MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 91 : Pendarahan


__ADS_3

...AMERIKA...


Matahari pagi menyambut Bella dengan sinarnya. Tapi tubuhnya tidak bisa berkompromi. Semakin tua usia kandungannya semakin banyak kesulitan yang dia rasakan.


Wanita itu bernafas dengan terengah, sambil mencoba bangun dari tidurnya. Bumi sudah menyewakan asisten rumah tangga untuk mengurus segala kebersihan rumah, makanan dan lainnya.


Seharusnya, dia sudah mulai terasa ringan karena tugasnya saat ini hanyalah beristiarahat saja. Tapi, dia sering kali merasakan kontraksi palsu pada perutnya.


Dokter bilang jika dibiarkan terus menerus itu berbahaya. Maka dari itu, dia diminta untuk bed rest total. Seseorang masuk ke kamarnya dengan segelas air putih dan juga sandwich. "Silahkan, dinikmati."


"Terimakasih," sahut wanita yang masih duduk di tempat tidurnya.


Tidak lama setelah itu, dia merasa ada yang aneh. Seperti ada sesuatu mengalir di area privat nya. Wanita itu mengibaskan selimut tebal berwarna putih.


Merah darah terlihat mengalir ke sprei yang dia duduki, matanya membelalak dan mulutnya terbuka lebar. Wanita itu memanggil orang tadi.


"Tolong!"


Setelah tahu apa yang terjadi. Bella langsung di larikan ke rumah sakit terdekat. Pendarahan yang dia alami akan berakibat fatal jika tidak segera di tangani. Asisten rumah tangga yang di bayar oleh Bumi pun mengabari Bumi soal hal ini.


Sama seperti waktu pertama kali, pria itu panik dan memutuskan untuk segera ke Amerika menemui Bella di rumah sakit.


*


*


Selang infusan menyambung ke tangannya. Badannya terkulai lemas di atas ranjang tempat tidur. Keesokan harinya dia baru bisa melihat Bumi.


Sesampainya di LAX , Bumi langsung bergegas ke rumah sakit. Dia mengemudi mobil Rover yang disewanya disana. Pria itu merasa khawatir karena dokter bilang pendarahan ini lebih banyak dibanding yang sebelumnya.


Tut tut tut


Suara mesin di rumah sakit menggema di ruangan, bahkan tetesan air infusan yang berjatuhan pun bisa jelas terdengar oleh telinga. Bella memejamkan matanya, wajahnya pucat pasi dan badannya semakin mengurus. Bumi melangkahkan kakinya ke ruangan itu.

__ADS_1


Melihat kondisi wanita yang sedang mengandung anaknya seperti itu, dia banjir dengan tangisan. Pria itu mendekat ke arah Bella.



"Apa yang telah kulakukan padamu?" Pria itu mengelus rambut Bella.


"Maafkan aku, atas keegoisanku." ucapnya penuh sesal. Bella yang mendengar suara samar itu langsung bangun dan menoleh ke arah Bumi.


"Kau disini?" dia menyeringai bahagia sambil mengelus lembut pipi pria itu.


"Aku akan selalu ada disini, menemanimu." Jawab pria itu dengan sungguh-sungguh.


"Sekarang yang terpenting adalah keselamatanmu dan bayi kita." ujar Bumi, dia merasa bersalah karena selama kehamilan wanita itu dia jarang memberinya perhatian.


Hanya karena kekecewaannya pada Bella, bukan berarti dia harus mengabaikan anak yang dikandung wanita itu. Yang dia kira adalah anaknya.


...KILAS BALIK 2 HARI LALU...


Seorang pria melenggang masuk ke apartemennya, tanpa permisi. Kebetulan asisten rumah tangganya sedang berbelanja ke supermarket. Pria itu adalah mantan kekasih Bella alias ayah biologis anak yang dia kandung.


Bella yang baru keluar dari kamar terkejut melihat pria itu sudah duduk menyilangkan kaki di ruang tamu.


"Babe!" Panggil pria itu.


"Mau apa kau kesini?" Bella mendelik tajam, dia tidak sudi melihat pria itu disini.


"Tentu saja untuk melihatmu dan anak kita!" Pria itu menyeringai dan mendekat ke arah Bella.


"Jangan pernah menyebutnya anakmu keparat!" teriak Bella dari kejauhan 2 meter.


"Emmm.... Kenapa? 6 bulan lalu kau memintaku untuk bertanggung jawab? Lalu kenapa sekarang kau tidak suka?" Pria itu mendekat dan mengelus pipi Bella.


Dengan sigap wanita itu menampar pria di hadapannya.

__ADS_1


Plakk


"Brengsek! Anak ini tidak butuh dirimu! Dia sudah memiliki calon ayah yang luar biasa." Bella tertawa kecil, dia tetap menahan sesak di dadanya.


"Siapa? Mantanmu itu? Emm... Bagaimana jika dia tahu kebenaran soal anak ini? Bukankah kau akan tercampakan? Hahaha!" Pria itu mulai mengancam Bella.


"Aku akan membunuhmu!" Bella menunjuk pria itu.


"Berikan aku uang 3 juta dollar, lalu aku akan memberikan anak itu pada kalian!" Pria tadi tertawa.


"Kau gila? Aku tidak akan pernah memberikanmu apapun! Sekarang pergi atau aku panggilkan polisi!" Bella mendorong pria itu keluar dari apartemennya.


"Aku tunggu uang itu sampai 7 hari kedepan, bukankah kau tinggal minta saja pada kekasihmu itu?" Pria tadi berlalu sambil menyeringai.


Bella benar-benar menyesali perbuatannya, dia cukup kacau untuk berada disana sendirian.


...KILAS BALIK SELESAI...


Sejak saat itu, pikirannya jadi terganggu. Dia merasa stress berat, alhasil inilah yang terjadi sekarang. Dia mengalami pendarahan dan dilarikan ke rumah sakit lagi.


Bella menatap Bumi yang masih di hadapannya, "Bawa aku pulang ke Korea, Bum" ucap wanita itu yang membuatnya membelalak.


"Apa kau masih ingin menikahiku? Maafkan aku, karena menolak tawaranmu waktu itu, tapi sekarang yang aku ingin hanyalah dirimu dan kebahagiaan anak kita." Katanya lirih.


Bumi membulatkan matanya, dia tidak tahu harus menjawab apa, tapi jika memikirkan kondisi Bella sekarang akan sangat mudah jika wanita itu di Korea dan tinggal di rumahnya.


Ibu dan keluarganya pasti akan menjaga wanita itu, tapi bagaimana dengan Anastasia?


"Bum, mari kita perbaiki hubungan kita!" laniut wanita itu.


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2