MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 129 : Pertikaian keluarga (Bonus)


__ADS_3

Semua keluaga Kim pergi ke kediaman mereka, termasuk Bumi dan Anastasia. Bumi merasa kesal karena sepupunya berani mengecup bibir istrinya seperti itu. Emosinya bahkan ada di ujung tanduk tadi, dia tidak tahu harus melampiaskannya dengan cara apalagi selain diam dan mengabaikan Ana.


Bumi tahu, itu bukan kesalahan Ana. Tapi, rasanya hati tetap saja sakit. Terlebih dia dulu mengetahui, jika Ana sempat menyukai sepupunya itu.


Mereka turun dari mobil, Bumi melangkah lebih dulu meninggalkan Ana dan tidak membantunya membuka pintu.


Ana hanya bisa menghela napas panjang, dia masih merasa bersalah pada suaminya. Tapi, itu juga bukan sesuatu hal yng dia inginkan.


Di ruang keluarga sudah berkumpul semua orang, terlihat kakek Kim hanya menunduk dan tidak menoleh saat Ana dan Bumi datang.


Mungkin, dia merasa kesal pada Ana.


Perlakuan mereka hampir berubah 90° derajat setelah menikah, tidak seperti sebelum keduanya menikah.


"Kau bisa jelaskan kejadian tadi Anastasia"


Kakek Kim menatap Ana sedangkan kedua mertuanya terlihat kecewa, apalagi Bumi. Suaminya itu hanya berjalan menarik kursi lalu duduk disana tanpa menghiraukan Ana yang masih berdiri.


Dia seolah sedang ada di ruangan sidang sekarang.


"A-aku tidak menyangka Dongmin akan melakukan itu kakek, aku benar-benar minta maaf." katanya sembari menunduk.


Bumi terdengar menghela napas, ibunya langsung menoleh kearah pria itu.


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat, dia sedang mabuk kurasa dia tidak menyadari perbuatannya."


Alasan Ana yang tadi kian memperburuk keadaan. Bumi langsung menoleh ke arah wanita itu,


"Kau akan memaklumi tindakannya hanya karena mabuk?" pria itu mengerutkan dahinya.


"Sudah nak, ibu rasa Ana juga tidak tahu bahwa Dongmin akan bertindak seperti itu. Ayah cukup, kasihan menantu kita. Dia tidak boleh banyak pikiran, itu akan mempengaruhi hormonnya.". Kata Ibu Bumi sembari tersenyum ke arah Ana.


"Sini nak,"


Ana berjalan ke arah mertuanya itu dan duduk di sampingnya.


"Bagaimana kalau kita membicarakan tentang hal lain, tentang cucu misalnya. Kapan kau siap memberikan kami seorang cucu?"


Bak di sambar petir, Ana merasa tidak nyaman dengan pertanyaan mertuanya. Bumi hanya bersilang kaki sembari melamun tanpa berkomentar apapun.


"Hmm, aku tidak tahu. Apalagi ada beby yang harus kami jaga, jadi kurasa aku akan menunda dulu."

__ADS_1


"Menunda? Kau yakin? Ah itu akan membuatmu kesulitan memiliki keturunan, kenapa keputusan seperti itu yang kau buat?" Ibu Bumi terlihat kecewa.


Sedangkan, Kakek Kim hanya mendengus lalu menggeleng, dia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan itu.


Ayah Bumi menatap anaknya dengan datar.


"Sebaiknya kalian pulang dan selesaikan masalah ini berdua. Kami selaku orang tua hanya bisa mendukung keputusan anak-anak." Kata Ayah Bumi sembari berdiri.


"Ya, baiklah ayah."


"Tapi sayang," ibu Bumi hendak protes tapi suaminya menggeleng dan melarangnya.


"Ayah, ibu kami pulang dulu ya." Bumi berjalan lebih dulu dari Ana, tapi kemudian berhenti dan menoleh ke arah istrinya itu.


"Kau tidak mau pulang?" Tanya Bumi dengan datar.


Ana menyeringai tipis, "Bu, Ayah maaf telah membuat keributan. Kami izin pulang dulu."


Keduanya keluar dari rumah itu, Bumi yang berada didalam mobil hanya menoleh ke arah Ana berjalan.



Selama satu jam perjalanan, keduanya tidak banyak bicara. Walaupun Ana beberapa kali bertanya tetap saja Bumi hanya menjawabnya singkat dengan anggukan atau sekedar hmm saja.


Sesampainya di apartemen, Bumi langsung membuka jam tangannya, kemudian dasi yang terikat di lehernya dengan agak kasar.


