
Pipinya masih terasa panas, mereka ada di ruang pengobatan kampus saat ini. Somi membawa pak es batu untuk mengompres pipi Ana, Ana masih merasa nyesak di dada. Dia tidak mengerti apa yang di maksud wanita itu, jika Bumi mengetahui hal ini, wanita itu pasti akan dalam masalah besar. Ana mencoba mengatur nafasnya dengan baik.
Sedangakan, Somi sedang berusaha menenangkan Ana. Dia mengelus lembut punggung Ana. Wanita yang masih menangis itu menatap wajah sahabatnya.
Somi memeluk Ana dengan erat, "Aissshhh, sialan! Aku akan mematahkan lehernya!" . Somi geram dan bersumpah serapah untuk Yeri. Dia tidak tega melihat sahabatnya menangis dan ditampar oleh senior mereka itu
tuk tuk tuk....
Suara langkah dari sepatu terdengar, rupanya itu adalah Dongmin yang ingin memeriksa keadaan Ana. Pria itu berdiri di depan Somi dan Ana, dia menatap lekat Ana yang masih menangis pada Somi.
Melihat Dongmin sudah berdiri di depannya, Ana memberi kode pada Somi untuk memberi mereka berdua waktu untuk berbicara.
"Aku akan menunggu diluar," Somi tersenyum lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
Ana mengangguk sambil menatap kepergian Somi, lalu dia memalingkan wajahnya dari Dongmin. Dongmin mendekat pada Ana, kemudian duduk disamping wanita itu.
Dia melihat luka merah bekas tangan Yeri pada pipinya, sontak dia merasa bersalah dan sedih. Pria itu pun menunduk,
"Maafkan aku..." Hanya itu yang bisa dia ucapkan pada Ana sekarang.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Ana melihat Dongmin, matanya agak berkaca-kaca lagi.
Kemungkinan terbesar menurutnya adalah kedua pria itu bertengkar. Itulah sebabnya dia menangis, jika itu benar adanya dia akan sangat merasa bersalah.
Dia tidak mau menjadi seseorang yang merusak persaudaraan orang lain, dia juga tidak berniat seperti itu sejak awal. Ini semua terjadi karena ketidak konsistenannya.
"Kau bertengkar dengan Bumi?" Ana memperhatikan Dongmin yang masih menunduk, pria itu kebingungan. Bagaimana dia bisa menjelaskan akar dari masalah nya dan Bumi. Sedangkan, jika dia mengatakan yang sebenarnya, semua rahasia pria itu akan terbongkar.
Dongmin mengangguk pelan, Ana menggigit bibir bawahnya sendiri pelan.
"Karena apa?" Tanya wanita itu sambil menatap Dongmin, dia berpura-pura tidak tahu dengan alasannya. Dia hanya berharap, itu bukan benar-benar karena dirinya.
"Aku mencintaimu Ana..."
Deg ..
Dongmin menatap Ana lekat, "Aku mencintaimu, aku tidak rela kau bersamanya. Bukankah kau menyukaiku? Lalu kenapa berakhir dengannya?"
Dongmin menatap datar Ana, dia kecewa dan juga marah pada wanita itu. Dia ingin wanita itu sadar bahwa dia sangat mencintainya. Tapi kenapa dia dengan mudah berpaling pada orang lain.
Ana memalingkah wajahnya, air matanya mengalir lagi. Ana merasa lebih bersalah, setelah melihat tatapan tulus pria dihadapannya.
Ini semua karenamu Ana, ketidak konsistenanmu membuat semua semakin rumit.
__ADS_1
Dia memaki dirinya sendiri di dalam hati, dia merasa wajar jika Yeri menamparnya sekeras itu. Dia memang pantas mendapatkannya.
"Maafkan aku, Dongmin." Ana melihat Dongmin dan menangis. Melihat air mata Ana yang begitu deras, Dongmin merasakan penyesalan wanita itu. Pria itu juga tidak bisa menyalahkan Ana atas cintanya pada Bumi.
Cinta tidak pernah salah, yang harus dia lakukan sekarang mungkin hanyalah melepaskan rasanya pada Ana. Sehingga, itu tidak menyakiti siapapun.
Tapi, apakah dia tega melihat Ana lebih menangis nantinya, jika dia bersama Bumi? Apalagi jika dia tahu mengenai bayi yang dikandung mantan kekasih pria itu.
Dongmin menghapus air mata Ana, " Kau tidak perlu menjawab, aku tahu cintamu sudah milik sepupuku sekarang. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku akan selalu ada disampingmu apapun keadaannya."
