MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 37 : rencana pernikahan


__ADS_3

Setelah jamuan makan malam, Bumi dan Ana mengobrol di halaman belakang rumah. Mereka duduk bersama membahas masalah pernikahan tadi.


"Kakek meminta kita menikah, jika dia tahu bahwa hubungan ini hanya sandiwara kakekmu pasti akan kecewa Bum, semuanya akan kecewa" Ana menggigit kukunya grogi,


"apa kita bilang saja kita belum siap?" usul Ana


"Aku sudah siap" Bumi mengangkat bahunya


"Kau gila? Kau kira suatu hubungan yang di mulai dengan kebohongan akan berjalan lancar?" Ana menatap Bumi tajam, pria ini sudah tua tapi pikirannya belum matang.


"Kalau begitu tidak perlu berbohong dan bersandiwara, jadilah kekasihku sungguhan"


Ana terkejut dia langsung memalingkan pipinya yang merah.


Dia menatap Bumi lagi...


"Tidak.. Aku tidak menyukaimu"


"Kau masih berharap pada Dongmin? Bukankah kau sudah mencobanya dan gagal?"


"Dari mana kau tahu hubungan kami gagal?"


"Aku tahu, sepupuku tidak akan berani mencari masalah dengan ayahnya, kau lihat, Lee Ro Jun bahkan mencoba mempermalukanmu tadi" Bumi menenggak anggur merah di tangan kanannya.


Ana manopang dagu nya dengan tangan. Benar juga pikirnya. Bahkan ayahnya Dongmin sangat terlihat tidak menyukainya. Bagaimana dia bisa mendapat restu dari orang tuanya? Lagian akan sangat aneh ketika semua keluarga tahu bahwa Ana kekasih Bumi, lalu tiba-tiba berhubungan dengan Dongmin, sangat mustahil akan berhasil.


"Aku sedang berusaha melupakannya. Kurasa tidak akan terlalu sulit" Ana ikut menenggak anggur merah itu.


"Bagaimana dengan kakak ku?"


"Bella adalah mantan kekasihku sewaktu SMA, kami berpisah saat dia memutuskan untuk kuliah di Amerika"


"Lalu kau tidak pernah menemuinya setelah itu?"


"Aku sibuk kuliah dan magang di kantor, kakek dan ayah benar-benar mendorongku untuk fokus pada perusahaan"


Bumi menenggak minumannya sampai habis, dia mengingat-ngingat masa singkatnya bersama Bella lalu mendengus.


"apa kau tidak pernah jatuh cinta lagi setelah itu?"


"kurasa Aku jatuh cinta pada seseorang, aku bertemu dengannya di Bandara"


"Lalu? Kenapa kau tidak mencarinya saja??? Kenapa meminta ku menjadi kekasih bayaranmu?"


"ah Kau terlalu ingin tahu, lagipula ini bukan rencanaku, aku terpaksa meminta mu jadi kekasih ku karena rumor kita berkencan sudah ada dimana-mana, ingat? Ini semua karena kesalahpahaman malam itu, sudahlah ayo aku antar pulang" Bumi berdiri menunggu Ana mengikutinya

__ADS_1


"Kau mengusirku?????" Ana mengerucutkan bibirnya cemberut


"Tidak. karena ini sudah malam ayo ku antar pulang" Bumi mengacak-acak rambut Ana lalu berjalan mendahului wanita itu


(ck apa-apaan itu) pipinya merona seperti kepiting rebus


Waktu menunjukan jam 10.00 malam, Bumi mengantar Ana pulang setelah berpamitan pada Kakek, ayah dan ibunya sedangkan Lee Ro Jun sudah lama pulang setelah jamuan selesai tadi.


"ke apartemenku atau apartemenmu?" Bumi menyeringai menggoda Ana


"Yakkk kau!! tentu saja ke apartemenku"


Mereka berkendara kurang lebih satu jam, Bumi tidak mengantar Ana sampai depan pintu karena dia ada urusan lain.


Ana masuk ke gedung apartemennya, lalu menekan tombol 6 didalam lift.


Ting


Pintu lift terbuka, seorang pria sedang menelungkup duduk disamping pintu apartemennya.


"Dongmin?" Ana segera menghampiri pria itu mencoba membangunkannya


"Kau sudah pulang?" Dongmin menyeringai ke arah Ana, dia mencubit pipi wanita itu.


"Kau mabukk?" Ana mencium bau alkohol dari bajunya


"Ayo bangun, kau sudah berapa lama disini? Tanganmu dingin sekali" Ana membantu Dongmin berdiri


Dia membuka pintu apartemennya, dia menatap Dongmin kasihan lalu membantunya duduk di sofa.


