
Keesokan paginya, Ana mulai mencari-cari lowongan kerja paruh waktu disekitar Apartemennya. Dia menengok kanan kiri, sambil membawa berkas penting didalam tasnya.
tuk tuk tuk
Langkah kaki dari sepatu yang dia gunakan terdengar lantang, Ana masuk kesalah satu restoran. Karena Ana melihat mereka sedang membuka lowongan pekerjaan untuk pekerja paruh waktu, saat di ambang pintu dengan tidak sengaja dia malah menabrak seseorang. Kopi yang dibawa pria itu tumpah ke setelan jasnya.
"Kau tidak punya mata hah?" Pria itu menatap tajam kearahnya.
"Maafkan saya, saya tidak sengaja paman," Ana menunduk.
"paman? Kau benar-benar menjengkelkan, bersihkan cepat!!!" Pria tadi meminta Ana untuk membersihkan sisa kopi diJasnya, sambil mengeluarkan sapu tangan dan melempar itu ke arah Anastasia.
angkuh sekali pria ini, aku sudah minta maaf !! ..
Ana bergerutu di dalam hati nya, melihat pria itu dengan tajam. Ana merasa sudah dipermalukan di depan banyak orang.
Suara pintu berderit, terdengar langkah suara kaki di belakang Ana mendekat.
"Ada apa Bum?" Tanya pria di belakang Ana.
"Lihatlah kemeja ku jadi kotor karena wanita ini, dasar sembrono !!! " Bumi sangat kesal karena jas baru nya kini terlihat lapuk.
"Maaf kan saya Pak, saya benar-benar tidak sengaja." Ana menoleh ke arah pria di belakangnya.
"Hey!!!!!!! kau kira permintaan maafmu bisa mengembalikan Jas limited edition ku yang mahal ini seperti semula huh?" Tanyanya nyolot.
Ana mengabaikan pria menyebalkan itu, sekarang dia tertegun melihat Pria yang ada dibelakangnya adalah Dongmin. Rupanya Dongmin kenal pria menyebalkan itu.
"Ana?" Dongmin melihat Ana lekat.
"Dongmin?" Ana pun terkejut.
"Kau mengenalnya?" Bumi menaikan sebelah alisnya.
"Dia Junior ku dikampus," Dongmin Menjawab Bumi sambil menoleh ke arah nya.
"Bagus lah kalau begitu kita bisa perkarakan ini ke meja hijau," Bumi menatap jengkel Anastasia.
"Sudahlah, kau berlebihan. Dia sudah meminta maaf Bum," Dongmin membela Ana.
"Kau membelanya?" Bumi menunjuk Ana.
"Ayo-ayo duduk!"
Dongmin membawa Bumi ke tempat duduk dekat jendela. lalu memperhatikan Ana lagi.
"Terimakasih.." Kata Ana hanya dengan gerakan bibir tanpa suara.
"Kenapa kau membiarkannya? seharusnya kau membelaku," Bumi masih mengomel.
"Dia juniorku di Kampus, aku tidak mau ada masalah dengannya." Dongmin beralasan.
"Seharusnya karena dia juniormu, dia tidak bisa selancang itu." Bumi mengomel lagi.
"Jaman sekarang sudah tidak ada perpeloncoan." Dongmin menahan tawanya.
Ana berjalan mendekat, dia disambut oleh manager cafe itu. Dongmin masih memperhatikan Ana yang berjalan masuk ke ruangan 'Khusus staff' .
untuk apa dia kesana?
tulah yang da dipikiran Dongmin saat itu. Bumi memperhatikan dongmin yang sedaru tadi menatap Ana.
"Kau kenapa?" Dongmin menoleh kearah Bumi lalu bertanya kepada intinya, Bumi pun langsung terlihat murung.
"Aku sedang dalam masalah besar!!!!" Kata Bumi sambil merengut.
"Apa itu?" Dongmin mengesap kopi didepannya sambil menyilangkan kaki.
