MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 32 : akankah ada jalan terbaik?


__ADS_3

Ana masih menghindari kontak mata dengan Bumi, sekarang dia hanya ingin fokus ke praktik hari ini, semoga tidak ada masalah itulah yang ada dibenaknya sekarang. Baru saja memohon seperti itu, pisau cukilnya terjatuh kebawah mejanya.


(aish cerobohnya) dia mencibir dirinya sendiri


Ana membungkuk lalu mengambil pisau itu ke kolong meja. Bumi yang melihat itu langsung mengambil kesempatan untuk mengejek Anastasia


"Jangan gugup" godanya pada Ana hanya dengan gerakan bibir dan tanpa suara


Ana melihat Bumi tajam, dia meraih pisau itu dengan cepat,


Brakkk


Lagi-lagi Ana ketiban sial, kepalanya terbentur meja saat hendak berdiri. Bumi tidak bisa lagi menahan tawanya, dia langsung tertawa mengejek Anastasia.


"Kau tidak apa-apa?"


Minhyun ikut berlutut lalu membantu Ana berdiri, Ana tersenyum ke arah pria itu. Bumi seketika berhenti tertawa dan menatap Ana sinis. Peserta praktik lain hanya memperhatikan dengan ekspresi bingung, Ana melihat Bumi dengan tatapan tajam, dia ingin sekali menancapkan pisau ini ke arah pria itu.


"Sudah siap? Mari kita mulai" Bumi mengalihkan semua orang agar terfokus lagi pada praktik hari ini.


Kelas pun berjalan serius, yang lain memperhatikan arahan dari pria itu, saat di proses pemutaran tanah liat, Anastasia terlihat kesulitan. Tapi dengan sigap Minhyun membantu Ana melakukannya dan memberi arahan pada nya dengan baik.


Bumi menghampiri mereka,


"Minhyun, kembali lah ketempatmu" Minhyun kembali ke tempatnya,


Bumi agak menunduk melihat Ana menatapnya. Ana merasa terganggu sekali dengan keberadaan pria ini.


"Kau butuh bantuanku?"


"Tidak, tidak perlu, tidak butuh"


Mereka berbicara dengan suara pelan sampai tidak terdengar oleh peserta lain, Bumi menatap Ana.



Dengan tangannya yang sudah kotor terkena tanah liat, Bumi memegang tangan Ana membantunya membentuk kendi, Ana terkejut melihat gerakannya yang tiba-tiba itu.


"Ah manis sekali, aku juga ingin pria sepertinya"

__ADS_1


Beberapa peserta melihat kejadian itu memuji mereka, Ana yang mendengar itu langsung melepaskan tangannya dari Bumi dan menghentikan kegiatannya.


"Hentikan" Ana berdiri melepas celemek yang dia gunakan untuk menutupi pakaiannya.


"Bu, aku izin ke toilet dulu" Ana berlalu melalui Bumi dan keluar dari ruangan itu.


Dia bernafas lega, akhirnya dia keluar dari neraka itu. Dia berjalan menuju toilet untuk mencuci tangannya. Dia disana beberapa saat, menatap dirinya di cermin.


"Apasih mau mu dariku? Kau itu mantan pacar kakak ku!!!" Ana menatap dirinya dicermin kesal, memperagakan seolah dia sedang bicara pada Bumi


Ana keluar dari kamar mandi, di ambang pintu Bumi bersandar menunggunya keluar. Pria itu menarik tangan Ana kencang dan membawanya masuk lagi ke area kamar mandi dan menyudutkan nya di tembok.


Ana yang pernah mengalami hal itu, langsung teringat kejadian malam dimana Bumi menyelamatkannya. Dia memejamkan mata, tak sadar air matanya mengalir ke pipinya. Bumi yang terkejut langsung melepaskan tangan Ana dan memeriksa keadaanya.


"Ana maaf kan aku"


Matanya membelalak dan dia penuh penyesalan. Bumi memegang bahu Ana lalu menariknya ke pelukannya.


Ana memberontak dan mendorong pria itu, dengan air mata yang masih mengalir dia menatap Bumi tajam.


"Berhentilah mempermainkanku, aku lelah"


Bumi membuka pintu ruangan praktik, dia terlihat sedih. sebentar lagi kelasnya akan selesai. Bumi meminta para peserta menyelesaikan praktiknya.


