
Sekretaris nya agak terkejut melihat Bumi yang tiba-tiba meminta dijadwalkan ulang penerbangannya. Dia pun mengiyakan perintah atasannya itu.
Bumi dengan panik langsung berjalan keluar dari KIK, dia kembali kerumah untuk segera pergi ke Bandara. Pria itu, bahkan lupa rencananya bersama Anastasia.
Saking paniknya, Bumi berkendara dengan kecepatan tinggi. Sehingga dia hanya sampai dirumah selama 30 menit.
Waktu sudah menunjukan pukul 01.00 siang, dia bahkan belum sempat makan siang tadi. Dia benar-benar merasa khawatir dengan keadaan bayi yang dikandung Bella.
Bagaimanapun, dia senang dengan keberadaan bayi itu. Bumi keluar dari mobil dengan ngos-ngosan. Ibunya yang melihat anaknya seperti itu, terlihat terkejut.
"Nak!!!!!! Ada apa?" Tanyanya menghentikan Bumi yang berlari.
"Bu.." Bumi memeluk ibunya, dia meneteskan air mata. Dia merasa khawatir dan takut kehilangan bayi itu.
"Ada apa?" Ibunya masih keheranan.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedang merasa sedih karena harus meninggalkan Ana sekarang." Bumi menyeka air matanya, dia memang merasa sedih juga karena harus meninggalkan Ana hari itu.
Ibunya mengelus lembut punggung anak itu,
"Tidak perlu khawatir, Ibu dan semua keluarga akan menjaganya."
"Baiklah, terimakasih. Sepertinya aku harus pergi ke Bandara sekarang." Bumi melepas pelukan ibunya, dia langsung berjalan ke ruang kerjanya dan mengambil tas. Sedangkan kopernya dibawa oleh para pegawainya.
Dia segera turun dan berpamitan pada semua anggota keluarganya yang ada dirumah.
"Aku berangkat dulu."
"Berhati-hati lah,"
Saking terburu-burunya, pria ini sampai lupa bahwa dia meninggalkan ponselnya diruang kerja. Dia meletakkan itu saat mengambil tas nya tadi. Tapi dia masih belum sadar jika ponselnya tertinggal.
Bumi diantar oleh supirnya ke Bandara, sebelum itu dia menjemout sekretarisnya untuk ikut mengurus dokumen di Bandara.
Sisa dokumen pekerjaan yang belum selesai akan dikirim Sekretarisnya melalui email.
"Tiketnya sudah saya siapkan, semuanya sudah diatur. Keberangkatan dijadwalkan di jam 14.30" Sekretarisnya duduk disamping Bumi didalam mobil.
Pria itu mengangguk, "Ingat, hanya kalian yang tahu tujuan pertamaku adalah ke Amerika. Siapapun tidak boleh tahu soal ini, mengerti?" Bumi menatap supir dan Sekretarisnya.
"Tentu pak, kami akan merahasiakannya."
*
*
Ana sedang makan siang bersama teman-temannya di kantin, saat itu dia melihat Minhyun yang baru kelihatan sejak pagi. Ana melambaikan tangannya pada pria itu sambil tersenyum.
Minhyun dengan membawa tray berisi makanan menghampiri Ana dan temannya yang lain.
"Haloooo Minhyun, kau baru kelihatan." Ana melambaikan tangannya, Somi terlihat menyeringai ke arah Minhyun, begitupun Leezey.
"Aku baru ada kelas siang ini, bagaimana? Kau sudah ada gambaran tentang proyek patungmu nanti?" Tanya Minhyun.
__ADS_1
Pria itu mulai mencampur nasinya dengan kuah sayur, lalu melahapnya tanpa ragu.
Ana mengangguk, mengiyakan pertanyaan Minhyun. Dia sudah membuat sketsa untuk proyek patungnya nanti.
"Setelah ini aku akan menunjukannya padamu." Ana juga melahap makanannya.
Minhyun memperhatikan wajah Ana, yang agak bengkak sedikit dibagian pipinya.
"Ada apa dengan wajahmu?" Minhyun menghentikan aktivitasnya, dengan seksama pria itu melihat Ana.
"Senior wanita yang cemburu pada Ana, menamparnya dipipi." Leezey menyahut.
Minhyun dengan terkejut agak menjatuhkan sendok dan garpu nya ke tray stainless itu. Dia membelalak dan agak kesal.
"Siapa Senior itu?" Tanyanya.
"Hmm siapa lagi kalau bukan Yeri." Sahut Somi sambil menaikan sudut bibir kirinya.
Minhyun mendengus pelan, Ana yang melihat pria itu menahan amarah mulai mencoba menanngkannya.
"Aku baik-baik saja, Aku sudah mengobatinya." Ana tersenyum.
"Apa Bumi tahu soal ini?" Minhyun menatap Ana lekat.
Ana hanya mengangguk lalu melahap lagi makanannya, dia mengingat rencananya dengan Bumi nanti sore. Wanita itu sangat tidak sabar. Dia ingin segera pergi ke pantai bersama kekasihnya.
"Dia tahu, dia langsung kesini tadi. Aku juga tidak tahu bagaimana dia bisa tahu soal kejadian ini." Ana menyeringai lalu melahap lagi makannanya.