__ADS_1
"Berjanjilah untuk merahasiakannya sampai aku sendiri yang mengungkapkannya," Bumi menatap Dongmin.
"Yaaaa aku berjanji..."
"Mantan pacarku...... hamil."
"Kau seriuss??? Astaga bagaimana bisa??? Pokoknya kau harus bertanggung jawab." Dongmin memberi saran.
"Jadi sata aku perjalanan bisnis ke Amerika, kami......... Tidur bersama. Aku memang ingin bertanggung jawab tapi dia tidak mau aku nikahi. " Bumi terdengar frustasi, dia bingung dengan pemikiran mantan pacarnya itu.
"ini aneh, harusnya dia senang karena kau mau bertanggung jawab." respon Dongmin yang ikut pusing memikirkan jalan pikiran mantanya Bumi itu.
"Atau..." Bumi berhenti.
"Atau apa?" Dongmin penasaran.
"Aku harus Menikahi adiknya, dia memgancamku akan menggugurkan bayi itu jika tidak mau menikahi adiknya. Dia bilang ini semua karena karir nya di Amerika, tapi apa itu masuk akal?" Bumi mengernyitkan dahi nya berpikir keras dari mana masuk akalnya permintaan Bella itu
"Lalu kau menyetujuinya? memangnya Adik wanita itu setuju?" Dongmin bersandar di kursinya, dia bingung harus bereaksi seperti apa.
Bumi menggeleng, sambil menghela nafas panjang
"Aku tidak tahu aku bahkan tidak mengenalnya."
Lalu..... Ana keluar dari ruangan staff itu sambil memeluk berkas yang dia bawa. Pandangan Dongmin langsung mengarah pada wanita itu, Dongmin berdiri melihat Ana melewati dirinya dan Bumi.
"Ada apa?" pria itu menahan Ana dengan ggenggaman tangannya.
"tidak ada apa-apa," Ana tersenyum.
Bumi menatap berkas lamaran lalu sontak tertawa terbahak
"Kau melamar pekerjaan? memang nya siapa yang mau menerima anak tidak tau sopan santun sepertimu." Bumi menyilangkan kakinya sambil tertawa kecil mengejek Ana.
"Bum ! " Dongmin memperingati,
"Bisakah kau menutup mulutmu? Aku tidak butuh kritikan mu!!!!" Anamenatap Bumi sinis lalu berjalan keluar meninggalkan mereka. Dongmin pun berlari keluar mengejar Ana, dia menahan tangan Ana agar tidak pergi kemana-mana.
"Apa Kau butuh pekerjaan?" Dongmin menatap wanita itu, menunggu jawabannya.
"Ya," Ana melepaskan tangan Dongmin perlahan.
"tapi tenang saja, ini bukan urusanmu," Ana melihat Dongmin datar.
"Maafkan aku," Dongmin menunduk.
"Untuk apa?" Ana memalingkan wajahnya.
"Untuk Bumi dan untuk kejadian di Acara penyambutan kemarin."
"Kau tidak perlu minta maaf padaku, minta maaf lah pada temanku. Minhyun!"
"Kenapa harus padanya ? Aku tidak merasa berbuat salah padanya." Dongmin mengernyitkan dahinya menatap Ana agak kesal.
"Aku tidak tahu masalah yang sebenarnya, tapi bisa dipastikan ada satu hal yang terjadi diantara kalian. Aku harap kau dan dia segera menyelesaikan itu." Ana menatap Dongmin
"Kau tidak perlu ikut campur sampai sejauh itu Anastasia!!!" Dongmin kembali masuk ke restoran itu meninggalkan Ana sendirian, Ana masih terpaku disana untuk beberapa saat.
Mendengar itu, Ana memalingkan wajahnya, dia merasa pipinya terbakar dan matanya panas. Dia langsung berjalan sambil menggerutu.
*Dia juga tidak perlu ikut campur dengan urusanku*.
