MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 82 : Putus.


__ADS_3

Selamat membaca ya.^^


Saya tahu kalian gedek ya, sama hubungan Ana-Bumi? Udah mah lagi LDR. Duh makin rumit aja hubungan mereka


Tapi, gimana ya jadinya Bumi setelah ketahuan ibunya kalau bakal jadi seorang ayah? Yuk selamat membaca!


~


...AMERIKA, JAM 08 PAGI....



Matahari cerah menyinari jendela mobilnya, sesekali pria itu menoleh keluar jendela untuk melihat hiruk piruk kota New York. Bumi menghela nafas panjang, dia juga tidak bisa menyalahkan Anastasia mengenai kedekatannya dengan Dongmin.


Lagipula, dia merasa lebih buruk sekarang. Dia sadar dia sangat egois dengan tidak memberitahu yang sebenarnya pada Ana. Hanya karena dia takut kehilangan wanita itu, dia jadi tega menyakitinya secara perlahan dengan kebohongannya. Apalagi, soal kepergiannya ini.


Bumi mengetuk-ngetukan jarinya di stir mobil. Pengarnya perlahan mulai menghilang. Dia berencana untuk menjauh dari Anastasia untuk sementara waktu. Mungkin itu yang terbaik, pikirnya.


Tapi, dia belum ada keberanian untuk menyampaikan semuanya pada Ana. Entah apa yang ada dipikirannya, Bumi ingin membiarkan Ana sendiri untuk sementara waktu.


Sesampainya di hotel, dia mulai mengemas pakaiannya dan akan check out sekitar jam 6 sore nanti. Dia harus ke Inggris hari itu juga, karena pameran dilaksanakan sebentar lagi.


Hubungan mereka sangat rumit, sangat sulit untuk berhasil menjalaninya tanpa masalah. Tapi, Bumi juga tidak ingin jika dia mengakhiri hubungannya dengan wanita itu.


Dia sangat mencintai Ana, setelah bertahun-tahun diabaikan Bella, akhirnya dia menemukan seseorang yang mencintainya dengan tulus, lagi. Bumi memarkirkan mobilnya di basemen.


Dia masuk ke hotel, lalu berjalan ke lift. Dia menscan kartu hotelnya kemudian, pintu pun terbuka kuncinya.


Dia melangkahkan kaki masuk, dia juga agak menyesal karena sudah semarah itu pada Bella. Rasanya, dia sangat gelisah sekarang. Emosinya yang tidak stabil membuatnya cepat marah. Bumi menjatuhkan tubuhnya ke sofa, dia melihat ponselnya yang layarnya sudah retak. Kali itu dia mencoba menelepon Ana.


Bumi menghela nafas panjang sambil menunggu Ana menjawab panggilannya, tak lama panggilannya pun tersambung.


"Halo," Suara wanita itu membuat hatinya terenyah. Entahlah, tapi amarah yang tadinya berkobar kini mulai padam.


"Halo.." Suara berat Bumi terdengar, perasaan bersalah pada wanita itu kian membesar.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?" Ana lebih memilih menanyakan kabar pria itu dibanding menginterogasinya soal masalah tadi pagi.


"Aku, merindukanmu." Bumi mendengus pelan, rasanya dia ingin pulang saja dan menemui Ana. Mungkin niatnya untuk menjauhi wanita itu juga akan dia urungkan.


"Aku juga merindukanmu, yang aku ingin pastikan, semoga kau disana tidak melakukan hal yang macam-macam." Ana bersuara lirih, dia pun sama rindunya dengan pria itu.


"Aku tidak akan," Kata Bumi.


"Bagus, minumlah obat pengar jika kepalamu sakit!" Ana berucap sambil duduk ditempat tidurnya. Dongmin yang saat itu ada diruang tv sedang mengobrol bersama sang ayah.


Bumi tertegun, pria itu kini menatap langit-langit apartemen yang bercat putih itu dengan datar. Senyuman tak lagi terukir diwajahnya. Wanita yang kini berbicara dengannya ternyata sudah tahu soal dirinya yang mabuk berat semalam.


Tapi bagaimana bisa dia setenang itu? Dia bahkan tidak melengkinkan suaranya saat berbicara dengannya. Kini, rasa penyesalan semakin mendalam. Bersamaan dengan rasa cinta yang kian tumbuh merekah.


