
Sesampainya di rumah sakit Mary, Minhyun langsung bergegas ke ruangan di mana Ana dirawat, dia melihat wanita itu sedang bersandar di tempat tidurnya. Sedangkan ayahnya duduk di sofa dekat jendela.
"Selamat sore," imbuh Minhyun. Ayah Ana pun menatap pria itu dengan seringaian hangat, berbanding jauh dengan tatapannya pada Bumi waktu tadi.
Ana menoleh ke arah Minhyun yang baru saja datang lalu tersenyum manis ke arah pemuda itu. Minhyun pun mendekat dengan membawa camilan yang banyak untuk Anastasia. Dokter bilang dia sudah boleh pulang besok pagi.
Minhyun berjalan ke samping tempat tidur Ana, tidak lupa dia menaruh camilannya dulu di nakas samping tempat tidur wanita itu. Dia pun tersenyum melihatnya.
"Terima kasih Minhyun !" katanya.
Minhyun menyeringai tipis, " sama-sama, makanlah!" Pria itu kini duduk di samping kursi yang ada pada Ana.
Tiba-tiba saja ponsel ayahnumya berdering keras, tuan Jung pun menjawab panggilan itu.
"Halo, oh iya aku hampir saja lupa. Tidak bisakah aku disini beberapa hari lagi?" Tuan Jung duduk sambil menunggu jawaban yang ada pada ponselnya.
"Putriku sedang sakit, " katanya.
"Ah baiklah-baiklah." Pria itu menutup panggilannya. Lalu berjalan ke arah Anastasia.
Dia melihat Ana dengan sendu, rupanya dia sudah harus pulang ke Indonesia. Karena perusahaannya sudah harus memulai produksi lagi, setelah mendapat dana dari KIK Otomotif. Perushaaan itu akhirnya bisa mulai kembali berjalan normal.
"Ayah, baru saja dapat telepon. Sepertinya ayah sudah harus pulang mengurus perusahaan kita di Indonesia."
"Ayah tidak akan mengajak ibumu, jika dia mau pulang dia pasti akan pulang. Jaga dirimu baik-baik, ayah sudah bicara dengan dokter kau sudah boleh pulang besok pagi."
Ayah Ana mengelus lembut pangkal rambut putrinya. "Kau bisa mengantar ayah ke bandara besok," Tuan Jung merasa tidak tega harus meninggalkan Ana sendirian lagi di sana. Tapi, apa boleh buat, banyak tanggung jawab yang harus dia selesaikan di Indonesia.
__ADS_1
Apalagi sekarang, dia terikat dengan KIK Otomotif, mau tidak mau dia tetap profesional walaupun saat ini dia sedang membenci Bumi.
Ana meregangkan tangannya berusaha memeluk sang ayah. Pria itu pun mencondongkan tubuhnya dan memeluk wanita itu erat. "Maafkan ayah," imbuhnya.
Ana pun mengangguk, "tidak apa ayah, aku tahu tugas ayah berat. Aku akan baik-baik saja" Ana menyeringai tipis. Ayahnya pun mendaratkan kecupan hangat di rambutnya.
Minhyun hanya bisa menyaksikan itu tanpa kata, dia tidak banyak komentar urusan pribadi. Jadi dia hanya menghormati waktu mereka berdua.
"Ayah harus berkemas sekarang!" kata Ana yang menatap ayahnya sambil mendongak.
Tuan Jung mengangguk pelan. dia melepaskan pelukan Ana lalu meraih dompetnya yang tergeletak, dia memeluk Ana sekali lagi.
"Nak, tolong titip Ana ya." Katanya pada Minhyun, pria itupun mengangguk pelan dan tersenyum.
Ayah Ana keluar dari ruangan itu dan pergi menuju hotel, dia akan merapikan semua barangnya dan beristirahat. Besok dia sudah harus pulang ke Indonesia untuk mengerjakan semua tanggung jawabnya di sana.
Dia tidak bisa meninggalkan perusahaannya terlalu lama, sedangkan istrinya dia biarkan di Korea. Dia tidak peduli apapun yang akan dilakukan oleh istrinya, menurutnya kalau dia ingin pulang pasti dia akan pulang.
"Makanlah ini bisa membuatmu lebih baik!" Minhyun tersenyum tipis ke arah Ana dan wanita itu pun membalas senyumannya dengan hangat.
