
Rojun sedang memegang gelas berisi wine ditangan kanannya, dia memperhatikan setiap gerak-gerik Anastasia, pria ini muak melihat tingkahnya yang sok sempurna. Bahkan semua orang disini begitu tertarik memperhatikan gadis itu. Apa-apaan sih
"Oh iya....."
Ditengah jamuan makan malam Lee Rojun memulai aksinya, dia menatap gadis itu dengan seringaian psikopat.
"Ayahmu yang memiliki Jung Corp kan?"
Ana agak terkejut, tapi dia juga tidak terlalu kaget karena memang benar adanya.
"Ya, benar"
"Seingatku perusahaan itu sudah 8 kali mengirim proposal kepada perusahaan kita" Rojun tertawa disaat tidak ada yang lucu
Bumi melihat Ana, dia baru tahu bahwa perusahaan itu milik Ayah Bella dan Ana, jika dia tahu mungkin akan langsung dia terima proposal itu tanpa berpikir.
"benarkah Bum?" Kakek
"Benar kek"
"Kenapa harus sampai 8 kali?" Kakeknya penasaran
Ana hanya terdiam, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa, dia tidak malu karena dia tahu kondisi Jung Corp memang sedang diambang kebangkrutan jadi dia yakin ayahnya pasti berusaha mati-matian mencari investor. Bagaimana pun mereka adalah kedua orang tuanya, dia tetap tidak akan menerima siapapun yang menghina dan merendahkan keluarganya itu.
Bumi gelagapan dia juga tidak tahu harus menjawab apa, sesekali dia menoleh ke arah Ana yang tidak berbicara sepatah katapun.
"Kali ini tidak perlu dengan proposal, kakek mengizinkan perusahaan kita untuk berinvestasi di Jung Corp"
Rojun membelalak, sialan bukan itu yang dia inginkan. Ana dan Bumi saling melempar tatapan, Ana tersenyum.
"Dan tolong telepon orang tua mu, kakek ingin mengobrol langsung mengenai perusahaan dan hubungan kalian" Kakek tertawa penuh semangat
"Kita harus mendengar pendapat Ana dulu" Ibunya Bumi melirik Ana
"A-a-ku akan menelepon mereka"
Mulut Ana sedikit terbuka tidak percaya, kakek Bumi langsung menyetujui proposal ayahnya, tapi semakin ini berjalan lancar dia semakin takut, bagimana jika dia tidak bisa kembali ke titik awal? Dia harus bagaimana? Dan sampai kapan ini akan berlangsung?
Bumi sangat senang karena kakeknya mempermudah semua urusan yang berkaitan dengan Anastasia, dia semakin menyanjung dirinya sendiri karena keluarganya selalu berpihak dan menyayanginya. Tapi untuk berbesanan dengan keluarga Jung? Itu terlalu berlebihan dan terlalu cepat untuk saat ini, walau dia bisa memanfaatkan itu untuk mendapatkan bayi nya. Lagian ini hanya sandiwara
"Terimakasih kek" Bumi tersenyum
"Terimakasih"
"Panggil aku kakek, kau akan menjadi istri cucuku jadi jangan terlalu kaku"
__ADS_1
Ana tersenyum canggung,
Nafas Ana rasanya berhenti di kerongkongan, Situasi semakin rumit, dia semakin terbelenggu. Rasanya tidak ada cara untuk kabur. Andai jika dia memang terpaksa harus menikahi mantan kakaknya ini dia harap dia tidak menjadi bayang-bayangnya saja.
Jamuan makan malam sudah selesai, sekarang mereka sedang meminum anggur merah bersama.
"Kami punya cara untuk meminum ini" Ayah Bumi tersenyum sambil menunjukan cara meminum anggur merah bersama istrinya itu, mereka melingkarkan tangan lalu menenggak minuman itu.
"cih" Lee Ro Jun mencibir pelan
"cobalahhhh" Ibunya meminta Bumi mencobanya
"Kau juga" Kakek menunjuk Rojun dan Istrinya
Dua pasangan ini mencobanya, Ana dengan gugup melingkarkan tangannya pada Bumi. Pria itu menyeringai sambil meminum anggur merah nya.
Kakek, ayah dan ibunya bertepuk tangan melihat mereka, sedangkan Rojun melakukannya dengan terpaksa dan malas. Lagi-lagi tatapannya mencibir.
"Jangan lupa, kami ingin mengundang orang tua mu ke KIK"
"ya tentu" Ana tersenyum.
......................
