MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 48 : ciuman kedua


__ADS_3

Malam itu hampir semua tamu undangan datang ke Acara yang diadakan KIK Otomotif. Ana dan Bumi sedang duduk di meja bersama, Ana mengetukan kakinya beberapa kali.


"Kau tidak nyaman? Aku tidak akan memaksamu untuk berada disini jika kau tidak nyaman"


Ana tidak tahu harus melakukan apalagi, Bumi sudah memperkenalkannya pada para tamu undangan yang hadir. Selang 5 menit, Ana melihat dua orang yang tidak asing berjalan mengarah padanya.


"Ayah.. Ibu.." Ana membelalak, seingatnya dia belum menghubungi mereka.


"Halo nak, Ibu merindukanmu" Tidak biasanya wanita itu menyapa seramah itu pada Ana, dia bahkan mengelus pundak polos Ana.


Bumi memberi salam kepada kedua orang tua Ana, lalu meminta mereka menikmati pestanya. Untuk sesaat ayah Ana memeluk putri bungsu nya dengan dekapan rindu. Ana membalas pelukan itu.


Ibu dan Ayahnya bergabung bersama keluarga KIK. Sepertinya mereka membicarakan tentang bisnis. Ana yang merasa bosan hanya bisa diam termenung melihat orang lalu lalang. Dia tidak biasa di situasi seperti ini.


"Pergilah ke ruanganku" Bumi mencondongkan tubuhnya untuk melihat wajah wanita itu.


"Baiklah" Ana mendengus


"Aku akan menyusul" Bumi tertawa kecil.


Malam itu perasaan Ana campur aduk, dibalik kesenangannya ada rasa tidak percaya diri yang dia pendam. Dia dikenalkan sebagai kekasih Avaneesh Bumi oleh keluarga kekasih palsu nya itu. Bumi adalah salah satu pria berpengaruh di negaranya. Dengan latar belakang yang tidak sebaik kakaknya, dia agak pesimis untuk mendampingi pria itu didepan publik.


Terlebih kehadiran orang tuanya yang secara mendadak, membuatnya tidak punya persiapan untuk menemui mereka. Dia tidak mungkin bertindak seperti tidak terjadi apa-apa. Kedua orang tuanya lah alasannya pergi kesini.


Ana berjalan ke ruangan Bumi. Dia berpapasan dengan Dongmin dan juga seorang wanita.


Yeri?? ... Dia disini juga?


Ana membatin, dia sedikit terkejut melihat senior perempuannya itu disana. Wanita itu merangkul lengan Dongmin. Jujur saja, Ana tidak merasakan apa-apa, tidak seperti saat dia melihat Bumi melotot ke belahan dada pelayan waktu itu. Ah dia sangat geram jika mengingat kejadian itu.


"Kau mau kemana?" Dongmin melihat Ana jalan berlalu.


"Ke ruangan Bumi" Ucap Ana, tanpa menoleh ke arah Dongmin.


Dongmin mendengus lalu melepaskan rangkulan Yeri. Mereka berdua kembali ke Aula pesta dan bergabung bersama keluarga dan yang lainnya.

__ADS_1


Sedangkan Ana masuk ke ruangan bernuansa coklat itu sendirian. Dia berjalan mendekat ke arah kursi kerja Bumi. Lalu melihat vas foto di meja kerjanya.


Dia menatap foto Bumi dan keluarganya. Akan sangat indah jika dia menjadi bagian keluarga itu. Ana duduk di kursi putar milik sang pewaris KIK itu. Dia memejamkan mata untuk beberapa saat.


Tidak sadar Ana terlelap tidur, Bumi dan keluarga yang lain sedang berbincang soal bisnis.


"Terimakasih sudah mau menjadi Investor perusahaan kami" Ayah Ana tersenyum ke arah keluarga Bumi. Disana juga ada Lee Rojun dan yang lain.


"Tidak perlu sungkan. Anak kalian akan segera menjadi menantu keluarga kami jadi sudah seharusnya kami membantu calon besan hahaha" Kakek tertawa kecil diikuti seringaian yang lain.


Menantu? Besan? ... Dongmin mengernyitkan dahi merasa kesal. Dia harus segera menagih janji sepupunya itu sebelum pernikahan benar-benar terjadi.


"Oh iya, dimana Ana?" Ayah Bumi menoleh ke kanan kiri mencari wanita itu. Tapi dia tidak ada disana.