"Dimana Ana?" Somi melihat tas dan barang Ana masih berserakan,


"Maaf kan Aku Miss Inkyu, Aku harus mengatakan ini mewakilinya, Ana sepertinya tidak enak badan jadi dia tidak bisa menyelesaikan praktik"


"baiklah kalau begitu tidak apa-apa, dia bisa mengulangnya atau mengirim hasilnya saja padaku"


Bumi mengangguk, tugasnya sudah selesai. Dia membersihkan dan merapikan barang-barang Ana lalu membawa itu bersamanya. Semua orang keluar dari ruangan parktik.


Minhyun mengejar Bumi yang membawa perlengkapan Ana.


"Ana sakit? Aku lihat dia baik-baik saja tadi pagi"


Bumi hanya bisa mengangguk mengiyakan.


"Sebenarnya ada apa ini? Apa tujuanmu dengan ini semua? Ana terlihat tidak tertarik dan tidak mau tapi kau terus membuatnya jadi pusat perhatian orang lain bahkan media, jadi apapun yang sedang kau rencanakan sekarang kumohon hentikanlah"

__ADS_1


Minhyun menatap Bumi dengan intens, ada kemarahan dibalik tatapannya itu, dia tahu dibalik kemurungan kakaknya pasti ada kaitannya dengan pria dihadapannya ini.


Bumi menepuk pundak Minhyun, tidak menjawab pertanyaan nya. Bumi merasa seperti orang jahat sekarang, hanya karena keegoisannya untuk mendapatkan bayi itu, dia tega mengacaukan kehidupan orang lain. Dia tidak ada bedanya dengan Bella.


Mobilnya tiba, Bumi langsung masuk dan duduk di kursi belakang, dia menaruh tas Ana disampingnya. Dia bahkan lupa ingin memberi kartu mahasiswa nya secara langsung pada wanita itu, akhirnya dia menaruh itu di dalam tasnya.


Setelah ini, dia berjanji akan meminta maaf pada Anastasia.


Pesan teks Avaneesh Bumi ke Bella Jung


"Aku tidak bisa melakukannya, terserah apapun yang akan kau lakukan dengan bayi itu. Tapi satu hal yang pasti, Bella yang ku kenal tidak akan membunuh bayi yang tidak berdosa."


.....


Mobilnya sampai di depan apartemen Ana, Bumi yakin Ana pasti pulang ke apartemen. Dia turun didepan gedung, sedangkan supirnya kembali kerumah.


Dia menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan. memasuki gedung apartemen lalu menekan tombol nomor 6 pada lift.


Teng


Pintu Lift terbuka, Bumi keluar sambil membawa tas Anastasia. Dia berhenti sejenak di depan pintu apartemen Ana. Memberanikan diri, dia menekan bel nya lalu berbicara di depan kamera yang ada pada bel itu.


"Aku ingin minta maaf padamu"


Ana yang melihat itu mengabaikannya, dia merasa pria itu sudah keterlaluan , sebenarnya apa yang pria ini mau darinya, itulah yang Ana tanyakan berkali-kali pada dirinya sendiri


Ana duduk menelungkupkan kepala di tempat favorite nya yaitu sudut yang meghadap ke Jalan Raya dan perkotaan langsung. Sesaat kekuatannya runtuh, dia menangis sejadinya tanpa suara, mengingat orang tuanya yang tidak peduli padanya, Dongmin yang memutuskan tidak berkomunikasi lagi dengannya dan kepergian Minhyun dari apartemen yang tiba-tiba.


Semua nya jadi satu dalam pikirannya, hari itu dia memutuskan untuk tidak berpura-pura kuat, dia terluka. Bolehkan dia menangis untuk sesaat sebelum kembali membohongi dirinya.


Bumi masih menunggu Ana diluar apartemen, dia duduk didepan pintu sampai wanita itu mau membukakannya. Dia juga diposisi yang sama, menelungkupkan Kepalanya di lutut, sambil memegang tas Ana.


Apa yang harus dia lakukan...


Apa yang harus dia lakukan...


Itulah pertanyaan yang ada dipikirannya saat ini, akankah ada jalan keluar dari semua ini? Jalan yang terbaik bagi semuanya.


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2