MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 130 : Baby Elle (Bonus)


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, mereka terbangun dengan wajah yang ceria. Ana lebih dulu bangun dia langsung mandi lalu menyiapkan sarapan untuk suaminya. Walaupun dia belum ahli dalam memasak, setidaknya dia mencoba dengan menyiapkan makanan simpel untuk Bumi.


Bumi melenggang masuk ke dapur lalu memeluk Ana dari belakang, istrinya itu sudah mandi dan wangi. Harum tubuh Ana membuat Bumi nyaman mendekapnya seperti itu.


"Selamat pagi sayang," Ana berbalik menghadap Bumi yang memeluknya.


"Pagi, sayang. Kau cantik sekali,"


"Terimakasih, kau mau mandi dulu atau sarapan dulu?" Ana menaikan kedua alisnya.


"Hmm, mandi dulu." Bumi menyeringai, dia mencoba untuk tidak mempermasalahkan masalah semalam, karena jika dia terus mengingat hal itu dia akan selalu kesal terhadao Ana.


"Baiklah, aku akan menyiapkan pakaiannya, lalu menunggumu di meja makan." Ana menyeringai tipis.


Wanita itu berjalan ke arah kamar mereka berdua, didalam ruangan itu terdapat pintu lagi yang menghubungkan ke walkin closet . Dia membuka pintu lalu berjalan melihat pakaian suaminya yang tergantung rapih.


Mereka tentunya masih menggunakan jasa asisten rumah tangga, yang datang hanya sekitar jam enam pagi pulang jam satu siang. Karena pekerjaannya juga tidak terlalu banyak.


Ana memilihkan pakaian santai untuk sang suami, kemeja kotal casual juga celana jeans berwarna denim.


Dia segera membawa itu lalu menaruhnya di atas tempat tidur mereka. Setelahnya, Ana kembali ke dapur untuk menunggu Bumi selesai.


Sembari menunggu, wanita itu membuka ponselnya. Tepat sekali, pesan masuk dari seorang pengacara yang dulu menangani kasus pelecehan terhadap dirinya mengirimkan pesan.


^^^Dari : Pengacara Hyun^^^


^^^Tersangka membuat pernyataan tidak terduga..^^^


^^^Dia bilang, melakukannya atas dasar perintah seseorang.^^^


Sejenak Ana tertegun tidak percaya dengan isi pesan yang disampaikan. Tapi, dia mencoba menanyakan lebih lanjut apa maksudnya.


Pengacara Hyun meminta Ana dan Bumi untuk menemuinya di restoran Wonni yang berada disekitar pusat kota Seoul.


Ana belum menjawab permintaan itu, dia masih menunggu Bumi untuk meminta persetujuannya. Pria itu, juga pasti akan terkejut mendengar pernyataan Pengacara mereka.


Ana masih melamun dengan ponsel digenggamannya saat Bumi datang dan mencium pipinya dari arah belakang.


"Kenapa melamun?"


"Pengacara Hyun, meminta bertemu kita sore ini." Ana mengerutkan dahinya, setelah menikah berat badannya sedikit bertambah sehingga membuat pipinya agak mengembang dari biasanya.


"Ada masalah?"


"Ada yang harus dia bicarakan," Ana mengatupkan mulutnya sembari menatap Bumi dengan sendu.

__ADS_1


"Baiklah, kita kesana. Nanti biar aku yang meneleponnya. Mari sarapan, aku sudah lapar." Bumi menyeringai sembari menatap Ana.


Garpu dan pisau sudah berada di tanganna, pria itu mulai memotong roti bakar yang sudah disiapkan sang istri.


"Kenapa tiba-tiba sekali?" Bumi menoleh ke arah Ana yang tengah fokus pada makanannya.


"Pengacara Hyun bilang, tersangka memberi keterangan yang mencengangkan. Aku tidak tahu apa maksudnya."


Bumi mengangguk beberapa kali, "pasti hal yang penting. Setelah bertemu pengacara Hyun kurasa kita harus pergi nonton."


Ana terlihat sumringah, dia merasa senang karena selama setelah menikah wanita itu tidak ada waktu untuk pergi keluar bahkan sekedar minum kopi bersama sahabat-sahabatnya pun tidak pernah.


"Ide yang bagus,"


Bumi menyeringai.


Keduanya menghabiskan sarapan mereka dengan lahap, setelah itu hanya bersantai di ruang tv sambil menonton acara seru kesukaan mereka.


Karena bosan, Ana mengusulkan untuk pergi ke rumah sakit menjenguk bayi mereka ynag di beri nama Beby.


"Aku bosan, bagaimana kalau kita pergi ke rumah sakit menjenguk beby?" Mata Ana berbinar, dia sangat bersemangat untuk bertemu keponakannya.


