MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 60 : Ragu


__ADS_3

Bumi berjalan mencari Dongmin, tapi dia tidak menemukannya. Semua orang memperhatikan pria itu, dia berjalan dengan cepat melewati koridor.


Karena tidak kunjung bertemu, Pria itu memutuskan mencari Ana dibanding mencari Dongmin, dia akan melihat kondisinya secara langsung.


Saat itu dia bertemu dosen yang mengenalinya,


"Pak Bumi? Ada urusan apa datang kesini?"


"Selamat siang pak, bolehkah aku bertanya? Dimana ruang kelas Anastasia sekarang?" tanyanya pada Dosen itu.


"Anastasia Jung? Tunggu sebentar aku akan mencari tahu."


Bumi mengangguk, dia melihat dosen itu kembali dan mencari tahu jadwal Anastasia.


"Dia ada ruang paling ujung sebelah kanan," Dosen itu menunjuk lurus.


"Baiklah, terimakasih pak." Bumi menunduk lalu berjalan melewatinya.


Dia langsung ke kelas itu, lalu menunggu diluar ruangan. Tidak lama beberapa orang dari ruangan itu, mulai berhamburan keluar sedikit demi sedikit.


Bumi berdiri mencari-cari Ana, Ana yang sedang mengobrol dengan Somi agak membelalak melihat pria itu. Wajah Bumi terlihat cemas, Ana berjalan sambil tersenyum dan menghampirinya , dia berlaga seolah dia baik-baik saja.


Bumi yang sudah tahu kejadian yang menimpanya, langsung berjalan mendekat dan memeluk wanita itu dengan erat. Orang-orang yang masih disana menatap mereka.


"Kau baik-baik saja?" Bumi memegang bahu Ana, lalu menatapnya.


"Ya, aku baik-baik saja" Jawab Ana sambil tersenyum. Wanita itu sudah tidak lagi peduli, apakah dia menadi pusat perhatian atau tidak. Yang dia inginkan sekarang hanyalah dekapan hangat pria itu.


Bumi mendekap Ana sekali lagi, dia rindu sekaligus khawatir padanya. Mereka berjalan keluar kampus dan menuju taman disana, sebelum itu Ana sudah melambaikan tangannya pada Somi.


Ana dan Bumi bergandengan tangan sambil keluar dari sana, Bumi melihat ada yang berbeda dari wajah wanita itu. Dia melihat tanda merah bekas telapak tangan dipipinya.


"Ada apa denganmu? Kenapa sampai seperti ini." Bumi sangat menyayangkan sekali, bekas tangan itu menempel jelas diwajah mulus Ana.


Ana menoleh ke arah pria itu, "Aku baik-baik saja, hanya ada sedikit masalah tadi. Jangan diperpanjang !" Ana tersenyum lalu kembali menunduk.


Mereka sampai di taman dekat kampus, lalu duduk di kursi yang tersedia disana. Bumi menghela nafas panjang, jika wanita itu sudah mengatakan jangan diperpanjang berarti dia tidak bisa melakukan apa-apa.

__ADS_1


"Aku akan mengundur keberangkatanku," Bumi meluruskan kakinya sambil bersandar.


"meh.. Kenapa? Karena aku? Ayolah Bum, aku tidak apa-apa. Aku tidak ingin kau menunda hanya karena ini," Ana memegang lengan Bumi.


"Kau kira, mereka bisa memperlakukanmu seperti itu? Kau kekasihku, beraninya dia melakukan itu padamu!" Bumi menggeretakan giginya kesal.


"Aku tidak ingin ada masalah lain, tapi ada satu hal yang ku ingin tanyakan padamu." Ana menatap Bumi lekat, pria itu menegakkan posisi duduknya dan menatap Ana dengan serius.


"Apa itu?" Bumi mengelus lembut pipi Ana yang memerah, sambil dengan seksama mendengarkan wanita dihadapannya.


"Kau bertengkar dengan Dongmin?" Ana mengangkat sebelah alisnya sambil menunggu pria itu menjawab.


"Ya.." Bumi mengangguk.


"Kapan?" Ana bertanya lagi.


"Saat Acara di KIK," Bumi langsung mendekat ke arah telinga Ana.


"Dia melihat kitaaa...." Bumi menyeringai,


"Oke cukup! Aku mengerti, tidak perlu diperjelas." Ana merasa malu, mengingat kejadian malam itu.


"Mau ke pantai sore ini?" Bumi menyelipkan rambut Ana kebelakang telinganya.


"Kau benar-benar mengundur jadwal penerbanganmu?" Ana mengernyitkan dahinya.


