
"Bukan, bukan begitu. Aku harus memastikannya lebih dulu. Jadi waktu itu, aku-" Ucapan Bumi terpotong.
"Aku tidak mau mendengar penjelasan itu." tentu saja Ana tidak ingin dengar bagaimana Bumi dan Bella menghabiskan malamnya bersama. Dia tidak mau tahu soal itu.
"Lakukanlah apapun yang ingin kau lakukan, asal jangan menyakiti bayi di dalam kandungan Bella. Bayi itu juga keponakanku! Apa Bella setuju dengan tes DNA itu?" Ana menoleh ke arah Bumi.
"Belum, aku belum bicara soal itu." jawab Bumi sembari memikirkan bagaimana caranya bicara pada Bella.
"Baiklah, terserah kau saja. Tidak ada salahnya dengan tes DNA." kata Ana.
"Setelah bayi itu lahir dan terbukti anakmu, mari menjaga jarak. Kalian harus menikah" Ana menatap Bumi dengan serius.
"Menikah?" Bumi mengerutkan dahinya.
"Yah, kau dan Bella harus menikah. Kau harus memikirkan bayi itu juga," Ana menenggak minuman kaleng yang ada di depannya. Dia hanya sempat memakan satu ayam sampai akhirnya tersela dengan obrolan lagi. Begitupun dengan Bumi yang meraih minumannya.
"Aku belum memikirkannya," Bumi menghela napas pelan.
"Bum! Jika itu memang anak biologismu, kau harus mau bertanggung jawab. Aku tidak ingin mengenalmu lagi, jika kau lari dari tanggung jawabmu." Ana menatap Bumi tajam.
"Kenapa kau memintaku menikahinya? Kalian berdua sama saja, dulu Bella memaksaku menikahimu, sekarang kau memintaku menikahinya. Aku bisa mengurus bayi itu sendiri tanpa harus menikah, bukankah banyak juga pasangan yang merawat seorang bayi tanpa harus menikah?" Bumi memutar bola matanya kesal, kedua saudara itu membuatnya semakin gila.
"Maafkan aku, aku tidak memaksamu.. Hanya saja, aku merasa kasihan terhadap bayi itu. Dan, itu pasti tidak semudah yang kau bicarakan Bum, apalagi kau pewaris KIK." Ana agak mencondongkan tubuhnya ke arah Bumi yang ada di sampaingnya.
"Aku sudah mengundurkan diri dari KIK!" Bumi menanggak minumannya lagi. Ana pun membelalak.
"Dan aku hanya akan menikahi seseorang yang kucintai!" Bumi menoleh ke arah Ana. "Menikahlah denganku Ana dan bantu aku merawat bayi itu bersama." Bumi menyentuh lembut pipi wanita itu.
Ana menatap datar Bumi, napas nya mulai berderu dengan cepat saat pria itu mendekat ke arahnya. Untuk saat ini, ajakan pria itu menikah rasanya seperti mimpi. Dia tidak bisa menjawab itu sekarang, terlebih semua yang sedang terjadi saat ini.
Bumi mengecup lembut bibir Anastasia, tidak ada penolakan dari wanita itu. Dia juga menyukainya, naif jika dia menolaknya padahal tubuhnya meronta menginginkan itu.
__ADS_1
Bumi menarik pelan tengkuk leher wanita itu, Ana kini bersandar di sofa sedangkan Bumi masih mencumbu wanita itu dengan agak agresif. Ana menyentuh dada bidang Bumi, dia kesulitan bernafas saat bibir pria itu terus mencumbunya tanpa henti.
Bumi membuat pelukan yang melingkar di pinggang Ana, sedangkan wanita itu masih mencoba untuk agak menjauh darinya. Dia kehabisan nafas. Bumi pun melepaskan ciumannya, dia menatap wajah Ana yang memerah. Masih dengan posisi yang sama pria itu membelai lembut pipi Ana.
"Menikahlah denganku Ana," katanya sambil mengecupkan lagi bibirnya ke bibir wanita itu. Kali ini akan tanpa ampun, selang berapa lama ciuman itu terbalaskan oleh Ana. Sambil menyelipkan jari jemarinya ke sela rambut Bumi, Ana menikmati permainan mereka.
Ana menjauh untuk melepaskan ciumannya, "A-aku tidak tahu apa aku bisa menikah denganmu." katanya sembari menatap Bumi.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang." Bumi melepaskan pelukan pada pinggang Ana.
Suasana menjadi sangat canggung, Bumi pun merasa kegerahan setelah kegiatannya bersama Ana.
"Kau mau menonton film?" ajaknya sembari meraih remot televisi.
Ana pun mengangguk, sebenarnya dia merasa sangat gugup sehingga dia mengiyakan itu semua. Dia sendiri tidak punya ide untuk menonton film apapun. Bumi menyalakan tv dan membuka seri di netflix.