Leezey menggoda Ana sambil tertawa kecil,,
Somi menertawai Ana, Ana menunduk dan hanya tersenyum, Sedangkan Minhyun, menatapnya agak khawatir.
Setelah itu, Ana kembali masuk ke kelas terakhirnya. Disisi lain, Bumi sedang menunggu pesawatnya untuk take off . Pegawainya sudah memasukan koper nya ke bagasi, sekarang dia hanya membawa tas yang berisikan barang-barang penting yang dia taruh di kabin pesawat.
Astaga kenapa aku lupa mengabari Ana, Bumi membatin.
Bodohnya dia, kenapa sampai lupa mengabari kekasihnya sendiri. Pria itu berdiri untuk merogoh ponselnya didalam tas, tapi dia sama sekali tidak menemukan barang itu. Dengan agak panik dia mencari-carinya.
"Sial, pasti tertinggal di ruang kerja." Bumi merasa bersalah, bagaimana dia bisa menghungi Ana jika ponselnya tertinggal.
Saking paniknya dia melupakan semua hal, dia merasa kecewa pada dirinya sendiri.
Waktu menunjukan pukul 03.00 sore, Ana sudah menyelesaikan kelasnya, sekarang dia sedang menunggu Bumi di depan kampus. Tapi kenapa pria itu belum terlihat datang.
Ana mencoba meneleponnya. Tapi tidak ada jawaban sama sekali, Ana masih dengan sabar menunggu pria itu sampai jam 4 sore. Sesekali dia merubah posisinya dari jongkok hingga berdiri, bahkan dia sempat mencari tempat duduk. Tapi karena takut Bumi mencarinya, dia kembali.ke tempat awal.
Beberapa orang dikampus sudah berhamburan pulang, hanya ada para senior disana.
Tak lama ponselnya pun berdering, Ana dengan senang memeriksa panggilan itu. Sayangnya, itu bukan dari Bumi melainkan dari ayahnya.
Ana menjawab panggilan itu dengan agak kecewa,
"Halo ayah.."
__ADS_1
"Nak kau dimana? Ayah akan pergi ketempatmu ya."
"Aku masih dikampus yah, sepertinya aku akan pulang telat hari ini." Ana mengerutkan dahinya, dia tidak bisa.menemani ornag tuanya karena dia akan ke pantai bersama Bumi.
"Ah tidak apa-apa, kami akan menunggu disana." Kata ayahnya.
"Baiklah.." Ana mendengus pelan, lalu mematikan panggilannya.
Sekarang sudah jam setengah 5 tapi pria itu tak kunjung datang. Sudah 10 kali Ana menelepon, tapi tidak ada jawaban juga.
Ana menoleh ke kanan kirinya, disisi lain Dongmin dari kejauhan memperhatikan Ana. Dia mulai menghampiri Ana dan berniat mengajaknya pulang bersama.
"Ana.." Sapanya sambil tersenyum, Ana pun menoleh ke arah pria itu.
"Mau pulang bersamaku?" lanjutnya.
Ana tersenyum dan menggeleng.
"hmm maaf, tapi aku sudah ada janji dengan Bumi." Ana melihat waktu di arloji yang ada pada pergelangannya.
"Bukankah dia berangkat ke Inggris sore ini?" Dongmin menaikan sebelah alisnya.
Ana mengangguk sambil mengerucutkan bibir.
"Dia mengundurnya ke hari esok." Ana tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Demi dia, pria itu bahkan mengundur jadwal perjalanan bisnisnya.
"Oh begitu, bagaimana keadaan pipimu?" Tanya Dongmin sambil melihat wajah Ana.
Spontan Ana langsung memegang kedua pipinya yang agak chubby, dia tersenyum pada Dongmin.
"Sudah membaik." katanya, mendengar itu Dongmin pun merasa agak lega.
Dia harus segera memberi Yeri pelajaran agar tidak mengganggu Ana lagi, sudah cukup wanita itu mempermalukan Anastasia didepan umum, pikirnya.
"Kau yakin tidak mau pulang bersamaku?" Dongmin bertanya lagi untuk memastikan.
Ana mengangguk, "Ya, aku akan menunggu Bumi saja."
Kemudian, terlihat dari kejauhan mobil Bumi yang mendekat kearah mereka.
"Itu dia." Kata Ana dengan sumringah.
Tapi betapa kecewanya dia, saat dia tahu yang keluar dari mobil itu bukanlah Bumi. Melainkan, Sekretaris wanitanya.
Dongmin mengernyitkan dahi, wanita itu pun menyapa Ana dan Dongmin.
"Selamat sore, Nona Ana dan Tuan Dongmin."
"Sore, Bumi ada dimana?" Ana mengernyitkan alisnya sambil mencoba menerawang mobil itu.
"Maafkan aku Nona, aku menggantikan Pak Bumi menjemputmu, karena beliau sudah berangkat dari satu jam yang lalu." Sekretarisnya menunduk.
"Berangkat?" Ana mengernyitkan dahi, Sedangkan Dongmin memperhatikan raut wajah kecewa Anastasia.
__ADS_1
...****************...
...****************...