
Keduanya mulai berenang disekitar kedalaman satu setengah meter, sambil bermain air. Bumi masih menjahili Ana dengan terus mengibaskan air ke arah wanita itu.
Air laut yang asin terasa sangat perih saat terkena matanya. "Aw, perih!" Ana memejamkan matanya yang terkena air. Seketika, Bumi yang tadinya tertawa menjadi panik dan berenang ke arah gadis itu.
"Maafkan aku," katanya agak panik sembari mencoba membantu Ana, tapi pria itu sesekali malah salah fokus. Bukannya membantu Ana, dia malah memperparah dengan mencium bibir kecil nan sempurna itu.
Deburan ombak menerjang mereka berdua, tapi seolah itu bukanlah masalah besar bagi keduanya. Mata Ana seketika langsung sembuh dan membelalak. Dia menepuk-nepuk bahu Bumi yang tangannya mengerat pada tubuhnya.
Ombak agak besar menerjang mereka berdua sehingga mau tidak mau, Bumi melepaskan cumbuannya. Dia menoleh ke arah gadis itu dan menyeringai.
"Kita hanya berteman," Ana berenang ketepian menjauh dari Bumi.
Pria itu mengikutinya, kedua nya kini sudah sampai di tepi pantai dan duduk disana.
"Kau keberatan?" Bumi menoleh ke arahnya.
Ana pun menoleh dengan tajam, "tentu saja!" dia mendelik ke arah pria itu.
"Kenapa? Aku mencintaimu!" imbuh pria itu menekankan kata cintanya.
"Bum, ayolah... " Ana memalingkan pandangannya.
"Kau menyukainya aku tahu itu, jadi tidak perlu ragu." Bumi melihat wanita itu dengan serius. Ana mengerutkan dahinya, dia sama sekali tidak mengerti dengan cara berpikirnya.
"Tapi, untuk saat ini kita harus tahu batasan. Aku tidak mau, seperti Bella." Ana memalingkan wajahnya dari Bumi, dia agak kesal sebenarnya mengingat bahwa mungkin Bumi dan Bella juga melakukan hal seperti mereka, atau bahkan .... Lebih. Sudah pasti.
Ana beranjak dari posisinya lalu berjalan ke arah villa, Bumi menatapnya menjauh, pria itu mendengus sambil menunduk melihat pasir. Kemudian menoleh ke arah laut biru di hadapannya.
Dia beranjak dan mengambil mantel wanita itu juga pakaiannya, dia menentengnya dan berjalan mengikuti Ana dari belakang, Sesampainya di villa, Ana langsung bergegas ke dalam kamar dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Dia melepaskan semua pakaian dan berendam di bath ub. Dia sedang dilema, di antara melepaskan Bumi atau nekad melanjutkan hubungan mereka yang kini tanpa status itu. Menunggu tes DNA itu menguras tenaganya, kandungan Bella saja baru berusia 7 bulan. Waalupun tidak terlalu lama, tapi baginya menunggu itu adalah hal sulit.
Jika dia tahu sejak awal, dia tidak ingin masuk ke dalam hubungan yang seperti ini. Terlebih, sekarang Bumi terlalu menunjukan rasa cintanya pada wanita itu, itu membuatnya semakin dilema. Hati dan tubuhnya menginginkan Bumi, tapi logikanya menampar dirinya keras.
Ada bayi yang tidak berdosa yang tidak ingin dia kecewakan, bayi itu adalah keponakannya sendiri. Pikirannya selalu terngiang dengan bagaimana jika bayi itu memang anak biologis Bumi?
Akan sehancur apa dia menerima hal itu.
Bumi pergi ke kamarnya sendiri lalu membilas tubuhnya dan mandi dibawah guyuran air shower. Pria itu juga merasa bersalah pada Ana, dia jadi tidak bisa mengendalikan dirinya setelah bisa bersama wanita itu lagi. Padahal Ana, sudah dengan baik memberi hubungan keduanya kesempatan. Walau... Hanya sebatas teman.
Tapi, Bumi memperburuk keadaan itu.
Setelah keduanya selesai dan berganti pakaian, Ana masih di dalam kamarnya entah dia tidak melakukan apapun disana. Kemudian, Bumi memutuskan untuk menemui Ana ke kamarnya. Pria itu berjalan dan mengetuk pintu kamar Anastasia dengan pelan.
