MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 56 : Menginap di apartemen Ana.


__ADS_3

Dongmin menatap tajam Lee Ro jun, dia berdiri lalu masuk kerumahnya untuk mengambil barang-barangnya. Ibu Dongmin mengejar anak itu sambil menangis.


Dongmin membuka lemarinya dengan kencang, lalu mengambil koper disamping lemari. Dia memasukan semua pakaiannya sembarang ke dalam koper.


"Nak... Ibu mohon. Jangan pergi." Ibunya menangis, lalu memegang bahu anaknya yang masih mengemas pakaiannya itu.


Dongmin menatap ibunya sejenak, dia juga tidak tega meninggalkannya sendiri. Tapi apa boleh buat, dia sudah tidak tahan tinggal bersama pria itu.


Minhyun baru sampai di ambang pintu kamar kakaknya, dia melihat Dongmin menyeret kopernya. Pria itu melewati Minhyun sambil menepuk pundaknya. "Jagalah Ibu," itulah yang dia katakan.


Ibu Dongmin terisak, Minhyun mencoba menenangkan ibunya dengan cara membantunya berdiri. Sedangkan Dongmin berjalan keluar, dia melihat Lee Ro Jun yang masih disana.


"Bagus, jangan pernah kembali." Kata Rojun.


Dongmin dengan geram tetap melanjutkan perjalanannya. Pria itu, menderek kopernya sampai ke halte bus. Satu-satunya orang yang dia anggap bisa membantunya adalah Kakek Ketua. Jadi Dia memutuskan untuk pergi kerumah keluarga Bumi.


Malam itu, dia menaiki bus menuju kesana. Hanya butuh waktu 15 menit untuk kerumah itu. Setelah sampai, dia langsung membawa kopernya dan masuk kerumah mewah itu.


Terlihat suasana yang sudah sepi, hanya ada beberapa penjaga yang stand by. "Tuan Dongmin..." Penjaga itu agak terkejut melihat kedatangan Dongmin yang tiba-tiba.


"Boleh kah aku bertemu kakek."


"Ya tentu, saya akan mengantarkan Tuan." Penjaga itu berjalan mendahului Dongmin, dia mengarah ke tempat kerja kakek. Penjaga itu langsung mengabari kakek ketua, bahwa ada Dongmin di ruang tamu.


Kakek ketua membelalak, lalu langsung berjalan menemui Dongmin.


"Cucuku.. Ada apa nak? Apa karena ayahmu lagi?" Kakek ketua melihat sudut bibir Dongmin yang terluka.


"Pelayannn!!!" Kakek ketua memanggil pelayan untuk mengobati luka Dongmin. Terlihat seorang pelayan berusia muda menghampiri kakek dan Dongmin diruang tamu.


"Kau siapa?" Kakek ketua mebetulkan posisi kacamatanya, untuk melihat pelayan baru itu.


"Maaf pak, saya pelayan sementara pengganti pelayan Mera" Pelayan itu menunduk.


"Baiklah, sekarang tolong obati cucuku ! " Kakek Ketua memerintahkan pelayan baru itu untuk mengobati Dongmin. Pelayan itu langsung mengangguk dan segera kembali membawa kotak obat P3K.


Dongmin duduk di sofa. Sedangkan kakek ketua sudah kembali ke kamarnya. Dia juga meminta pelayan lain untuk menyiapkan kamar tamu untuk Dongmin. Sebelumnya, Kakek menawarinya untuk menempati kamar Bumi, tapi Dongmin menolak.

__ADS_1


Pelayan itu duduk disamping Dongmin. Dia dengan sangat hati-hati dan telaten mengobati luka pria itu. "Maaf, ini akan terasa sakit." Kata pelayan itu lembut. Dongmin hanya mengangguk sambil memperhatikan wajah kecil pelayan itu.


"ssh aw.." Sudut bibir terlukanya terasa sangat perih. Ayahnya memang sudah keterlaluan. Setiap kali dia dalam keadaan emosi, pria itu selalu main tangan. Terkecuali pada istrinya, dia masih memliki rasa takut pada anak-anaknya.


Dia yakin jika dia berani melukai ibu mereka, dia aka mati ditangan kedua anaknya itu. Belum lagi Kakek ketua yang sudah pasti akan menghapus jabatannya dari perusahaan. Dia tidak mau mengambil resiko sebesar itu.


"Maafkan aku Tuan," Pelayan itu menunduk.


"Tidak apa-apa," Jawab Dongmin.


Setelah selesai diobati, Dongmin langsung beristirahat di kamar tamu. Dia merebahkan tubuhnya dikasur, memejamkan matanya.


Tak lama dia benar-benar terlelap.....


