi kemungkinan besar apartemennya menggunakan itu sekarang.


Mereka berdua berdiam diri tanpa sepatah katapun, Bumi menekan tombol nomor 13.


"Huft kenapa harus ada pemadaman listrik sih!" Dengus Ana kesal.


"Kau tidak mendengar? Karena intensitas hujan yang deras pemadaman harus dilakukan," kata Bumi sambil menyeringai.


Pintu Lift pun terbuka, Bumi berjalan mendahului Ana. Diikuti oleh wanita itu dibelakangnya. Setelah sampai di depan pintu apartemennya, pria itu membukakan pintu dengan sidik jarinya.


"Silahkan masuk," ucapnya sambil menoleh kepada Ana, dia membiarkan gadis itu masuk lebih dulu.


Bumi meminta Ana untuk duduk selagi dia mengambil minuman di dapur, wanita itu memerhatikan design ruangan yang bernuansa nude itu. Dia sangat menyukai suasanya yang tenang dan damai.


Tentu saja damai, apartemen ini terkenal elit bahkan di jamin keamanannya. Ana menyandarkan tubuhnya ke bahu sofa, dia menunggu Bumi disana.


Tak lama, pria dengan piyama lnya itu pun datang membuka dua kaleng soda beralkohol juga beberapa cemilan.


"Silahkan," kata pria itu sambil menaruh nya di atas meja.


Ana tertegun menatap banyaknya camilan itu, "kenapa? Kau tidak minum alkohol?" Bumi melihat wajah wanita itu yang kini berekspresi datar.


"Aku minum kok," katanya sambil meraih satu kaleng minuman. Bumi hanya tertawa kecil melihat tingkahnya.


Setelah ini mereka memutuskan untuk menonton film bersama, karena di luar masih hujanderas dan gemuruh kencang memekakan telinga. Jadi, Ana belum bisa pulang.


Bumi memutar Film Parasite, Ana pun bersiap menonton film itu, dia menaruh bantal di pangkuannya lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. Dia fokus menonton film yang baru saja dimulai.


Hanya selang 10 menit, Ana menoleh ke arah Bumi, ternyata dia sudah tertidur pulas. Ana menggeleng, dia pun meraih remot yang di letakan di atas meja lalu mematikan tvnya.


Wanita itu kini melihat Jam di ponselnya yang hampir mati, waktu menunjukan jam setengah dua belas malam. Ana mangambil minuman yang ada di genggaman Bumi lalu menaruhnya dimeja. Dia khawatir benda itu akan terjatuh dan mengotori karpet.


Kemudian, Ana pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil, dua berjalan melewati lorong yang sebelumnya Bumi kewati. Mungkin kamar mandinya ada di sana, pikir wanita itu.


Saat berjalan melewati lorong itu, terdapat meja yang di isi oleh beberapa bingkai foto. Di antaranya foto keluarganya dan juga foto seseorang yang tersembunyi dibalik foto utama itu.


Ana meraih foto itu, betapa terkejutnya dia saat mengetahui bahwa yang ada di foto itu adalah Bella, kakaknya. Ana menaruh foto itu lagi ke tempat semula.

__ADS_1


Jadi kekasih yang dia bilang itu Bella?


Batin Ana berbicara, kemudian dia memutuskan untuk tak menghirukan itu. Dia terus mencari kamar mandi sampai akhirnya dia menemukan toilet itu ada tak jauh dari dapur.


*


*


Jam 1 malam Bumi pun terbangun, dia menoleh ke arah Ana yang sedang terlelap dengan posisi duduk. "Ah aku ketiduran" pria itu menguap sambil mengucek mata nya.


Kemudian, dia ke kamar lalu mengambil selimut dan bantal ke ruang TV, Bumi menurunkan kepala Ana perlahan sampai dia ke posisi berbaring. Tidak lupa untuk meletakan bantal sebelumnya, setelahnya pria itu mengangkat kaki gadis itu secara hati-hati dan menyelimutinya dengan kain yanh cukup tebal.


Malam itu Bumi tidur di kamarnya.


JAM 08.15 pagi


Ana mengucek matanya, lalu melihat selimut sudah melingkar ditubuhnya, wanita itupun menoleh ke kanan kiri dan masih setengah sadar.


