
Satu minggu kemudian...
Semua tamu undangan sudah berkumpul...
"Aku bersumpah menjadikan Anastasia Jung sebagai istriku. Kita harus berjalan di jalur yang sama, yang banyak orang lalui sebelum kita. Saat hujan, angin berhembus, dan kita mungkin terjatuh. Tapi seiring berjalannya waktu, kita akan bangkit kembali sembari berpegangan tangan. Kita tersenyum ceria satu sama lain dan berkata, 'Ini bukan masalah besar."
Bumi menyematkan cincin pernikahannya,
"Apa kau bersedia hidup bersamaku?" Dia menatap Ana penuh kehangatan.
"Aku bersedia," jawab wanita itu dengan gembira.
Bumi mendaratkan kecupan di bibir wanita itu dihadapan semua orang yang hadir, mereka ikut berbahagia dengan menepuk tangan dan menyelamati kedua pasangan. Di sisi lain, Dongmin hanya tersenyum getir. Ada rasa sesak di dadanya.
"Silahkan diminum" kata seorang wanita pada Dongmin. Pria itu menoleh pada wanita tadi.
"Daisy? Bukankah kau pelayan dirumah kakekku?" Tanya Dongmin dengan raut wajah penasaran.
"Aku hanya sementara disana, pekerjaan ini pun hanya sampingan hehe. Kalau begitu aku permisi, silahkan dinikmati." Wanita itu melenggang pergi
Sedangkan Dongmin, masih menatap pasangan baru itu dengan rasa sakit yang mendalam. Ternyata sesakit itu ditinggal seseorang yang dia kasihi menikah.
Bumi menyeringai ke arah Anastasia, terukir raut gembira di wajahnya. Akhirnya, keduanya sudah menjadi Mr dan Mrs Kim. Ana pun mengeratkan lengannya di pergelangan suaminya.
Walau, kisah cinta mereka tidak semulus dongeng pengantar tidur. Akan tetapi, keduanya berharap besar pada pernikahan ini. Mereka sepakat untuk merawat anak Bella bersama dan menjadikan itu anak mereka.
"Silahkan dinikmati," Ana berjalan ke arah para bridesmaid nya, sedangkan Bumi berjalan ke arah sepupu-sepupunya dan keluarga besar Kim juga para relasi perusahaan.
"Selamat Ana!" Somi memeluk Ana dengan hangat, begitupun yang lainnya.
"Yeah, setelah drama berliku akhirnya kalian menikah." kata Ze dengan asal. Ana hanya tertawa kecil msndengarnya.
Bumi berdiri lalu memegang segelas minuman di tangannya, "selamat Bum. Selamat untuk Pak kim akhirnya, anak bujangmu menikah. Wah kalian tentu sudah sangat menanti ini. Semoga segera di berikan cucu ya." kata salah satu relasi perusahaan.
"Terimakasih," Bumi menyeringai, kemudian tatapannya menuju pada pengantin wanitanya yang asyik mengobrol dengan para sahabatnya.
"Tunggu sebentar, kurasa aku harus membawa pengantinku kesini." Bumi berjalan mendekat ke arah Ana.
Sembari membawa segelas minuman yang tadi.
__ADS_1
"Sayang," kata Bumi dengan lembut sambil menatap wanita itu.
"Ya?"
"Kemarilah, ikut bersamaku. Kau harus lebih banyak menghabiskan waktumu bersamaku ketimbang dengan temanmu ini." Bumi melirik dengan sinis para sahabat Ana.
Ana tersenyum canggung, dia tidak menyangka Bumi akan berkata seperti itu dihadapan sahabatnya. Somi hanya mendelik melihat pria itu, sesekali dia bertukar tatap dengan Lee Ze yang terkenal ketus dalam memerhatikan seseorang.
"Baiklah, teman-teman nikmati hidangannya ya. Aku akan menemui kalian lagi nanti." Ana beranjak dari duduknya lalu segera menggenggam tangan Bumi dan mengikutinya ke tempat keluarga pria itu berada.
"Nah ini dia, aku tidak pernah bosan menganggumi kecantikannya. Istrimu ini sungguh luar biasa, apa kau tidak bosan menjadi cantik seperti ini?" Kata salah seorang tamu undangan dari perusahaan.
Ana hanya menyeringai, dia merasa sangat tidak nyaman dengan situasinya yang sekarang. "Istriku tidak akan pernah bosan, kecantikannya memang tidak manusiawi hahah!"
Bumi menatap lekat wajah istrinya, sedangkan yang lain bersorak atas ucapan pria itu. Minhyun tahu Ana tidak nyaman, dia belum berbicara sepaath katapun karena ayahnya ada di hadapan mereka.
"Selamat Bum, Ana. Semoga hubungan kalian bertahan lama." kata Lee Rojun dengan seringaian palsunya.
"Terimakasih." kata Bumi sembari menyeringai dengan girang.
Ana hanya tersenyum tipis sambil sesekali menatap kearah ibunya berada, entahlah. Tapi ibu, nenek dan kakeknya duduk berjauhan dari keluarga Kim dan relasi kantor mereka. Sebenarnya, Ana merasa tidak enak tapi dia tidak bisa melakukan apapun.
