
Halooo semuaaa!!!
Happy Reading xoxo ..
......................
Pagi itu matahari bersinar terang, Ana yang baru bangun dari tidurnya. Menoleh ke arah sofa lain, dia tidak melihat ayahnya disana. Ana berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Rupanya, ayahnya sedang membuat sarapan untuk mereka.
Sedangkan, Ibunya baru keluar dari kamar tidur. Dilihatnya, dia sudah mandi dan juga wangi. Berbeda dengan Ana yang masih berwajah bantal dan mengantuk. Ibunya mendengus pelan sambil berjalan mendekati ayah dan Ana.
"Kau tidak kuliah?" Tanya nya agak ketus, Ana masih belum mengecek ponselnya. Dia bahkan tidak tahu dimana terakhir kali dia meletakkannya.
"Aku tidak ada kelas," Ana menenggak habis segelas air berukuran sekitar 350ml.
"Aku mau mandi dulu," Ana berjalan menjauh dari orang tuanya, dia membuka pintu kamar mandi lalu menatap wajahnya dicermin.
Rambutnya yang sedikit berantakan membuat kecantikan alami wanita ini bertambah, dia membasuh mukanya. Lalu membuka pakaiannya satu persatu.
Hari ini, dia tidak akan berendam di bath ub. Dia akan langsung mandi dibawah guyuran air dari shower. Ana mulai menuangkan shampoo ke rambutnya.
~
"Bisakah kau lebih baik lagi kepada anak kita Anastasia? Dia sangat sedih dengan perlakuanmu yang seperti itu." Tuan Jung masih membolak balikan telur dadar yang dia buat.
Ibu Ana hanya mendengus kesal, pria itu membuat mood nya jadi hancur.
"Ah sudahlah, tidak perlu dibahas." Ibunya duduk dimeja makan sambil menyilangkan tangan didada. Raut wajahnya terlihat kesal.
Ayah Ana hanya menggeleng, dia bingung melihat sikap istrinya yang seperti itu. Jadi, dahulu saat baru menikah..... Ibunya Ana adalah seorang wanita yang punya karir cemerlang.
Bahkan saat hamil anak pertamanya, Bella. Ibunya masih tetap bekerja, dengan jabatan yang tinggi dan fasilitas yang dia dapatkan membuat dia sangat berbangga diri atas pencapaiannya.
Dia bukan orang yang suka mengerjakan tugas rumah, bahkan untuk urusan memasak pun sering dilakukan oleh Tuan jung sendiri.
Setelah 10 tahun dan pasa kehamilannya yang kedua. Kehamilannya membawa masalah untuknya, dia bahkan terpaksa harus berhenti kerja dan fokus pada bayinya. Awalnya dia tidak mau dan merasa sedih dan dia tetap ingin mempertahankan karirnya, sebagai seorang direktur disalah satu perusahaan besar.
Dia banyak disegani orang lain, tapi saat setelah kehamilan Ana, dia keluar dari tempatnya bekerja itu. Atas permintaan ayah Ana, dia ingin istrinya itu hanya mengurus anak-anak dirumah. Setelah itu terjadi, dia sering menyalahkan Ana atas apa yang terjadi pada hidupnya.
Perubahan bentuk tubuhnya saat hamil Ana pun, membuatnya stress sehingga dia melampiaskannya pada Ana kecil. Berbeda saat dia hamil Bella, semuanya dipersiapkan. Makanya, ibunya selalu menatap Ana sebelah mata karena itu sudah dia lakukan sejak Ana masih didalam kandungan.
~
Ana keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono dan handuk rambut dikepalanya. Dia berjalan masuk ke kamar, dia belum engeh kalau black card Bumi sebenarnya sudah tidak ada pada dompetnya dan juga laci tempat tidur..
Wanita itu membuka pintu lemari, dia memilih pakaian santai untuk didalam rumah. Dia belum ada niatan untuk pergi kemana-mana hari ini. Setelah memakai pakaian, Ana baru mencari ponselnya yang lupa dia taruh dimana. Ana berjalan ke sofa, ke ruang tv tapi dia belum menemukannya juga.
Dia baru ingat, kalau ponselnya masih didalam tas kuliahnya. Dia pun segera kembali ke kamar dan mengambil ponsel itu didalam tasnya.
__ADS_1
Betapa terkejutnya dia, saat mencari ponsel malah melihat ada dua kartu mahasiswa baru disana.
"Jadi, kartuku tidak hilang? Tapi kenapa baru ketemu sekarang?" Ana memperhatikan kartunya agak lama. Padahal waktu itu dia menyangka kartunya hilang, tapi kenapa itu ada ditasnya sekarang? . Ana tidak tahu kalau Bumi lah yang menemukan kartu itu saat di Bandara.
Dan menaruhnya ditas secara diam-diam saat dia ada jadwal memberi materi di Hanku waktu itu. Ana meraih ponselnya, ternyata ponselnya mati. Lalu, Ana segera menekan tombol power untuk menghidupkan ponselnya.
