
Ana dan Bumi sudah selesai sarapan, tidak lupa mereka berpamitan kepada Orang tua Ana. Wajah Ana terlihat kesal sejak kejadian tadi, Bumi yang berjalan di sampingnya mencoba menggoda wanita itu agar mood nya membaik.
"Mau makan es krim?" Bumi tersenyum dengan seringaian khasnya.
"Kau selalu mengajakku makan es krim, berat badanku pasti akan naik karenamu." Ana melirik Bumi tajam, pria itu malah tertawa kecil sambil memasukan tangan ke kantong celananya.
Mereka sedang berjalan keluar dari Hotel Amarysm, ini hari minggu jadi Bumi tidak pergi ke kantor.
...
...
Ana memperhatikan setelan pakaian yang Bumi pakai. Wanita itu masih cemberut dan menekuk wajahnya. Seketika dia tidak bersemangat untuk melakukan apapun.
"Kenapa kau memakai setelan olah raga?" Ana mengangkat sebelah alisnya.
"Tadinya aku berniat pergi ke gym , tapi kurasa aku harus sedikit meluangkan waktu untuk bertemu calon mertua ku hehe. Jadi aku pergi kesini dulu untuk menemui mereka." Bumi tersenyum lebar, semoga godaannya berhasil membuat Ana tertawa.
"Kenapa tidak mengabariku? Lagi pula siapa yang akan kau nikahi, Bella? Ah tentu saja, dia lebih baik dari aku. Kau lebih pantas bersamanya." Ana berjalan mendahului Bumi, entah kenapa dia tiba-tiba kesal, bukannya malah tersenyum dengan godaan Bumi. Dia malah makin kesal.
Bumi yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengernyitkan dahi.
"Aish dia mengerikan saat sedang cemburu" Sudut bibirnya naik menyinyir. Lalu berlari kecil menyeimbangi jalan wanita itu.
Teleponnya berdering, dia melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya. Dan itu adalah... Bella.
Bumi menjawab telepon Wanita itu, sedangkan Ana masih berjalan di depan Bumi.
"Halo?" Kata Bumi
"Bum.." Suara Bella terdengar lirih.
"Ada apa?" Bumi terdengar khawatir, bagimanapun wanita ini sedang mengandung anaknya. Itulah yang ada dipikiran Bumi, setidaknya dia juga harus memperhatikannya walau sedikit.
"Aku membutuhkanmu .." Bella terdengar menangis, sepertinya ada sesuatu yang menyebabkan dia seperti itu.
"Ada apa? Kau kenapa?" Bumi berhenti melangkah, dengan seksama dia mendengarkan jawaban Bella.
"Aku merasa sendiri, aku membutuhkanmu"
Deg.
Bumi menghela nafas panjang, dia kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan. Dia juga seharusnya menemani wanita itu dalam kehamilannya, demi bayi didalam kandungan Bella.
Tapi bagaimana dengan Ana? Bumi takut jika Ana tahu mengenai hal ini, dia akan pergi meninggalkannya. Ini semua karena dirinya yang terlalu pengecut, dia sudah terlanjur jatuh cinta pada wanita itu.
Belum lagi soal janjinya pada Dongmin, yang harus segera dia tepati. Dia tidak bisa terus-terusan menutupi nya pada Anastasia.
"Bummm..... jalan mu lambat sekali." Ana menoleh ke belakang menatap Bumi sambil melambaikan tangannya.
Pria itu masih meletakkan ponsel di telinganya.
__ADS_1
"Kita bicara lagi nanti, aku harus pergi dulu"
Bumi menutup panggilan nya dengan Bella, dia berlari kecil menghampiri Ana, dengan senyuman yang seolah-olah dia baik-baik saja.
Ana tersenyum melihat kekasihnya menghampiri dengan sumringah.
"Maafkan Aku," Kata Ana sambil menoleh ke arah Bumi yang ngos-ngosan mengejarnya.
"Untuk apa?" Bumi tersenyum,
"Aku merasa kesal pada Ibuku, tapi malah melampiaskannya padamu. Maafkan aku." Ana memeluk pinggang Bumi secara tiba-tiba, pria itu terlihat terbelalak. Pipinya merona seperti kepiting rebus.
Bumi merasa makin ragu untuk mengatakan semuanya pada Ana, dia mengelus punggung wanita itu lalu merangkulnya.
"Hari ini pemindahan makam dan pengkremasian jenazah mendiang Ibu Minhyun dilakukan, kau mau ikut aku kesana? Aku dan Minhyun akan pergi kesana." Bumi melihat Ana sambil agak menunduk.
"Benarkah? Kapan? Sepertinya aku tidak bisa ikut." Ana mengerucutkan bibirnya, merasa buruk karena tidak bisa menyaksikan.
