MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 54 : Makan malam dengan Dongmin.


__ADS_3

Sore itu, Ana pergi bersama orang tuanya ke pusat perbelanjaan kota. Sedangkan, Bumi dan Minhyun pergi ke Paju untuk menyaksikan pemindahan jenazah sekaligus pengkremasian sisa-sisanya.


Ana merasa senang, karena dia punya kesempatan untuk berkumpul lagi bersama orang tuanya. Walaupun dia masih agak kesal dengan ibunya. Tapi... Wanita itu tetaplah ibunya. Bagaimana pun dia, Ana akan berusaha menerima.


Bumi dan Minhyun tiba disana, proses pemindahan sedang berjalan. Mereka menatap pemindahan dengan seksama.


"Tolong hati-hati! " Kata Minhyun sambil mengulurkan tangannya, meminta agar petugas hati-hati mengangkat peti mati ibunya.


Bumi juga mengawasi para pegawai itu, dia sesekali menoleh ke arah sepupunya. Mata Minhyun terlihat berkaca-kaca. Dia tahu, Minhyun pasti kembali mengingat kepergian ibunya.


Setelah 1 jam proses pemindahan pun selesai, mereka berpindah tempat ke rumah duka yang menyediakan jasa kremasi.


Bumi dan Minhyun menyempatkan untuk membeli kopi, Minhyun sangat berterimakasih pada Bumi. Karena pria itu mau membantunya. Setelah pengkremasian selesai, abu dari sisa mendiang ibu Minhyun dibawa ketempat penyimpanan abu di kota itu.


Minhyun tidak bisa membawanya kerumah, itu semua demi menghormati Dongmin dan Ibunya. Dia tidak mau, ibu nya Dongmin yang sekarang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri merasa sedih. Bagaimana pun, wanita itu pasti masih menyimpan luka akibat perselingkuhan Lee Ro Jun dan ibunya.


*


*


Amerika...


Bella menatap dirinya dicermin, perutnya sudah mulai membesar, kandungannya sudah menginjak 6 bulan. Tidur nya mulai tida nyaman, emosi nya pun sangat tidak stabil. Dia merasa tidak bisa melakukannya sendiri. Dia butuh seseorang untuk menemaninya, maka dari itu dia meminta Bumi untuk datang.


Entah, apakah Bumi akan benar-benar mendatanginya atau tidak. Tapi yang jelas, wanita itu sangat berharao kehadiran pria itu. Jelas, anak yang dikandung nya juga butuh peran ayah.


Belum lagi, perutmya yang mulai sering terasa lapar, bahkan dia harus bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil lebih sering. Kehamilan tidak semudah yang dikatakan orang-orang.


Pantas saja, banyak anak yang menganggap ibu adalah superhero, karena memang begitulah adanya.


*


*


Disisi lain, Ana sedang membelanjakan kedua orang tuanya beberaoa pakaian dan sepatu. Dia sangat ragu untuk memakai black card yang Bumi berikan padanya. Jadi, dia memutuskan untuk memakai kartu pribadinya saja.


Saat ayahnya memilih sepatu, ibunya yang duduk di samping Ana lalu berbisik padanya.


"Kau pasti mendapatkan uang dari Bumi kan?"


"Pantas saja, kau tidak mengabariku... Jangan bilang kau menjadi jal*ngnya." Ibunya memalingkan wajahnya dari Ana.

__ADS_1


"Bu !!! Kau keterlaluan !"


Ana berdiri dengan datar melihat sikap ibunya, dia sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu. Tapi pernyataannya tadi benar-benar di luar batas. Ana menghela nafas panjang, lalu berdiri. Teleponnya berdering, itu adalah panggilan dari Bumi. Dia memang berjanji akan mengabari Ana proses pemindahannya.


Ana dengan gembira menjawab panggilan itu, Lalu pergi dari tempatnya sekarang.


"Bagaimana?" Ana tersenyum sambil berlalu nenjauh dari ibunya.


"Cih, duhh Bella. Seharusnya kau nikahi saja si Bumi itu." Wanita itu bergumam kesal.


Bumi yang sedang menunggu diluar rumah duka bersama Minhyun, mulai mengobrol bersama.


"Sebenarnya ada masalah apa, antara kau dan Dongmin?" Minhyun menatap Bumi dengan penasaran.


"Jangan sampai Ana tahu bahwa kalian bertengkar karenanya." lanjut Minhyun.