Tak butuh waktu lama untuk ponselnya hidup, Ana menunggu layar home di ponselnya muncul. Dia tertegun saat melihat sebuah pesan dari Bumi.
^^^Dari : Bum^^^
^^^Ana, mungkin kau belum bangun saat aku mengirim pesan ini.^^^
^^^Aku ingin meminta maaf, karena tidak mengabarimu.^^^
^^^Sekarang, aku sudah sampai di Negara tujuanku,^^^
^^^mungkin saat kau baca pesan ini aku sedang tertidur.^^^
Ana menatap pesan itu untuk sesaat, dia langsung mengirimkan balasan pada Bumi secepat mungkin.
^^^Dari : Ana^^^
^^^Bum, Aku tahu kau sibuk.^^^
^^^Aku tidak mempermasalahkannya,^^^
^^^aku senang kau sampai disana dengan selamat.^^^
Ponsel Ana berdering, betapa senang dan terkejutnya dia mendapat balasan dari Bumi.
^^^Dari : Bum^^^
^^^Aku menggunakan laptop untuk menghubungimu sekarang,^^^
^^^ponselku tertinggal dirumah.^^^
^^^Aku ingin melihat wajahmu.^^^
Tidak lama panggilam dari Bumi pun datang, dengan deg-degan Ana menjawab telepon video dari Bumi.
Bumi menyeringai melihat wajah Ana di layar laptopnya, dia sangat merindukan wanita itu. Terlihat Bumi sedang duduk di kursi berwarna coklat di belakangnya.
"Haloo, ahhh segar sekali. Biar kutebak kau pasti baru selesai mandi?" Bumi tersenyum melihat kekasihnya yang agak mengerucutkan bibirnya.
Ana tidak menjawab pertanyaan Bumi, "Ada Apa??? Kau bilang, tidak masalah." Bumi tertawa kecil.
"Tetap saja !!! Bagaimana bisa kau melupakan aku. Hmm" Ana memalingkan pandangannya, hal ini sudah menjadi rahasia umum daei wanita.
__ADS_1
Saat wanita merasa rindu pada seseorang, dia pasti akan mencari-cari masalah dengannya.
"Maafkan aku, Aku sangat merindukanmu." Bumi tersenyum ke arah Ana.
"Aku kesal padamu!! Kau bilang kita akan ke pantai." Ana memutar bola matanya sambil mendengus.
"Kita akan, tunggulah sampai aku pulang nanti. Tersenyumlah! Aku merindukan senyumanmu." Bumi meminta Ana tersenyum, barulah wanita itu tersenyum ke arahnya.
Dengan senang, Bumi memperhatikan Ana, dia menahan dagunya dengan tangan sambil melihat Ana agak lama.
"Belum dua puluh empat jam aku sudah sangat merindukanmu." Kata Bumi seperti anak SMP baru pacaran.
"Anaaaaaa, Sarapan!!" Suara ayahnya di balik pintu terdengar oleh Ana dan Bumi.
Ana menoleh ka arah pintu kamar yang tertutup,
"Okee, aku akan segera kesana."
"Ayah menunggu. Ayah sudah membuatkan makanan kesukaanmu putri kecil."
Mendengar ucapan ayah Ana, Bumi tertawa kecil. Sama hal nya dengan Ana yang tertawa mendengarnya.
"Baiklah ayah." Kata Ana, dia lalu melihat Bumi lagi.
"Kau tidak tidur?? Jam berapa disana?" Tanya Ana penasaran.
"Baru jam setengah 9, yasudab aku akan menelepon mu lagi nanti. Kau pergi sarapan dulu ya. daaaah" Bumi melambaikan tangannya. Sebenarnya Ana masih belum puas mengobrol dengan pria itu. Tapi ayah ya sudah menunggunya didapur, jadi dia harus segera kesana.
"Okee, bye bye. Istirahatlah yang cukup!" Ana memperingati Bumi, itu berhasil membuat wajah Bumi memerah.
"Iyaaa kau juga. Jaga dirimu baik-baik selagi tidak ada aku." Kata Bumi, rasanya keduanya enggan mematikan telepon. Tapi saat panggilan ayah Ana terdengar lagi, terpaksa mereka harus menutup panggilannya.
Bumi bersandar dikursi, dia masih senyum-senyum sendiri akibat mengobrol dengan wanita yang dicintainya itu.
Tuk tuk tuk
Suara langkah kaki mendekat ke arahnya,
"Hey kau belum tidur?" Tanya seorang wanita pada pria itu.
"Belum, kau mau kemana?" Tanya Bumi padanya.
"Aku haus," Wanita itu hendak mengisi air minumnya lagi. Bumi dengan sigap berdiri lalu meraih gelas yang ada ditangannya.
"Biar aku saja, kau duduk saja atau tunggu dikamar, Bella. Aku akan mengambilkanmu minum."
...****************...
__ADS_1
...****************...