"Bum, kau sama sekali tidak mau bicara padaku?"


Bumi membuka kancing kemejanya dimulai dari bagian paling atas, "tidak ada yang ingin aku bicarakan. Aku lelah, dan seperti yang kamu bilang, mungkin sepupuku melakukannya karena mabuk."


Bumi melenggang pergi dari sana, lalu pergi ke dalam kamar mandi. Ana menghela napas dan menunduk dia berjalan mengikuti Bumi dan menunggu pria itu keluar dari kamar mandi.


Bumi mendengus pelan, dia membuka kemejanya lalu membasuh wajahnya dengan air. Sejenak pria itu menatap bayangannya dicermin. Dia tidak mau bersikap seperti itu pada Ana, tapi amarahnya belum mereda.


Dia harus menenangkan dirinya terlebih dahulu. Ana memutuskan untuk pergi ke walkin closet mereka dan membawa piyama tidur untuk Bumi. Masih dengan sabar menunggunya keluar.


Sembari menunggu, Ana menghapus make up nya terlebih dahulu, dia mengingat kecuoan Dongmin yang membuatnya kini dalam masalah. Dia kecewa pada pria itu dia tidak pernah menginginkan hal semacamnya.


Terdebgar suara pintu terbuka, Bumi melenggang masuk ke dekat tempat tidur disana sudah ada piyama tidurnya. Pria itu segera mengganti pakaiannya. Kemudian berbaring di atas tempat tidur.


Kini, giliran Ana yang mencuci wajahnya, gosok gigi juga ganti baju. Setelah itu dia ikut berbaring disamping Bumi.

__ADS_1


"Bum, maafkan aku. Aku bersalah."


Buni yang tedinya menelungkup kini menoleh ke arah istrinya.


"Kau tidak salah, aku hanya kesal karena kau mentoleransi hal itu hanya karena dia mabuk."


"Aku tidak mentoleransinya. Aku sama kesalnya. Tapi,"


"Kau mulai mencoba membelanya lagi, kau tahu betapa marahnya aku atas tindakannya? Dia sepupuku, terlebih kau adalah istriku." Bumi kembali memalingkan wajahnya dari Ana.


Ana mendekat ke arah Bumi lalu menyentuh lengan pria itu, " Bum, lihat aku! Maaf karena aku tidak memposisikan diri padamu. Tapi, aku tidak tahu jika dia akan bertindak sejauh itu."


Bumi akhirnya menoleh kembali ke arah Ana, dia mendengus pelan.


"Aku tidak ingin kita tidur sebelum menyelesaikan masalah ini," Ana menatap Bumi dengan sendu.


Pria itu mulai luluh, dia menyentuh lembut pipi istrinya.


"Maafkan aku, karena sudah mengabaikanmu."


Kedua mata itu saking menatap dengan dalam, Ana tersenyum tapi dia juga tidak bisa menahan air mata yang akan keluar.


"Aku membuatmu menangis lagi," Bumi mendekatkan diri ke arah istrinya, lalu mengecup lembut bibir itu.


Bumi melepaskan cumbuannya, "Aku tidak mau siapapun lagi menyentuh kulit istriku, aku akan sangat cemburu. Hanya aku yang boleh memilikimu, jangan pernah berpikir untuk pergi dariku Ana."


"Aku tidak akan pernah pergi darimu Bum," Ana mengecup bibir lembut nan manis suaminya. Bumi tersenyum dan mengambil alih kegiatan saat itu.


Dia menatap Ana sejenak, mengagumi kecantikan wanita itu. Tidak heran jika banyak yang menginginkan Ana, karena istrinya memang sangat mengagumkan.


Bumi kembali mendaratkan ciumannya, dia membuka piyama yang membaout tubuh putih mulus nan kencang itu. Dia mencumbu tengkuk leher Ana hingga kebagian dada wanita itu. Membuat Ana menggeliat tidak karuan.


Dia menggigit bibir bawahnya erat agar tidak menimbulkan suara yang aneh, tapi Bumi menghentikan tindakannya. Dia menatap Ana dengan tatapan yang bersinar, terlihat dari sorot mata itu hasrat yang menggebu di dalamnya.


"Lepaskan saja. Aku menyukainya." Katanya sambil melanjutkan hubungan suami istri mereka.


...****************...


...****************...


Mari percepat. Aku percepat jadwal update Season 2 nya yah guys 😘😘😘, jangan lupa like, komen, dan giftnya heheheheheheh

__ADS_1


__ADS_2