Minhyun belum mengetahui masalah yanh sebenarnya terjadi, jika dia tahu mungkin dia akan bertindak seperri Dongmin. Dia juga termasuk ornag yang peduli pada Ana, apalagi dia ompernah menaruh kagum pada wanita itu.


Ana sudah selesai membelanjakan orang tuanya. Dia langsung peegi ke apartemen. Mandi dan rapih-rapih untuk makan malamnya bersama Dongmin.


Ana mengenakan sweater oversize dan jeans hitam., setelah 1 jam berlalu. Dongmin menghubungi Ana bahwa dia sudah ada di depan gedung apartemennya.


"Ayo kita kesana!" Dongmin menunjuk restoran yang ada di seberang jalan. Ana hanya mengangguk lalu berjalan di samping Dongmin.


Dongmin menggandeng tangan Ana saat hendak menyeberang. Hati Ana sebenarnya tidak tenang, dia selalu memikirkan Bumi. Tapi bagaimanapun, dia harus segera menyelesaikan masalah nya dulu dengan Dongmin.


Dia harus jujur pada Dongmin mengenai perasaaanya yang sekarang. Dongmin memesan makananya. Sambil menunggu, mereka memesan minuman terlebih dahulu.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Ana sambil menatap pria itu,


"Hmm ya, tentu aku baik-baik saja." Dongmin tersenyum, dia menyembunyikam perasaan marah dan sedihnya melihat kejadian memarin malam.


"Dongmin.." Ana ingin segera menyampaikan maksudnya. Tapi Dingmin terlihat selalu mengalihkan pembicaraan wanita itu.


"Ana, aku dengar bulan depan kau ada ujian praktek?" Dongmin mencondongkan tubuhnya.


"Ya , dari mana kau tahu?"


"Tentu saja Minhyun." Dongmin memalingkan wajah. Dia malu mengakui bahwa hubungannya dengan Minhyun mulai membaik.


"Ahhh Syukurlah, kalian sudah menjadi kakak-adik sungguhan sekarang hahaha." Ana tertawa smabil menggoda Dongmin. Wanita itu, merasa senang karena kedua sahabatnya sudah akur dan saking menyayangi.

__ADS_1


Disatu sisi, Bumi sedang dalam perjalanan pulang. Dia mengantar Minhyun kerumahnya. Setelah itu, langsung bergegas pulang.


Malam itu dia merasa rindu sekali pada Anastasia, sebelum perjalanan bisnisnya dimulai, dia berpikir untuk harus sering bertemu wanita itu.


Bumi memutuskan untuk pergi ke apartemen Ana.


Dia berkendara dengan kecepatan normal, sambil mendengarkan musik yang ada diradio. Tanpa sepengetahuan Ana, pria itu ingin memberi kejutan padanya.


Disisi lain, Dongmin dan Ana sedang makan malam sambil berbincang akrab satu sama lain. Bahkan Ana sesekali tersenyum melihatnya.


"Dongmin.... Jangan menungguku." Kata Ana ragu-ragu.


"Kenapa? Aku tidak meminta persetujuanmu. Aku melakukan itu, karena aku ingin." Dongmin bertingkah sseolah-olah dia baik-baik saja.


"Ku dengar juga, kau dijodohkan?" Tanya Ana,


Pria itu hanya menunduk diam, dia sebenarnya tidak mau membahas perjodohan gila yang dilalukan ayahnya.


Setelah 1 jam berkendara, Bumi sampai di SeeU house. Oria itu langsung masuk ke Gedung.


"Pak Bumi, mencari nona Ana? Nona Ana sepertinya sedang keluar pak."


Keluar?? Dengan siapa?


Bumi membatin, pria itu langsung kembali ke mobilnya. Saat ia sudah membuka pintu, dia tersadar dengan mobil yang ada didepannya. Itu seperti mobil Dongmin. Pria itu menoleh ke kanan kiri mencari pemilik mobil itu.


Dia melihat di seberang sana. Ana dan Dongmin sedang berbincang dengan akrab. Bumi mengepalkan tangannya kesal.



(Ana tersenyum saat mengobrol dengan Dongmin).


Dia terlihat senang..


Bumi membatin, pria itu kembali masuk ke gedung apartemen, memutuskan menunggu Ana didalam apartemennya. Untung dia tahu sandi pintu wanita itu, jadi dia dengan mudah bisa masuk kesana.


Waktu menunjukan jam 9 malam, tapi wanita itu belum juga pulang. Bumi tertidur di sofa Ana. Masih menunggu kedatangan wanita itu.


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2