MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 84: Bingkisan


__ADS_3

...APARTEMEN ANA...



Keempat wanita itu sedang berbincang ria, sambil melahap beberapa makanan yang mereka pesan online. Setidaknya, Ana tidak merasa sendiri sekarang. Karena kehadiran ketiga sahabatnya membuat hatinya tenang.


Ting tong


Ana mencoba mendengarkan bunyi itu di tengah bisingnya canda tawa para sahabatnya.


"Sssh diam dulu!" Ana berdiri lalu berjalan ke arah pintu masuk apartemen. Sebelum membuka pintu, Ana melihat dulu dari layar bel pintar di dekatnya. Dilihatnya seorang pria yang bertugas mengantarkan paket.


Ana pun membuka pintu secara perlahan, dia melihat pria itu kebingungan.


"Nona Anastasia Jung?" pria tadi bertanya untuk memastikan penerima paket benar ke yang bersangkutan.


"Iya, saya sendiri. Tapi, daya tidak merasa memesan sesuatu." Ana mengangguk, kemudian pengantar paket itu menyerahkan sebuah kotak besar padanya.


"Ini, paket untuk anda, tertera disini nama pengirimnya adalah Dongmin. Silahkan di tanda tangani disini ya!" Pria itu memberikan surat jalan tanda terima pada Ana, dengan agak kesulitan karena memegang kotak yang begitu besar Ana memberikan parafnya di selembar kertas tadi.


"Terimakasih," Ana menutup pintu, para sahabatnya melihat wanita itu membawa sebuah kotak besar yang dia sendiri tidak tahu isinya apa.


Trio yang menjadi sahabatnya itu langsung mesem tidak jelas menggoda Anastasia, "Hilang satu tumbuh seribuuuuu" Somi cekikikan melihat Ana yang mematung menatap kotak ditangannya.


Dia meletakkan kotak itu di bawah, lalu bersimpuh didepannya. Para sahabatnya pun yang tadinya duduk di sofa, kini ikut turun bersila dilantai.


"Wahhhh Dongmin sangat perhatian," mata Lee Ze berbinar menatap kotak berhiaskan pita berwarna pink pucat itu.


Ana menghela napas panjang, "kenapa dia masih seperti ini, aku jadi merasa bersalah." Seketika suasana hatinya berubah.


"Ah ayolah, jangan bersedih di hari bahagiamu!" Somi mengelus punggung Ana pelan.


Wanita itupun membuka bingkisan dari Dongmin, dilihatnya sebuah gaun berwarna hitam yang ada di kotak itu. Ana mengerutkan dahi, ada surat di dalam kotak itu.

__ADS_1


"Mau kah kau makan malam denganku?" itulah isi surat yang ada di dalam kotak itu. Sahabatnya yang ikut membaca catatan itu pun mulai bersorak kegirangan.


"Ahhhh lucunya, kau harus datang menemuinya!" Kata Lee Ze, sedangkan Yuri tahu bahwa Ana tidak mungkin akan datang ke sana. Mengingat, hatinya yang sedang gundah gulana karena Bumi.


"Tunjukan pada Bumi, bahwa kau bisa mendapatkan yang lebih baik darinya!" Ujar Somi dengan lugas, dia merasa kesal karena sahabatnya diputuskan begitu saja oleh pria itu.


"Aku tidak bisa," Ana menunduk. Tidak mungkin dia melakukan hal setega itu pada Bumi. Lagipula, wajar saja jika dalam suatu hubungan ada yang namanya pertengkaran. Apalagi, mereka sekarang menjalani long distance relationship atau yang dikenal hubungan jarak jauh.


"Aku mengerti," Yuri memeluk Ana, sekuat apapun wanita itu mencoba tampak baik-baik saja, tapi dia tetap tidak bisa memungkiri rasa gelisahnya karena berakhirnya hubungan dengan Bumi.


Lagipula, apa pria memang secepat itu melupakan seorang yang pernah mereka cintai? Ana membuka gaun yang dikirimkan Dongmin, lalu mencoba memakainya.


"Aku akan mencobanya dulu," Ana membawa kotak itu ke dalam kamarnya, wanita itu menaruh bingkisan dari Dongmin di atas ranjang.


Dia melambaikan gaun itu, lalu melekatkan gaun itu ke tubuh bagian depan. Ana memutarkan badannya menghadap cermin. gaunnya sangat cantik walau agak sedikit terbuka. Wanita itupun mencoba mengenakannya.