Dia berhenti berjalan, menutup telinganya dengan kedua telunjuk lalu menatap langit. Itu dia lakukan untuk menghentikan air mata yang hampir jatuh ke pipinya.
Ana rasa ada sesuatu yang menyesakkan dadanya, dia kesal dan sedih dalam waktu yang sama. Dia belum yakin apa ini disebabkan oleh kegagalannya atau perkataan pria itu tadi.
Dia kembali ke Apartemennya, saat masuk ke lift Ana tidak sengaja berpapasan dengan Minhyun. Wajah Ana terlihat sendu.
__ADS_1
"Ana? kau tidak apa-apa?" Minhyun menatap Ana sambil membungkuk, mencoba melihat wajah wanita itu,
Ana melihat ke arah Minhyun lalu mencoba tersenyum
"Aku baik-baik saja, hanya kelilipan," Ana berbohong.
"Baiklah lain kali hati-hati," Minhyun kembali memposisikan tubuhnya dengan benar. Minhyun tentu saja tidak percaya, Dia yakin sorot mata Ana terlihat sedih.
"Katakanlah yang jujur," Minhyun menatap Ana lekat,
"Aku baru saja melamar pekerjaan, tapi sayangnya aku di tolak karena tidak punya pengalaman bekerja." Ana menyunggingkan senyuman dengan terpaksa, dia merasa sedih akan hal itu.
"paruh waktu? Kenapa kau perlu pekerjaan itu?" Minhyun menatap Ana iba
"Tentu saja untuk mendapatkan uang," Ana tersenyum ke arah pria itu.
Minhyun merasa harus membantu Ana. Dia berpikir mungkin ayahnya bisa membantu.
*
*
Dongmin kembali mendengarkan curahan hati sepupunya itu, tapi pikirannya sedang tertuju pada Ana.
"Bum," Dongmin menatap Bumi.
"Ya?" srup srup Bumi menyeruput kopi baru nya.
"Apa ada lowongan untuk pekerja paruh waktu?"
"Kenapa? kau mau bekerja?" Bumi heran dia mengangkat sebelah alisnya.
"Temanku Ana sepertinya butuh pekerjaan," Dongmin mengiba.
"Yang tadi? Walaupun aku punya, aku tidak akan menerimanya." Bumi memalingkan wajahnya.
"Bum ayolahh... Kau tega sekali, aku meminta langsung padamu." Dongmin meminum kopinya juga,
"Huft baiklah, aku melihat ada lowongan pekerjaan di coffee shop perusahan kita yang ada dilantai dasar. Mereka sedang membutuhkan pegawai, paruh waktu tidak masalah. " Bumi mengesap lagi kopinya.
"Benarkah??? Wah Terimakasih kau memang sepupuku yang paling baik." Dongmin mengangkat cangkir kopinya lalu meminum kopi itu lagi.
"tolong sampaikan juga pada manager nya aku akan menghubunginya nanti," Dongmin sumringah.
"yayayaya, Lalu kapan kau akan mulai magang diperusahaan? Aku butuh orang untuk mem back up pekerjaan ku, sepertinya aku butuh liburan." Bumi tertawa kecil sambil menyandarkan tubuhnya, dia meregangkan kedua tangannya dan merasa lelah.
"Minggu depan setelah aku mengajukannya ke kampus."
"Baiklah, aku menunggumu di kantor," Bumi tersenyum manis.
"Ah bagaimana dengan adikmu?" lanjut Bumi.
Dongmin Menatap Bumi sinis,
"Dia bukan adik ku, bukan urusanku !!"
"Sepertinya Lee Ro Jun mengajukan Minhyun juga." Bumi menatap Dongmin sambil menyeringai.
"Aku tidak peduli," Dongmin memalingkan wajahnya.
"Bersikap baiklah kepadanya," kata Bumi.
...****************...
...****************...
...****************...
__ADS_1