Bella mengambil sebatang rokok dari kotak, dia berbaring telentang di atas ranjangnya. Korek ditangan kirinya dia nyalakan, didekatkan ke rokok itu.
(tidak tidak)
Wanita itu melempar rokok dan korek nya. Dia hampir saja membuat bayi nya dalam bahaya. Setelah membaca hasil tes itu dia semakin banyak pikiran.
Mempertaruhkan nyawa demi bayi itu atau membunuh bayi itu sekarang, Keduanya pilihan yang sulit. Usia kandungan nya sekarang sudah menginjak 5 bulan. Bahkan bayi itu sudah terasa berdenyut dan bergerak pelan.
"Mana mungkin aku membunuhmu" Bella mengusap lembut perutnya
"Ayahmu yang brengsek itu bahkan pergi dengan wanita lain" Bella menangis sambil bicara pada anaknya.
"Tidak apa-apa, walaupun aku mati setidaknya anak ini ada yang merawat"
Bella menenggak segelas air putih yang ada di samping tempat tidurnya, memikirkan apa yang sedang dilakukan mantannya itu dengan Ana. Dia mengasihani dirinya sendiri, Bumi tidak terlihat mendekati Ana karena bayi ini. Apalagi setelah pesan itu kemarin.
Dia kadang mencari nama mereka di pencarian, lalu muncul lah foto mereka yang beredar dari mulai keluar apartemen sampai di kampus.
Rencananya untuk tidak merawat bayi ini akhirnya di kabulkan Tuhan, dengan mengirimnya penyakit yang bisa saja merenggut nyawanya jika melahirkan bayi itu nanti. karirnya yang sangat dia agungkan mungkin akan ikut menghilang seusai kepergiannya.
Dia stress berat, rasanya dia ingin mengakhiri hidupnya saja sekarang, tapi dia ingat kalau ada bayi itu diperutnya.
__ADS_1
"Jika Ana menggantikanku sebagai ibu bayi ini, lalu Bumi dan keluarganya tahu kalau bayi ini bukan anaknya, apa yang akan terjadi pada Ana?"
"tidak-tidak aku tidak harus memikiran sampai sejauh itu, Bumi sangat percaya padaku dia tidak akan mencurigai bayi ini sedikit pun"
Bella mengatur nafasnya secara teratur, dia duduk lalu mengambil apel yang ada di meja samping tempat tidurnya.
"Kau lapar? Ibu juga"
Wanita ini mencoba menghibur diri dengan berbicara pada bayinya yang masih seukuran buah kelapa, pasti tubuh bayi nya sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus yang berfungsi untuk menjaga suhu tubuh dan melindungi kulit janin. Belum lagi kelopak mata yang telah selesai terbentuk.
Membayangkannya saja membuatnya bahagia, Janin itu mulai berlatih bernapas untuk mempersiapkan diri hidup di luar rahim.
(setelah bayi ini lahir apakah aku sanggup memberikannya kepada Bumi dan Ana?) itu lah yang ada dipikirannya sekarang
Seiring berjalannya waktu rasa sayang nya sebagai ibu muncul, apalagi sekarang dia melewati itu sendirian. Dia kadang merasa sakit hati, walaupun Bumi bukan ayah dari bayi ini, tapi tetap butuh dukungannya, selama ini dia hanya mengirimkan segala kebutuhan dia saja, seperti uang , vitamin dan sebagainya tanpa menanyakan kabar wanita ini.
Hormon kehamilan membuatnya semakin sulit memahami apa yang dirinya sendiri inginkan, kadang dia merasa sedih , setelah itu dia merasa bahagia tak tertolong, waktu berikutnya dia merasa kecewa dan itu berulang-ulang setiap harinya.
Kali ini dia sudah jarang mengalami Morning sickness, sepertinya janinnya mulai kuat dan bisa diajak berdamai dengan keadaan. Bayi itu sudah jarang menyusahkan ibunya.
Ponselnya berdering, tertera nama Bumiku di layar ponselnya.
Bumiku :
Aku akan merawat bayi itu bersama Anastasia.
Bella segera membalas,
"Apa Ana sudah tahu mengenai bayi ini?"
Bumiku:
Aku akan beritahu dia setelah pernikahan kami
Mulut Bella terbuka, akhirnya yang dia harapkan terjadi, mereka merencanakan pernikahan.
"pernikahan? Kalian sudah merencanakan pernikahan?"
Bumiku:
Bukankah itu maumu? Berdoa saja agar pernikahan kami segera terlaksana.
...****************...
...****************...
__ADS_1