MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 22 : makan malam pertama


__ADS_3

Situasi yang sekarang Ana alami jarang sekali terjadi di hidupnya, ini kali pertama dia makan malam bersama keluarga lain selain orang tuanya.


Ana merasa canggung dan juga gugup, semua keluarga Bumi kini berkumpul di sebuah ruang makan.


"Ayah!" Pria yang masih berbalut tuxedo itupun memecah keheningan, dia membuka pembicaraan selagi mereka menyantap makanannya.


Minhyun melirik sepupunya, Dia tidak banyak komentar. Tidak berselang lama Dongmin pun datang, masih dengan setelan jas kerjanya. Dia pun merasakan suasana ruang makan yang menegangkan itu, kemudian dia menatap Ana untuk memeriksa kondisinya, dia sangat terlihat tidak nyaman.


"Dongmin bergabunglah!" seru ayah Bumi, pria itu mengabaikan anaknya yang mencoba berbicara.


"Terimakasih paman," Dongmin memberi salam dengan mengangguk lalu duduk tepat di hadapan Ana. Sesekali wanita itu meliriknya, seakan dia ingin memberitahu pria itu untuk membawanya keluar dari sana.


Ayah Dongmin memerhatikan anaknya yang sedang menatap Ana. Pria itu menyeringai pelan.


"Anastasia, bisakah kau ceritakan sedikit mengenai dirimu?" Tuan Kim bertanya sambil mencondongkan pundaknya.


"Ayah, untuk apa kau ingin tahu tentang Ana?" Bumi menatap ayahnya sedikit membelalak.


"Ayah tidak bicara padamu!" pria itu menatap Bumi datar.


"Aku hanya seorang mahasiswi baru di Universitas Hankuk," Ana tersenyum canggung, tenggorokannya terasa kering. Dia merasa tidak sanggup lagi berlama-lama dalam situasi seperti ini.


"Keluarga kami semua lulusan terbaik disana, kau mengambil jurusan apa? Seni rupa seperti Minhyun dan Dongmin?" Tanya ayah Bumi yang menatap Ana agak lama.


Ana mengangguk pelan, "benar pak" katanya masih dengan perasaan canggung.


Setelah obrolan ringan, semuanya kembali hening sampai kakek Kim memecahkan hal itu.


"Lalu kapan kalian akan menikah?" Pertanyaan menohok dari kakeknya membuat Bumi tersedak makanan yang sedang dia kunyah.


"Uhuk-uhuk," ibunya yang terlihat panik langsung menyerahkan segelas air putih yang ada disamping pria itu.


Bumi pun membelalak dan keheranan, sama seperti Ana dan yang lain.


"Mungkin ada kesalahpahaman disini!" Dongmin mulai angkat bicara, dia tidak ingin mereka salah paham soal hubungan Ana dan Bumi. Jelas dia menyukai wanita itu.


"Maksudmu? " Kakek Kim mengernyitkan dahinya, dia sudah meyakini hubungan kedua orang itu karena media yang terus memberitakan mereka.


"Mereka tidak ada hubungan apapun selain karena masalah kemarin, kakek." Ujar Dongmin yang menatap kakek dan pamannya bergantian.


"Jadi, kalian tidak punya hubungan seperti yang diberitakan?" Kakeknya membenarkan posisi kacamatanya yang miring.


"Tidak kek," Bumi tersenyum camggung.

__ADS_1


"Kami hanya teman biasa, media hanya melebih-lebihkannya saja." Kata Bumi dengan lugas.


Nyonya Soha terlihat sedih, ibu nya itu sangat tahu bahwa anaknya sedang tidak tertarik menjalin sebuah hubungan. Pria itu sering bersikap dingin kepada para wanita yang mencoba mendekatinya, entah para wanita suruhan ayahnya ataupun yang memang berniat mendekatinya.


"Kenapa tidak jadikan ini kenyataan saja seperti kemauan media?" Ayah Bumi tertawa menggoda keduanya, dia ingin sekali anak tunggalnya itu segara mempunyai pasangan dan menikah. Umur Bumi kini sudah menginjak 32 tahun.


"Ana bagaimana?" Tanya nya langsung kepada Ana,


Ana mencari jawaban di pikirannya tapi ia tidak menemukan satu patah kata pun. Dia hanya tersenyum menanggapinya, wanita itu bahkan tidak tahu apakah mereka sedang berbicara serius atau hanya sekedar bercanda.


Setelah makan malam selesai....


Ke empat sekawan itu sedang berkumpul di halaman belakang yang langsung menghadap ke kolam renang luas di rumah itu. Ana terlihat sedang menopang kepalanya dengan kedua tangan yang tertumpu pada meja.


Wanita itu merasa pusing, karena harus terjebak dalam situasi tadi.


"Situasinya makin memburuk," Minhyun menghampiri ke tiga orang itu, Ana yang sedang duduk pun merapikan Poninya yang menutupi.


"Aku tidak tahu keluargamu benar serius atau hanya ingin mengujiku saja?" Ana melihat ke arah Bumi tajam.


