
Rutinitas mereka dilakukan seperti biasa, Bumi yang masih belum kembali ke kantor hanya bersantai ria di apartemen sembari mengganggu Ana. Wanita itu, sudah kembali ke kampus dan mulai melanjutkan proyek patungnya.
Untuk rencana pernikahan, semua keluarga menyerahkan penuh pada keduanya. Tapi beberapa hal seperti gedung dan W.O dipilih oleh keluarga Kim.
Keluarga Ana tidak banyak ikut campur soal apapun, terlebih ibunya. Dia bahkan tidak terlihat setelah oenghormatan terakhir kemarin, anggap saja Ana anak yatim piatu. Dia mengurus semuanya sendiri untuk bagiannya.
Bahkan, soal bayi Bella, Ana dan Bumi dengan rutin mengunjungi bayi itu. Sedangkan setelah tahu itu bukan anak Bumi, Ibu Bumi enggan memeriksa kesana.
"Aku ke kampus dulu," Ana berpamitan pada Bumi yang sedang meminun segelas kopi di balkon apartemen. Pria itu menyeringai dengan manis, "kenapa tidak cuti saja?" katanya sembari menggoda.
"Ini sudah hari ke berapa aku tidak masuk kuliah? Kapan aku akan lulus kalau begini terus?" Ana mendengus pelan.
Pria itupun beranjak dari duduknya lalu menghampiri Ana dan memeluknya, "semoga berhasil, hari ini hari terakhir pembuatan kerangka kan? Semoga proyekmu sukses" Bumi mengeratkan pelukannya.
"Terimakasih," Ana mendangah ke arahnya, satu kecupan hangat mendarat di bibir pria itu. Pipi Bumi pun kini semerah tomat.
"Kau yakin tidak mau aku antar?"
Ana menggeleng yakin, dia akan ke kampus bersama Somi dan kawannya yang lain. Mereka sudah menunggu wanita itu di luar gedung. Setelah Ana pergi, Bumi melanjutkan waktu santainya di balkon. Dia menghela napas beberapa kali, dia juga tidak semudah itu menerima kenyataan bahwa Bella sudah tiada.
Ponselnya pun tidak lama berdering, pria itu menatap layar diponselnya. Tertulis Ibu disana.
"Halo bu," Bumi menyeruput kopinya.
"Bum, Ana kuliah? Kan ibu sudah bilang sampai pernikahan di laksanakan dia jangan dulu pergi kuliah. Karena banyak hal yang harus disiapkan. Kau tau kan tamu-tamu kita itu adalah orang-orang penting, kita harus menyiapkan banyak pakaian untuk Ana. Ibu ingin dia tampil sempurna" untuk Ibu Bumi yang selalu tampil All out tentu saja dia juga akan memaksan menantunya seperti itu. Dia adalah orang yang perfeksionis.
Bisa dilihat dari cara mnya merawat bunga dengan telaten, dia terlihat sempurna dari segala sisi. Itulah sebabnya dia agak kecewa dengan Ana, wanita itu malah ingin merawat bayi kakaknya. Tapi, keluarga Kim tidak bisa menolak selagi pewaris mereka menginginkannya.
"Bu, Ana sudah lama tidak kuliah. Jadi biarkan saja dia yah. Aku yakin, pernikahan kami akan berjalan dengan lancar nantinya." Bumi tertawa kecil memdengar ibunya yang kelimpungan mengurus pernikahan agar berjalan sempurna.
__ADS_1
"Huft, harusnya dia berhenti saja kuliah. Ibu ingin segera menimang cucu. Kau tahu, jika dia terlalu kelelahan karena kuliah, belum lagi nanti mengurus bayi itu. Ibu khawatir dia akan sulit hamil." Ibu Bumi terdengar gusar, dia bahkan sudah membicarakan hal yang masih jauh.
"Bu, ayolah... Berhenti memikirkan hal yang tidak tidak, apalagi kami belum menikah. Tenanglah! seharusnya ibu banyak berdoa agar pernikahan kami berjalan lancar. Soal bayi itu bisa diatur nanti, Tenang saja kau percaya pada anakmu Bu." Bumi mencoba menenangkan ibunya dia kadang merasa lelah merespon setiap pikiran berlebihan ibunya itu.