Setelah dia pakai, ukurannya sangat cocok untuknya. Dia mencoba menambahkan aksesoris lain seperti anting dan gelang. Wanita itu berjalan keluar kamar dan menunjukannya pada para sahabatnya



Ketiga sahabatnya pun tertawa geli melihat kelakuan wanita itu. Mereka sampai geleng-geleng kepala.


*


Di sisi lain, ibu dari Avanessh Bumi sedang mengalami migrain. Sudah beberapa hari anaknya tidak memberi kaabr apapun padanya. Dia merasa pusing, karena terus memikirkan pemuda itu.


Apalagi, soal kehamilan seorang wanita yang sangat mencurigakan. Dia ingin sekali mencari sendiri doal wanita itu, tapi dia takut suaminya mengetahui hal yang dia sembunyikan.


"Haduh, kemana anak ini sebenarnya. Dia berjanji akan menghubungiku." Wanita itu menekan jari jemarinya di kepala sebelah kanan. Dia tidak tahan dengan sakit yang seperti ditusuk jarum di bagian sana.


Takt tuk tak tuk


"Bu, nona Ana sedang merayakan ulang tahunnya." Kata salah seorang ajudannya.

__ADS_1


Rupanya, wanita itu juga meminta salah seorang ajudannya untuk mengawasi Ana. Bukan untuk hal buruk, melainkan untuk menjaganya.


"Ulang tahun? Kalau begitu, aku harus meneleponnya untuk datang kesini." Ibu Bumi langsung meraih ponsel di tas kecilnya, kemudian menekan tombol panggilan ke nomor Ana.


Dia menunggu panggilannya tersambung, kemudian terdnegarlah suara lembut wanita itu di ponselnya. Diiringi dengan suara gelak tawa beberapa wanita.


"Hallo, bu!" Anastasia menyapa ibu Bumi sambil menyeringai.


"Selamat ulang tahun Ana, maaf ya ibu baru tahu. Hari ini, kau bisa kan datang ke rumah? Kita makan malam bersama ya, kakek dan ayah pasti senang kamu datang kesini." Ibu Bumi tersenyum manis berusaha membujuk Ana untuk hadir.


"Nanti ibu akan meminta Johan menjemputmu, atau Dongmin? Kau mau Dongmin yang menjemputmu ya?" Kebetulan, Dongmin yang baru pulang dari kampus dia melihat bibinya sedang berbincang di telepon.


"Kau mau kan menjemput Ana, Dongmin?" Bibinya bertanya pada pria yang sedang berdiri di ambang pintu itu.


"Tidak bu, tidak perlu biar Johan saja yang menjemputku." Ana gelagapan, setelah kejadian di Busan, wanita itu merasa malu pada Dongmin. Apalagi jika harus merepotkannya lagi, padahal jelas bahwa dia sudah berbuat tidak baik padanya.


"Tentu, aku akan menjemputnya." suara Dongmin terdengar oleh Anastasia lewat telepon.


Wanita ini kini mengatupkan mulutnya karena merasa tidak enak.


"Tuh, Dongmin sudah mengiyakan, ibu akan menunggumu disini ya." Ibu Bumi dengan sumringah ingin Ana ke rumahnya.


"Baik bu." Jawab Ana singkat.


Setelah it, mereka pun memutus panggilannya. Ibu Bumi menatap Dongmin lalu menghampiri anak itu.


"Jemput Ana jam 7 malam ya, bibi dengar dia sedang ulang tahun. Bibi akan menyiapkan acara makan malam spesial untuknya." Dengan semangat wanita itu menjelaskan rencananya pada Dongmin.


Dongmin hanya menyeringai, dia mengangguk dan setuju-setuju saja. Kalau begitu, rencana makan malamnya berdua dengan Ana harus dia batalkan. Karena dia akan memilih mengantar Ana ke rumah itu saja.


Apalagi, melihat bibinya yang bersemangat. Pria itu berjalan ke kamarnya. Dia membuka pintu secara perlahan lalu duduk di ranjang. Dilihatnya, satu buah kalung berliontin kucing di atas meja kecil di samping ranjang.


Pria itu, meraih kalungnya lalu memperhatikan liontin berwarna silver itu, dia menghela napas pelan. Kalung itu ditolak oleh Ana, jadi dia kembali membawanya pulang.

__ADS_1


...****************...


...****************...


__ADS_2