"Mengujimu?" Bumi mengangkat sudut sebelah alisnya.


"Mereka serius!" Kata Dongmin yang ikut nimbrung, Ana pun menatap pria itu dengan raut wajah gelisah.


"Beberapa tahun terakhir, Bumi bersikap dingin kepada para wanita. Jadi saat mengetahui rumor ini, Kakek dan Paman pasti senang. Mereka ingin sekali cepat menimang cucu." Dongmin tertawa kecil melihat Anastasia yang duduk dihadapannya.


"Apa aku semenyedihkan itu?" Bumi berbalik sambil bertolak pinggang menatap mereka.


Ketiga orang yang lain pun berusaha kuat untuk menahan tawa mereka.


"Memang terlihat seperti itu," Minhyun tertawa sambil menggoda Bumi di depannya.


"Ashhh Aku akan menghentikan program magang kalian!" Bumi mengancam sepupunya seperti anak kecil.


"Apa kau anak kecil? Jangan mengancam kami dengan hal konyol!" Dongmin menertawakan pemuda itu. Bumi memasang mimik kesal dengan mereka yang berani mengejeknya.


"Kya! Aku seorang CEO aku bisa melakukan apapun!" Serunya yang di tanggapi dengan gelak tawa yang lain. Dia tidak menyeramkan sama sekali, dengan wajah imut seperti itu akan sangat sulit untuk memasang mimik wajah marah.



"Memangnya umur paman berapa?" Ejek Ana yang semakin membuat Bumi geram.


"Kalian sangat bahagia kan?" Bumi meninggalkan mereka sambil mengerucutkan bibir, yang lain hanya menganggap itu sebagai lelucon yang lucu.

__ADS_1


Ketiganya masih disana, sedangkam Bumi masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dongmin hendak mengantar Ana pulang, tapi sayang sekali ayahnya mengajak dia dan Minhyun ikutbpulang ke rumah bersamanya.


Pria itu dan adiknya tidak bisa menolak jika sudah ayahnya yang meminta, walau dengan berat hati meninggalkan Ana, Dongmin tetap ikut pulang bersama ayahnya.


Ana berdiam diri di halaman itu, dia mendengus pelan. Menatap halaman belakang sendirian.


Tuk tuk tuk


Suara langkah kaki dsri sepatu terdengar samar dan kian mendekat, Ana pun menoleh ke arahnya. Dilihatlah, ibu Bumi yang berjalan ke arahnya. Wanita itu langsung duduk di depan Anastasia, dia menatap wanita itu dengan sendu.


"Ibu minta maaf, jika makan malam tadi membuatmu tidak nyaman." ucapnya pada Anastasia.


"Tidak sama sekali bu, saya senang bisa makan malam bersama dengan keluarga ini. Terimakasih telah mengundangku." Kata Ana sambil tersenyum tipis, dia menggerakan kakinya pelan dan bergemetar terlihat gugup.


"Kau tidak perlu gugup Ana," wanita ini tertawa pelan.


"Kakek Kim sangat senang saat mendengar kabar bahwa cucunya itu punya seorang kekasih, makanya dia memintaku menyiapkan ini semua." ujar ibunya Bumi menunjukan sekitaran rumah dengan bahasa tubuhnya.


"Dia juga menyukaimu, setelah makan malam selesai dia nampak kecewa, Yang dia inginkan hanyalah Bumi untuk segera menikah, Anak ibu memang cucu satu-satunya." Ibu Bumi tertawa kecil disambut tawa hangat Anastasia. Wanita itu bingung dengan respon yang harus dia lakukan jadi dia hanya tertawa saja.


Terlihat Bumi dengan piyama tidurnya yang berwarna biru keluar dsri rumah, pria itu menghampiri Ana dan ibunya.


"Kemana Dongmin dan yang lain?" Dia mencari-cari sepupunya.


"Mereka sudah pulang, pamanmu meminta mereka pulang dengannya." Jelas ibu Bumi.


"Lalu, Ana kau pulang dengan siapa?" pria yang ada di hadapan ibunya pun langsung mendapatkan pukulan dari wanita itu.


"Ashhh ini anak! Kau yang membawanya kemari, jadi kau yang mengantar Ana pulang!" Pinta ibunya sambil mengernyitkan dahi.


"Hehehe iya bu, maafkan aku. Kau mau pulang sekarang?" kata pria itu sambil menyeringai lalu bertanya pada Ana. Wanita itupun mengangguk.



...(Gambaran Avaneesh Bumi Kim)....


Mereka masuk kedalam rumah lalu keluar lewat pintu utama,


"Terimakasih atas jamuan makan malamnya," Ana memberi salam perpisahan pada keluarga itu.


"Sering-sering lah mengunjungi kami!" Kakek Bumi tersenyum pada Ana disambut dengan anggukan wanita itu


"Tentu," ucapnya berbohong, bagaimana bisa dia sering berkunjung sedangkan dia tidak ada hubungan apa-apa dengan cucunya.

__ADS_1


...****************...


...****************...


__ADS_2