"Kau tahu?" Bumi bertanya lirih sambil menutup matanya.


"Semalam seseorang meneleponku dengan ponselmu," Ucapan Anastasia membuat jantungnya berdegup kencang. Dia khawatir, jika yang menelepon Ana adalah Bella. Tapi pria itu tidak langsung gamblang menebak nama seseorang, apalagi sampai menyebutkan nama Bella.


"Maafkan aku," Bumi terdiam setelah mengucapkan kata maaf pada wanita itu. Didengarnya suara Ana yang kini tertawa kecil.


Bumi kian merasa bersalah, Anastasia cukup dewasa untuk wanita seusianya. Dia malah berbanding terbalik dengan kakaknya Bella. Mungkin, itu disebabkan luka masa kecilnya.


Bumi jadi tidak tega, kini Bumi merasa Ana jauh lebih baik bersama Dongmin saja daripada dirinya.


"Mari kita sudahi hubungan ini," dengan berat hati Bumi mengatakannya. Bahkan matanya terlihat memerah seperti menahan air mata.


"Sudahi?" Ana mengernyitkan dahi dia bingung kenapa pria itu tiba-tiba berkata seperti itu.


"Ya, Kau terlalu baik bagiku." Kata Bumi sambil memejamkan matanya, rasanya sakit sekali baginya.


"Bum! Ada apa denganmu? Apa kau sudah memiliki wanita lain? Aku berusaha untuk mengertimu, tapi kenapa kau seenaknya begini?" Ana mulai meninggikan nada suaranya, dia terdengar menangis.


"Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku.." Kata Bumi pelan.


"Omong kosong macam apa itu Bum?" Bumi mendengar Ana yang terisak. Dia tidak kuasa lagi, menahan kesedihannya juga.

__ADS_1


Pria itu langsung memutus panggilan telepon mereka, dia yakin kalau disana ada Dongmin. Pria itu pasti akan berusaha menenangkan Ana. Bumi menutup matanya dengan lengannya, matanya terasa perih.


*


*


BUSAN , JAM 06.00 SORE.


Ana tidak menyangka pria itu akan menutup panggilannya begitu saja, rasa sesak didadanya membuat dia kesulitan bernafas. Apalagi, ditambah isak tangisnya. Ana bersimpuh dilantai sambil membenamkan wajahnya di ranjang.


Dia menangis sejadinya disana, Dongmin yang sedang mengobrol dengan ayah Ana merasa bingung karena wanita itu belum kunjung turun lagi ke bawah.


Ayah Ana yang sadar Dongmin khawatir dan menunggu Ana lalu berdiri untuk memeriksa Ana didalam kamarnya.


Ayah Ana berjalan menaiki tangga kayu berwarna coklat itu, dengan kilauan khas kayu berkualitas, pijakannya satu demi saty bertambah sampai ke lantai atas.


Dilihatnya, kamar yang di isi oleh putrinya itu tertutup pintunya. Dia perlahan mengetuk pintu kamar Ana.


"Nak, Dongmin menunggumu." Kata Ayahnya sambil mencoba untuk mendengar sesuatu dari balik pintu.


Terdengarlah, isak tangis anak itu. Ayahnya pun mencoba membuka pintu kamar. Dia melihat Ana menelungkupkan wajahnya di tempat tidur dengan lutut bersimpuh dilantai.


"Nak, ada apa?" ayahnya langsung berjalan cepat kearah putrinya itu. Dia merasa khawatir dan takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.


"Ayah, aku tidak tahu cinta akan sesakit ini." Ana menepuk dadanya berkali-kali. Wanita itu menatap ayahnya dengan tangisan berderai mengalir ke pipi.


Ibu Ana yang tidak sengaja lewat di depan kamar menguping pembicaraan mereka. Senyumnya tersungging dipipi yang sudah muncul kerutan halus itu.


Dia kira, Ana dan Bumi putus karena foto yang dia kirimkan padanya. Ibu Ana pun melengos turun kebawah dengan senyum di pipinya. Dongmin merasa aneh melihat Ibu Ana bersikap seperti itu.


Dia juga berpikir kenapa Ana dan ayahnya belum juga turun ke bawah, dia penasaran dan ingin sekali memeriksanya langsung. Tapi, dia tahu itu akan sangat tidak sopan.


Jadi dia tetap duduk disana menunggu sampai Ana turun.


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2