
"Kumohon lepaskan akuuu!" teriak Ana sekali lagi,
"Aku tidak mau," Pria itu mendekatkan dirinya ke Ana yang terpojok.
Siapa pun kumohon tolong aku !
Ana sudah berputus asa, dia berjanji siapapun yang datang menolongnya dia akan membalas kebaikannya juga. Tiba-tiba..... Lampu mobil menyoroti mereka. Terlihat pria berpakaian rapih turun dari mobil dan menghampiri mereka, dia membanting pintu mobil dengan keras.
"Lepaskan dia! " teriak pria itu.
"Bumi," Kata Ana lirih.
Penguntit ini menggenggam pergelangan tangan Ana makin kuat.
"Siapa kau berengsek? Beraninya memerintahku!" Pria itu mengeluarkan pisau.
Ana ketakutan karena pria itu mulai mendekati Bumi sambil mengibaskan pisaunya pada pria itu. Dia hanya berharap Bumi tidak terluka sedikit pun.
"Kau yang siapa berengsek, dia kekasih ku ! Beraninya kau menyentuhnya, aku akan membunuhmu ! " Bumi menghajar pria itu tepat dipipi,
Pria tadi membalas serangan Bumi, dia menyerang menggunakan pisau tapi dengan cepat Bumi menghindar. Bumi kembali membalas serangan pria itu, lalu menendang alat vitalnya.
"Aww sialan!" teriak pria itu pada Bumi.
"Kau yang sialan!" Bumi menendang wajahnya , pria tadi langsung tersungkur ke tumpukan limbah kayu dibelakang. Bumi pun dengan sigap langsung menginjak tangan pria itu yang menggenggam pisau.
"Aw aw aw lepaskan aku!" Mohon pria itu sambil mengerang kesakitan.
"Aku tidak akan melepaskanmu, kau akan membusuk dipenjara!" Bumi segera menelpon polisi untuk datang ke lokasi sambil masih menginjak pergelangan pria tadi. Saat lengah pria itu meninju kaki Bumi dengan keras, Bumi pun merasa kesakitan. Sontak dia melepaskan pijakannya pada pria tadi, dan dia pun berhasil kabur.
"Awhhhh, Brengsek!" Umpat Bumi. Pria tadi lari dan kabur dengan meninggalkan pisau nya disana. Bumi terlalu fokus menghajar pria tadi, sehingga melupakan Ana yang pasti ketakutan.
Ana terdiam, tubuhnya bergemetar. Bumi langsung menghampirinya dan melepas jas nya untuk menutupi tubuh Ana dengan itu.
"Kau sudah aman sekarang, ayo masuk ke mobilku." Bumi menuntun Ana yang masih syok, Ana hanya berdiam diri dia enggan masuk kedalam mobil Bumi.
"Aku ingin membantumu," Bumi membungkuk menatap wajah Ana, wanita itu meneteskan air mata. Wajahnya terlihat pucat, akhirnya Ana mau masuk kedalam mobil. Sesaat sudah didalam mobil tangisnya baru pecah.
Bumi merasa kebingungan, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan,
Dia hanya bisa mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di apartemen Ana. Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai didepan gedung Apartemen. Dia menuntun Ana keluar dari mobil.
Perlahan mereka memasuki gedung itu, dilihatnya satu orang penjaga menyapa meeeka berdua. "Nona Ana kenapa pak? Apa ada yang bisa saya bantu?" Penjaga Apartemen terkejut melihat kondisi Ana.
"Bisa kah kau antarkan kami ke atas? Saya tidak tahu letak kamarnya." Kata Bumi dengan agak ragu. Penjaga tadi pun mengangguk. "Ya tentu" katanya.
Penjaga itu berjalan mendahului Ana dan Bumi, sesampainya didepan pintu, Ana memberikan kuncinya. Tatapannya sangat kosong, Bumi segera menuntun Ana masuk kedalam dan membantunya duduk disofa.
Pria itu berinisiatif mengambilkan Ana minum, dia pun berjalan ke dapur.
"Minum dulu, kau pasti sangat terkejut," Bumi memperhatikan wajah Ana yang masih pucat, matanya pun sembab. Ana kembali menangis, karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan akhirnya Bumi keluar dari apartemen. Seketika dia ingat bahwa Minhyun juga tinggal disana.