*


*


Disisi lain, Ana dan Bumi sedang menikmati waktunya bersama. Mereka sedang menonton film di televisi. Ana memeluk Bumi dari arah samping, pria itu merangkulkan tangannya ke bahu Ana. Popcorn tersedia di depan meja mereka.


Ana menggeleng, "Kau mengantuk?" Tanya wanita itu balik.


"Ya, aku sangat mengantuk. Tapi aku tidak ingin melewati satu detik pun untuk bersamamu." Bumi menyeringai sambil mengangkat alisnya.


Ana tersenyum, dia kembali fokus ke layar televisinya. Bumi menganggau wanita itu dengan mengecup tengkuk leher Ana.


"Bum... Hentikan!" Ana tertawa.


"Baiklahhh." Bumi mengacak-acak rambut Ana sambil tersenyum manis ke arah wanita itu. Dia merasa, amarahnya sudah 100 persen hilang. Yang ada sekarang, hanyalah cintanya yang semakin besar untuk Ana.


Malam itu, Bumi dan Ana tertidur di sofa. Bahkan mereka sampai lupa mematikan televisi.


Di jam 03.00 malam, Bumi terbangun mendengar suara ponselnya bergetar. Dia langsung memeriksa dan melihat pesan dari siapa kah itu. Ternyata, itu dari Bella. Wanita itu menagih Bumi untuk menemuinya disana, dia beralasan bahwa semakin kehamilannya membesar dia semakin merasa kesepian.


Belum lagi, acara ngidam-ngidamnya. Akhir-akhir ini dia sering menginginkan sesuatu yang kadang sulit untuk dia pergi beli sendiri. Bella juga beralasan bahwa dia harus mengikuti kelas ibu hamil, yang dimana kelas itu membutuhkan peran seorang ayah dari bayi untuk ikut.


Bumi segera menghapus pesan dari wanita itu, dia menaruh kembali ponselnya. Lalu menatap Ana yang masih dalam kondisi memeluk perutya. Bumi tersenyum melihat pemandangan yang sangat indah itu baginya.

__ADS_1


Dia meraih kedua kaki Ana. lalu mengangkatnya. Dia berjalan mengantarkan Ana ke kamar, lalu merebahkan tubuh mungil itu dikasur. Bumi mengelus lembut pipi Ana, yang membuat wanita itu sedikit sadar dan tersenyum.


Bumi kembali ke sofa, lalu menatap ponselnya datar. Dia harus segera memberitahu Ana mengenai perjalanan bisnisnya nanti. Bumi menaruh ponselnya lagi dan tertidur di sana.


06.30 pagi...


Ana sudah bangun nendahului Bumi, wanita itu agak heran kenapa dia bisa ada dikamarnya. Dia memang merasa bahwa seseorang seperti sedang mengangkat tubuhnya, tapi dia kira itu hanya mimpi.


Ana berjalan keluar kamar, dia bahkan lupa kalau Bumi menginap di apartemennya. Dia berjalan menuju dapur, lalu mengambil segelas air minum. Ana kembali sambil membawa segelas air.


Ternyata Bumi sudah terbangun, pria itu sedang duduk di sofa sambil mengucek matanya. "Astaga..." Ana terkejut melihat pria itu.


Bumi membelalak, dia mengerucutkan bibirnya sambil menoleh ke kanan kiri. "Ada apa?" Bumi bertanya dengan wajah yang datar. Dia masih terlihat mengantuk.


"Ahh, aku lupa kau menginap. Jadi kau yang membawaku ke kamar?" Ana mendekat ke arah Bumi,


Pria itu mengangguk, lalu tersenyum. Matanya masih agak tertutup, dia langsung menunjuk segelas air yang Ana bawa.


"Ini untuk ku kan?" Bumi meyeringai, dia sudah sangat percaya diri dengan itu dan ingin meraih gelas yang Ana pegang. Tapi Ana dengan sigap menarik gelasnya.


"Aishh, ini untukku. Jika kau mau, ambil saja didapur!" Ana meminum airnya sampai abis.


"ck ! Kau seharusnya melayaniku dengan baik." Bumi bangun lalu berjalan malas ke arah Dapur.


"Huh, gayamu! Kita baru berkomitmen taoi sudah minta dilayani!!!" Ana mengangkat sudut bibir atasnya. Bumi tidak menghiraukan Ana, dia berjalan ke dapur lalu mengambil segelas air dan meminumnya.


Dia melipir ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Lalu kembali ketempat dimana Ana berada, kini matanya mulai segar.


"Ada yang ingin aku sampaikan..." Dia duduk sambil menatap Ana lekat.


"Apa?" Ana mengangkat sebelah alisnya.


"Aku akan pergi untuk perjalanan bisnis."


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2