
Setelah Minhyun pulang ke apartemennya, Dongmin menghampiri Ana yang sedang duduk di sofa. Dia menaruh camilan yang dibawa dan menyerahkan seikat bunga mawar untuk Ana.
Ana menatap pris itu dengan canggung, dia meraih bunga lalu menghirupnya. Wangi khas mawar menusuk ke hidungnya.
"Terimakasih," Ana tersenyum tipis, dia merasa suasana hatinya membaik, wanita itu mencoba untuk tidak memikirkan kejadian malam-malam lalu.
"Kenapa?" Dongmin duduk disamping Ana, kini tangannya menumpu pada lutut sambil menoleh ke arah Anastasia.
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" Lanjut Dongmin, raut wajahnya merasa sedih dan kecewa. Pria itu, sangat mengkhawatirkan Anastasia. Dia merasa bersalah karena dia menganggap ini terjadi karenanya.
"Maafkan aku, aku tidak ingin kau merasa cemas dan bersalah." Ana menunduk. Dongmin langsung meraih tangan wanita itu dan menatapnya.
"Dengan melakukan hal ini, kau lebih membuatku merasa bersalah." Dongmin menatap agak lama wajah wanita berambut coklat itu.
"Maafkan aku," Jawab Ana menyesal, dia pun melihat pipi Dongmin yang lebam.
"Kau lebam, aku akan mengobatimu." Ana berdiri untuk mengambil air hangat dan kompresan, tapi pria itu menahan tangannya.
"Tidak perlu, ini bukan apa-apa." Dongmin tersenyum tipis.
Anastasia menggeleng dan bersikukuh untuk mengobati luka lebam yang ada di pipi Dongmin.
"Aku akan membantumj mengobatinya," Ana berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan baskom berisi air hangat dan handuk.
Dongmin hanya menatap Ana yang berlalu dari sana. Tak lama wanita itu pun kembali dengan baskom berisi air hangat juga handuk, lalu dia duduk di hadapan Dongmin dan mulai mengompres lukanya yang membiru,
"Aku ke sini untuk merawatmu," Dongmin menahan tangan Ana yang hendak mengobati lukanya.
Ana mendengus pelan, "aku sudah membaik, sekarang giliranmu yang harus di obati." Ana tersenyum lalu melanjutkan kegiatannya, dia memeras handuk yang sudah dicelupkan air hangat dan menempelkan di wajah Dongmin perlahan.
"Terimakasih," Dongmin memperhatikan Ana yang sedang serius membantunya.
Di sisi lain Minhyun yang baru saja masuk ke apartemennya langsung merebahkan tubuhnya di kasur, dia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Pria itu memejamkan matanya, tapi ada satu hal yang mengganggu pikirannya.
Apa Dongmin menyukai Ana?
Batinnya, dia melihat langit-langit kamarnya. Saat itu. Dia tidak bisa tidur. Saat keluar dari perusahaan KIK Otomotif tadi, Minhyun tidak bertemu dengan para wartawan karena jalan pintas yang telah diberitahu oleh Bumi, Dia menggunakan topi lalu berlari ke apartemennya.
__ADS_1
Akhirnya skandal yang selama ini ditutup-tutupi, terbongkar juga.
Minhyun tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang, Apakah dia merasa senang atau sedih.
Belum lagi adanya kabar tentang masalah penggusuran pemakaman ibunya, sekarang dia harus segera mencari cara untuk sebelum itu terjadi.
...AMERIKA...
Bella masih mengalami gejala mual-mual yang hebat, sesekali dia memikirkan untuk menggugurkan bayi itu, tapi dia mengurungkan niatnya. Ibunya pun masih mencari cara bagaimana agar Ana terjebak dan berakhir menikahi Bumi, si mantan kekasih Bella.
Ibunya sudah tidak lagi mengirimkan uang kepada Ana, dia juga bingung bagaimana bisa Ana masih bertahan sampai sekarang dengan tidak meminta bantuannya. Bahkan Ana sama sekali tidak mengabari orang tuanya itu, dia juga belum pernah mungunjungirumah nenek dan kakeknya yang ada di Busan.
Wanita tua itu tidak ingin Ana tahu sekarang soal kehamilan Bella, dia akan menyusun rencana terlebih dahulu sebelum benar-benar meminta anak itu menajdi pengganti Bella.
Bella mengambil cutinya sampai bayi itu lahir, dia hanya tinggal di dalam rumah dan hanya sesekali keluar rumah. Dja juga sudah tidak menghubungi Bumi lagi.
