MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 65 : Black card.


__ADS_3

Dongmin memberi salam pada kedua orang tua Ana, dia menunduk sambil tersenyum. Ibunya, hanya menatap Ana dengan sinis.


"Benar pak, aku yang waktu itu ada dipesta juga." Dongmin tersenyum.


"Wah, senang bertemu denganmu lagi." Kata ayah Ana sambil tersenyum dan menjabat tangan Dongmin.


Ana mendekat ke arah ayahnya lalu memeluk pinggang pria itu,


"Aku merindukan ayah." Kata Ana sambil tersenyum.


"Ayah juga sangat merindukanmu." Balas ayahnya sambil mendekap anak itu.


Dongmin tersenyum melihat keakraban mereka, lalu dia berpamitan pulang. Pria itu memberi salam perpisahan pada kedua orang tua Ana.


"Aku pamit pulang dulu," Dongmin tersenyum.


"Kau tidak mampir dulu?" Tanya Ibu Ana.


Dongmin menggeleng pelan, "Tidak Bu terimakasih" Katanya sambil tersenyum.


"Dongmin!!!" Ana menghentikan Dongmin pulang, dia mengeluarkan buku sketsa nya.


"Ya?" Dongmin mengangkat kedua alisnya.


"Aku titip ini untuk Minhyun," Ana menyodorkan buku yang berisikan sketsa gambar-gambarnya.


"Baiklah, aku akan memberikan ini padanya." Dongmin meraih buku itu lalu tersenyum.


"Terimakasih, hati-hati dijalan." Kata Ana pada Dongmin.


Dongmin segera masuk ke dalam lift lalu turun ke bawah, sedangkan Ana dan kedua orang tuanya masuk kedalam rumah.


Ibunya melihat ke sekeliling apartemen Ana yang rapih itu, namun ada saja yang dikomentari oleh ibunya. Dari debu yang menempel di foto bahkan posisi vas bunga yang tidak pas. Membuat Ana mendengus kesal, wanita itu malas sekali melihat ibunya disini. Tapi mau bagaimana lagi, dia tetaplah ibu kandungnya.


Ayahnya tersenyum ke arah Ana sambil mengusap punggung anak itu, seolah menagatakan 'tidak perlu dipikirkan, ibumu memang seperti itu' . Itulah yang terlihat dari sorot mata ayahnya.


Ana dan ayahnya duduk di sofa sedangkan ibunya masih mengelilingi apartemen itu dan memperhatikan setiap detailnya.

__ADS_1


"Rumah ini seperti kapal pecah! Berbanding jauh saat ditinggali Bella." Kata Ibunya mencibir.


Ana memutar bola matanya, dia bersandar dan mendengus kesal. Lagi-lagi dia menatap ayahnya yang membuat emosinya mereda.


"Sabar, ibumu memang cerewet."


Bukan, bukan cerewet yang Ana maksud. Tapi kritikan yang membandingkan dirinya dan Bella lah yang membuat dia marah. Sampai kapan ibunya terus membandingkan keduanya? Padahal setiap anak sudah pasti punya kebiasaan dan kepribadian yang berbeda, bahkan pada anak kembar sekalipun!


Ana menghela nafas panjang, dia menyesal sudah pulang kerumah. Jika tahu begini dia mungkin akan menginap di hotel saja. Terlebih, black card Bumi masih ada padanya.


Ana berjalan ke dapur, lalu menyiapkan air minum untuk ayah dan ibunya. Tanpa suara sedikitpun Ana memesan makanan via online. Dia memesan ayam madu dan beberapa makanan lain.


Sedangkan, untuk kimchi dia selalu menyetoknya di kulkas. Ana kembali dengan membawa nampan berisikan 3 gelas air mineral juga soju dan gelas kecil lainnya.


Seharusnya Ana sudah lulus kuliah tahun ini, tapi sangat disayangkan waktu itu saat usianya 17 tahun dia harus menunda kuliahnya karena Bella.


Bella yang tinggal di Amerika membuat pengeluaran kedua orang tuanya membengkak, Ibunya memaksa Ana untuk mengalah. Waktu itu Bella sedang ikut S2 disana dan biaya nya cukup mahal.


Sebentar lagi, Usia Ana akan menginjak 22 tahun. Sebenarnya dia sangat malu karena teman-teman di kampusnya jauh lebih muda dibanding dia. Kecuali Yuri, Yuri berusia sama dengannya, karena wanita itu juga baru bisa melanjutkan kuliah setelah berhasil menabung untuk masuk ke Hankuk.


