
Mata Ana terbuka secara perlahan, Bumi melepaskan ciumannya dari bibir Ana. Dia melihat wajah wanita itu lekat-lekat, lalu menjauh secara perlahan. Nafas Ana seperti diburu, jantungnya bedegup sangat kencang dia menggigit bibir bawahnya memalingkan wajah.
"Maafkan aku" Bumi menoleh ke arah Ana dengan canggung
Ana tidak menjawab, dia tersenyum canggung lalu menoleh ke arah Bumi
"Aku harus masuk dulu" Ana keluar segera dari mobil itu.
Bumi hanya memperhatikan wanita itu dari dalam mobilnya, jantungnya berdegup tak karuan, rasanya udara didalam mobil menjadi panas.
"panas sekali huufh"
Dia memejamkan matanya agak kencang mencoba menghilangkan pikirannya dari hal yang baru saja terjadi. Dia menghidupkan mesin mobilnya. Untuk sekian lama, dia baru merasakan itu lagi. Sebenarnya dia juga tidak ingat kejadian yang dia alami dengan Bella saat di Amerika waktu itu, dia mabuk berat malam itu jadi tidak ingat apapun, tapi karena dia sangat percaya Bella dia tidak curiga sedikit pun.
Sekarang dia merasa bersalah pada Ana, apa dia melakukan itu karena mencintai nya atau hanya karena suasana yang pas, pikirannya terganggu selama perjalanan itu. Dia mencoba mengalihkannya dengan mendengarkan musik, tapi tidak berpengaruh apa-apa.
Ana berjalan cepat menuju apartemennya, sesampainya di ambang pintu dia langsung masuk dan menutup pintunya. Untuk beberapa saat dia bersandar ke pintu, wanita itu memegang bibirnya.
Aisshhh sialannnnnnnn batinnya menjerit
"Kenapa aku tidak menolak tadi?"
Dia merasa buruk karena tidak bisa menolak pria itu dan lebih merasa buruk ketika dia bisa menolak Dongmin tapi tidak dengan Bumi. Padahal dia yakin selama ini perasaannya pada Dongmin.
Ana mendengus, kembali mengatur nafasnya dengan baik. Dia harus tenang.
"Tenang Ana tenang" Dia mengelus dada perlahan
Aishh tapi itu ciuman pertamaku Ana tidak bisa berhenti memikirkan kejadian tadi, dia menaruh tasnya sembarang lalu berjalan ke dapur.
Dia mengambil segelas air lalu meminumnya dengan bersandar di spot favorit nya yaitu kitchen set bernuasana Abu. Tenggorokannya terasa sangat kering, lagi-lagi dia membayangkan bibir Bumi yang basah menyentuh bibirnya.
"Sepertinya pikiranku sudah konslet" dia memukul kepala nya 2 kali
Lalu berjalan masuk ke kamar mandi dan berendam disana.
Di lain sisi Bumi baru sampai di apartemennya, dia masuk ke apartemennya lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Aku gegabah sekali batinnya
Dia menggeleng lalu berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia merapikan rambutnya kebelakang lalu menatap dirinya di cermin.
"Kau mencintainya? bagaimana dengan bayimu huh?" Tanyanya pada dirinya sendiri
"Berani lah Bum !! Jika kau mencintainya katakan sekarang atau kau akan terlambat dan menyesalinya" Pria itu menunjuk wajahnya dikaca.
Dia berjalan menyalakan keran air hangatnya, membuka kaosnya secara perlahan menunjukan dada bidangnya. Pria itu berdiri dibawah guyuran air hangat yang menyentuh tiap inchi kulitnya.
__ADS_1
"segar sekali"
Dia memejamkan matanya lalu teringat Ana. Dia membuka matanya lalu memikirkan wanita itu.
"Sedang apa dia? Apa dia akan menyesalinya?"
Keduanya selesai membersihkan diri di kamar mandi masing-masing, lalu memakai piyama dan berjalan ke tempat tidur. Mereka memeriksa ponselnya.
Tidak ada pesan sama sekali, Bumi mulai mengetikan pesan sambil menggosok handuk ke rambutnya yang basah. Tapi dia menghapusnya segera, dia merasa salah tingkah sekali. Sama halnya dengan Ana, dia juga tidak berani mengirim pesan lebih dulu.
Bumi memutuskan mengirim pesan lebih dulu, basa basi
Bum :
Jangan lupa besok kita ada acara penting, kakek ingin kau datang
Anajung :
ok
"Hanya itu??? Ck"
Bumi mendengus, dia sekarang harus memikirkan topik untuk melanjutkan pembahasan dengan Ana. Dia geram sekali karena Ana tidak berkomentar apa-apa lagi. Dia merebahkan tubuhnya dikasur lalu menarik selimutnya.