"Aku ambilkan minum dulu" Dongmin menghentikan Ana dengan menggenggam tangan wanita itu.


"Jangan pergi, maaf kan aku karena tidak bisa membantumu, Aku sangat merindukanmu" mata itu penuh dengan kekhawatiran.


"Aku baik-baik saja" Ana duduk disamping Dongmin.


Dongmin mendekatkan tubuhnya ke arah Ana, pria itu akan menciumnya. Hampir tinggal beberapa inchi, Ana memalingkan wajahnya dan menjauh dari pria itu. Dia bernafas lega, dia tidak bisa melakukannya.


"Kenapa? Bukan kah kau menyukaiku?" Dongmin menatap Ana dengan kantuk


"Maaf kan aku, aku tidak ingin memberi harapan lebih, tapi aku tidak bisa membiarkan kita saling menyakiti, sekarang aku diposisi yang sulit, aku bahkan tidak tahu bisa keluar dari situasi ini atau tidak, aku sudah menandatangani perjanjian dengan Bumi"


"Kita bisa berhubungan di belakangnya bukan? si brengsek itu memang keterlaluan" Dongmin menyandarkan kepalanya di bahu sofa


"ini bukan kesalahannya, ingat ini karena rumor saat dia menyelamatkanku malam itu, Aku tidak bisa berhubungan denganmu, aku akan sangat merasa bersalah padanya"

__ADS_1


Ana menunjukan ekspresi bingung, dan sedihnya pada Dongmin. Mengernyitkan dahi sambil mangatup mulutnya rapat.


"Maafkan aku"


Dongmin tertidur, Ana menatapnya sebentar, pria itu terlihat kelelahan. Ana merogoh tasnya lalu menelepon Bumi.


"Bum, bisakah kau kemari? Dongmin mabuk"


Tidak butuh waktu lama, Bumi memutar balik mobilnya lalu berkendara dengan cepat ke apartemen Ana, dia masuk dan melihat Dongmin tertidur di sofa. Ana berdiri didekatnya.


"Terimakasih, aku tidak bisa membiarkannya menginap jadi aku menelepon mu"


Bumi mengangguk


"Kau boleh meminta bantuanku kapanpun kau butuh"


Bumi membopong tubuh Dongmin dibantu oleh Ana. Mereka merangkul Dongmin dipundaknya. Ana sedikit kesulitan. Tangan Ana menyentuh tangan Bumi tidak sengaja, keduanya jadi salah tingkah.


Mereka masuk ke dalam lift lalu keluar dari gedung apartemen menuju depan. Bumi merebahkan Dongmin di kursi belakang.


"Aku akan membawanya ke apartemenku"


Ana mengangguk, Bumi tahu jika Dongmin diantar kerumahnya dalam kondisi mabuk, ayahnya pasti marah besar dan dia tidak ingin sepupunya ini dapat masalah lagi. Apalagi setelah aduan nya kemarin, dia merasa bersalah karena itu.


Mereka harus menyelesaikan masalah mereka secara empat mata. Agar semuanya menjadi jelas dan mereka tidak saling kesal satu sama lain.


Dongmin hanya mengkhawatirkan perasaan Ana, dia takut Ana akan kecewa setelah tahu bahwa Bumi menghamili wanita lain. Tapi dia juga tidak bisa ikut campur soal itu, apalagi mereka terjebak situasi itu karena satu hal yaitu takdir.


Bumi melihat Dongmin dari kaca, dia merasa bersalah atas sikapnya,


Mereka sampai di apartemen, Bumi meminta bantuan penjaga Apartemen untuk membopong Dongmin yang tertidur.


Mereka membawa Dongmin ke kamar,


"Terimakasih sudah membantu" Bumi menutup pintu apartemennya


Lalu berjalan menuju dapur untuk minum segelas air, dia duduk di kursi dapur miliknya dan termenung disana.


Begitupun dengan Ana, setelah Bumi membawa Dongmin pergi, dia berjalan ke dapur dam meminum segelas air putih sambil memeriksa ponselnya.


Dia mendapat pesan dari kakaknya, Bella yang bertanya kabar adiknya itu. Ana belum membalas pesannya. Tidak mungkin Bella tidak tahu soal dia dan Bumi, tapi kenapa dia bertingkah seolah tidak tahu apa-apa.


Notifikasi muncul lagi, dari Bella. Kakaknya mengirim email yang bersubjek "kenangan" , Ana tidak membuka email itu , dia mengabaikannya lalu menaruh ponselnya sembarangan di dapur.


Ana berjalan ke kamar mandi mencuci wajahnya dan bergegas ke kamar untuk mengganti baju.

__ADS_1


...****************...


...****************...


__ADS_2