
Malam itu, ruangan Bumi menjadi panas. Perhelatan keduanya belum selesai, Bumi beberapa kali mengecup tengkuk leher Anastasia perlahan sampai ke bahu wanita itu. Ana menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara aneh.
Deg.. Pria ini terlihat sudah berpengalaman
Ana membatin, pikiran itu muncul secara tiba-tiba. Tipikal Ana yang overthinking mengacaukan suasana itu. Dia memikirkan hal yang tidak penting. Wanita itu akhirnya agak mendorong Bumi menjauh dan melepas jeratan pria itu.
"Kenapa?" Sorot mata pria itu berkilauan terkena lampu, wajahnya benar-benar berbeda dari biasanya.
Ana menatap bibir yang dia kecup tadi, dia mengecap rasa wine yang ada disana.
"Bukankah, kita harus menemui yang lain?" Ana tersenyum canggung lalu merapatkan kakinya.
Bumi hanya tertawa kecil, mendekat lagi ke arahnya. Ana membelalak, Dia selalu terkejut setiap kali pria ini mengambil langkah mendekat ke arahnya.
"Yang lain tidak penting" Pria itu menggeleng
"Bumm..." Ana mendorong perut bidang pria itu agar menjauh, dia turun dari meja kerja yang dia duduki tadi sambil menurunkan dress hitam yang dia kenakan.
"Baiklah, lalu apa jawabanmu?" Bumi menahan Ana berjalan dengan menggenggam erat pergelangan tangannya.
"Hmmmm yang tadi adalah jawabanku he he" Ana tersenyum canggung lalu berjalan mendahului Bumi dengan cepat.
Jantungnya berdegup kencang, dia benar-benar melakukannya lebih dulu. Itu memalukan baginya. Bumi tertawa kecil lalu berjalan dibelakang Ana, Ana berjalan masuk kedalam lift, begitupun dengan Bumi.
Ana menyilangkan Jari-jemarinya agak gugup, Bumi memperhatikan gerak-gerik wanita itu dan dia menyadarinya. Pria itu langsung menarik tangan kiri Ana dan menggenggam nya.
"Haruskah kita melakukannya lagi, disini?"
Ana membelalak lalu memukul bahu pria itu, omongannya sembarangan sekali. Tapi itu sukses membuat pipi Ana makin merona.
"Seperti di Adegan fifthy shades of grey itu. Hahaha" lanjutnya.
Ana tidak menyangka pria ini juga suka film itu, pantas saja dia ahli. Ana memicingkan matanya. Tapi sayang sekali mr.grey bukan tipe kekasih idealnya.
Dia tertawa kecil sambil menatap pria itu. Bumi mendapati dirinya melihat ke bibir kecil nan tebal yang tadi dia kecup. Ah dia harus segera menyingkirkan pikiran itu dari kepalanya.
Pintu lift terbuka, mereka berjalan keluar sambil bergandengan.
"Aku lupa.." Ana berhenti berjalan.
"Ada apa?" Bumi mengernyitkan dahi kebingungan
__ADS_1
Ana melangkah mendekat ke arah pria itu untuk berbisik, Bumi mencondongkan tubuhnya miring ke arah Ana.
"Perhatikan ! Lipstikku pasti berantakan kan?"
Bumi tidak kuasa menahan gelak tawanya, tapi dia jadi memperhatikan bibir itu lagi. Dia mengangguk, memang benar lisptiknya keluar dari garis bibir wanita itu.
"Kalau begitu kau pergi duluan, aku harus ke toilet untuk merapikan ini"
Bumi mengangguk lalu berjalan ke arah pesta dimana orang-orang sedang menikmatinya.
Ana berjalan lalu mengeluarkan lipstik dari tas kecilnya, dia mencondongkan tubuhnya untuk mendekat ke arah cermin. Lalu melapisi sisa lipstiknya dengan goresan yang baru.
Kebetulan Yeri baru keluar dari kamar mandi, dia mendengus melihat Ana dan berdiri di samping wanita itu. Dia menatap Ana agak tajam.
"Ada apa?" Ana memasukan lipstiknya lagi ke dalam tas lalu fokus melihat seniornya itu.
"Apa yang kau lakukan pada Dongmin sampai dia seperti itu huh?" Yeri memicingkan matanya
"Maksudmu? Aku tidak mengerti" Ana menggeleng
"ck kau pura-pura polos, Apa yang dia lihat sehingga dia mabuk berat dan terpaksa harus dibawa pulang lebih dulu oleh Minhyun?" Yeri menyilangkan tangannya di dada, dia terlihat kesal.