"Mungkin, Minhyun bisa membantuku" gumamnya.
Bumi mengeluarkan ponselnya lalu segera menelepon Minhyun.
__ADS_1
Panggilan pun tersambung.
"Bisakah kau membantuku? Aku akan menjelaskannya nanti, sekarang aku ada di lantai 6 apartemen mu." Bumi terkesan buru-buru, tanpa basa basi Minhyun pun langsung mematikan telepon nya lalu segera menuju ke lantai 6.
Bumi kembali masuk ke Apartemen Ana,
"Aku mohon jangan beritahu Dongmin," Ana menatap Bumi datar.
"Kenapa?" Bumi kebingungan,.dia tidak tahu alasannya. Tapi dia akan mengabulkan keinginan Ana, apapun itu Bumi mencoba mengerti, tanpa harus minta penjelasan.
"Baiklah, aku tidak akan!" Bumi keluar dan menunggu Minhyun di ambang pintu apartemen Ana.
"Kenapa?" Minhyun menghampiri Bumi dengan wajah khawatir, dilihatnya Bumi berdiri di pintu apartemen Anastasia.
"Akan aku jelaskan," Bumi mengajak Minhyun kedapur untuk berbicara empat mata disana.
"Ada apa dengannya? Kenapa tatapannya seperti itu?" Minhyun cemas melihat Ana seperti orang linglung.
"Tenangkan dirimu, aku sudah menelepon dokter dan polisi" Ucap Bumi sambil menyandar di wastafel.
"Kenapa? Apa yang terjadi pada Ana?" Tanya Minhyun , dia semakin bingung.
"Aku melihat Ana sedang diganggu oleh seorang pria didekat KIK, pria itu mencoba melakukan hal buruk pada Ana." Bumi menjelaskan.
"Bagaimana bisa? Setahu ku Ana pergi bersama Dongmin tadi pagi!" Minhyun membuka mulutnya tidak percaya, karena yang dia tahu Ana pergi bersama Dongmin.
"Aku tidak tahu, yang pasti aku melihatnya sendirian." Kata Bumi menatap Minhyun datar.
"Dia kabur, tapi aku sudah menelepon polisi. Aku juga sudah menelepon dokter untuk memeriksa keadaan Ana, sepertinya sebentar lagi dokter itu akan tiba." Bumi menepuk pundak Minhyun.
"Aku tidak bisa lama-lama menjaga Anastasia, maka dari itu aku memintamu untuk merawat dan menjaganya. Telepon saja aku jika kau butuh sesuatu, aku juga harus memberikan keterangan pada polisi." Bumi masih menatap Minhyun datar, tapi jauh didalam lubuk hatinya dia juga merasa kasihan pada wanita itu.
"Tentu saja, aku pasti akan menemaninya. Bagaimana dengan Dongmin?" Minhyun melihat Bumi dan menunggu jawabannya,
"Ana memintaku untuk tidak memberitahunya, kuharap kau juga," Bumi menepuk pundak Minhyun. Minhyun merasa kesal, dia ingin sekali bertemu pria itu untuk menghajarnya.
Bagaimana seorang pria membiarkan wanita pulang sendiri di jam malam seperti ini?
Batin Minhyun, dia menahan amarahnya pada Dongmin, dia dan Bumi kembali ke ruang tamu untuk menemui Ana.
"Aku harus pulang dulu, Minhyun akan menjagamu, Sebentar lagi Dokter akan tiba dan memeriksamu." Bumi berlutut dan berbicara di depan Ana.
"Terimakasih, apa kakimu baik-baik saja?" Tanya Ana sambil memperhatikan kaki Bumi.
"Aku baik-baik saja, kalau begitu aku pulang dulu" entah kenapa saat itu Bumi refleks mengelus pucuk kepala Ana sebentar. Lalu pergi dari sana. Bumi keluar dari apartemen itu dan kembali ke tempat kejadian perkara untuk memeriksa keadaan disana.
Minhyun melihat Ana sambil berlutut dihadapannya, Ana pun menangis. Minhyun mencoba menenangkannya, dengan menggenggam tangan Ana dan tidak berkomentar apa-apa sampai dia selesai dengan tangisannya itu. Tangan Ana sangatlah dingin, Minhyun juga masih bisa merasakan getaran di tubuh Ana.
