
Pagi itu Ana berangkat ke Kampus seorang diri. Hari ini mereka akan praktek membuat kendi-kendi kecil yang terbuat dari tanah liat. Ana harap dia bertemu Minhyun disana agar dia bisa bertanya alasan kenapa dia pindah mendadak.
(tidak-tidak , untuk apa aku bertanya, bukankah itu hak nya?)
Ana menggelengkan kepalanya dan mengurungkan niat untuk berbicara pada Minhyun, tak lama bus pun tiba. Sebenarnya Ana agak kesal dengan keputusan Dongmin yang memblokir nya, lagipula jika memang harus berpisah Ana tidak akan menerornya, kenapa harus diblokir? Dia bukan tipe orang yang akan mengejar laki-laki seperti orang gila.
Minhyun yang berada di bus itu senang melihat Anastasia, sedangkan Ana sedikit terkejut dan langsung memalingkan wajahnya saat dia bertemu Minhyun. Dia merasa tidak berhak bertanya. Jadi dia hanya akan menunggu Minhyun menjelaskannya sendiri tanpa harus dia tanyakan.
Sesampai nya di Kampus, mereka berdua tidak mengobrol sedikitpun. Mereka berjalan masing-masing dan mengabaikan satu sama lain. Sebenarnya Minhyun ingin sekali menyapa Ana, tapi dia sedang diawasi oleh suruhan Ayahnya, jadi dia mengurungkan niat itu.
Ternyata, Rojun sudah mengetahui bahwa Anastasia adalah anak dari keluarga Jung, Keluarga itu yang selama ini meminta perusahaan KIK untuk berinvestasi di perusahaannya. Tapi karena satu hal dan yang lain, KIK belum bisa berinvestasi disana, mereka melihat performa pendapatan dan visi misi perusahaan itu, jika tidak menguntungkan dan tidak sesuai kriteria, tentu perusahaan tidak akan berinvestasi.
Ana melihat Somi yang sedang duduk, dia tersenyun lalu menghampiri Somi dan merangkul pundak sahabatnya itu. Ana merasa senang karena dia masih memiliki Somi, Yuri dan Lee Ze.
"Kau siap praktek hari ini? Kau tahu Tamu yang akan datang hari ini?"
Ana mengangkat sebelah alisnya lalu menggeleng tidak tahu, memang nya siapa yang akan datang ke kampus. Pikirnya
"A-va-neesh Bumi"
Mata Somi melotot menatap Ana tajam, kenapa suasana nya jadi seperti film horor begini. Yang benar saja, pria itu sampai harus mendekatinya dengan cara ini? Emosi Ana hampir memuncak, dia tidak habis pikir apa yang sedang direncanakan Bumi.
Dihalaman belakang rumahnya, Bumi sedang cekikikan memikirkan ekspresi Ana yang syok, dia merasa sukses mengerjai wanita naif itu.
"Aku tidak sabar melihat ekspresi itu langsung"
Bumi masih tertawa sambil memainkan ponselnya, ibu nya menghampiri Bumi lalu menyapa anak itu.
"Jika sedang jatuh cinta memang terkadang seperti orang gila"
(maksud ibu , aku seperti orang gila?) batinnya
Bumi menoleh ke arah Ibunya dan berhenti tertawa, Dia bersikap sok dewasa padahal memang sudah seharusnya.
"Ayahmu persis sepertimu saat dia bersama ibu, Jika kau bersikap kekanakan saat bersama seseorang, artinya Kau sedang jatuh cinta dan nyaman berada di dekatnya"
"Ibu senang kau bisa membuka hatimu kembali"
Bumi melihat ibunya sendu, apa benar dia jatuh cinta pada Anastasia, Bukankah dia hanya menjadikan wanita itu bayang-bayang Bella saja. Ada hal yang mengganjal dihatinya, entah perasaan apa itu.
"Bu hari ini aku ada kunjungan ke Hankuk"
Bumi berdiri dan mengantongi ponselnya, dia bahkan belum mandi dan rapih-rapih.
__ADS_1
"Kalau begitu cepat mandi dan pakai setelan yang menawan"
"Ya tentu aku ke kamar dulu"
Bumi mengecup pipi ibunya lalu berjalan masuk ke kamar tidurmya yang berada di lantai 2. Dia menaiki tangga rumahnya yang mewah.
Ayah dan Kakeknya sedang fokus mengurus perusahaan cabang baru yang ada di Busan, jika sudah rampung, kakek berniat menjadikan Dongmin pimpinan utama di perusahaan tersebut.
Sayang sekali hubungan persaudaraan mereka merenggang hanya karena seorang wanita.
Bumi masuk ke kamar mandi lalu memutar keran air, air pun mengalir dari shower berwarna hitam dope itu. Dia memposisikan dirinya dibawah guyuran air, memejamkan matanya sejenak dan menikmati setiap tetesan air yang mengalir ke tubuh kekarnya, bahkan punggungnya sangat terlihat cantik.
