
Raut wajah Ana saat itu sangat terlihat sedih, kenapa pria itu tidak mengabarinya sama sekali. Dongmin yang menatap Ana dengan iba dipenuhi rasa curiga pada sepupunya.
Apa yang membuat pria itu pergi tanpa pamit pada Anastasia, itulah yang jadi pertanyaan dikepala Dongmin. Sekretaris itu merasa tidak nyaman karena telah membuat Ana kecewa, terlebih wanita itu tahu kemana tujuan Bumi sebenarnya.
"Maafkan aku Nona Ana, kau mau aku antar pulang?" Tanya Sekretaris itu sambil menunggu jawaban Ana.
Ana menggeleng pelan, sepertinya dia memutuskan untuk pulang sendiri saja.
"Tidak perlu, dan.. Kau tidak perlu merasa bersalah, Aku baik-baik saja."
Dongmin tahu Ana berbohong, dia tidak mungkin baik-baik saja dengan raut wajah seperti itu.
"Baiklah Nona, kalau begitu saya pergi dulu." Sekretaris wanita itu menundukan kepalanya memberi salam, begitupun dengan Ana. Wanita itu masuk ke mobil untuk kembali ke KIK Otomotif.
Ana menatap mobil itu sampai tidak terlihat lagi, dia menghela nafas panjang lalu menunduk pelan. Dia merasakan sesak didadanya. Perasaan kecewa sedang menyelimutinya saat ini.
"Aku ambil mobil dulu, aku tidak akan membiarkan mu pulang sendiri. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi padamu." Dongmin mengeratkan tas nya, dia berjalan ke area parkir yang tidak jauh dari sana.
Pria itu menekan tombol di kuncinya yang membuat kunci dimobilnya terbuka, Dongmin masuk ke mobil itu lalu menghidupkan mesin mobil. Dia menghampiri Ana dengan mengendarai mobilnya.
Ana melihat mobil Dongmin didepannya, dia menghela nafas panjang untuk menahan air matanya keluar. Ana pun memasuki mobil itu secara perlahan, raut wajahnya masih terlihat sedih. Didalam mobil Ana hanya bisa menunduk sambil memainkan kuku dijari jemarinya.
"Kau baik-baik saja?" Dongmin dengan basa-basi memulai percakapan. Dia tahu betul wanita disampingnya itu sedang tidak baik-baik saja.
Ana menggeleng pelan dan dia pun masih menunduk. Ana dengan perlahan menyeka air mata dipipinya, rupanya dia sedang menangis.
Dongmin yang menyadari itu, membiarkan Ana menangis, dia tahu wanita itu harus meluapkan emosinya terlebih dahulu sebelum dia bertanya apapun.
Ana mulai terisak, dia menutup wajah dengan kedua tangannya. Dongmin sangat tidak tega melihat Ana menangis seperti itu, dia mendengus pelan menahan kesal dan amarahnya pada Bumi.
Kenapa dia tega seperti ini.
Dongmin membatin, dia menggeretakan giginya. Dia punya ide, menurutnya... Ibu Bumi pasti tahu soal alasan keberangkatan anaknya yang terkesan buru-buru itu. Jadi, Dongmin berinisiatif membawa Ana langsung ke kediaman keluarga Bumi untuk mendengar alasannya langsung.
Ana sudah mulai tenang, Dongmin menodorkan tisu yang ada dimobilnya. Ana pun mengambil beberapa lembar tisu itu kemudian menyeka air matanya.
__ADS_1
"Terimakasih, Dongmin."
Dongmin masih belum mau bertanya sebelum Ana yang mengatakannya secara langsung. Ana yang baru sadar jalan yang di lalui Dongmin bukanlah jalan ke SeeU House pun bertanya.
"Kenapa kita lewat sini?" Tanya Ana sambil memegang tisu nya didekat hidungnya yang berair.
"Kau butuh penjelasan dan alasan, mungkin Ibu Bumi tahu alasan anaknya pergi terburu-buru." Dongmin menoleh ke arah Ana sebentar, lalu fokus lagi kejalan raya.
Ana mendengus pelan, menurutnya Dongmin benar. Ana butuh penjelasan kenapa Bumi dengan mendadak merubah jadwal penerbangannya lagi. Bahkan, pria itu tidak mengabarinya sama sekali.
Setelah 1 jam berkendara dan tanpa obrolan apapun selain yang tadi, Ana dan Dongmin sampai disana. Dongmin membukakan pintu untuk Ana, dengan agak gemetar dia mulai memasuki pekarangan rumah.