Tak lama kemudian Dokter pun datang. Dokter meminta Ana merebahkan Tubuhnya dikasur untuk diperiksa,
Setelah 15 menit, dia pun selesaj memeriksa keadaan Ana, dia enjelaskan kondisi Ana terkini.
"Dia kena serangan panik, jika dia terus memikirkan kejadian ini dia bisa saja terkena trauma. Aku meminta bantuanmu untuk selalu menjaganya untuk saat ini, juga tolong berikan obat ini (Penenang) untuknya sesuai dosis yang tertera." Kata dokter itu.
__ADS_1
"Kemungkinan dia akan mengalami demam karena serangan paniknya, kondisinya memang sedang tidak stabil. Ditambah adanya kejadian ini, Kondisinyasemakin memburuk. Saya harap dia bisa segera di bawa ke Rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut (Dr. Kim Joon Psikolog) " lanjut Dokter itu menjelaskan.
"Ya tentu, terimakasih dokter." Minhyun menangangguk mengerti.
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter itu pun pergi. Sedangkan Minhyun masih menemani Ana yang sedang tertidur disana. Minhyun melihat ada air mata diujung mata wanita itu, dia menyeka nya pelan dengan tisu. Minhyun memeriksa suhu tubuh Ana, benar kata dokter sekarang dia mengalami demam.
Dia ke dapur mengambil air hangat untuk mengompres Ana. Semalaman Minhyun merawat Ana, sampai dia tertidur tanpa sadar di samping ranjang Ana dengan posisi menelungkup.
Di sepertiga malam Ana terbangun, melihat Minhyun tertidur disampingnya. Air matanya mengalir membasahi pipinya, dia mengingat kejadian semalam. Ana merasa Jijik terhadap dirinya sendiri, Minhyun terbangun lalu mendekat ke arah Ana yang sedang menangis.
"Apa tubuhmu terasa sakit?" Tanya nya khawatir.
Ana menggeleng,
"ssh sssh" Minhyun mengusap kepala Ana dan menenangkannya. Ana tidak bisa tidur lagi, begitupun dengan Minhyun.
"Tidurlah, besok kau harus ke Kampus!" Kata Ana.
"Aku akan menemanimu," Minhyun menatap Ana iba.
"Minumlah dulu!" dia juga memberikan Ana segelas Air.
"Terimakasih" Ana duduk lalu tersenyum padanya. Minhyun merasa tenang karena bisa melihat Ana tersenyum.
"Kau tetap harus ke kampus, aku baik-baik saja," Ana meyakinkan.
"Apa ada seseorang yang bisa kuhubungi untuk menemanimu?" Tanya Minhyun.
"Tidak ada," Jawab Ana sendu.
"Kalau begitu aku tidak bisa dan tidak akan membiarkan mu sendiri dalam kondisi ini!" Minhyun menatap Ana lekat.
"kalau begitu, tolong Panggilkan sahabatku Yuri. sepertinya dia bisa menemaniku, aku rasa pagi ini dia tidak ada jam kuliah." Ana memberikan ponselnya kepada Minhyun, Minhyun pun menekan tombol panggilan ke nomor Yuri.
"Hallo Ana" Kata Yuri.
"Aku Minhyun Temannya Ana, Aku meminta bantuanmu. Ana sedang sakit, apa aku bisa menjaganya untuk sementara?" Tanya Minhyun ragu-ragu.
"Ana sakitt? Tentu saja aku bisa, Aku akan segera kesana tolong berikan alamatnya!" Minhyun mengirimkan alamat lengkap Ana.
~
Waktu menunjukan pukul 05.30 pagi.
"Kau istirahat saja. Pulanglah, aku tahu kau lelah!" Ana meminta Minhyun pulang.
"Baiklah, aku pulang dulu. Sampai jumpa, aku akan kesini lagi sebelum berangkat kuliah." Minhyun berpamitan lalu kembali ke Apartemennya.
Ana melihat pria itu keluar dari apartemennya, setidaknya masih banyak yang bisa dia syukuri seperti teman-teman yang peduli padanya. Dia merasa beruntung karena Tuhan mengelilinginya dengan orang sebaik mereka.
...****************...
...****************...
...****************...
__ADS_1