"Demi dirimu." Bumi mencubit hidung Ana dengan gemas.


Ana mendengus pelan, tapi ada rasa bahagia yang juga meliputi dirinya, syukurlah Bumi tidak jadi pergi hari ini.


"Belum sehari aku sudah merindukanmu, aku tidak tahu bagaimana jadinya, jika harus jauh darimu selama dua bulan." Bumi menyeringai menatap Ana. Pipinya semerah tomat sekarang, Bumi selalu bisa membuat hatinya berbunga-bunga.


"Aku ada kelas lain hari ini, kau mau menungguku disini atau dimana?" Ana mengeratkan tasnya, dia berdiri merapikan pakaiannya yang agak kusut.


"Aku harus ke kantor dulu, setelah itu aku akan menjemputmu." Bumi menatap Ana sejenak dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dia tersenyum kecil, lalu berdiri didepan wanita itu.


"Jaga dirimu baik-baik." Bumi tersenyum, mendengar itu Ana langsung meyeringai lalu memeluk Bumi.

__ADS_1


"Terimakasih." Kata Ana sambil mendongakan pandangannya pada Bumi.


Siang itu, Anastasia kembali ke kelasnya. Sedangkan Bumi, bergegas pergi ke kantor. Johan ikut pulang bersamanya membawa mobil yang lain, Bumi mencoba menelepon Dongmin, tapi pria itu tidak menjawab.


Dia akan mengundurkan jadwal penerbangannya ke besok siang, dia tidak mungkin meninggalkan kekasihnya dengan kondisi seperti itu.


Sudah setengah perjalanan ke KIK, ponselnya pun berdering..


Ternyata, itu dari Bella, Bumi pun langsung menjawab panggilannya.


"Bummm..... Kau jadi berangkat sore ini?"


"Tidak, aku ada urusan lain hari ini. Mungkin aku akan berangkat besok siang, bersabarlah." Bumi mendengus.


Bella merasa hormonnya semakin berubah-ubah, akhir-akhir ini dia sangat ingin sekali di manja oleh seseorang. Karena tidak ada orang lain, selain dirinya disana. Dia merasa sedih, bahkan bayinya seperti ikut merasakan kesedihannya.


Bella berharap besar Bumi bisa datang menemuinya, menurutnya itu tidak masalah lagipula hubungan Bumi dan Ana hanyalah sandiwara belaka.


Bella disana sedang mengelus lembut perutnya, dia teringat tentang penjelasan Dokter pada kandungannya.


Kandungannya sangat lemah dan dia diharuskan meminum obat penguat kandungan. Belum lagi beberapa komplikasi lain, karena kebiasaannya begadang membuat kadar Hemoglobinnya rendah hingga ke angka 6. Normalnya, wanita harus mencapai angka 11 agar tidak terjadi pendarahan saat melahirkan nanti.


Belum lagi, emosi nya yang tidak stabil membuat tekanan darah nya tinggi. Dokter menyarankan agar dia bisa didampingi seseorang untuk mendorong Hormon endorphin yang bisa meningkatkan kebahagiaannya.


Sehingga dia bisa lebih rileks dan menjalani kehamilannya lebih mudah, Bella juga bukan tipikal orang yang suka sekali minum obat-obatan bahkan vitamin. Terkadang, dia memang lupa untuk meminum vitamin kandungannya. Maka dari itu, dukungan seseorang sangatlah penting untuknya.


Kehamilannya yang sudah sangat membesar itu, membuatnya tidak bisa mudah tidur dengan cepat seperti dulu. Hanya satu hal yang membuat dia bahagia adalah setiap gerakkan tubuh bayi yang ada dirahimnya.


Setiap bayi itu menggeliat, dia akan merasa senang walau sedikit terasa ngilu.


Menjalani kehamilan tanpa siapapun disampingnya merupakan hal yang sulit, dia tidak tahu bahwa menjadi seorang ibu akan seberat ini. Walaupun awalnya dia cukup percaya diri untuk mengurus semuanya sendiri, tapi lama kelamaan dia kewalahan juga.


Untuk ayah si bayi ini, dia sudah membuangnya jauh-jauh. Bahkan pria itu sudah terlihat jalan dengan wanita lain. Bella mencoba untuk tidak stress demi bayi yang dia kandung, dia sangat menyayangi bayi itu.


Rasa sayangnya yang setiap hari semakin besar membuatnya ragu untuk hanya sekedar menyerahkan Bayi ini dirawat oleh Bumi, apalagi melihat pria itu bersama adiknya.


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2