MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 127 : Menikah itu menyenangkan (Bonus)


__ADS_3

Bumi membuka matanya secara perlahan, dia melihat langit-langit kamar dengan mengedip beberapa kali. Kemudian, pandangannya terfokus pada seorang wanita yang masih terpejam dengan tangan melingkar di perutnya.


Sudah seminggu sejak hari pernikahan mereka dan keduanya semakin harmonis.


Pria itu mengecup lembut pucuk kepala sang istri, sembari menyeringai bahagia. Dia mengeratkan dekapannya pada Ana.


"Hmm, kau sudah bangun Bum" suara Ana terdengar serak.


Bumi tertawa kecil melihat istrinya yang masih terkantuk bicara pada pria itu, "ya, sudah. Kau kelelahan sekali sepertinya."


"Ini semua karenamu." Ana mengeratkan pelukannya pada Bumi.


"Hahaha, kau menggemaskan sekali." Bumi melepaskan pelukannya dari Ana. Kemudian dia menoleh lagi ke arah wanita itu.


"Aku mandi dulu ya," katanya sambil beranjak dari tempat tidur.


Ana hanya mengangguk, setelah pertarungan yang melelahkan semalaman, dia merasa malas untuk beranjak dsri ranjang empuknya. Rambutnya yang berantakan serta tubuh polosnya yang hanya di tutupi selimut membuatnya enggan kemana-mana.


Ana memerhatikan Bumi yang berjalan menuju kamar mandi, dengan air hangat yang mebgguyur ke tubuhnya Bumi merilekskan badannya di bawah sana. Dia merasakan sesuatu yang perih di punggungnya, sesaat dia mengingat apa yang membuatnya seperti itu, pria itu twrtawa kecil.


"Ah dia sangat agresif."


Ana yang masih memejamkan matanya langsung mengerjap saat ada suara dering ponsel berbunyi. Wanita itu langsung meraih ponsel yang ada diatas nakas. Dia melihat nomor telepon rumah sakit tempat bayi mereka di rawat memanggil.


"Halo,"


"Halo, Bu Ana. Bayi ibu sudah dalam keadaan membaik, semua organnya berkembang dengan baik sehingga hari ini dia akan dkeluarkan dari ruang nicu. Apakah bu Ana bisa kerumah sakit? Terlebih bayinya belum di beri nama" perawat itu agak tidak enak berbicara pada Ana dipagi buta seperti itu


Mulut Ana sedikit terbuka, "ah ya, tentu saja saya akan kesana bersama suami saya."


"Baik, terimakasih ibu. Maaf mengganggu waktunya,"


Panggilan mereka pun terputus, setelahnya Ana langsung beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi, wanita itu mengetuk pintu agak keras.

__ADS_1


"Bum,"


"Bumi,"


"Sayang?"


Suara pintu kamar mandi pun terbuka, pria itu masih belum selesai membersihkan tubuhnya. Kemudian tangan itu menarik lengan Ana yang ada di ambang pintu untuk masuk ke dalam kamar mandi.


"Ada apa? Kau sengaja menggangguku karena ingin mandi bersama?"


Bumi menutup pintu, Ana meninggalkan selimut nya di ambang pintu tadi sehingga kini dia tidak memakai sehelai benang pun. Dia menutup tubuh polosnya.


"Ti-tidak.. Itu .. Hmm ... Tadi ada panggilan dari rumah sakit, bayi kita sudah dipindah ke ruang rawat inap biasa" Ana menyeringai tipis.


Bumi menurunkan lengan Ana yang menutupi beberapa bagian tubuhnya.


"Itu bagus, tapi aku tidak bisa menunda ini" Bumi mengecup lembut bibir wanita itu dengan lembut. Dia membawa Ana di bawah guyuran shower yang sama.


"Bukankah lebih baik mandi bersama? Akan menghemat waktu dan air." pria itu tersenyum kecil ke arah istrinya.


Untuk saat ini, Ana hanya ingin menikmati itu.


Setelah 45 menit berlalu, keduanya keluar bersama dari kamar mandu dengan hanya mengenakan handuk. Bumi menyeringai melihat istrinya berjalan di depan.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang?"


Ana mengangguk sembari memilih pakaian di lemarinya, dia memilih menggunakan dress floral. Kali ini pembawaannya berbeda, Ana lebih terlihat dewasa daripada sebelum menikah. Dia lebih kalem dengan balutan gaunnya yang manis.



Bumi berjalan ke samping wanita itu dan memilih pakaiannya sendiri.


"Bagaimana dengan ini?"

__ADS_1


"Bagus," jawab Ana tanpa memperhatikan.


"Sayang, lihat aku." Bumi mendengus.


"Apapun akan terlihat cocok untukmu, pakailah pakaian yang kau sukai" Ana menyeringai sembari merapikan rambutnya.


Bumi memilih kemeja polkadot hitam dengan rambut yang hanya di sisir kebelakang. Celana jeans biru yang menyempurnakan tampilannya.



Setelah keduanya selesai, mereka langsung turun ke baseman untuk segera ke rumah sakit. Bumi sendiri masih belum kembali ke KIK Otomotif. Apalagi, dia sekarang sedang menikmati masa bulan madunya bersama Ana. Walaupun tidak pergi kemana-mana, dia tetap ingin berdua bersama istrinya untuk waktu yang agak lama.


Setelah itu, dia akan kembali ke perusahaan.


Ana sendiri masih mengambil cutinya untuk satu bulan penuh, tapi hanya tinggal dua minggu saja setelah itu dia harus melanjutkan proyek patungnya sebelum pameran dilaksanakan.


"Tadi, perawatnya bilang. Kita harus segera memberi bayi itu nama."


"Kau ada ide?" Bumi menoleh ke arah istrinya.


Ana menggeleng, "aku bingung.." dengan gemas Ana mengatupkan mulutnya, dia menatap pemandangan di deoannya dengan sorot mata yang sayu.


"Bagaimana kalau Azzura." Bumi menyeringai ke arah Ana.


Ana terlihat sangat gembira mendengar nama indah itu keluar dari mulut Bumi. "Tentu saja, itu nama yang indah."


"Azzura Kim? Kim Azzura?"


"Ahhh terdengar aneh," Ana merasa ragu lagi...


"Bagaimana kalau?"


"Kalau siapa?" jawab Bumi sembari mengangkat alisnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2