Wanita itu hanya sedang menarik ulur Bumi, agar pria itu mau menerima syarat yang dia minta. Jika dia memang menginginkan bayi itu, Bumi pasti akan menerima tawarannya.
...SEOUL...
Setelah selesai mengompres luka Dongmin, mereka mnegobrol ringan. Keduanya merasa sangat canggung karena tidak ada hal lain yang bisa dijadikan topik pembicaraan.
"Ana-"
Ujar keduanya bersamaan, hal itu membuat mereka semakin canggung. Dongmin bahkan tersenyuk tipis sambil melihat wanita itu.
"Kau lebih dulu," kata Ana gugup.
"Aku, tertarik padamu sejak pertemuan pertama kita." Dongmin menunduk, dia tahu ini bukan saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi, dia tidak bisa menahannya lagi, rasanya dis ingin segera meluapkannya saja.
Dongmin, tidak menuntut Ana untuk menyukainya juga. Karena dia tahu ini terlalu cepat untuk menyukainya. Ana menatap Dongmin lalu tersenyum tipis, dia tidak punya jawaban apapaun untik saat ini.
Seketika, ingatannya tentang malam pelecehan itu menyerang pikirannya. Dongmin yang peka akan hal itu, merasa khawatir.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Dongmin sambil menatap Ana lekat.
"Kadang aku teringat... Tentang bagaimana pria itu menyentuhku," Ana menunduk dia merasa sedih atas kejadian yang menimpanya.
__ADS_1
Dongmin ikut merasakan kesedihan Ana, juga amarah yang ada di dadanya. Pria itu menyelipkan rambut Ana ke belakang telinga wanita itu sambil tersenyum tipis.
"Apa kau membutuhkan pelukan?" Tanya Dongmin dengan sopan.
Wanita itu mengangguk, dia menghampiri pria itu dan memeluknya, Ana mulai menangis sambil bersandar di pundak Dongmin. Pemuda itu pun ikut merasakan kesedihannya.
"Sssh, berhentilah menangis. Lihat aku!" Pria itu meminta Ana untuk menatapnya. Wanita itu pun menoleh ke arahnya, dengan air mata yang masih mengalir di pipinya dua menatap Dongmin agak lama.
"Aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu," Ana agak membelalak mendengar pernyataan cinta pria itu. Tapi. untuk saat ini dia tidak tahu mengenai perasaannya. Dia hanya menganggap Dongmin sebagai sahabatnya saja.
Bagi Ana, persahabatan antara pria dan wanita tidak begitu mustahil.
Pasti bisa dijalani, Seorang pria dan wanita tidak melulu harus saling jatuh cinta. Kemudian pnsel Ana pun berdering, terlihat panggilan dari nomor yang tidak dia kenali.
"Hallo," sapa Ana dengan lirih, Dongmin memperhatikan wajah Ana yang terfokus pada panggilannya.
"Halo, maaf menggangu waktumu. Tapi, aku harus menyampaikan ini. Kau dimintai keterangan ke kantor polisi. Apa keadaanmu sudah membaik?" Suara pria yang tidak dia kenali itu menerobos masuk ke telinganya. Dia tidak tahu, siapa yang meneleponnya saat itu.
"Oh iya, aku Bumi, Avaneesh Bumi." Tegasnya pada Ana.
"Baik pak, tentu aku akan kesana." Jawab Ana singkat, dia akan melakukannya jika memang dibutuhkan kepolisian.
"Pak? Hufft. Yasudah aku akan menununggumu." Jawab Bumi singkat, tak lama panggilannya pun terputus.
Dongmin menunggu penjelasan Ana, dia ingin tahu siapa sebenarnya yang memanggil Ana. Wanita itu tahu Dongmin menunggu penjelasannya jadi Ana langsung menjabarkannya.
"Bumi meneleponku, dia bilang aku dimintai keterangan ke kantor polisi besok." Katanya sambil menoleh ke arah Dongmin disampingnya.
"Baiklah, aku akan menemanimu nanti," Dongmin tersenyum tipis.
"Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkanmu" Jawab wanita itu dengan lugas.
"Tenang saja, aku senang membantumu. Lagipula, besok aku sudah mulai magang. Jadi kita akan jarang bertemu di kampus nanti," Sudut bibir Dongmin merekah, pria itu mengelus lembut pucuk kepala Ana.
"Kau magang? Aku senang mendengarnya , Semoga lancar untuk besok! Semangat!" Ana tersenyum dsn agak gelagapan melihat tindakan Dongmin yang tidak terduga itu.
...****************...
__ADS_1
...****************...