
Dongmin mengendarai mobilnya dengan laju yang normal, Ana yang sedari tadi Hanya berdiam diri sesekali menoleh ke arah pria itu. Dongmin sendiri belum tahu apa yang harus dia bicarakan pada Ana, dia tidak tahu harus mulai dari mana.
"Kau mau ke Coffee Shop?" Tanya Dongmin, Ana menoleh ke arah pria itu lalu dia mengangguk pelan, "Boleh katanya sambil tersenyum.
Dongmin menyeringai lalu kembali fokus ke jalanan, dia mencari Coffee shop terdekat di pusat kota Seoul, dia belum tahu rencana apa lagi yang akan dia lakukan bersama Ana. Tapi, untuk kali ini dia hanya ingin mengobrol dahulu dengannya.
Sebenarnya dia juga tidak yakin untuk membicarakan hal yang dia ketahui selama ini kepada wanita itu. Tapi, jika terus dibiarkan dia akan merasa sangat bersalah pada Ana. Terlebih bumi yang bersikap seperti Acuh Tak Acuh pada wanita itu membuat dia semakin geram.
Setelah 30 menit berkendara akhirnya mereka berdua sampai di depan Coffee Shop, seperti biasa Dongmin membukakan pintunya untuk Anastasia. Lalu mereka berjalan beriringan ke sana, Ana masih menggunakan maskernya, dengan statusnya sebagai kekasih Bumi, dia agak takut untuk menunjukkan identitasnya ke khalayak ramai.
Dia takut akan komentar orang-orang nantinya, melihat kekhawatiran di mata Ana, pria itu pun langsung mengerti dan tidak ingin memaksanya untuk melepaskan maskernya.
Maka dari itu Dongmin sengaja memilih tempat yang sangat tersembunyi di bagian ujung ruangan yang menghadap ke jalanan. Untung saja tempat itu memiliki sekat antar kursi, sehingga bisa menjaga privasi mereka.
Keduanya memesan latte, Dongmin yang duduk dihadapan Ana tidak tahu harus mulai bicara darimana. Pria itu hanya mengetuk-ngetukan jarinya di meja.
"Dongmin, hentikan!" Ana tertawa kecil, dia merasa aneh dengan tingkah pria itu.
Dongmin hanya menyeringai tipis, kemudian dia mulai memberanikan diri untuk memulai percakapan.
"Ana, ada yang ingin aku bicarakan. Tapi. Sebelumnya apa kau akan memercayaiku?" Dongmin agak ragu.
Ana menaikan kedua alisnya, bibir bawahnya agak maju ke depan sedikit, dia merasa Dongmin bergelagat aneh hari ini.
"Tentu, kau sahabatku!" jawab Ana sambil menyeringai.
Tidak lama latte pesanan mereka pun datang, keduanya mengucapkan terimakasih pada pelayan yang sudah mengantarkan kopinya. Kemudian Ana kembali fokus kepada Dongmin dia merasa bingung dengan sikap pria itu dan juga penasaran tentang apa yang akan dibicarakan olehnya. Ana membuka masker yang ia kenakan.
Dongmin menatap Ana sekali lagi, dia benar-benar ragu untuk mengungkapkannya.
"Apa kau percaya pada Bumi ?" tanya pria itu, Ana pun mengurutkan dahi.
__ADS_1
Kenapa Dongmin tiba-tiba membawa bumi dalam hal ini?
Ana mengangguk, "tentu saja aku sangat mempercayainya," jawab Ana.
Dongmin semakin tidak bisa untuk mengungkapkan kebenaran yang dia tahu itu. Dia takut akan reaksi Ana, tapi dia juga tidak bisa membiarkan hal itu terus berlarut dan menyakitinya secara perlahan.
Dia tidak ingin Ana tahu dari mulut orang lain, dia juga tidak ingin wanita itu tahu bahwa selama ini dirinya sudah mengetahui apa yang disembunyikan kekasihnya. Bisa saja wanita itu membencinya dan tidak ingin berteman dengannya lagi.
"Berjanjilah, kau akan mempercayaiku Ana." ucapan Dongmin lagi-lagi membuat Ana bingung.
"Ada apa?" Ana mengerutkan dahi.
"Bumi akan menikahi mantan kekasihnya.." ujar Dongmin dengan ragu.
Ana menatap pria itu, lalu tertawa kecil. Ana pikir Dongmin hanya sedang berbual.