Tapi seketika...Dia tersenyum sambil mengingat kejadian tadi,
Perasaan Bumi jadi tak karuan, dia berusaha mengelak perasaannya berkali-kali. Teleponnya berdering....
"Halo bu" Kata Bumi
"Jangan lupa acara besok, Ibu ingin mengajak Ana ke salon dan berbelanja, kira-kira dia mau tidak ya?"
"Akan aku sampaikan padanya, tapi besok dia kuliah jadi sepertinya dia bisa pergi setelah kuliahnya selesai, aku juga besok harus bekerja jadi tidak bisa mengantar kalian"
"Hmmmmm rupanya kau sangat tahu jadwal kekasihmu ya, ibu sangat senang dan kau juga tidak perlu khawatir karena ibu hanya ingin bersama Ana saja, kau fokus saja bekerja yaaa dan selamat atas pencapaian mu sayang"
"sudah kuduga, ibu lebih menyayangi dia daripada aku" Bumi mengerucutkan bibirnya sambil bersikap manja.
"Ah sudahlah, cepat tidur selamat malam Bum"
Bumi menaruh ponsel nya disamping ranjang, tak lama dia tertidur.
Ana yang masih menunggu pesan Bumi jadi tidak bisa tidur, pikirannya dipenuhi dengan apa aku harus mencari topik pembicaraan? Dia menggeleng lalu menaruh ponselnya sembarang. Ana merebahkan tubuhnya dikasur lalu menarik selimutnya, tidak lupa dia memakai Skincare rutin malamnya dan mengenakan penutup mata. Dia berusaha untuk tidur.
Mereka pun tertidur dengan mimpi yang indah malam itu.
Kediaman Keluarga Lee Ro Jun...
__ADS_1
Minhyun sedang duduk dimeja belajarnya sambil memikirkan tentang pemindahan jasad ibunya. Pintunya terbuka dengan keras
BRAKKKK
"Aku dengar kau bersama Bumi kesini, penjaga melihat mobilnya tadi" Ayahnya yang baru saja pulang entah dari mana nyelonong masuk, baunya seperti alkohol. Sepertinya Lee Ro Jun mabuk.
"Ya benar dia mengantarku pulang, oh iya ayah aku tidak akan pindah ke Paris" Minhyun berdiri menatap Ayahnya.
Ayahnya memiringkan kepala dan mengepalkan tangannya, pria itu langsung memukul wajah Minhyun.
Brukkk
Minhyun terjatuh menabrak meja belajarnya.
"Kau pikir kau siapa? Beraninya mengambil keputusan sendiri? Aku ayahmu, aku yang akan mengatur kehidupanmu. MENGERTI !!!" Pria itu berjalan sempoyongan menarik kerah Minhyun
"Lepaskan" Minhyun mengibaskan tangannya
"Kau kira aku mau menjadi anak mu huh???" Minhyun berdiri menatap ayahnya tajam
"Beraninya kau mendongakan wajahmu ke arah ku, Brengsekk" Pukulan demi pukulan Minhyun dapatkan, pria itu belum membalas.
Dongmin dan ibunya berlari menghampiri keributan, Dongmin menjauhkan ayahnya dari Minhyun.
"Apa-apaan kau? Berhenti" Dongmin mendorong Lee Ro Jun kasar
"APA TIDAK CUKUP.KAU MENYAKITI MENDIANG IBUNYA???" Teriak Dongmin pada Ayahnya yang terjatuh akibat dorongannya
Ibu Dongmin menghampiri Minhyun yang babak belur, pelipisnya memar dan sudut bibirnya berdarah.
"Kau tidak apa-apa nak? mari ikut ibu keluar dari sini, ibu akan mengobatimu. Biar kakakmu yang mengurusnya" Ibu nya menoleh ke arah Dongmin dan Lee Ro Jun.
Minhyun berdiri dan berjalan di bantu oleh ibunya menuju dapur, Ibu Dongmin mengambil satu pak es batu untuk mengompres luka di sudut bibir Minhyun dan air hangat untuk mengompres luka memarnya.
"Jangan ambil hati perkataan ayahmu, dia memang seperti itu" Ibunya fokus merawat Minhyun
"Maafkan aku" Minhyun meneteskan air mata
"Untuk apa nak??"
"Karena telah datang ke kehidupan kalian dan kumohon maafkan lah ibuku" Minhyun menunduk
"Kau tidak bersalah jadi tidak perlu merasa sedih" Ibu Dongmin tersenyum lalu mengompreskan air hangat.
...****************...
...****************...
__ADS_1