
Ana memperhatikan Bella yang perutnya sudah membuncit melebihi dadanya, wanita itu melenggang masuk ke dalam apartemen mendahului Bella. Sedangkan, kakaknya itu berjalan di belakang adiknya.
"Tidak banyak berubah," kata Bella sambil melihat ke sekeliling apartemen yang dulu pernah ia tinggali.
"Ya, begitulah." jawab Ana singkat.
"Hmm... Begini... Kini kau tahu keadaanku." Wanita itu mulai percakapan dengan ragu-ragu.
"Bagaimana keadaanmu?" Bella menatap adiknya yang enggan melakukan kontak mata dengannya itu.
"Seperti yang kau lihat!" Ana menatap Bella datar, dia duduk di sofa.
"Aku dan Bumi mungkin, akan segera menikah. Kau tahu, ini semua karena calon keponakanmu ini." Bella menunduk sembari mengelus lembut perutnya.
Ana memalingkan wajahnya, dia tidak tertarik sebenarnya bicara dengan wanita itu. Bukan, bukan karena dia tidak suka dengan calon keponakannya, melainkan karena dia merasa bersalah atas apa yang terjadi oada dirinya dan Bumi.
Jika tahu Bella sedang mengandung sejak awal, dia tidak akan berhubungan dengan pria itu. Dia merasa kesal, karena bisa dengan mudah jatuh cinta pada Bumi.
"Syukurlah, aku turut bahagia." Ana tersenyum tipis, sebenarnya dia masih butuh istirahat, untunglah apartemennya sudah di bersihkan dari darah dan debu-debu oleh jasa clraning sehingga. Dia bisa beristirahat di apartemennya dengan nyaman.
"Bisakah kau bicara pada Bumi, aku ingin kau memintanya menyetujui pernikahan kami." Bella duduk di sebelah Ana. Dia tahu hanya itu satu-satunya cara agar Bumi mau menikahinya.
Ana tertawa kecil, "kenapa? Dia tidak mau bertanggung jawab? Aku tidak mau memaksanya melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan."
"Kau tidak menyayangi calon keponakanmu? Dia seorang perempuan, sungguh kasihan jika dia terlahir tanpa seorang ayah." Ujar Bella dengan wajah sendu.
"Itu bukan lagi ranahku. Aku tetap tidak bisa memaksanya melakukan itu." Ana menggeleng, terlihat jelas bekas sayatan di tangannya yang sudah mulai mengering.
Ana bangkit dari duduknya, lalu menatap Bella. "Maafkan aku Bella, aku tidak bisa membantumu. Mulai saat ini jangan libatkan aku dalam hubunganmu dengan pria itu." Ana melenggang pergi ke kamarnya meninggalkan Bella.
Sedangkan, wanita tadi hanya tertegun sembari mendengus pelan, dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Bella yakin, jika Ana bersedia berbicara pada Bumi. Pria itu akan mau mendengarkannya.
__ADS_1
Akhirnya, Bella pun memutuskan untuk pergi dari sana, sewaktu di ambang pintu dia melihat Minhyun yang hendak masuk ke apartemen. Pria itu pun mengangguk memberi salam pada Bella dan wanita itu pun membalas anggukannya lalu pergi keluar dari gedung SeeU house.
Minhyun pun masuk ke dalam apartemen, dia tidak melihat Ana di mana-mana, pintunya kamarnya pun tertutup rapat, Sebenarnya dia masih agak khawatir Ana melakukan sesuatu hal yang buruk lagi seperti kemarin.
Akan tetapi, dia juga tidak bisa mengganggu privasi Anastasia. Jadi Dia hanya akan untuk berdiam diri di ruang tamu, sampai Ana mau keluar dari kamarnya.
Ponsel pria itu pun berdering, tertera nama Dongmin di layar ponselnya, Minhyun dengan sigap langsung menjawab panggilan itu.
"Halo," sapa Minhyun.
"Halo, kalian sudah sampai apartemen? " tanya pria yang sedang berbicara dengannya itu.
"Ya, sudah. Sekarang aku sedang berada di apartemennya, barusan ada seorang wanita yang menemui Ana, wanita itu terlihat sedang hamil." Jelas Minhyun pada Dongmin, seketika pria itupun tersadar, siapa lagi wanita hamil yang berkaitan dengan Ana selain kakaknya?