Tok... Tok.... Tok...
"Ini sudah waktunya makan siang, apa aku boleh masuk ke dalam?" Bumi menunggu jawaban wanita itu, terdengar suara klik tanda Ana membuka kunci pintu kamarnya.
Bumi pun melenggang masuk ke dalam, dia melihat Ana berjalan memunggunginya. Lalu duduk di tempat tidur yang ada disana, "maafkan aku." wanita itu merasa menyesal karena telah marah pada Bumi. Padahal, dia hanya sedang mengalami konflik batin, mood nya yang sedang tidak baik-baik saja membuatnya melampiaskan itu pada Bumi.
Bumi menghampiri Ana lalu duduk di sampingnya, "seharusnya aku yang minta maaf, karena membuatmu tidak nyaman dan merasa serba salah seperti ini. Harusnya, aku menghargai apa yang telah kau berikan padaku. Setelah... Apa yang telah ku lakukan padamu, aku minta maaf." Bumi menatap Ana dengan agak lama, memang ada penyesalan dalam sorot matanya.
Ana pun sama, kemudian dia mendekat dan memeluk Bumi. "Maafkan aku, untuk saat ini aku harap kita lebih bisa menjaga diri." Ujar Ana dengan rasa sesal.
"Ya, aku tahu. Maafkan aku," Bumi membalas pelukan Ana.
"Baiklah, mari makan siang terlebih dahulu." ujar Bumi pada wanitanya.
Ana pun mengangguk pelan, dia tersenyum ke arah pria itu, Bumi pun beranjak dari sana dan menunggu Ana meraih tangannya yang terulur. Dengan senyuman di pipinya, Ana meraih tangan itu lalu berjalan dengan Bumi keluar kamar.
__ADS_1
Mereka pergi ke ruang makan villa, hidangan sudah di siapkan dengan rapih oleh para pelayan. Tidak lupa Bumi menarik kursi pelan untuk Ana duduk disana, pria itu pun menyeringai ke arahnya dibalas dengan seringaian cantik Anastasia.
"Mari makan!" imbuh Bumi sembari tersenyum
"Yaaa!" kata Ama agak sumringah.
Mereka pun melahap makanannya dengan santai, tanpa mengobrol apapun. Keduanya merasa canggung setelah hal tadi, Bumi sednag bergelut dengan emosinya. Dia harap dia lebih bisa mengendalikan diri setelah ini.
Anastasia masih terfokus pada makanan di hadapannya, tapi tentu saja pikirannya melayang jauh kepada keluarganya. Bella dan ibunya, setelah pertengkaran tadi pagi. Ana semakin merasa sendiri. Tapi, hidupnya harus terus berlanjut, dengan masih dibiayai Bumi, dia harus terus melanjutkan kuliahnya hingga selesai.
Dia ingin menunjukan, pada ibunya bahwa dia berbakat. Dia tidak ingin selalu di anggap sebelah mata oleh wanita itu, tapi entah apakah itu akan berhasil.
"Kenapa?" Bumi melihat Anastasia yang malah melamun saat sedang makan.
"Hmm , tidak apa-apa" Ana menyeringai pelan.
"Habiskan dulu makanannya, setelah itu berisitirahat." kata Bumi pada Ana.
"Iya" jawab wanita itu singkat.
Mereka pun menghabiskan makanannya, kemudian Ana kembali ke kamarnya. Entahlah, kenapa suasana liburan menjadi sangat canggung dan berbeda. Bumi memutuskan untuk pergi ke ruang bawah, dimana ada game center khusus disana, ada banyak permainan yang bisa dimainkan disana. Dulu, tempat itu adalah tempat berkumpul dia dan temen kuliahnya jika sedang berliburan.
Dalam istilah lain, itu adalah basecamp tempat mereka kumpul saat liburan, tapi setelah menjadi pimpinan perusahaan dan lulus kuliah, Bumi tidak punya lagi waktu untuk itu karena beban yang harus dia tanggung.
Tapi sekarang, dia sudah bebas dari beban itu. Dia hanya ingin beristirahat dan meluangkan waktunya untuk bersenang-senang.
...****************...
...****************...
__ADS_1