
Setelah menunggu selama enam jam, akhirnya bayi itupun lahir. Tapi, keadaan Bella semakin memburuk karena saat proses operasi dia mengalami pendarahan. Belum ada orang yang bisa mengunjungi Bella, karena dia masih nerada di ruang pemulihan.
Anastasia bersandar pada Bumi diruang tunggu, Bumi sesekali menatap wanita itu dengan iba. Ibu Bumi menatap kedekatan mereka berdua. Dia paham, bahwa anaknya sangat menyayangi Ana. Sedangkan kakek dan ayah Bumi sudah pergi lagi ke kantor.
Tidak lama, dokter pun memberitahu semua orang bahwa bayinya sudah bisa dilihat dari luar ruangan, karena terlahir prematur bayi itu harus di inkubator sampai organ dalamnya sudah cukup kuat tanpa alat bantu medis.
Momen langka, antara bahagia dan bersedih menjadi satu. Ana tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Dia merasa kedua kakinya melayang.
"Ibu mau melihat bayinya dulu," ujar ibu Bumi yang beranjak dari sana.
Sejak tadi, ibu Ana belum terlihat batang hidungnya. Ana pun tak risau dengan hal itu. Dia dan Bumi dengan sabar menunggu proses operasi selesai. Sampai Dokter menyampaikan bahwa Bella sudah boleh di kunjungi.
Ana dan Bumi segera ke ruangan itu, dia melihat Bella sudah tersadar dari obat biusnya. Tapi wajahnya terlihat sangat pucat. Ana pun menghampiri wanita itu, Bumi menunggu diluar karena dia ingin memberikan waktu untuk keduanya.
"Aku belum sempat meminta maaf pada ayah," Bella menangis air matanya mengalir deras.
"Ssh, aku yakin ayah pasti sudah memaafkanmu." begitupun dengan Ana, walau dia berusaha menenangkan Bella. Dia tetap tidak bisa, menyembunyikan rasa sedihnya.
"Ada yang ingin aku sampaikan..."
"Ya tentu, aku akan mendengarkannya." jawab Ana dengan lembut.
"Sebenarnya, bayi itu bukan anak Bumi." katanya dengan lirih, dia sesekali mengernyit seperti orang kesakitan.
Ana belum mengerti, apalagi sebenarnya ini? Dia terlihat kebingungan dengan ucapan Bella. Jika bayi itu bukan anak Bumi, dimana ayah kandung bayi itu berada.
"Apa maksudmu?" Ana mengerutkan dahi, terlihat air mata masih membasahi pipinya.
__ADS_1
"Bayi itu adalah anak dari kekasihku yang berada di Amerika."
"Tapi kumohon padamu, jangan katakan ini pada Bumi berjanjilah. Aku, aku tidak ingin dia tahu bahwa bayi itu bukan anaknya. Aku ingin bayi itu mempunyai ayah yang bertanggung jawab seperti Bumi." Bella menggenggam tangan adiknya, dia memohon agar wanita itu tidak mengatakannya pada Bumi.
Ana melepaskan genggaman Bella, "kau gila? Aku akan mengatakannya."
"Ana kumohon! Aw.. " Bella menekan perutnya yang terasa sangat sakit, tidak lama tekanan darah wanita itu menurun drastis, terlihat dari monitor di sampingnya.
Ana yang terlihat panik langsung menekan tombol untuk memanggil perawat dan dokter.
"Kode putih. kode putih."
Bumi yang sedang berdiri di luaran membelalak saat para perawat berlarian menyebutkan kode putih. Dokter pun berdatangan setelahnya. Ana dipaksa mundur oleh para perawat karena mereka harus memacu jantung Bella menggunalan defibrilator.
Bumi langsung ikut masuk ke dalam ruangan dan menahan Ana yang hampir terjatuh karena kakinya terasa lemas. Ana menutup mulutnya tidak percaya, dia menangis dan memeluk Bumi. Sedangkan para dokter dan perawat berusaha keras untuk menyelamatkan nyawa Bella.
Setelah sepuluh menit berlalu, para dokter dan perawat akhirnya menyerah. Mereka menyatakan bahwa Bella meninggal.