Dongmin yang semalaman tidak pulang ke rumah pun, akhirnya bergegas pulang ke kediaman Kim. Dia ingin memastikan dugaannya benar.
Tidak lama, Ana pun keluar dari kamarnya, dia berjalan dengan datar ke arah dapur. Minhyun terus memperhatikan gerak-gerik Ana, untunglah tidak ada kejanggalan. Wanita itupun kembali, dengan membawa dua kaleng minuman alkohol yang dia ambil dari lemari pendingin.
"Terimakasih," jawab Minhyun sambil meraih minuman itu dari tangan Ana.
Ana menatap datar pandangan di depannya, sedangkan Minhyun menatap Ana sambil memperhatikan setiap inchi wajah wanita itu.
Rambutnya yang diikat juga wajahnya yang terlihat tidak bersemangat membuat Minhyun iba. Pria itu kemudian ingat, bahwa camilan yang dia bawa sebelumnya masih ada didalam tas. Dia pun berdiri lalu mengambil camilan itu.
Ana hanya melihat Minhyun dengan datar, dia melihat pria itu melewati dirinya dan mengambil camilan di dalam tas. Minhyun kembali dengan bungkusan berisikan makanan itu.
"Aku membelikanmu coklat, untuk memperbaiki moodmu." Minhyun menyodorkan coklatnya sambil menyeringai ke arah wanita itu.
"Terimakasih," kata Ana singkat. Dia mengambil coklat itu lalu membuka bungkusannya. Tidak lupa, dia juga membagi Minhyun coklat itu.
__ADS_1
Disisi lain, Dongmin sedang dalam perjalanan pulangnya ke rumah Bumi. Pria itu mengendarai mobil dengan kecepatan yang normal. Jalanan terlihat begitu padat hari ini. Jadi dia memutuskan untuk tidak terlalu tergesa.
Setelah memeriksa kebenaran disana, dia harus pergi ke kampus. Setelah itu, dia akan pergi ke rumah Anastasia untuk menemaninya bersama sang adik, Minhyun.
Setelah satu jam perjalanan, pria itu akhirnya sampai di rumah Bumi. Belum sampai masuk ke rumah itu Dongmin sudah melihat wanita hamil turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah itu.
Dia pun ikut berjalan agak jauh dibelakang Bella, dilihatlah ibu Bumi yang menyambut Bella hangat, "Bagaimana nak? Kau bertemu Bumi?" tanya wanita itu pada Bella.
Saat melihat Dongmin masuk, ibu Bumi pun mengalihkan pandangannya ke pria itu. Dia tersenyum melihat Dongmin pulang ke rumah.
"Dongmin, perkenalkan ini Bella." ujar Ibu Bumi sambil menyentuh lengan Bella.
"Dongmin," pria itu menjabat tangan Bella.
"Bumi sudah pulang?" Dongmin mencoba mencari pria itu di sekitaran pandangannya tapi tidak terlihat.
"Sudah, dia ada di apartemennya, benar kan Bella?" Ibu Bumi melihat Bella sambil menyeringai, wanita itupun mengangguk.
"Ya benar, perkenalkan namaku Bella, calon istri Bumi." Katanya dengan sangat percaya diri.
Dongmin menatap wanita itu datar sambil menghela napas pelan, "baiklah, kalau begitu aku masuk dulu bi, Bella." Dongmin melenggang melewati Bella dan Bibinya.
Dia masuk ke kamar dengan tatapan yang tajam, dia mendengus kesal. "Apa-apaan ini? Bumi membawa wanita itu dan langsung memperkenalkan dia sebagai calon istrinya?" Dongmin memutar bola matanya.
"Syukurlah, sehingga Ana tidak perlu merasa tersakiti lagi karena mereka. Ana sangat baik untuk disandingkan dengan pria sepertinya." Dongmin mendengus kesal sambil melempar tasnya. Jam satu siang nanti dia sudah harus berangkat ke kampus lagi, untuk menyelesaikan beberapa hal.
Sekarang, dia hanya ingin istirahat menenangkan dirinya dengan cara tidur. Pria itupun merebahkan tubuhnya di kasur, dan tak lama terlelap.
...****************...
__ADS_1
...****************...