MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 124 : masalah kecil


__ADS_3

Menjelang pernikahan memang sering muncul permasalahan-permasalahan yang tidak seharusnya. Begitupun, dengan Bumi dan Ana yang sering bertengkar hal kecil akhir-akhir ini. Semuanya sudah berjalan 75% untuk segala persiapan pernikahan.


Ibu Bumi, akhir-akhir ini sering mengunjungi anaknya yang memang sudah tidak bekerja di perusahaan, beberapa kali wanita itu meminta anaknya untuk masuk lagi ke kantor. Tapi, Bumi masih belum ingin untuk bekerja.


Sedangkan bayi Bella, kondisinya sudah jauh lebih baik. Bahkan berat badannya bertambah, Ana sering meluangkan waktu untuk melihat bayi itu. Bahkan sepulang kuliah, dia sering mengunjungi keponakannya bersama teman ataupun sendiri.


"Aku pulang.." Ana melenggang masuk kedalam rumah, dia menghela napas panjang karena rumahnya agak terlihat berantakan. Dari mulai kaos kaki yang di taruh sembarangan bahkan sisa pop corn dimana-mana.


Ana masih tinggal di apartemen Bumi, dia bahkan sudah memindahkan sebagian pakaiannya kesana. Pernikahan akan dilaksankan seminggu lagi. Jadi Ana harus segera menyebar undangan ke kerabat dekat juga fitting akhir untuk pakaian pernikahan mereka.


"Halo sayang," Bumi tersenyum tipis masih sibuk dengan game di ponselnya.


"Hai," Ana menyeringai pelan, melihat Bumi yang masih sibuk dia pun memutuskan untuk langsung ke kamar dan mandi.


Bumi menoleh ke arah Ana yang melewatinya, dia menghela napas pelan llau kembali fokus pada gamenya. Jujur saja dia juga bosan karena ini sudah hampir satu bulan dia berleha-leha dirumahnya.


Tapi, karena masih belum ingin di tugaskan dengan berbagai pekerjaan akhirnya dia berniat untuk satu bulan lagi beristirahat dirumah.


Dia memutuskan untuk berjalan ke kamar Ana, melihatnya dan ingin menyapanya dengan langsung juga hangat. Selagi masuk kamar, pria itu mendengar suara guyuran air shower yang menandakan Ana sedang mandi.


Bumi pun duduk di pinggir kasur, dia melihat ponsel wanita itu yang tergeletak. Ada beberapa pesan baru yang menampilkan sejumlah foto-foto.



Bumi melihat salah satu foto yang menunjukan kedekatan Ana bersama teman kampusnya. Tapi, dia merasa geram karena pose yang dilakukan mereka terkesan dekat. Dia pun mengerutkan dahi dan sudah siap menginterogasi Ana dengan sejumlah pertanyaan.


Dia menunggu Ana sambil bersandar di ranjang wanita itu, dia menunggu kekasihnya keluar dari kamar mandi.


Tidak lama, Ana pun benar keluar, dia melangkah mendekat pada Bumi dengan handuk kimononya dan juga handuk melilit rambut basahnya Bumi langsung menatap wanita itu agak tajam.


"Siapa ini?" Dia melemparkan ponsel itu ke depannya, masih di area tempat tidur.


Ana menaikan kedua alisnya sembari berjalan mengambil ponsel itu.


"Sudah ku bilang jangan tdekat dengan pria lain, taoi kau masih saja melakukannya."

__ADS_1


"Ini teman kampusku, namanya Jadu. Kami memang sudah akrab." Ana menaruh ponselanya sembarangan lalu berjalan ke arah lemari pakaian.


Dia meraih satu setelan pakaian santai yang akan dia gunakan di dalam rumah.



"Jelaskan dulu!" Bumi mengernyitkan dahinya saat melihat Ana mengabaikan ucapannya.


Ana kembali dengan rapih. dia mendekat ke arah Bumi. "Itu hanya temanku. Sejujurnya. Aku lelah untuk mempermasalahkan hal kecil seperti ini."


"Lelah atau kau menghindar?" ucapan pria itu semakin membuat Ana merasa malas tinggal bersamanya lebih lama. Dia ingin menghirup udara segar.