Para dokter sudah keluar dari ruangan untuk memberi ruang pada keluarga yang di tinggalkan. Ibu Ana yang baru saja masuk langsung tertegun melihat Bella sudah tidak bernyawa. Wajahnya terlihat pucat, dia mengahampiri Bella lalu menunduk di samping tempat tidur yang dingin itu. Dia meraung meratapi kepergian dua orang yang dikasihinya sekaligus.
Ibu Bumi baru melangkahkan kakinya di kamar itu, dia melihat Ana dan Bumi yang bersimpuh dibawah sembari menangis. Wanita itu berlutut lalu mengelus lembut punggung Bumi, berusaha menegarkan anaknya dan juga Ana.
Ibu Ana terus meraung menangisi kepergian Bella.
Setelahnya, pihak rumah sakit langsung mengurus jenazah Bella. Ana akan bersiap di rumah duka bersama ibunya dan yang lain. Kali ini, penyelenggaraanya akan dilangsungkan bersama sang ayah.
Bumi dan keluarganya membantu proses yang harus dilakukan di rumah duka. Dengan pakaian yang serba hitam, Ana dan ibunya langsung memakai pakaian khas orang sana saat berkabung.
__ADS_1
Tidak lupa, mereka menunggu kedatangan keluarga lainnya di sana.
Bumi mengenakan pakaian serba hitam. Begitupun keluarganya yang lain. Dia tetap setia bersama Ana. Walau, hatinya sama hancurnya karena kepergian Bella. Bagaimanapun, wanita itu pernah mengisi relung hatinya.
Ana berwajah pucat, air matanya kian mengering. Tidak henti-hentinya cobaan menghampiri wanita itu. Dia bahkan terbebani dengan pesan terakhir Bella. Dia menangis mengingat hal-hal yang dulu pernah dia lakukan bersama kakak dan ayahnya.
Ana menyambut setiap tamu yang datang, dia dan ibunya menyapa setiap orang yang memberi penghormatan terkahir untuk Bella dan juga ayahnya. Dongmin, Minhyun dan sahabat-sahabatnya dayang untuk melayat.
Mereka melihat Ana yang berwajah pucat juga mata yang sembap. Yang lain langsung memakan hidangan yang tersaji disana, ini memang sebuah tradisi. Setelah cukup lama menyambut orang-orang akhirnya Ana menemui Bumi yang sedari tadi menatapnya dsri kejauhan. Di meja itu ada Bumi dan teman yang lain. Sedangkan di meja lainnya ada keluarga Kim, juga ada keluarga dari mendiang ayahnya dan rekan-rekan ayahnya dulu.
Tempat itu dijaga oleh para ajudan keluarga Kim, Ana menatap datar hidangan di depannya. Semua temannya sangat prihatin melihat nasib Anastasia. Mereka tahu, Ana sangat terpukul.
Ana menenggak segelas minuman di depannya lalu berusaha tersenyum tipis ke arah mereka semua. Sedangkan ibunya masih bersimpuh di ruang penghormatan. Ana menatapnya sekali, lalu fokus lagi pada orang-orang dihadapannya.
Wanita itu merasa hampa, satu-satunya orsng yang menyayanginya kini pergi meninggalkannya.
Kenapa tuhan setega ini? Kenapa kau mengambil ayahku?
Benar apa kata orang, Bunga yang cantik akan lebih dulu di petik. Sehingga mungkin itu cocok dengan perumpamaan yang sekarang. Ayahnya yang selama ini selalu melindunginya, malah harus dipanggil lebih dulu oleh yang maha kuasa.
Ana masih melamun, Bumi pun mengelus punggung tangan Ana pelan, sehingga membuyarkan lamunan wanita itu.
"Makanlah dulu," ujar pria itu.
Ana mengangguk pelan, dia mengambil sumpit lalu memakan sedikit hidangan disana. Ana mengunyah dengan sangat perlahan, dia sama sekali tidak berselera. Siapaoun tidak akan berselera dalam kondisi seperti ini.
Belum lagi, dia memikirkan tentang wasiat Bella. Dia perang batin bersama dirinya sendiri, antara berkata jujur pada Bumi atau menutupi itu semua. Dia belum tahu, apa yang akan dia lakukan kedepannya.
__ADS_1
...****************...
...****************...