"Mantannya? Maksudmu kakakku?" Ana menyeringai.
"Apa maksudnya? Kakakmu?" Dongmin malah dibuat bingung oleh jawaban gadis itu.
Dongmin tertegun mendengar ucapan wanita itu, apa dia harus melanjutkan sisanya atau tidak? Dia tidak tahu.
"Kau tahu kakakmu hamil?" Dongmin menaikan kedua alisnya, dia berharap wanita itu sudah tahu.
Ana menatap Dongmin dengan bulat, ada ketidakpercayaan di matanya. Wanita itu menerka ekspresi Dongmin yang tidak menunjukan kebohongan sedikitpun.
Tangannya agak gemetar, dia merasakan dingin yang sangat menusuk. Bahkan serasa menusuk sampai jantungnya. Ana menggeleng mencoba mengelak fakta yang ada.
"Tidak, kau bercanda kan? Aku tidak tahu apa-apa soal itu." Ana berbicara dengan bergemetar.
Dongmin merasa menyesal melihat raut wajah Ana yang kini terlihat bingung dan kecewa.
__ADS_1
Katakan ini bohong, Dongmin .. Katakanlah kau berbohong padaku!
Batinnya menjerit, dia tidak kuasa menahan sesak yang ada didadanya.
"Kakakmu mengandung anak Bumi. Ana." Tegas Dongmin sekali lagi, yang membuat Ana sampai tercengang dan menutup mulutnya.
"Katakan padaku ini kebohongan, katakan padaku kau dan Bumi sedang berusaha mengerjaiku." Ana berdiri menatap Dongmin.
Dongmin hanya bisa menatapnya dengan penuh penyesalan dan kesedihan. Ana berlari keluar dari tempat itu. Pria itupun langsung berdiri, "Ana!" serunya. Dia tahu ini sulit bagi Ana, pria itu tidak mengejarnya dia akan membiarkan wanita itu tenang dan menyendiri dulu.
Tapi, sesaat ia mendengar guntur yang cukup keras, hujan pun datang dengan cepat. Dongmin terlihat panik, dia segera meminjam payung dan mencari Ana keluar. Pria itu berlari mencari Ana disekitaran ruko disana.
Dengan kondisi jalan yang basah, pria itu terus sibuk mencari Ana. Dan perhatiannya terpaku pada wanita yang sedang berjongkok di pinggiran gang.
Itu adalah Anastasia yang sedang menangis, wanita itu membasahi tubuhnya dengan air hujan yang mengguyur. Dia tidak peduli apakah ia akan jatuh sakit atau tidak. Karena dia sudah cukup sakit untuk kali ini.
Tuk tuk tuk
Suara langkah kaki Dongmin mendekat, dia segera menadahi air hujan dari Ana dengan payung yang dia bawa.
Dia bahkan membiarkan dirinya terguyur oleh air hujan yang cukup deras itu, suara gemuruh yang sangat keras menyamarkan suara tangisan Ana. Wanita itu mendongak ke arah Dongmin, dia masih menangis, matanya pun memerah dan air matanya mengalir ke pipinya dengan deras.
"Katakan padaku bahwa kau berbohong! Bahwa itu tidak benar Dongmin! " ucap Ana dengan lirih, tapi Dongmin hanya bisa menunduk dan menatapnya sendu.
Dia membiarkan Air hujan membasahi kepala hingga kakinya, dia tidak menjawab apa-apa selain menatap Ana dengan penuh kesedihan. Ana kembali menangis sejadi-jadinya, rasa sesak di dadanya tidak bisa dia tahan Lagi.
"Kenapa? Kenapa hal ini bisa terjadi padaku Dongmin? Kenapa Bumi tega membohongiku? Apa aku hanya dijadikan alat olehnya? Apa selama ini ungkapan cintanya padaku hanya omong kosong?" tanya Ana dengan lirih, sorotan matanya penuh amarah dan juga kesedihan
"Lalu apa arti semua ini? Apa arti aku menunggunya? Kenapa tidak dia katakan yang sejujurnya padaku Dongmin? Kenapa bukan dia saja yang mengatakan hal yang sebenarnya padaku? Kenapa dia tega menyakitiku seperti ini? Apa salahku?" Ana menangis dengan keras, dia meratapi nasibnya yang sungguh menyedihkan itu. Kenapa hal itu selalu terjadi padanya, kenapa dia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan walau hanya sebentar saja.
__ADS_1
...****************...
...****************...