
TIME SKIP
Seminggu telah berlalu sejak kepergian orang yang Ana kasihi, kini dia mulai menata lagi kehidupannya yang baru. Wanita itu menaruh sebuah kendi di dalam sebuah lemari kaca. Terlihat kendi-kendi lain pun berjejer disana lengkap dengan nama mendiang.
Dibelakang Ana, terlihat Ibunya, Dongmin, Bumi. Minhyun juga ketiga sahabatnya. Wanita itu mundur beberapa langkah dan kembali berbaris dengan temannya. Semua orang memberi penghormatan terakhir pada dua kendi yang berisikan abu dari kedua orang. Ayah Ana, juga Bella.
Ana terkihat berkaca-kaca, tapi dia sudah cukup tegar untuk tidak meneteskan air matanya disana. Ibu Ana melenggang pergi lebih dulu, disusul oleh Ana dan teman-temannya. Sedangkan bayi Bella masih ada di rumah sakit, Bumi pun masih percaya bahwa itu adalah bayinya.
"Bum, aku ingin berbicara padamu." Ana berhenti sejenak, dia menatap Bumi yang ada di depannya.
Sedangkan yang lain memberi mereka waktu dengan pergi dari sana lebih dulu. Bumi menghampiri Ana, dia berjalan ke arah wanita yang ada dihadapannya. Mereka pun duduk di sebuah kursi berwarna hitam persegi panjang yang ada di koridor tempat itu.
"Ada apa?" Bumi menatap Ana sembari mencondongkan tubuhnya pada wanita itu.
"Ada sesuatu yang menggangguku, dan kurasa... Harus ku sampaikan sekarang," Ana menatap Bumi dengan lekat.
"Katakanlah!" Bumi menunggu wanita itu menyampaikan maksudnya.
"Bayi itu... Bukan anakmu Bum. Sebelum Bella meninggal, dia mengatakan yang sebenarnya padaku." Ana menatap Bumi dengan lekat.
Bumi menghela napas panjang, ada kecewa dan juga rasa lega bersamaan di hatinya. Dia kecewa, karena mendiang Bella telah membohonginya, tapi dia juga lega karena bayi itu bukan anak biologisnya. Walau pada akhirnya, dia masih belum tahu bahwa dia sudah dijebak oleh wanita itu.
Bumi menggenggam tangan Ana, "aku senang mendengarnya."
__ADS_1
Ana menoleh ke arah pria itu, " Kau tahu, bayi itu sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi selain aku dan ibu. Jadi, kurasa aku harus merawatnya." Ana mengatupkan mulutnya, dia merasa sedih dengan nasib keponakannya sendiri.
Dia tidak ingin, bayi itu merasakan kesepian yang dulu sering dia rasakan. Bumi pun mengelus lembut pipi Ana, "mari kita rawat bersama." Pria itu menatap Ana dengan dalam, dua serius dengan ucapannya.
"Tapi. bayi itu bukan anakmu Bum.." Ana terlihat ragu menerima ajakan Bumi.
"Aku mau merawatnya bersamamu." Bumi mengusap lembut pipi Ana, lalu mengeluarkan sebuah kotak cincin yang sudah dia siapkan.
"Menikahlah denganku Anastasia," Bumi membuka kotak itu secara perlahan. Ana menatap Bumi dengan penuh kesedihan, seharusnya ini menjadi momen yang bahagia untuknya. Tapi, kehilangan dua keluarga sekaligus bukanlah hal yang mudah bagi Ana sehingga momen yang seharusnya dia rayakan ini membuatnya semakin larut dalam kesedihan.
Ana mengangguk lalu memeluk pria itu, Bumi menangis di pelukan Ana. Dia merasa senang karena akhirnya mereka akan bersama, Bahkan pria itu sudah menyediakan cincinnya saat di pantai waktu itu.
"Bagaimana dengan bayinya?" Keluargamu?" Ana terlihat khawatir dengan status bayi itu.
"Mari rahasiakan dari mereka, biarlah keluargaku menganggap itu bayiku." Bumi memasangkan cincin itu di jari manis Anastasia. Cincin bukat dengan hiasan berlian diatasnya.