"Dia diruanganku, aku akan melihatnya dulu" Bumi tersenyum lalu menaruh gelas berisi wine nya di meja.


Dia berlari kecil menuju lift . Dongmin memperhatikannya dari jauh. Bumi keluar dari lift lalu segera masuk ke ruangannya. Dia melihat Ana yang sedang terpejam dikursi kerjanya yang nyaman.


"Ana...." Bumi mencoba membangunkannya pelan


Ana terbangun lalu mengernyitkan mata nya mencoba melihat siapa yang ada didepannya itu.


"Bum, kenapa kau kesini?" Ana meregangkan otot-ototnya, sepertinya dia sudah tertidur selama setengah jam.


"Ayah mencari mu, seluruh keluarga mencari mu"


"Ah benarkah? Tapi aku malas jika harus berlama-lama disana"


Bumi melihat sorot mata Ana yang masih mengantuk. Wanita itu memeluk tubuhnya yang agak kedinginan.


Bumi dengan sigap membuka jas nya dan menutupi Ana dengan itu, Ana menatapnya lekat.


Bumi melihat mata Ana yang berkedip secara perlahan, dia mendekati wajah itu. Ana memalingkan wajahnya sehingga pria itu malah mencium pipi Ana. Jika Ana telat satu detik saja , mungkin mereka sudah saling bercumbu sekarang.


Bumi dengan kikuk menegakkan badannya yang sebelum nya condong ke arah Ana. Ana mengerti, pria itu sekarang pasti sedang salah tingkah. Untuk beberapa saat mereka tidak berbicara satu sama lain, hanya saja pipi keduanya memerah seperti tomat.

__ADS_1


Ana mengatur nafasnya pelan.


"Aku mencintaimu" Bumi melingkarkan lengan di dadanya sambil bersandar di meja kerja dihadapan Ana.


"Maksudmu?" Ana mengernyitkan dahi.


"Aku benar-benar mencintai mu Ana, aku ingin kau menjadi kekasihku sungguhan." Bumi menatap wajah itu.


Ana terkejut mendengar ungkapan cinta yang tiba-tiba itu. Jantungnya berdegup kencang, dia belum tahu harus menjawab apa.


Wanita itu memejamkan mata untuk meyakinkan perasaannya. Ana berdiri dihadapan Bumi. Dia mendekat kearah pria itu dan hanya meninggalkan celah beberapa inchi saja.


Wajahnya perlahan mendekat ke arah Bumi, lalu mengecup bibir pria itu sebagai balasan perasaannya. Bumi yang terkejut dengan perlakuan Ana, langsung menarik pinggang wanita itu agar lebih dekat padanya. Sampai tidak ada celah.


Dia membalas ciuman Ana, dengan lembut dan menikmati itu sambil sesekali berderu dengan nafasnya sendiri. Pria itu menekan tengkuk leher wanita itu sampai ia tidak bisa kemana-mana.


Bumi membalikan posisinya, Ana tersudut ke meja kerja pria itu. Dia mengangkat tubuh Ana sedikit agar wanita itu bisa duduk disana.


Betapa sakitnya Dongmin, dia yang berniat menyusul Ana tapi malah melihat pemandangan panas dari mereka berdua. Keduanya bahkan tidak menyadari langkah kaki pria itu di luar ruangan. Dongmin langsung pergi meninggalkan mereka. Dia keluar dan berjalan menuju balkon.


Dia berusaha menahan amarahnya.


Dongmin menghela nafas panjang sambil berdiri di balkon yang ada di lantai itu, raut wajahnya terlihat berapi-api. Bahkan urat-urat di keningnya terlihat jelas akibat tekanan emosi yang dia rasakan.


Nafasnya menggebu. Dia terlambat. Ana terlihat sudah menyukai sepupunya itu. Jika dia mengatakan yang sebenarnya sekarang, sudah pasti wanita itu akan sedih. Dia tidak mau Ana terluka.


Dongmin kembali ke tempat pesta, disana dia langsung menghampiri Minhyun dan duduk bersama. Dongmin membawa satu botol wine penuh lalu menuangkannya sedikit ke dalam gelas. Dia meminum itu tanpa henti.


"Hey hentikan" Kata Minhyun sambil mencoba menarik gelas ditangan Kakaknya.


"Lepaskan" Dongmin berhasil merebutnya dan meminum wine itu sampai habis.


"sialan" umpat Dongmin mengingat kejadian tadi.


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2