"Baiklah, kau sudah makan?"
"Belum, aku sedang minum kopi di balkon." jawab Bumi sembari menyeringai.
"Aduh, kasian sekali anak ibu. Ibu harus menyetok makanan lagi untukmu."
"Tidak perlu, aku makan diluar saja nanti." jawab anak itu.
"Baiklah, jaga diri baik-baik yah." ujar ibunya. Mereka pun mengakhiri panggilan mereka. Kemudian Bumi yang baru menyelesaikan kopinya pun langsung beranjak membawa gelas kotor ke dapur. Dia membersihkannya dengan tekun.
Sedangkan Anastasia, kini dia dan teman-temannya sedang dalam perjalanan ke kampusnya. Mereka mulai menghibur Ana dengan sedikit musik yang membangun mood.
"Aku akan mengosongkannya, setelah menikahi Bumi aku akan tinggal di apartemennya." Ana menoleh ke arah Somi, Ze yang ada di belakang nya pun menepuk pundak wanita itu.
"Belum menikah saja sudah disana." godanya sembari menoleh ke arah Somi.
"Hmm, aku merasa sendiri. Walaupun, aku memang selalu sendiri, tapi aku tidak baik-baik saja. Kehilangan orang yang paling ku kasihi, ayahku. Aku baru saja bertemu dengannya lagi." Mata Ana mulai berkaca-kaca. Dia merasa sedih karena mengingat lagi kenangan bersama ayahnya.
"Maafkan aku," kata Ze merasa bersalah.
"Tidak apa-apa." Ana mengusap lembut air matanya.
Tidak lama, mereka pun sampai di Hankuk. Ketiganya keluar lalu berjalan masuk ke kelas mereka. Semua orang menatap Anastasia dengan tatapan aneh. Mereka seperti sedang membicarakan wanita itu.
Yeah, bagaimana tidak. Ana adalah anak yang malang, ayahnya meninggal bersamaan dengan kakaknya, belum lagi dia harus merawat bayi itu dan menjadi ibu pengganti baginya. Bahkan, dia belum tahu siapa ayah kandung bayi itu sebenarnya.
__ADS_1
Setelah keributan panjang dan salah paham kepada Bumi waktu lalu, wanita itu mrasa menyesal karena akhirnya. Anak itu bukanlah anak kandung Bumi, dia merasa menyesal karena sudah menghabiskan energi bertengkar bersama pria itu.
Bahkan pada akhirnya, mereka akan tetap bersama. Mereka akan segera menikah dan merawat bayi itu.
"Kau sudah hadir," seorang pria dengan kaus panjang berwarna navy menyeringai ke arah Ana.
Yeah, itu adalah Minhyun. Si pria baik hati yang tidak banyak bicara. Ana menyeringai ke arahnya.
"Aku harus menyelesaikan proyek ku kan." imbuh Ana dengan tersenyum manis.
"Jangan pernah merasa sendiri, aku akan selalu bersamamu." Kata Minhyun dengan senyum merekah, tapi langsung di timpali oleh Somu yang baru saja meletakan bokongnya di kursi di samping Ana.
"Tenang saja. Dia ada Tuan Bumi." Somi menggoda Ana yang kini menyeringai dengan tatapan malu.
"Hmm, sebentar lagi, teman kita akan menikah. Aku sedih, kenapa kau mau menikah muda sih?" Ze dengan ucapan asalnya langsung bertanya pada Ana.
"Aku tidak tahu, aku hanya merasa bahwa dia pria yang cocok untuk ku." Ana mengangkat kedua bahunya merasa bingung kenapa dia memilih Bumi.
"Memangnya Bumi pria ke berapa yang pernah kau pacari?" Somi terlihat tertarik dengan obrolan pribadi itu.
"Hmm. Pertama hehe" kata Ana dengan malu-malu.
"Huu, siapa tau ada yang lebih baik di depan sana kan. Hahaha" Ze menggoda Ana terus menerus , tapi apa yang di sampaikan ada benarnya juga.
Minhyun hanya tertawa kecil mendengar obrolan mereka semua. Dia tidak mau terlalu ikut campur dengan pilihan pribadi orang lain.
...****************...
...****************...
__ADS_1