
Dongmin menghampiri Minhyun dan Ibunya yang berada didapur, dia berjalan mendekat ke arah mereka sambil menoleh ke arah Minhyun yang sedang di kompres lukanya.
Dia agak meringis kesakitan. Dongmin mendengus pelan. Dia tidak habis pikir kenapa ayahnya sampai memukul Minhyun seperti itu, rupanya Dongmin belum tahu soal pindah ke Paris dan makam digusur itu. Dia duduk didepan Ibunya dan Minhyun,
"Ada apa? Kenapa dia memukulmu seperti itu?" Dongmin menatap datar adiknya sambil mengatupkan mulut.
"Ayah memaksaku pindah ke Paris"
"Kenapa begitu?" Dongmin mengernyitkan dahi
"Makam Ibuku akan digusur, jadi aku meminta bantuannya" Minhyun menunduk
"Lalu?" Dongmin masih mengernyitkan dahinya
"Dia memberi ku syarat untuk pindah ke Paris dan kuliah disana"
Dongmin mendengus kesal, dia muak dengan ayahnya yang selalu bertindak seenaknya. Mereka bukan bayi lagi, mereka juga tidak perlu dituntut untuk balas budi, karena mereka mengerti walaupun tidak diminta. Mereka akan melakukan yang terbaik, tapi biarkan lah mereka memutuskan keinginan mereka sendiri dan jangan memaksakan kehendak. Anak juga manusia
"Bumi dan Ana akan membantuku mengurus pemindahan makam ibuku, aku memutuskan untuk mengkremasinya"
Ibunya Dongmin mengelus pundak anak itu, ibunya ikut merasakan kesedihan Minhyun. Dia mulai menyayangi Minhyun seperti anaknya, karena dia tahu anak itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain mereka.
"Bumi dan Ana?" Dongmin mengangkat sebelah alisnya
"Ya, Bumi dan Ana pergi menemuiku tadi siang di Paju"
Dongmin mengangguk dan baru ingat bahwa Bumi pergi terburu-buru tadi siang. Ternyata dia mau menemui Minhyun.
"Kau bertemu Ana?"
Dongmin tidak bisa menjelaskan perasaannya sekarang, rasanya ada sesuatu yang menyesakkan dadanya, terlebih dia sudah sangat jarang bertemu dengan wanita itu. Dia juga merasa canggung karena kejadian mabuk berat di malam itu.
"Ya, dia ikut mengantarku"
Dongmin mengangguk, Minhyun melihat kesedihan di mata pria itu. Dongmin lalu berjalan ke arah luar dan berdiri di halaman. Dia termenung disana untuk beberapa saat, sambil menatap keindahan langit di malam hari.
"Ibu menemui Dongmin dulu ya" Ibu Dongmin keluar menyusul anaknya, sedangkan Minhyun hanya mengangguk dan masih duduk disana.
Lee Ro Jun masih terkapar di kamar Minhyun, pria itu tertidur dan tidak sadarkan diri.
"Kau baik-baik saja?" Ibu Dongmin muncul dari belakang
Dongmin menoleh sambil tersenyum, ibunya tahu apa yang dirasakan anaknya sekarang walaupun dia belum tahu apa penyebabnya.
"Aku tidak baik-baik saja huftt" Dongmin menunduk
"Apa ini karena ayahmu?" Ibu Dongmin menatap wajah anaknya lekat
"ya itu juga termasuk, Aku benar-benar muak pada ayah, bagaimana ibu bisa tahan dengan pria itu? Jika ibu memutuskan hubungan dengannya, aku akan sangat mendukung, kita bisa hidup bersama berdua" Dongmin melihat ibunya dengan rasa sedih
Ibunya tertawa kecil
"Ayahmu juga hanya memiliki kita, ibu tidak bisa meninggalkannya. Kau tahu kenapa dia seperti itu? Karena dia juga punya luka masalalu"
"Tapi kenapa dia mewariskannya kepada kami? Kenapa dia berlaku lebih buruk?"
"ibu mengerti perasaanmu, yang harus kau lakukan adalah memutus lingkaran itu dan jadilah pria baik yang tidak seperti ayahmu" Ibunya mengelus pundak anaknya.
__ADS_1
Dongmin menggeleng, masih kesal.
"Apa kau menyukai Ana?" Dongmin menatap Ibunya agak terbelalak
Dari mana ibu tahu?
Dongmin mengangguk pelan, lalu menatap kembali langit yang dipenuhi bintang.