"Nanti Sore, Kenapa tidak bisa ikut?" Mereka berjalan sambil merangkul satu sama lain.
"Kau tidak ingat? Ayah dan Ibu memintaku menemani mereka berbelanja." Ana menatap Bumi dengan mendongakan wajahnya.
Cuppp... Bibir pria itu mengecup bibir Ana beberapa detik.
Pria itu dengan santainya bersikap biasa saja, sedangkan Ana sedang deg-degan setengah mati dengan perlakuannya tadi. Pipinya terasa panas.
"Okey, berhati-hatilah. Nah ini," Pria itu meraih dompet di sakunya lalu mengeluarkan Black card ¹ , lalu Bumi menyerahkan itu pada Ana.
Ana menatap kartu itu datar, lalu beralih menatap Bumi lagi.
Mau tidak mau Ana mengiyakan keinginan pria itu, jika dia menolak, pria itu pasti akan berceramah oanjang lebar.
"Kau bilang akan ke gym kan tadi?"
"Kau mau menemaniku?" Tanya Bumi sambil menyeringai.
Ana mengangguk sambil tersenyum, dia sangat terlihat manja pada Bumi. Ana merasa nyaman berada didekatnya. Mereka berdua akhirnya pergi ke gym, disana Ana hanya akan menemani Bumi karena dia tidak membawa pakaian olah raga.
Bumi masih memikirkan cara agar dia bisa menemui Bella, tanpa harus memberitahu Ana akan hal itu. Walaupun dia nanti akan merasa bersalah, karena berbohong pada Ana. Itu lebih baik baginya daripada Ana pergi meninggalkannya.
Perjalanan Bisnis adalah ide yang bagus.
Dia harus memohon lagi pada Dongmin, agar memberinya waktu sampai dia pulang dari rencana perjalanan bisnisnya itu. Dia akan mengajukan perjalanan bisnis nya ke Luar Negeri pada perusahaan dengan alasan mempromosikan produk mereka.
Setelah 30 menit berkendara, mereka sampai di tempat gym. Disana Bumi bertemu dengan coach yang akan membimbingnya. Sedangkan Ana menunggunya di kursi yang sudah disediakan, Bumi melepas jaketnya, lalu memberikan itu pada Ana.
Sekarang dia hanya mengenakan kaos hitam polos yang membuatnya terlihat semakin tampan. Sambil menunggu Bumi berolah raga, Ana memainkan ponselnya.
Pesan singkat masuk ke ponsel itu, tertera nama Dongmin disana.
Dongmins:
Ada yang harus aku bicarakan.
__ADS_1
Ana menatap layar ponselnya, dia menelan ludah agak gugup. Dia harus menyiapkan diri untuk menjelaskan pada Dongmin tentang perasaannya pada Bumi. Pria itu mungkin akan membencinya nanti, tapi Ana harus siap.
Anajung:
Baiklah, dimana kita akan bertemu?
Dongmins:
Di restoran depan apartemenmu nanti malam.
Anajung:
Baiklah.
Dongmins:
Kau tidak ingin bertanya keadaanku?
Anajung:
Bagaimana keadaanmu?
Dongmins:
Tanyakan saat kita bertemu langsung.
Anajung:
hmmmm iyaaaaaaaaa
Dongmin disana tersenyum melihat balasan Ana. Sedangkan Ana beralih menatap Bumi. Dia tidak bisa mengatakan padanya, jika dia akan bertemu Dongmin nanti malam.
Sebenarnya kebohongan adalah racun bagi sebuah hubungan, Ana maupun Bumi, berusaha menutupi sesuatu demi menjaga perasaan satu sama lain. Tapi keputusan mereka itu salah, kebohongan hanya akan menimbulkan masalah yang lebih besar nantinya.
Bumi tersenyum ke arah Anastasia, dia sedang melakukan olah raga angkat beban. Ana hanya membalas senyumannya dengan canggung.
Wanita itu menghela nafas panjang sambil menyandarakan kepalanya ke dinding.
Ana kau harus berani dan jangan menyakitinya lagi.
Ana membatin, dia mengingat perjodohan Dongmin yang membuatnya semakin kasihan terhadap pria itu. Ana ingin berada disamping Dongmin disaat hari-hari buruknya, seperti yang pria itu lakukan padanya.
Bumi menatap Ana yang sedang melamun, setelah 30 menit, dia beristirahat dulu, menghampiri Ana sambil menyeka keringatnya dengan handuk kecil.
"Ada Apa?" Bumi membungkuk tepat dihadapan Ana, Ana yang baru menyadari kedatangan Bumi langsung memberinya sebotol air mineral.
"Tidak apa-apa," Ana tersenyum.
Bumi duduk disamping Ana, lalu meminum airnya. Setelah itu dia menutup botolnya kembali.
"Kau tidak terlihat begitu."
...****************...
__ADS_1
...****************...