Satu hal yang Dongmin tahu soal kelemahan dirinya, yaitu ayahnya. Dia juga tidak bisa menjamin kebahagiaan wanita ini, jika dia nekat bersamanya. Bisa saja, Ana lebih menderita dibanding bersama Bumi sekarang.
"Dongmin," Ana menyeka air matanya sendiri. Menatap pria itu dengan seksama, Masih ada isakan yang tersisa pada nafasnya.
"Ya?" Dongmin menyelipkan rambut wanita itu kebelakang telinga. Lalu dia tersadar, Ana tidak nyaman dengan perlakuan itu.
"Terimakasih, aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu. Tapi, aku juga akan berusaha selalu ada disisimu sebagai sahabatmu."
Dongmin tertawa kecil, "Ada apa?" Ana bertanya dengan kebingungan.
"Matamu membengkak karena menangis, itu terlihat lucu." Dongmin menyipitkan matanya sambil tersenyum, dia berusaha mengalihkan pembicaraan dengan candaan garingnya.
"Benarkah?" Ana berdiri lalu merogoh ponsel di tasnya, dia segera bercermin pada itu.
"Aku harus pergi dulu." Dongmin melambaikan tangannya, lalu berjalan keluar.
Ana menatap pria itu sambil melambaikan tangannya, dia menghela nafas panjang. Akhirnya, masalahnya dengan Dongmin sudah jelas. Rasa bersalahnya sudah sedikit berkurang, sesaat setelah pria itu paham akan posisinya.
*
*
Bumi sedang melihat beberapa foto Ana yang pernah dia ambil secara diam-diam, pria itu tertawa kecil melihatnya.
"Ahh aku sangat merindukannya."
Kemudian, ada panggilan masuk pada ponselnya. Panggilan itu dari Johan, ajudannya.
"Halo, bagaimana?" Rupanya pria ini meminta Johan untuk selalu menjaga Ana dari kejauhan. Dia takut, jika sesuatu hal buruk terjadi padanya.
"Nona Ana...." Johan agak ragu mengatakannya.
__ADS_1
"Ada apa dengannya?" Bumi agak menekan suaranya, dia langsung berdiri meraih kunci mobil dan memakai jasnya.
Pria itu dengan tergesa-gesa berjalan keluar dari ruang kerjanya dirumah.
"Dia mengalami perkelahian dengan seorang wanita disana," kata Johan.
"Bagaimana bisa? Dia bukan tipikal wanita yang suka mencari keributan seperti itu!" Bumi turun dari tangga dirumahnya.
Dia berpapasan dengan ibunya yang menatap Bumi keheranan,
"Bu, aku ke Hankuk dulu." Dia mengecup pipi ibunya sebentar dan meninggalkan ibunya tanpa penjelasan.
Bumi segera memasuki mobilnya dan menghidupkan mesin mobil,
"Aku akan segera kesana" Katanya pada Johan, lalu menutup panggilannya.
Bumi langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, dia mencoba menelepon Ana berkali-kali. Tapi wanita itu tidak menjawab.
Ana yang sudah mencuci wajah, sekarang sedang berada dikelas bersama Somi. Dia memperhatikan apa yang dijelaskan Dosen didepannya.
Dosen itu sedang menjelaskan tentang persiapan proyek mereka nanti. Bagaimanapun, persiapannya sudah harus matang dari sekarang.
Ana mengsilent ponselnya, dia tidak tahu ada panggilan dari Bumi.
Bumi yang semakin khawatir mempercepat laju mobilnya, untunglah saat itu jalanana tidak macet. Jadi dia bisa sampai disana dengan cepat.
Setelah sampai disana, Bumi langsung bertemu dengan Johan.
"Dimana Ana?" Tanyanya pada Johan, nafasnya agak ngos-ngosan saking paniknya.
"Sepertinya Nona Ana dikelasnya Pak," kata Johan.
"Ada apa? Jelaskan padaku!" Bumi mengernyitkan dahinya.
"Nona Ana mengalami kekerasan oleh senior wanitanya, aku datang saat setelah semuanya sudah terjadi. Tapi aku lihat Tuan Dongmin disana." Johan nenjelaskan dengan gugup, dia merasa bersalah karena dengan tidak sigap menghentikan kejadian itu.
"Dongmin? Dimana dia sekarang?" Tanya Bumi.
...****************...
...****************...
__ADS_1