Dia memilih tayangan nevertheless di sana. Pria itupun duduk kembali di samping Ana. "Habiskanlah makanannya!" seru pria itu.
Ana menggeleng, Bumi juga sudah tidak nafsu untuk memakan ayam di hadapannya. Jadi. dia memutuskan untuk merapikan makanannya dan menaruh itu di lemari pendingin. Dia kembali membawa air mineral lalu menyerahkan itu pada Ana, sebelum dia meminumnya setelah wanita itu.
"Tidak.. Aku tidak berbohong!" jawabnya.
"Lalu, kenapa kau kembali bersama Bella. Sekarang dimana dia tinggal?" Ana menatap Bumi yang sedang menaruh air putih tadi.
"Kondisinya menurun drastis, dia mengalami pendarahan jadi aku tidak bisa membiarkannya sendiri disana. Aku membawanya kesini dan dia sekarang ada di rumah bersama keluargaku." Bumi menunduk, Ana mendengus pelan lalu menyandarkan tubuhnya lagi ke sofa. Dia menyilangkan tangan di dada.
"Maafkan aku," kata Bumi sambil menoleh lagi ke arahnya.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti, ini semua karena bayi itu." Jawab Ana sambil mengangguk.
"Aku akan menikah denganmu, saat hasil tes menunjukan bahwa bayi itu bukan anakmu, Bum." Ana menoleh ke arah Bumi yang kini menatapnya. Tapi raut wajah senang terlihat dari wajah pria itu.
__ADS_1
Walaupun dia belum tahu kebenarannya, dia hanya berharap bahwa bayi itu memang bukan miliknya.
Bumi pun beranjak dan mengambil selimut di kamar Ana, dia mematikan lampu di ruang tamu. Ana memicingkan matanya melihat gerak-gerik pria itu. Tapi tenaganya masih sangat lemah untuk protes padanya. Dia hanya akan membiarkan pria itu melakukan apapun yang dia inginkan.
Bumi menyelimuti dirinya dan Anastasia bersama, seringaian pria itu memancarkan kebahagiaan tersorot samar-samarnya cahaya yang muncul dari tv. Dia duduk di samping Ana. "Aku sangat merindukanmu," Bumi menatap Ana yang terfokus pada layar tv.
"Kau sudah mengatakannya," jawab Ana singkat.
Bumi tertawa kecil lalu mengarahkan pandangannya ke tv, sejujurnya wanita di sampingnya itu lebih enak di pandangi, ketimbang tv yang sedang menyala itu. Pria itu, selalu menyukai memainkan rambut Ana.
"Bum, aku sedang serius!" Keluh Ana agar Bumi menghentikan kegiatan memainkan rambutnya.
Pria itu menyeringai, dia menghentikan jari jemarinya lalu bersandar lagi di sofa sambil sesekali menatap wanita itu. Pria itu mendekatkan lagi dirinya ke arah Ana. Dia mengecup leher wanita itu secara tiba-tiba sampai membuat Ana bergidik.
"Bum!" Ana menoleh ke arah Bumi, kemudian kembali fokus pada drama yang sedang tayang.
Bumi tertawa kecil. Pria itu sangat menyukai ekspresi wajah Ana yang terganggu, dia sangat merindukan protesan dan rengekan wanita itu saat dijahili olehnya. Dia sangat suka menggoda wanita itu.
Dia kembali melakukannya lagi, mengecup leher Ana yang jenjang. Ana pun dengan spontan memukul Bumi pelan, tapi ada kupu-kupu di perutnya. Dia tidak bisa tidak tertarik dengan hal itu, dia juga merindukan sikap jahilnya.
Bumi pun denga cepat melakukannya lagi, mengecup leher wanita itu lagi tapi kali ini sambil mendorongnya hingga berbaring di atas sofa.
"Ah Bum, apa yang akan kau lakukan?" Ana membelalak melihat pria itu yang kini ada di atasnya.
"Tidak ada, aku hanya ingin tidur sambil memelukmu." Bumi berbaring disamping wanita itu lalu memeluknya dari belakang. Posisinya yang seperti itu membuat Ana agak bergidik, bukan karena takut. Tapi karena hembusan nafasnya menyentuh lembut bulu halus di tengkuk lehernya.
Dia mencoba menenangkan diri dan memfokuskan matanya ke drama itu lagi.
"Inikah yang di lakukan teman?" Tanya Ana pada Bumi.
Pria itu terlihat menyeringai lalu mengeratkan pelukannya di perut, dia menenggelamkan wajahnya ke punggung Ana tanpa menjawab pertanyaan wanita itu.
__ADS_1
...****************...
...****************...