Ini pertama kalinya, Ana tidak kesini bersama dengan Bumi sehingga, itu membuatnya sedikit canggung dan gugup.
"Ayolah, kau sudah kesini dua kali." Dongmin menyeringai, lalu berjalan mendahului Ana.
Saat masuk kedalam rumah, semua pelayan menyambut Dongmin dan Ana. Mengetahui kedatangan Ana, ibu Bumi pun langsung menghampiri wanita itu. Dia dengan tersenyum berjalan ke arahnya. Ibu Bumi memeluk Ana erat.
"Kau datang tanpa mengabariku." Katanya sambil tersenyum.
"Kau sudah makan?" Lanjut ibu Bumi.
"Dongmin, kau bersama Anastasia kesini?" Ibu Bumi beralih menatap Dongmin.
"Ya, Bi." Dongmin hanya menjawab seadanya, kemudian dia meminta izin untuk pergi ke kamarnya dulu dan berganti pakaian.
Saat menunggu Dongmin, Ana dan Ibu Bumi duduk diruang tamu. Para pelayan mulai membawakan Anastasia minuman dan makanan ringan.
"Minumlah Ana.." dengan tersenyum wanita itu menawarkan Ana minum.
Ana pun mengangguk lalu meraih cangkir berisikan teh manis itu.
"Terimakasih," Kata Ana.
Ibu Bumi tersenyum menatap Ana, Dongmin terlihat berjalan ke arah mereka. Dia sudah berganti pakaian sekarang. Pria itu langsung duduk di sofa didepan Ana dan Ibu Bumi.
__ADS_1
"Hey pelayan! Apa kau mengambil pakaian kotorku dikamar?" Dongmin mengalihkan pandangan Ana dan Ibu Bumi, sehingga mereka bertiga kini menatap pelayan baru yang bernama Daisy itu.
Pelayan itu dengan gugup mengangguk, "I-iya Tuan" Jawabnya gugup.
Dongmin memutar bola matanya kesal, "Ada sesuatu di kantong celanaku. Cepat tolong ambilkan lalu taruh lagi dikamar."
"Dongminnnn.... Nak kenapa seperti itu? Kau membuat Daisy ketakutan." Ibu Bumi tersenyum dan berbicara dengan lembut padanya.
"Heheh maaf bi," Kata Dongmin.
"Kau boleh lakukan itu lain kali." lanjut Dongmin pada pelayan itu.
Ana menyeringai melihat Dongmin, dia sampai lupa bahwa niatnya kesini adalah untuk menanyakan alasan Bumi pergi secara tiba-tiba.
"Bi, Kenapa Bumi pergi tanpa berpamitan pada Ana?" Dongmin mengernyitkan dahinya, dia merasa keheranan.
"Benarkah Ana?" Ibunya malah terlihat terkejut mengetahui hal itu, rupanya Ibu Bumi mengira anaknya sudah berpamitan pada Ana sehinga dia nampak terkejut.
Ana mengangguk pelan, tak.lama pelayan lain datang dengan membawa ponsel Bumi ke ruang tamu.
"Permisi bu, ini sepertinya ponsel Tuan Bumi tertinggal. Saya melihatnya ada di meja kerjanya."
Ibu Bumi saking melemoar pandangan pada Ana,
"Rupanya ini alasan dia tidak mengabarimu, yaampun anak itu benar-benar ceroboh sekali." Ibunya meraih ponsel itu dari tangan pelayan.
Ana menyeringai, bukannya tenang mengetahui alasan Bumi tidak mengabarinya. Dia malah semakin dibuat overthinking dengan hal itu. Bagaimana bisa pria itu meninggalkan barang yang paling penting.
Dongmin menggelengkan kepalanya, dia semakin curiga pada sepupunya itu. Tapi demi Ana , dia berpura-pura seolah itu adalah kebiasaan Bumi, agar wanita itu tidak terlalu memikirkannya.
"Ahhh dia memang selalu ceroboh seperti itu." Kata Dongmin sambil membuang pandangannya dari Ana.
Ibu Bumi terkejut melihat Dongmin berbicara seperti itu, karena menurutnya anaknya jarang sekali bertindak ceroboh apalagi untuk hal yang penting seperti ini. Tapi karena dia tahu raut wajah Ana terlihat gelisah, ibu Bumi pun mencoba untuk menenangkan wanita itu.
"Haduh, Dongmin benar kenapa anak itu selalu saja ceroboh. Kau tidak usah khawatir, ibu yakin Bumi akan segera mengabarimu setelah dia sampai." Ibu Bumi mengelus punggung Ana, Ana pun menoleh dengan senyuman ragunya.
__ADS_1
...****************...
...****************...