Dia pergi ke dapur untuk meminum segelas air putih, setelah itu Ana kembali berjalan ke ruang TV,, Bumi yang tiba-tiba muncul dari Kamar mandi mengejutkan Ana.


"Kyaaaa!!" kejutnya sembil membulatkan mata yang tafinya terasa sepat.


"Kau baru bangun?" tanya Bumi sambil dengan santai berjalan ke sofa.


"Jam berapa sekarang?" tanya Ana pada Bumi yang melewatinya.


"Siri, jam berapa sekarang?" Bumi bertanya kembali pada robot pintarnya.


"Waktu menunjukan jam 8 lewat 15 menit," jawab robot pintar itu.


"Jam delapan lewaaaaattt?" Ana membelalak, tanpa basa-basi dia pun langsung berdiri dan meriah tas dan ponselnya, dia bahkan lupa meminum air yang dia ambil tadi.


"Aku ada kuliah hari ini, aduh!" Ana sedang kelimpungan, dia akan segera keluar dari apartemen Bumi.


"Terimakasih atas semuanya pak, aku pulang dulu!" Ana berlari tanpa persetujuam Bumi, dia keluar dengan tergesa-gesa.


"Anaa, tunggu dulu!" Bumi terlambat memperingati Ana, dia tahu sudah pasti banyak wartawan di bawah yang sedang menunggunya, apalagi rumor kencan mereka masih beredar.


Jika Ana kedapati oleh para wartawan bagaimana situasi yang akan terjadi kedepannya?


Bumi masih menyempatkan diri untuk membasuh wajahnya dan sikat gigi dengan cepat, kemudian dia turun menyusul Anastasia dan meraih kunci mobilnya. Pintu lift pun terbuka, Bumi menyusul Ana yang entah dimana, sesampainya di lobi pria itu melihat para wartawan sudah mengerumuni Ana,


Bumi dengan sigap berjalan ke arah wanita itu dan secara spontan menggenggam pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Apa ini bukti bahwa kalian benar berkencan?"


Bumi membawa Ana pergi melewati mereka, tapi para wartawan itu terus mendesak keduanya sehingga membuat pria itu geram


"Tolong beri jawaban!" seru salah seorang dari mereka.


"Apa rumor itu benar?" lanjutnya.


Bumi berhenti melangkah, Ana menatap prai itu heran.


"Semuanya, Aku dan Anastasia memang berkencan, kurasa itu sudah cukup bagi kalian. Jadi tolong, izinkan kami lewat sekarang!" Bumi membawa Ana keluar gedung menuju pintu belakang. Entah apa yang di pikirannya sampai harus mencari jalan memutar.


"Sudah berapa lama kalian berkencan?" seakan para wartawan itu tidak cukup diberi satu jawaban.


"Apakah rumor dokter kandungan itu juga benar???" mereka mencecar Bumi dan Ana dengan berbagai pertanyaan.


Bumi membawa Ana masuk kedalam lift untuk ke basemen,


"Apa-apaan itu?" Ana melepaskan genggaman Bumi, dia menatap pria itu tajam.


"Apanya? Memangnya kau mau di ganggu oleh mereka terus menerus?" Bumi mengernyitkan dahinya.


"Kau memperumit semuanya! Bagaimana jika mereka tahu kau berkencan dengan adik mantanmu sendiri!" Ana mendelik ke arah Bumi.


"Adik mantan? Maksudmu?" Bumi tidak mengerti.


Ting


Pintu lift pun terbuka, mereka berjalan keluar, Ana dengan kesal mendahului Bumi.


"Ya, Bella adalah kakakku! Bella Jung, Anastasia Jung!" Jelas Ana lugas.


"Mana aku tahu nama lengkapmu!" Bumi mendebat.


"ck" Ana benar-benar geram sekarang, Ana mendahului Bumi, dia tidak mau di antar oleh pria itu.


Bumi pun menahan pergelangan Anastasia, "Izinkan aku mengantarmu, bukankah kau bilang sudah terlambat? Aku akan memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah ini. Kumohon!" Bumi menatap Ana dengan memohon. Wanita itu pun menyerah, dia akhirnya ikut dengan Bumi.


Bumi pun mengantar Ana pulang ke apartemen untuk berganti pakaian, di lanjut ke kampus Hankuk setelahnya.


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2