Ana merasa beruntung karena dikelilingi orang yang sangat memperhatikannya, dia menggigit cookiesnya perlahan dan mencoba untuk tidak menangis lagi dan lagi. Dia ingin melupakan semua hal yang menyakiti dirinya, dia hanya ingin hidup dengan bahagia tanpa harus memikirkan apapun yang buat mentalnya sakit.
Minhyun dengan ragu memulai pembicaraan tentang mundurnya Bumi dari perusahaan, " Apa kau tahu bahwa Bumi sudah mundur dari jabatannya sebagai CEO di KIK otomotif?"
Ana membelalak mendengar pertanyaan dari Minhyun, dia sama sekali tidak tahu hal itu, bahkan setelah pertemuannya dengan pria itu pun dia tidak tahu bahwa Bumi akan mengundurkan diri dari jabatannya.
Ana menggeleng pelan, " tidak aku sama sekali tidak tahu!" Kata Ana , wanita itu hanya menatap kosong ke arah depan.
__ADS_1
"Aku melihat di berita, bahwa Bumi akan mengundurkan diri dari jabatannya mulai besok." imbuh Minhyun.
Ana masih menatap datar pandangan di depannya, dia memikirkan tentang kakaknya, Bella yang sedang hamil.
Jika bumi sudah pulang ke Korea, Apakah Bella juga ada di sini atau dia tetap di Amerika?
Ana membatin, dia menjadi sangat penasaran tentang itu, apalagi mendengar Bumi mundur dari jabatannya, dia mengira bahwa kakek ketua marah pada pria itu dan meminta Bumi untuk mundur dari jabatannya.
"Sebenarnya aku tidak peduli apapun yang akan dia lakukan, hubungan kami sudah lama berakhir. Aku tidak ingin membahasnya lagi, oh iya maafkan aku karena aku, proyek patung itu ditunda. Bagaimana proses yang lain?" Ana berbohonbg lalu mengalihkan pembicaraannya ada proyek mereka.
Rupanya proyek itu harus mangkrak karena Ana yang jatuh sakit, karena ulah hanya sendiri. Minhyun hanya menyeringai, "tidak apa-apa aku sudah mengatakannya pada dosen kita dan dia bilang kita bisa menyusul setelah kau sudah pulih seutuhnya."
Ana mendengus pelan, "Aku harap setelah ini aku bisa langsung melanjutkan proyek kita, aku merasa tidak enak padamu karena kau harus mengerjakan kerangka patung sendirian."
Minhyun hanya tertawa kecil dia menatap Ana dengan dalam, " tidak apa-apa, aku merasa senang karena bisa membantumu dan sebagai asistenmu bukankah akumemang harus melakukan itu?" Akis pria itu terangkat sambil menunggu jawaban Ana.
Wanita itupun ikut tertawa kecil sambil menunduk. Tapi jujur saja pikirannya sedang tidak fokus pada hal itu, dia tetap masih memikirkan Bumi. Sekuat apapun dia mencoba melupakan pria itu, seolah pikirannya tetap kembali padanya. Dia hanya ingin segera melakukan aktivitas seperti biasanya agar dia cepat melupakan Bumi.
Tapi dia juga sangat penasaran dengan keberadaan Bella, wanita yang sedang mengandung itu. Mungkin setelah ini dia akan mencari tahu keberadaan kakaknya dan calon keponakannya. Bagaimanapun dia tetaplah kakak kandungnya, Ana merasa bersalah dan khawatir pada Bella.
Andai dia lebih dulu tahu soal kehamilannya, mungkin dia tidak akan pernah menerima Bumi.
Malam itu Minhyun menginap dan menjaga Ana di rumah sakitm Sedangkan yang lain masih dengan kesibukan masing-masing.
Dongmin sedang sibuk mempersiapkan sidang skripsinya, Somi dan Ze sedang sibuk dengan proyek patung itu. Yuri ada proyek lain dari kampus.
Hanya Bumi yang sedang sibuk dengan botol alkoholnya sampai dia lupa untuk makan. Dia benar-benar seperti orang yang tidak waras malam itu. Bahkan kepalanya sudah sangat berat, dia pun tertidur di ruang tamu dengan keadaan yang sangat kacau dan berantakan.
__ADS_1
...****************...
...****************...