Bumi yang sedang sibuk bermain game langsung menoleh ke arah wanita itu, awalnya dia ragu dan tidak ingin pergi. Tapi, melihat istrinya bersemangat dia tidak kuasa untuk menolak.


Ana pun mengangguk.


"Tapi sayang, cuaca di luar sangat dingin. Kau tidak boleh memakai pakaian seperti ini. Setidaknya pakai celana panjang dan mantel yang tebal." Bumi memerhatikan pakaian vintage yang hanya selutut itu.


"Baiklah, tunggu sebentar aku ganti baju dulu ya." Ana pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman saat digunakan di musim dingin seperti sekarang.


Dia memilih beberapa pakaian, hingga berhenti ke salah satu pakaian yang baru dia beli dan belum sempat terpakai.


Dengan atasan bulu hangat yang bisa dia gunakan di cuaca dingin seperti itu, di padankan dengan celana bahan berwarna hitam tidak lupa dia mengikat rambutnya kebelakang lalu membawa tas putih kecil ditangannya.


Dengan lipstik merah mencolok, tampilannya sudah sangat pas sebagai istri pewaris perusahaan terbesar di negaranya. Tidak berlebihan tapi tidak sederhana juga.


Karena setiap pakaian yang dikenakan tentunya memiliki nama besar daru suatu brand. Walau,


Ana keluar kamar dan menghampiri Bumi. Wanita itu melihat suaminya yang rupawan terkesima melihat dirinya berjalan ke arah pria itu.


"Luar biasa, apapun yang kau kenakan selalu terlihat menawan."


Pujian itu, membuat pipi Ana agak memerah.


"Ini semua berkat kamu,"

__ADS_1


"Yeah, tidak heran sepupuku sendiri menginginkan istriku." Bumi masih sering teringat kejadian pesta malam kemarin. Tapi, dia berusaha biasa saja demi Ana.


Agar wanita itu tidak lagi merasa bersalah.


Ana menghampiri Bumi lalu memeluknya, "kita pergi sekarang."


Mendongakan wajahnya ke arah pria yang lebih tinggi darinya itu, Bumi mengangguk lalau merangkul Ana sampai ke baseman.


Untuk pergi bersama Ana, Bumi sangat enggan menggunakan jasa supir pribadinya karena dia pikir, Ana hanya akan merasa nyaman jika mereka berdua saja kemanapun mereka inginkan.


Hal itu, sering membuat Ana kagum. Walaupun status Bumi sebagai pewaris perusahaan dia tidak pernah menyombongkan diri di hadapan istrinya ataupun merendahkan wanita itu.


Dia malah sangat memperlakukannya dengan baik.


Selama perjalanan keduanya mengobrol sentang proyek patung yang sampai saat ini berlum rampung juga. Ana bahkan sempat berputus asa dan ingin menyerah saja. Tapi, dia harus menanggung resiko besar, yaitu tidak lulus tepat waktu.


Bagaimana pun dia tetap harus membuat mendiang ayahnya bangga diatas sana.


Setelah sampai di rumah sakit, keduanya langsung nenemui bayi mereka di kamar VVIP rumah sakit. Disana, ada seorang baby sitter yang emmang di sewa khusus untuk menjaga bayi mereka selama masih butuh perawatan disana.


Ana dan Bumi pun menyapa wanita yang jauh lebuh tua dari mereka itu dengan ramah.


"Nona Ana datang, tidak memberi kabar." Wanita itu berdiri dan menjabat tangan Ana. Begitupun dengan Bumi, yang ikut menjabat tangan wanita itu.


"Pak Bumi juga datang," kata wanita tadi.


Ana tersenyum dan mendekat ke arah bayinya.


"Maaf aku tidak memberi kabar, aku merasa sangat merindukan Beby." Ana tersenyum manis.


"Oh jadi namanya sudah pasti Beby?"


"Ya, namanya Beby Elle," Bumi menimpal pertanyaan wanita itu.


"Kenapa tidak memakai marga Kim pak?"


Seketika pertanyaan itu terlontar, suasana menjadi canggung sehingga wanita itu menarik kembali pertanyaannya.


"Eh maksud saya nama yang sangat bagus. Kalau begitu saya tunggu di luar, silahkan bertemu Beby." Wanita itu langsung melenggang keluar dari sana.


Sedangkan Ana dan Bumi saling menatap sekilas. Setelahnya, Ana beralih menatap Beby dengan sendu. Dia merasa sedih, karena bayi itu belum bisa mendapat pengakuan dari keluarga Kim. Mereka memang tidak harus mengakuinya, tapi akan sangat menyedihkan jika dia tumbuh besar nanti.


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2