
...KEBOHONGAN...
..."Segala sesuatunya menjadi berantakan begitu mudah ketika mereka disatukan dengan kebohongan."...
...Dorothy Allison...
Ana berjalan memasuki kamarnya, dilihatlah boneka berwarna biru kecil yang ada di tengah tempat tidurnya. Wanita itu berjalan lalu merebahkan tubuhnya dikasur. Dia merasa hampa, wanita itu mencubit hidung boneka kecil itu dan mengajaknya berbicara.
"Aku harus bagaimana sekarang?" tanyanya lirih pada boneka itu.
"Apa aku lebih baik mati saja?" lanjutnya, dia pun menggrlengkan bonekanya sendiri.
"Tidak? Lalu?" dia berusaha menghibur dirinya, walaupun itu terkesan seperti orang gila.
Ana melempar boneka itu menjauh darinya, "aishhh BRENGSEK KAU BUMI!" teriaknya. Kali ini, dia benar-benar merasa sudah gila. Dia bahkan sulit mengendalikan amarahnya, tak lama air matanya menetes lagi, wanita itu kembali menangis dengan terisak.
Dia menelungkupkan wajahnya di bawah bantal.
**AMERIKA**...
Keadaan Bella sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, karena Bumi dengan telaten merawat wanita itu dan menunggunya. Dia selalu memberikan dukungan agar wanita yang katanya mengandung anaknya itu kembali sehat. Dia belum memikirkan hal lain kali ini, untuk sekarang dia hanya akam fokus pada Bella dan kandungannya.
Setelah ucapannya pada Dongmin, dia berharap bahwa pria itu memberitahu Ana soal ini. Agar, dia tidak perlu menjelaskan pada wanita itu, dia tidak sanggup jika harus mengatakannya langsung. Dia tidak mungkin tega melihat wanita itu menangis dan kecewa secara langsung.
Tidak apa baginya jika Ana membencinya, atau bahkan ingin membunuhnya sekalipun. Dia menerima semua kebencian wanita itu. Akan tetapi jika Dongmin sudah mengatakannya, lalu kenapa Ana belum mengabarinya atau bahkan mengomel padanya?
Bumi menghela nafas panjang, dia sudah meminta asisten rumah tangga di rumah Bella untuk merapikan barang-barang wanita itu, karena minggu ini mereka akan segera pulang ke Korea. Menurutnya, Bella akan sangat aman di rumahnya.
Setidaknya, wanita itu bisa tinggal sampai anak mereka lahir, Bumi tidak yakin tentang menikahi Bella. Dulu, sebelum Ana datang mungkin iya. Tapi detelah cintanya pada Ana kian membesar dia tidak yakin atas hal itu.
Mungkin, nantinya dia hanya akan bersepakat dengan Bella untuk mengurus anak mereka bersama walau tidak dengan menikah, anak itu bisa berganti tempat tinggal sesuka hatinya.
Pria itu menatap photo profile Ana yang kini kosong, dia tidak tahu apakah wanita itu memang tidak memakainta atau memblokirnya? Bumi pun mencoba untuk mengirim pesan padanya.
^^^**Untuk : Ana**^^^
^^^**Kau dimana**?^^^
__ADS_1
Ssayang sekali, tidak ada tanda terkirim dari pesan itu. Rupanya, Ana sudah memblokir kontak Bumi. Pria itu agak terkejut, matanya pun membelalak, tapi dia tidak bisa protes. Dia tidak berhak untuk itu.
"Aku pergi ke hotel dulu, aku harus segera merapikan barang-barang. Kita akan segera pulang minggu ini," ujar pria itu pada Bella yang kini sedang menatap ponselnya sendiri.
Bella mengangguk lalu tersenyum, rupanya wanita itu sedang bertukar pesan dengan ibunya.
**Dari : Ibu**
**Ana sudah tahu kehamilanmu**...
^^^**Dari : Bella**^^^
^^^**Apa? Ibu memberitahunya sekarang**?^^^
**Dari : Ibu**
**Tidak! Ibu tidak mengerti darimana dia tahu soal ini**..
^^^**Dari : Bella**^^^
^^^**jalanku dan Bumi akan semakin baik**.^^^
**Dari : Ibu**
**Aishh! Ini semua karenamu yang bodoh**!
**kenapa tidak sejak awal kau menerima lamaran pria itu**.
^^^**Dari : Bella**^^^
^^^**Ah sudahlah bu! Jangan bahas itu**,^^^
^^^**yang penting sekarang hubunganku dan Bumi sudah membaik**,^^^
^^^**berkat bayi ini**.^^^
__ADS_1
Setelah Bumi keluar dari ruangan, wanita itu bergumam. Dia mengeluhkan sikap ibunya.
"Ish padahal itu semua idenya!" gumam Bella sambil menaruh ponselnya kembali.
Dia kemudian menatap perutnya yang membusung, "anak ibu, terimakasih ya karenamu ibu dan appa jadi lebih dekat!" Bella menyeringai bahagia.
Wanita itu sudah merasa jauh lebih baik, dia tidak merasa lemas lagi setelah menjalani perawatan di rumah sakit itu. Dia sudah tidak sabar untuk pulang ke Korea.
\*
\*
Disisi lain, Dongmin baru saja samapi kerumah Bumi, pria itu disambuk dengan tatapan terkejut bibinya yang melihat pakaian pria itu basah kuyup.
"Nak, kenapa bajumu basah begini?" Tanya Ibu Bumi.
"Cepat ganti dulu!" serunya pada Dongmin.
Tanpa berkomentar apapun, Dongmin langsung berjalan ke arah kamarnya. Dia masuk ke kamar mandi dan langsung mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang menetes dari shower.
Dia merasa hangat, setelah apa yang dia ucapkan pada Ana. Rasa sesal dan sedih kini bercampur jadi kecewa, dia kecewa pada dirinya sendiri. Kenapa dia tidak memberitahu wanita itu sejak dulu.
*Mungkin Ana tidak akan sesakit ini* ... Batinnya menggema.
Dia menghabiskan waktu sekitar 30 menit di bawah guyuran shower itu. Dia merasa tenang saat air hangat itu mengalir ke seluruh tubuhnya.
Sedangkan di satu sisi, Ana masih menelungkupkan kepalanya ke bawah bantal, wanita itu menangis sampai jatuh terlelap ke dalam mimpi. Dia berharap, yang semua dia alami hari itu hanyalah mimpi belaka.
Mimpi yang tidak ingin ia jadikan kenyataan. ~~
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...