Ketiga sahabatnya tentu sudah pulang ke rumah karena hari benar-benar sudah larut malam. Terlihat Dongmin dan Minhyun menghampiri Ana yang sedang duduk di kursi yang sudah kosong bekas para tamu.
Sedangkan Bumi masih asyik mengobrol bersama teman pria nya yang lain, " kalian mau pulang?" Ana menoleh ke arah keduanya.
Dongmin mengangguk, tidak lama Yeri muncul di belakang pria itu dan merangkul lengannya. "Ana selamat ya, aku jadi tidak perlu khawatir lagi soal Dongmin." Wanita itu menoleh ke arah tunangannya.
Dongmin melepaskan pegangan Yeri sembari mendengus, pria tadi kini menatap Ana. Dia agak kasihan karena Ana terlihat sendirian disana, sedangkan Bumi masih bersama temannya.
"Kami pulang dulu ya. Kau tidak apa-apa ditinggal sendirian begini?" Minhyun menunggu jawaban Ana, wanita itu hanya mengangguk pelan.
"Sampai jumpa." Ana melambaikan tangan pada mereka, sedangkan Yeri langsung menarik Dongmin pergi.
Minhyun agak terlihat berat meninggalkan Ana, tapi dari kejauhan Lee Rojun mengawasi. Sebenarnya masih ada beberapa orang lainnya, hanya saja terlihat semuanya sedang sibuk dengan obrolan mereka masing-masing.
Ibu Bumi sedang bersama teman wanita yang notabene nya adalah istri dari relasi di perusahaan. Begitupun dengan Tuan Kim, sedangkan Kakek Kim lebih dulu pulang karena dia tidak bisa terlalu kelelahan. Setelah mengetahui bayi itu bukanlah anak biologis Bumi, sikap kakek Kim agak berubah pada Ana. Dia merasa telah ditipu oleh keluarga cucu menantunya tersebut.
"Ibu dan kakek nenekmu harus pulang sekarang, ini kereta terakhir." Ibu Ana terlihat menatap anaknya dengan datar. Sebenarnya dia belum seutuhnya sembuh dari rasa kehilangan. Akan tetapi, dia memaksakan diri untuk tetap hadir di pernikahan anaknya. Bagaimanapun, Ana tetaplah putrinya.
__ADS_1
"Baiklah, hati-hati bu, nek, kek. Terimakasih sudah datang, kalian boleh menemuiku kapanpun kalian mau." Ana menyeringai, dengan kehadiran mereka sudah membuat Ana merasa bahagia.
Kini, Ana sendirian lagi setelah orang-orang itu pergi. Dia menghela napas dan masih melihat Bumi di arah yang berlawanan dengannya. Pria itu masih tertawa terbahak bercanda dengan rekan-rekan yang baru dia temui lagi. Tapi, mata pria itu kemudian bertemu dengan mata Ana. Dia melambai ke arah istrinya perlahan sambil menyeringai.
Ana hanya mendengus, wanita itu akan menunggunya beberapa menit lagi.
*
*
Setelah hampir lima belas menit berlalu, akhirnya Bumi menghampiri Ana yang terkantuk menunggunya.
"Maafkan aku, mari kita pulang dan menikmati malam kita." kata pria itu sembari mengulurkan tangannya. Ana yang sudah sangat kesal menunggu pria itu hanya mendelik ke arahnya dan beranjak dari sana tanpa meraih tangan yang terulur itu.
Dia berjalan mendahului Bumi, pria itu pun mengikuti istrinya dari belakang. Ibu dan ayahnya melihat pemandangan tadi, mereka langsung bertukar tatap.
"Kenapa dia seperti itu?" tanya ibu Bumi.
"Sudahlah, tidak perlu ikut campur. Itu sudah bukan lagi ranah kita untuk mengurus kehidupan Bumi. Jadi kita percayakan hal ini pada mereka. Mari kita pulang," Ayah Bumi merangkul istrinya yang masih dengan kebingungan menatap putranya seperti itu.
Bumi pun membukakan pintu untuk Ana yang sudah menunggunya disana, pria itu menyeringai tipis lalu menggoda istrinya.
"Maafkan aku, kau pasti menungguku sangat lama. Tenang saja, malam ini aku akan memberimu yang terbaik." Pria itu tertawa kecil.
Ana yang tadinya kesal, kini mulai memerah pipinya. Dia merasa ada sesuatu diperutnya, mungkin kupu-kupu? Dia merasa gugup juga sangat bersemangat.
"Kita tidak pulang ke apartemen," Bumi mengemudikan mobilnya ke arah hotel bintang lima terdekat disana.
"Kemana kita pergi?" Ana menaikan alisnya kebingungan.
"Ke hotel, semuanya sudah disiapkan disana. Kau hanya harus mempersiapkan diri." bisik Bumi agak mendekat ke istrinya.
"Ahh kau sangat nakal." Ujar Ana sambil tertawa dan menatap suaminya.
"Aku sangat mencintaimu, Ana." Bumi mengelus lembut pucuk rambut istrinya.
"Aku juga sangat mencintaimu Bum" Ana memeluk Bumi yang sedang menyetir. Pelukannya membuat Bumi tertawa kecil dan merasa geli.
...****************...
__ADS_1
...****************...