Kepalanya sekarang lebih banyak memikirkan Ana ketimbang Bella, yang dia khawatirkan dari Bella sekarang hanyalah Anak itu, anak yang dikandungnya yang akan menjadi pewaris nya kelak.
Dia selesai membersihkan tubuhnya, lalu berjalan menuju walking closet yang ada dikamarnya. Dia berjalan hanya mengenakan handuk dari perut bawahnya sampai lutut.
Dia memilih setelan Jas berwarna merah maroon dan kemeja hitam berbahan satin didalamnya, sama seperti yang dia kenakan saat pulang dari Amerika.
Dia melihat dirinya dicermin sambil tersenyum dia mengagumi ketampanan yang dimilikinya.
"Tidak ada yang tidak jatuh cinta pada pesona ini"
Dia merasakan sesuatu di saku jas nya, dia lamgsung merogoh itu dan mengambilnya.
Dia membalikkan kartu itu, ada foto Anastasia disana
"Sejak kapan ini ada disini?"
Bumi mencoba mengingat-ingat bagaimana kartu itu ada di saku Jasnya yang sudah lama tidak dia pakai.
"Jadi wanita di Bandara itu , dia? Ah aku baru ingat, Baiklah aku akan membawanya" Dia mengantongi kartu itu lagi lalu berjalan keluar.
Dia bahkan baru ingat kalau dia menemukan kartu itu di Bandara, dia juga tidak mengerti kenapa dia harus memungut kartu nya waktu itu.
Bumi masuk kedalam mobil, kali ini ada supir yang mengemudikan mobilnya, dia duduk di kursi penumpang dengan menyilangkan kaki, seolah ingin memamerkan sepatu pantofel hitamnya yang berkilauan.
Bumi melihat jam di arloji Vacheron Constantin nya. dia tampil All out hari ini, dia tentu tidak mau mengecewakan Anastasia. Perjalanan ke Hankuk membutuhkan waktu 1 jam 15 menit. Dia akan sampai disana jam setengah 10 pagi.
Anastasia kehilangan fokus sata seharusnya memperhatikan dosen didepannya, dia tidak peduli walau beberapa orang membicarakannya, bahkan satu kampus membicaraknnya dia akan tutup telinga, Pria itu memang senang sekali jadi pusat perhatian. Dia berhenti menulis dan meletakan pulpennya di atas buku.
Dia menahan kepalanya dengan kedua tangan sambil menunduk, sebagian rambut menutupi wajahnya.
"Anastasia?"
__ADS_1
Dosen didepan menegur Ana dengan pelan. Sikapnya berbanding terbalik saat Anastasia tidak hadir, dia bahkan yang membuat Minhyun muak dan keluar dari kelasnya, tapi sekarang? Kenapa dia tiba-tiba jadi lembut?
"Maafkan aku"
Ana mengangguk dua kali meminta maaf pada Dosen itu, dia menyelipkan rambutnya dibelakang telinga lalu memegang kembali puplen yang dia taruh tadi dan berpura-pura fokus.
"Tidak apa-apa, kekasihmu akan datang ke Hankuk hari ini, kau pasti sangat gugup iya kan?"
Ana menjadi benar gugup setelah mendengar perkataan dosen itu , Dia menoleh ke kanan kiri , semua orang kini jadi terfokus padanya. Dia hanya bisa tersenyum canggung,
"tidak, sepertinya aku hanya kurang minum"
"Kau mau minum? Jika kau ingin menghirup udara segar juga tidak apa-apa . Ini khusus Anastasia ya, yang lain tetap ikuti kuis kita selanjutnya"
Pikiran Ana sudah kacau tak karuan, dia akhirnya keluar kelas mengikuti kata Dosen tadi, Ana merapikan semua bukunya ke dalam tas. Dia menoleh ke arah Somi,
"Sana, duluan saja bye"
Somi dengan suara pelan berbicara pada Ana.
"Terimakasih"
Ana keluar dari kelas, nafasnya lega. Sekarang dia harus menunggu Bumi datang dan mencegahnya untuk ikut kelas hari ini. Ana mondar mandir di Halaman Kampus, menunggu mobil nya datang.
20 menit berlalu tapi dia belum datang juga,
Kemudian mobil Sedan Lexus LS 500H hitam berhenti tepat didepannya.
Jendelanya terbuka pelan-pelan. Ana melihat Bumi yang menyeringai menatapnya.
"Kau mau masuk?"
"Aku tidak mau melihatmu disini"
"Aku bukan mau melihatmu, aku akan memberi materi hari ini"
Bumi tertawa melihat ekspresi Ana yang syok dan kebingungan, dia menyentuh pundak supirnya memberi kode untuk jalan lagi.
"Sampai bertemu di kelasku ..... Sayang" Bumi melambaikan tangannya di dalam mobil, dia senang sekali melihat ekspresi Ana yang seperti tadi, Dia merasa sangat puas karena menjahili wanita itu.
...****************...
...****************...
__ADS_1