
...RUMAH SAKIT...
Kali ini, Ana benar-benar terlihat depresi. Wajahnya yang pucat karena kehilangan darah yang cukup banyak membuatnya terlihat sangat mengkhawatirkan. Somi yang menunggunya hanya bisa menatap wanita itu dengan rasa sedih yang mendalam. Dia merasa sedih karena merasa tidak ada yang bisa dia lakukan sebagai seorang sahabat.
Dongmin, Minhyun dan kedua sahabat Ana, Ze dan Yuri berdatangan di saat yang sama. Mereka dengan khawatir lalu masuk ke dalam kamar dimana Ana dirawat. Wanita itu sudah siuman, tapi tatapannya sangat terlihat kosong, hanya air mata di sudut matanya.
Kadang, orang yang terlihat baik-baik saja lah yang harus lebih kita khawatirkan. Ana yang berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan teman-temannya pun ternyata menyimpan kesedihan yang tidak mampu dia bagi dengan mereka.
Somi dan yang lain ikut menangis menatap Ana yang berdiam diri, dia tidak mau makan dan tidak mua minum sedikitpun. Sampai, Dongmin menghampirinya dengan pelan.
Pria itu memeluknya dan menyendarkan kepala Ana di dadanya, Dongmin ikut menangis melihat keadaan Ana. Tangisan wanita itupun pecah dipelukan Dongmin. Dia bahkan mencengkram baju Dongmin dengan erat.
Ruangan itu penuh isakan sekarang, tidak ada yang tidak sedih melihat keadaan Ana. Dia tidak berlebihan, baginya Bumi adalah segalanya. Pria itulah yang menemani hari-harinya beberapa bulan terakhir. Tapi, saat mengetahui di bohongi sejak awal, hatinya benar hancu berkeping-keping.
Tangisan Ana kian menggema di seluruh ruangan, selang infusan masih tersambung di tangannya. dua kantong darah sudah berhasil di alirkan ke tubuh Ana. Dia masih merasa lemas, Dongmin terus berusaha menangkan Ana.
"Apa orang tua Ana sudah tahu?" Minhyun menoleh ke arah Yuri, dan wanita itupun menggeleng.
"Belum," jawabnya singkat.
"Baiklah, aku akan menghubungi mereka." Minhyun pun keluar dari ruangan itu dan berusaha menghubungi orang tua Ana lewat sekretaris Bumi.
Pria itu berjalan keluar dan duduk di ruang tunggu, dia menekan nomor kantor KIK untuk di sambungkan ke sekretaris pria itu. Tak lama, panggilannya pun tersambung.
__ADS_1
"Selamat siang, dengan KIK Otomotif ada yang bisa kami bantu?" ucap seorang wanita dalam panggilan.
"Siang, saya ingin bicara dengan sekretaris pimpinan." Ucapnya.
Setelah pertanyaan yang panjang, akhirnya Minhyun disambungkan dengan sekretaris Bumi.
"Bisakah kau menghubungi orang tua Ana? menjemputnya? Ana di rumah sakit." Kata Minhyun dengan tergesa-gesa.
Wanita itu langsung dengan sigap mengikuti intruksi dari Minhyun, setelah lokasi rumah sakit di terima, dia langsung segera ke hotel untuk menjemput kedua orang tua Ana. Sedangkan, Minhyun kembali ke kamar rawat.
Setelah Ana agak tenang, Dongmin menyandarkan Ana di tempat tidur, dia menyeka air mata wanita itu. Tidak ada yang berani menanyakan alasan wanita itu menyakiti dirinya sendiri. Yang jelas, ini pasti berkaitan dengan Bumi.
Disisi lain, Orang tua Ana sangat terkejut mendengar kabar yang datang dari sekretaris Bumi. Mereka langsung bergegas ke rumah sakit untuk menemui Ana. Tapi, anehnya ada rasa kesal di hati ibu Ana.
^^^Nona Ana di rumah sakit,^^^
^^^Dia berusaha menyakitinya sendiri,^^^
^^^dan kehilangan banyak darah.^^^
Sekretaris Bumi yang sedang berada dalam perjalanan ke rumah sakit bersama orang tua Ana langsung mengabari atasannya itu.
Bumi yang sedang menunggu Bella di rumah sakit pun, langsung mengecek pesan yang baru saja dia dapatkan. Dia membelalak tidak percaya, pria itu langsung segera berusaha menelepon sekretarisnya.
Sambil menunggu jawaban, pria itu melihat Bella yang sudah tertidur pulas. Selang infusan sudah terlepas dari wanita itu. Rencananya mereka akan pulang ke Korea besok, semuanya sudah di persiapkan oleh Bumi.
__ADS_1
Semua jadwalnya di Amerika pun sudah dia batalkan.
Tidak lama, panggilannya pun tersambung.
"Halo, kau bercanda? Bagaimana keadaannya sekarang?" Bumi terdengar khawatir, ada getaran suara saat dia berbicara.
"Saya belum tahu pak, ini sedang dalam perjalanan kesana." kata Sekretarisnya.
Ibu Ama yang mendengar itu mendelik sebal, menurutnya Ana sengaja melakukan hal itu karena ingin Bumi memperhatikannya lagi.
Aku yakin, dia sengaja melakukan ini demi perhatian Bumi. Dasar anak itu, dia pasti tidak suka melihat kebersamaan Bella dengan Bumi.
Ibu Ana membatin sambil mendelik tajam, bahkan singa pun menyayangi anaknya. Ibunya itu emmang sudah keterlaluan, dia tidak merasa kasihan sedikit pun pada Ana.
Menurutnya, tindakan Anastasia terlalu berlebihan. Sedangkan ayah Ana sangat terlihat panik dan ketakutan. Dia takut Ana tidak tertolong.
"Bisakah kau percepat laju mobilnya?" pinta ayah Ana pada Johan.
"Ya tentu pak," jawab Johan, akhirnya pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sekarang Ana sudah agak tenang, setelah semua tangisan di luapkan di dada Dongmin, dia lelah akhirnya dia tertidur di ranjangnya. Sedangkan yang lain meminta penjelasan Dongmin di luar kamar, Minhyun bergantian menjaga Ana di dalam sana.
...****************...
...****************...
__ADS_1