Dia akan membiarkan Ana menjelaskan hal yang sebenarnya pada keluarga Kim. Setelah obrolan mereka selesai, keduanya pun pergi dari tempat itu. Untuk menemui keluarga Bumi di kediamannya. Anastasia menyandarkan dirinya di mobil, dia mengingat ibunya. Setelah kepergian Bella dan ayahnya, Ana tahu ibunya pasti merasa terguncang. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan, dia dan ibunya masih belum berbaikan. Bahkan, ibunya belum tahu bahwa itu bukanlah anak kandung Bumi.
Karena hal itu, dia tidak protes saat mendengar bayi itu akan di rawat oleh keluarga Kim langsung. Dia hanya akan kembali tinggal di Busan bersama kedua orang tuanya.
Bumi dan Ana sedang dalam perjalanan ke rumah pria itu. Sesekali, Bumi menatap kekasihnya dengan senyuman. Sementara Ana masih belum keluar dari rasa sesak yang melingkupi dadanya. Wanita itu berusaha tegar dengan segala keadaan yang ada. Dia harus segera menata hidupnya lagi.
Setelah setengah jam mengemudi, akhirnya Bumi dan Ana sampai di rumah mewah milik keluarga itu. Dongmin sudah tidak lagi tinggal disana, dia sudah kembali ke rumahnya atas permintaan sang ibu.
__ADS_1
Mereka melenggangkan kaki masuk kedalam, Ibu Bumi seperti biasa menyambut mereka dengan senyuman merekah. Tidak lupa dia memeluk calon menantu kesayangannya, "sudah selesai?"
Ana hanya mengangguk pelan, kemudian wanita itu merangkul Ana dan membawanya ke ruang tamu menemui kakek ketua. Melihat kehadiran Ana lagi, tentu membuat pria tua itu sangat senang. Walau, dia juga tidak bisa untuk tidak merasa simpatik atas apa yang terjadi pada wanita itu.
Calon besannya meninggal karena kecelakaan pesawat, dan seorang wanita uang mengandung anak cucunya malah meninggal setelah melahirkan bayi itu. Kini, keluarga Kim tengah di sorot oleh awak media. Semuanya memberitakan hal itu dimana-mana.
Ana duduk di tengah keluarga itu kecuali, ayah Bumi yang masih ada di kantor. Wanita itu merasa ragu untuk menyampaikan hal yang ingin dia katakan. Tapi, sebelum itu Bumi lebih dulu memberitahu kelaurganya bahwa dia sudah melamar Anastasia.
"Kami akan segera menikah," ungkap Bumi pada Ibu dan kakeknya. Tentu saja mereka bahagia, senyum merekah terlihat di wajah keduanya.
"Kami juga akan merawat bayi itu bersama," Bumi menatap Ana sekilas lalu kembali menatap Ibu dan Kakeknya. Tentu saja, keduanya sangat setuju. Apalagi, jika Ana yang merawat bayi itu.
"Tapi, ada hal yang ingin aku sampaikan..." Ana terlihat gelisah.
"Ada apa nak?" ibu Bumi menaikan alisnya, dia terlihat lenasaran dengan apa yang akan disampaikan Anastasia.
"Maaf sebelumnya, aku baru mengetahui ini seminggu yang lalu. Bahwa, bayi itu bukanlah anak kandung Bumi." ujarnya langsung menunduk.
Ibu Bumi dan mertua nya langsung membelalak, mereka merasa marah karena merasa telah dipermainkan oleh Bella. Walaupun, Bella sudah tiada dia tidak seharusnya melakukan itu pada Bumi sejak awal.
"Apa? Bukan bayi Bumi? Lalu kenapa dia tega mengatakan itu bayi Bumi?" Ibu Bumi berdiri, bahkan Ana baru kali oertama melihat wanita itu marah.
Kakek Kim terlihat malas mendengar penjelasan Ana, dia langsung melenggang pergi meninggalkan wanita itu dan yang lainnya. Sedangkan Ana hanya bisa menunduk, menahan segala amarah yang mungkin akan dia dapatkan.
__ADS_1
...****************...
...****************...