
Amerika, Jam 10 Pagi.
Pagi yang cerah dan matahari terang menyinari mereka. Bumi mengendarai mobil milik Bella. Selama dalam perjalanan Bumi tidak bicara apapun. Dia juga menaruh tasnya dibelakang.
Bella masih dalam keadaan kesal,sekarang dia mulai merasa overthinking.
Tapi, jika dilihat dari pesannya mereka memang seperti sepasang kekasih.
Bella membatin, ahhh dia merasa kesal sekali, kenapa dia harus memikirkan hal itu. Lagipula, yang penting sekarang Bumi sedang bersamanya.
Bella melihat Bumi dengan lekat dan agak lama. Bumi yang merasakan tatapan itu, menjadi canggung. Dia merasa aneh kenapa sikap wanita itu terlihat berbeda. Padahal sebelumnya, dia jelas menolak mentah-mentah tawaran menikah dengannya.
Setelah sampai di pusat perbelanjaan kota New York, Bumi dan Bella turun dari mobil. Bumi dengan sangat hati-hati membantu Bella keluar dari mobil.
Kehamilannya yang sudah membesar membuatnya sulit untuk melakukan beberapa hal, seperti menggunting kuku, memakai sepatu maupun berdiri dari posisi duduk.
Bella menyeringai ke arah pria itu, dia sangat senang karena Bumi dengan sigap selalu membantunya. Dia mengeratkan tangannya dilengan Bumi. Bumi merasa canggung, dia pun mencoba melepaskan tangan wanita itu, tapi Bella dengan bibir mengerucut, merasa kesal dan kembali melingkarkan tangannya.
"Bum, aku takut jatuh," Bella merengek lagi.
Bumi mendengus pelan, kenapa dia jadi terjebak disituasi yang tidak bisa dia atasi seperti ini. Dia tidak protes lagi, mereka masuk ke dalam pusat perbelanjaan lalu segera mencari toko gawai.
Bumi masuk ke toko terkenal disana, dia memilih ponsel keluaran terbaru berwarna hitam.
"Kau mau juga?" Dia bertanya pada Bella, wanita itupun mengangguk dengan sumringah.
"Aku ingin yang sama sepertimu." Bella tersenyum lebar, dia ingin memiliki ponsel couple bersama Bumi. Bumi memutar bola matanya, kali ini apa yang aka direncanakan wanita itu.
Sebenarnya, dia merasa lelah harus mengikuti semua keinginan Bella. Tapi, dia juga merasa tidak bisa menolak terlebih Bella selalu menjadikan bayinya sebagai alasan.
Bumi takut, jika dia tidak mengikuti permintaannya, Bella akan merasa stress. Tapi, semakin Bumi mengikuti permintaannya semakin Bella melakukan itu lagi dan lagi. Bahkan, mungkin dia akan melakukan hal yang nekat.
Pegawai toko itu mengeluarkan dua ponsel yang sama. Lalu menyerahkan pada mereka, sebelum dibawa pulang tentu saja pegawai itu memeriksa kondisi ponselnya apakah bekerja dengan baik atau tidak.
Setelah selesai membeli ponsel baru, Bumi dan Bella pergi ke toko pakaian bayi. Bella langsung semangat memilih baju-baju mungil yang terpajang di display. Dia bahkan sangat gembira dan bersemangat memilih bajunya.
"Bagaimana yang ini?" Tanya Bella pada Bumi yang hanya memperhatikannya.
__ADS_1
"Bagus," responnya tidak sesuai harapan Bella. Bella mendengus lalu berjalan ke arah lain dan menunjukna sweater kecil warna pink bergambar hello kitty.
"Bagaimana yang ini?" Tanyanya lagi dengan senyum full terlihat gigi.
"Bagus," Bumi mengangguk-angguk.
Bukan dia tidak tertarik untuk memilih pakaian untuk anak itu, hanya saja dia merasa bingung dan tidak tahu harus memilih yang mana. Menurutnya semua pakaian yanh dia lihat terlihat bagus dan pasti akan selalu cocok dipakai putrinya nanti.
"Bum! Aku jadi malas, jika kau merespon seperti itu. Sudahlah, jika kau tidak mau ikut berbelanja, kau pulang saja! Aku bisa sendiri!" Bella mulai bertingkah berlebihan, dia terkesan manipulatif. Padahal Bumi tidak sama sekali bermaksud seperti itu.