"Tapi dia sudah memilih, aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi" Dongmin menyeringai
"hanya satu yang bisa kau lakukan..." Ibunya menatap anaknya tersenyum
"Mendoakannya, agar dia selalu bahagia dengan pilihannya. Doa yang baik akan berbalik kepada dirimu, ibu harap kau bisa merelakan nya"
"Aku belum sepenuhnya bisa merelakan dia bu, aku harus melihat kesungguhan Bumi. Aku tidak akan segan untuk merebutnya kembali jika Bumi berani menyakitinya"
"Baiklah.. Itu keputusan mu untuk menunggunya. Tapi ibu harap kau tidak menyakiti dirimu sendiri, jika ini menyakitimu ibu mohon lepaskan saja" Ibunya menatap sendu Dongmin.
"Tentu"
Dongmin mengangguk, Mereka berdua kembali masuk ke dalam rumah. Karena Rojun masih tergeletak di kamar Minhyun, Dongmin menawarkannya untuk tidur bersamanya. Tapi Minhyun memilih tidur di kamar tamu, Ibunya Dongmin menyiapkan dan membersihkan kamar itu sebelum Minhyun tidur.
"Terimakasih......... bu" setelah sekian lama dia berusaha berdamai dengan keadaanya. Akhirnya dia bisa menerima semua itu.
"Sama-sama nak" Ibunya Dongmin tersenyum
Keduanya sudah mulai saling menerima, mereka tahu mereka harus saling menguatkan disaat orang yang seharusnya menjadi kepala keluarga malah tidak berperan dengan baik bagi keluarganya.
*
*
"mimpiku indah sekali" Dia menyeringai
"Bibirnya manis" Dia masih menyeringai lalu terkejut mendapati dirinya sedang membayangkan kejadian kemarin
Dia membuka selimutnya kasar karena merasa kesal tidak bisa melupakan kejadian kemarin. Dia berjalan sempoyongan ke kamar mandi sambil membawa ponselnya.
Dia mulai sikat gigi, sambil mengetikkan sesuatu di handphone.
Bum :
Anaaa.
"Ck lama sekali balasnya" Baru sepersekian detik dia mengirim pesan dia langsung protes.
Bum :
Anaaastasia
Dia tertawa kecil membayangkan ekspresi Ana yang terganggu karena pesannya.
Ana sedang merapihkan tempat tidurnya, dia bersiap untuk pergi ke Kampus. Handphonenya berdering.
"aish pria ini"
Anajung :
__ADS_1
Apa
Dia menaruh lagi ponselnya di meja samping tempat tidur. Kemudian ponselnya kembali berdering.
"ck apalagi sih" Dia menggerutu kesal karena sedang sibuk beres-beres
Tapi melihat nama Dongmin di layar ponsel, Ana berhenti sejenak lalu perlahan membaca pesan itu.
Dongmins :
Aku perlu bicara, apa kau sudah berangkat ke kampus? Aku akan menjemputmu.
Ana langsung membalas pesannya.
Anajung :
Belum, aku masih di apartemen
Dongmins :
Baiklah tunggu aku di lobi, aku akan segera sampai.
Ana kembali merapikan tempat tidurnya, lalu berjalan ke cermin di kamarnya, dia merapikan tampilannya agar terlihat lebih baik.
Meraih Tas selempangnya yang berwarna putih polos, wanita itu langsung keluar dari apartemen lalu turun ke Lobi. Dia menunggu sekitar 5 menit sampai akhirnya Dongmin sampai.
Pria itu keluar dari mobil Porsche nya, lalu berjalan menuju Ana.
(gambaran tampilan Dongmin saat itu)
Dia tersenyum lalu menyapa Anastasia, Ana dengan ragu-ragu keluar menemuinya.
"Kau bawa mobil?" Ana bertanya sambil jalan dibelakang pria itu
"Aku meminjam mobil kantor, untuk mengantarmu" Dongmin tersenyum tipis, matanya mengecil seraya senyum itu merekah.
"Mari masuk" Pria itu membuka kan pintu mobilnya
"Terimakasih" kata Ana sambil masuk lalu duduk disamping Dongmin.
Dongmin segera menyalakan mesin mobilnya, dia mengemudi dengan santai dan hati-hati. Sesekali dia menoleh ke arah Ana.
"Ana"
"Dongmin"
Kata mereka berbarengan, suasana menjadi sangat canggung.
"Baiklah kau lebih dulu" Kata Dongmin sambil tersenyum
"Dongmin, aku ingin minta maaf padamu" ......
...****************...
...****************...
__ADS_1