Ana duduk bersandar lagi, jika suasananya seperti ini dia jadi ingat pada Bumi. Dia merindukan pria itu, berapa lama pria itu ada di pesawat? Kapan dia akan mengabarinya? Itulah yang ada dipikiran Ana saat ini.


"Boleh nak," Ayahnya tersenyum, Ana pun menuangkan soju ke gelas kecil didepannya. Mereka saling mendentingkan gelas satu sama lain, lalu menenggak sojunya.


Ibu Ana sedang memerhatikan kamar anaknya itu, dia memutar tubuhnya melihat setiap sisi ruangan.


"Lumayan juga." Dia melihat setiap barang yang tertata rapih dikamar anak itu. Ibunya mendekat ke arah meja kecil disamping tempat tidur Ana.


Ibunya membuka laci itu, dia membelalak saat melihat black card Bumi ada disana.


"Ck.. Pria itu sampai memberikan unlimited card nya pada Ana? Tapi itu bagus, aku bisa memakainya." Ujar Ibu Ana sambil menyeringai jahat, lalu memasukan kartu itu ke tasnya.


Ana yang mendengar suara bel dipintu langsung bergegas kesana, dia membuka pintu dan melihat petugas pengantar makanan didepannya. Ana meraih makanan yang sudah datang itu lalu mengucapkan terimakasih.


Dengan sumringah, Ana membawa makanan itu ke ayahnya yang masih duduk di sofa. Tidak lama, ibunya datang dengan gelagat yang mencurigakan, bagaimana tidak, dia sudah mencuri blak card milik Bumi dari laci Ana.


"Kau tidak menawariku makan?" Tanya Ibunya sinis pada Ana.

__ADS_1


"Mari bu kita makan, aku sudah memesan ayam madu." Ana menyeringai pada ibunya, sedangkan ibunya menatapnya sinis sambil berjalan ke sofa didepan Ana dan ayahnya.


Ana membuka bungkusan ayam itu, "Wahh mari makan!!" Ana tersenyum lalu mengambil satu paha ayam yang wanginya menggugah selera.


"Mari makan.." Kata Ayahnya.


Ibu Ana hanya menatap anak itu dengan perasaan malas, entah alasan apa yang membuatnya seperti itu. Tapi itu tentu sangat membuat Ana sakit hati, selama ini dia tidak pernah melakukan kesalahan.


Kecuali, kepergiannya dari rumah kemarin. Itupun dikarenakan Ibunya yang melarang anak itu kuliah di Hankuk. Padahal ayahnya sudah setuju, sebenarnya Ana pergi atas persetujuan ayahnya.


"Ayah, ayah mau nonton film setelah ini?" Ana menatap ayahnya sambil menunggu jawaban.


"Tentu sajaaaa." Ayahnya berlagak seperti penyanyi opera yang membuat Ana tertawa terbahak.


"Ish kalian sungguh bising, aku sudah selesai makan. Aku akan tidur dikamar." Ibunya meminum air mineral, setelah itu dia pergi ke kamar Ana lagi, lalu menelepon Bella.


Ibunya menunggu anak kesayangannya itu menjawab panggilannya, tak lama panggilannya pun tersambung.


"Halo bu." Sapa Bella dengan suara yang terdengar semangat.


"Halo sayang, ada apa nak? Kau terdengar senang sekali." Ibunya tertawa kecil mendengar Bella sumringah.


"Ibu tahu, Bumi sedang dalam perjalanan kesiniiiiiiii." Dengan semangat Bella memberitahu ibunya.


"Benarkah? Bukannya dia ada di Korea?" Ibu Ana mengernyitkan dahi.


"Aku memintanya kesini dan sekarang dia sedang dalam perjalanan. Oh iya bu, sebenarnya aku mengalami pendarahan ringan tadi. Tapi sekarang, aku sudah baik-baik saja." Ucap Bella.


"Pendarahan??? Bagaimana keadaanmu sekarang?" Ibunya terdengar cemas.


"Aku sudah baik-baik saja bu," Kata Bella.


Setelah mengobrol cukup lama, mereka menyudahi panggilannya. Ibunya pun mengganti pakaian tidur lalu kembali ke ranjang Ana.


Dia merebahkan tubuhnya di kasur Ana, memikirkan keadaan Bella. Pintu kamar pun terbuka lebar. Dilihatnya Ana menghampiri nya kedekat ranjang, rupanya Ana hanya ingin mengambil satu bantal dan selimut. Dia akan tidur di sofa bersama ayahnya malam ini.


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2