Bumi menghela nafas panjang, dia berjalan menghampiri Bella,
"Maafkan aku, maafkan Appa ya putri kecil." Bumi membungkuk berbicara ke arah perut Bella.
Akhirnya, senyum Bella kembali merekah. Dia melihat Bumi dengan bahagia.
"Mari kita pilih pakaian untuk putri kecil kita." Ajak Bella sambil memeluk Bumi, dia merasa tidak nyaman karena beberapa orang memperhatikan mereka sekarang.
"Jangan peluk ditempat seperti ini, aku merasa tidak nyaman." Bumi mengernyitkan dahinya, terlihat ekpsresi wajahnya yang tidak nyaman.
Bumi mendengus, dia menyerah dan tidak mau berdebat ditempat umum. Mereka memilih banyak pakaian untuk bayi itu. Bella juga membeli kereta bayi bermerk terkenal.
Untuk tempat tidur sudah dia persiapkan jauh-jauh hari saat dia mulai mendekor kamar tidur bayinya.
*
*
Busan, Jam 08.00 malam.
Ana dan ayahnya sedang mengobrol ditaman itu, emosinya kini mulai mereda. Dia menatap datar ke arah depan, sedangkan ayahnya sedang berusaha membuat mood anak itu membaik.
"Kau mau es krim nak?" Tanya ayahnya sambil menoleh ke arah Ana. Tangan Ana memegang dua rantai besi yang mengait ke atas ayunan itu. Dia mendengus pelan lalu menggeleng.
Dia tidak mau apa-apa, saat merasa sedih dia juga teringat pada Bumi. Apakah pria itu sudah mengabarinya? Dia tidak tahu karena dia meninggalkan ponselnya dikamar tidur.
Dirumah nenek Ana, Ibunya sedang duduk menyilang diruang tv. nenek Ana menghampiri wanita itu dan duduk disampingnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu seperti itu pada Anastasia? Dia sangat terluka dengan sikapmu. Jangan sampai kau menyesal nantinya!" Neneknya Ana memberikan sebuah nasihat yang ditujukan untuk Anak pertamanya itu.
Dengan mengangkat sebelah alisnya dia menoleh ke arah ibunya,
"Apa ibu menyesal? Apa ibu ingat dulu ibu melakukan hal yang sama padaku?" Tanya nya dengan ketus, dia memalingkan wajahnya sambil mendengus.
Nenek Ana menunduk, "Ibu tahu yang ibu lakukan salah, tapi kau tidak perlu melakukan itu juga pada anakmu."
"Berhenti menasihati ku tentang cara mendidik anakku bu! Aku bisa sendiri, aku tidak perlu ceramahan dari ibu!" Ibunya Ana melotot ke arah ibunya sendiri.
Nenek Ana hanya bisa menggeleng dan menyesali perbuatannya dulu, dia menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi sekarang.
Ibu Ana berjalan ke kamar tidur, dia merebahkan tubuhnya disana. Lalu, melihat ponsel Ana tergeletak dikasur. Dia meraih ponsel itu, terlihat locksreen yang menunjukan foto Ana dan Bumi bersama.
(Tampilan lockscreen handphone Anastasia).
"cih.." Ibunya mencibir, dia melempar ponsel itu kembali ke pinggiran tempat tidur.
Ana dan ayahnya kembali ke rumah sambil mengobrol, kini Ana sudah bisa tersenyum. Dia mencoba untuk menerima kenyataan bahwa dirinya tidak pernah disayang oleh ibunya sendiri.
"Bagaimana hubunganmu dengan Bumi?" Tanya ayahmya sambil merangkul pundak anaknya itu.
Ana tersenyum tipis, dia memasukan tangannya ke sweater yang dia kenakan.
"Dia sedang melakukan perjalanan bisnis, ayah." Ana melihat ayahnya sambil berjalan, ayahnya pun membelalak mendengar ucapan putrinya.
"Benarkah? Kau pasti merasa sedih, jangan terlalu dipikirkan. Kau harus percaya padanya. Ayah yakin, dia orang yang setia." Ayahnya tersenyum menatap Ana, setelah mendengar omongan ayahnya Ana merasa agak lega sedikit.
Ayahnya benar, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Bumi pasti memang sedang sibuk disana. Ana tersenyum pelan sambil mengangguk.
"Ayah benar, tidak ada yang perlu aku khawatirkan."
...****************...
...****************...
__ADS_1