Akhir-akhir ini dia merasa jengah karena fokus ke pembuatan proyek patungnya. Jadi, setelah sampai rumah dia hanya ingin istirahat dan tidak berdebat apaoun dengan Bumi. Nyatanya pria itu. Selalu mengajaknya berdebat karena hal kecil.


"Bum, ayolah. Aku ingin jalan-jalan keluar sebentar. Aku merasa penat di rumah." Ana mendengus pelan.


Bumi pun beranjak dari tempat tidur dan dengan ekspresi datar mendekat ke arah Ana, pria itu mengeratkan pegangan pada pergelangan tangan Ana.


"Aw," Ana menatap Bumi tajam, karena genggamanntmya cukup sakit dia rasa.


"Tapi, kalau begitu aku ingin es krim dulu." Ana mendongak manja ke arah Bumi.


"Tentu, kau mau beli langsung? Maafkan aku, kau pasti merasa terganggu dengan sikapku," Bumi memegang kedua pipi Ana.


"Sedikit. Aku juga minta maaf karena sudab membuatmu cemburu." Ana menyeringai tipis.


"Aku mencintaimu," Bumi tersenyum ke arah wanita yang menatapnya lekat itu.


"Aku mencintaimu lebih," jawab Ana hiperbola.


Bumi mengecupkan perlahan bibirnya ke bibir Ana, ciuman kali ini terasa beda dari sebelumnya. Terasa sangat intens dengan ritme yang pas. Bahkan jari jemari Bumi yang menjelajah sela-sela rambut Ana pun terasa sempurna iringannya.


Tubuh keduanya mulai memanas, seolah ada dorongan satu sama lain untuk melakukan lebih. Tapi, di hati mereka tentunya ingin menunggu sampai waktunya tiba.


Bumi berjalan membawa Ana mundur sampai wanita itu terjatuh ke kasurnya. Pria itu tanpa jeda langsung menghampirinya. Dia kembali mencium Ana yang kini melingkarkan lengannya di leher Bumi.

__ADS_1


Mereka tersenyum di sela-sela ciumannya. Semakin mereka bermain dengan itu, semakin bergairah mereka melakukannya.


Ting tong


Sayang sekali, kegiatan itu harus terjeda karena ada suara bel berbunyi di depan pintu. Bumi pun dengan terpaksa melepaskan ciumannya dan menarik lengan yang menyelinap masuk ke kaos polos Ana.


"Hufft" dengan malas pria itu berjalan keluar dari kamar menuju pintu unit apartemen.


Sedangkan Ana masih terbaring di atas kasur sembari mendengus pelan. Bumi pun melihat seseorang di balik pintu unit nya.


Terlihat bahwa ibunya datang kesana di waktu yang tidak tepat. Bumi pun mencoba menyeringai sebisa mungkin dan menyambut kedatangannya. Tapi melihat rumahnya yang agak berantakan, dia jadi khawatir.


"Bum, kau sudah makan nak?" tanya ibunya pada pemuda itu.


"Sudah bu," jawab Bumi singkat.


"Oh iya, kau dan Ana harus fitting akhir besok. Jangan lupa ya,"


"Oh yaampun kenapa kondisi apartemenmu berantakan seperti ini." lanjut ibunya yang langsung mengambil kaos kaki yang ditaruh Bumi di lantai.


Bumi menyeringai pelan, " heheh maaf bu, aku belum sempat panggil jasa pembersih." dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Kemudian suara langkah kaki mendekat.


Ana terlihat sedang mengikat rambutnya dan membuat gulungan, Ibu Bumi agak terkejut melihat wanit itu keluar dari kamar. Dia kira Ana hanya menginap beberapa. hari saja disana.


"Ana, kau masih disini?" Tanya calon mertuanya itu.


Ana mengangguk dan tersenyum malu, " iya bu. Bumi memaksaku untuk tinggal lebih lama."


"Bum! Sabar, sebentar lagi kalian akan sah menjadi suami istri. Setelah itu kallian tidak akan terpisahkan." Ibu Bumi mulai berceramah.


"Hehe iya bu, aku hanya merasa kesepian." jawab putranya itu.


"Kau bisa pulang ke rumah kita." sahut ibunya yang menggelengkan kepala.


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2