"Mabuk?" Ana tertegun, dia tidak tahu apa yang terjadi.
Ana menggigit bibir bawahnya, jika benar dia harus segera berkata jujur. Kalau dia sudah mencintai Bumi. Ana tidak bisa menyakiti pria itu terus, apalagi dia ingin menunggunya.
Ini tidak benar.. Dongmin jangan sakiti dirimu hanya untuk wanita sepertiku.
Ana membatin merasa bersalah. Yeri mendengus lalu berjalan menubruk bahu Ana yang masih melamun. Ana berdiam diri disana selama beberapa menit.
Dia memejamkan matanya sebentar, lalu berjalan kembali ke pesta, menghampiri Bumi dan yang lainnya. Ibu dan ayahnya masih terlihat disana. Kali itu Ana diam saja, Pikirannya tertuju pada Dongmin.
Dia merasa bersalah karena tidak tegas terhadap perasaannya sendiri. Jika sejak awal dia memutuskan siapa yang akan dia cintai, mungkin Dongmin tidak akan kecewa. Pria itu adalah pria baik. Orang yang pertama kali Ana temui di negara ini, dia bahkan rela melakukan apapun untuknya.
"Kau baik-baik saja?" Bumi yang duduk disebelahnya memeriksa keadaan Ana. Pria ini juga baik, ah kenapa Ana merasa dilema sekali. Kenapa dia harus dihadapkan dengan pilihan sulit. Dia harus tegas pada dirinya sendiri dan berhenti jadi wanita labil.
Ana mengangguk dan tersenyum ke arah Bumi. Kakek ketua melihat pemandangan itu. Dia tertawa kecil.
"Anak muda sekarang jika sudah jatuh cinta memang akan langsung hilang fokus, yang dia lihat hanya kekasihnya saja haha"
Bumi menyeringai, semua orang tertawa mendengar ucapan kakeknya. Sedangkan Ana masih dengan perasaan gundah nya.
__ADS_1
Setelah acara selesai, Ana berpamitan kepada keluarga Bumi. Ana dan Bumi berpapasan dengan orang tuanya.
"Kalian akan pulang?" Tanya ibu Ana.
"Ya" Kata Ana singkat.
"Nikmatilah malam kalian"
Orang tua Ana langsung masuk ke mobil, Ana hanya bisa mengernyitkan dahi tidak mengerti apa maksud ibunya.
Dia bahkan membiarkanku bermalam dengan seorang pria?
Ana tidak habis pikir, orang tuanya bahkan sangat cuek melihat Ana dengan seorang pria. Ana tahu Bumi bukan pria sembarangan, tapi tetap saja kan? Harusnya mereka khawatir.
Pikirannya yang sedang gundah membuatnya gampang tersulut emosi. Disepanjang perjalanan dia tidak banyak bicara, itu membuat Bumi merasa kebingungan. Apa dia melakukan kesalahan? Itulah yang dia tanyakan pada dirinya.
Ana menghela nafas panjang, menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. Dia memejamkan matanya sejenak.
Bumi mengelus rambut Ana pelan, wanita itu menoleh lalu tersenyum ke arahnya.
"Ada apa?" Bumi sesekali melihat Anastasia.
"Aku.... Lelah" Kata Ana sambil menutup matanya
"Tentang orang tua mu?"
Ana mengangguk pelan, itu juga termasuk. Dia lelah dengan dirinya sendiri yang tidak tahu harus berbuat apa.
"Mau makan es krim?" Pria ini sangat pintar membuat mood nya membaik. Ana mengangguk lalu tersenyum.
"Baiklah..." Bumi tertawa kecil, dia berkendara mencari tempat makan es krim yang masih buka di jam sebelas malam.
Setelah sampai disalah satu tempat, mereka turun dari mobil lalu berjalan masuk kesana. Bumi memesankan es krim kesukaan Ana dan dirinya. Sedangkan, Ana duduk menunggu sambil menatap jalan raya yang mulai terlihat sepi.
Pria itu menghampiri Ana membawa dua cup es krim lalu meletakkannya dimeja.
"Terimakasih" Ana tersenyum pada nya.
"Makanlah, agar mood mu membaik" Bumi begitu perhatian padanya, itu membuatnya semakin dibuat jatuh cinta pada pria ini.
...****************...
__ADS_1
...****************...