
Happy reading~~
......................
Busan, Jam 10.00 Malam,
Ana dan ayahnya kembali ke rumah nenek, mereka Langsung masuk dan duduk di ruang tv. Sedangkan Ibu Ana sedang berada di kamar tidur. Tak disangka ponsel Ana kemudian berdering cukup keras.
Ibu Ana menoleh ke arah ponsel itu, dia meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar ponsel di sana bertuliskan 'Bum' . Ibu Ana menghela nafas panjang, seketika dia berpikir untuk mengangkat telepon itu saja.
Akhirnya tanpa memberitahu Ana, dia mengangkat panggilan itu atas inisiatif sendiri. Suara bumi pun terdengar dari ponsel itu.
"Halo Sayaang," Kata Bumi dengan girang.
"Maaf, ini ibunya Ana, Ana sedang pergi keluar tapi ibu tidak tahu dia pergi ke mana." katanya sambil berbaring di tempat tidur.
"Ah, maafkan aku bu, baiklah bu, aku akan menelpon lagi nanti jika Ana sudah pulang." Bumi pun menutup panggilan itu, tak lama setelah panggilan itu Ana masuk ke kamar.
Dia membuka pintu lalu berjalan ke arah tempat tidur, di mana ponselnya sudah tergeletak lagi di sana. Tanpa menyapa ibunya, Ana langsung meraih ponselnya dan turun ke bawah untuk menemui ayahnya di ruang tv.
Ana masih merasa kesal dengan sikap ibunya, untuk saat ini dia tidak ingin berbicara apapun pada ibunya. Jadi, dia memutuskan untuk tidur di sofa yang ada di ruang tv bersama ayahnya.
Ana kembali ke ruang tv sambil membawa ponselnya, dia duduk di samping ayahnya. Ayahnya tersenyum saat melihat Ana duduk di sofa. Ana dengan serius mulai membuka ponselnya, dilihatnya belum ada kabar apapun dari Bumi. Bahkan, history panggilannya pun tidak ada, jadi dia tidak akan tahu bahwa tadi bumi sempat menelponnya.
Itu sudah pasti ulah Ibunya, Ibu Ana menghapus panggilan dari bumi agar Ana tidak tahu bahwa kekasihnya itu menghubunginya. Ana mencoba mengabari Bumi dengan mengirimkan pesan pada pria itu. Tapi, dia baru menyadari bahwa ada pesan baru yang belum dia baca dari Bumi.
Dilihatnya pesan itu bertuliskan bahwa bumi sedang tidak ingin diganggu, Ana mengernyitkan dahi,
Apa dia sedang sibuk? padahal aku sangat merindukannya..
__ADS_1
Ana membatin, dia merasa sedih karena sebenarnya, dia ingin sekali menceritakan apa yang terjadi tadi pada Bumi. Tapi melihat pesan pria itu, dia jadi merasa sedikit kecewa. Dia tahu, pria itu mungkin sedang sibuk. Tapi, apakah tidak ada waktu untuknya walau hanya beberapa menit saja?
Ana meletakkan kembali ponselnya di meja kecil di samping sofa, terlihat ekspresi wajahnya sekarang mengerut seperti orang yang merasa sedih dan kecewa.
Ayahnya menoleh ke arah wanita itu lalu bertanya, "ada apa nak?"
Ana pun melihat ke arah ayahnya dan menatapnya agak lama.
"Tidak apa-apa ayah, aku baik-baik saja." Katanya agak lirih.
Ayahnya pun mengelus pangkal rambut Ana dengan lembut, sambil berkata, "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena kau adalah Putri ayah yang paling baik. Ayah sangat menyayangimu, maafkan ayah karena selama ini Ayah belum bisa menjagamu dengan baik."
Ana menyeringai ke arah ayahnya, lalu dia memeluk tubuh itu dan menyandarkan kepalanya di dada bidangnya yang sudah hampir paruh baya itu.
"Terima Kasih Ayah, terima kasih atas segala dukunganmu padaku Aku sangat menyayangimu." Kata Ana sambil tersenyum.
*
*
Bumi berjalan ke arah dapur sambil memegang gelas kosong, dia berdiri di samping dispenser air sambil menunggu airnya terisi penuh.
Dia sudah kembali ke hotelnya, setelah selesai mengantar Bella berbelanja dan mengantar wanita itu pulang ke apartemennya, Dia menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk memilih dan berbelanja perlengkapan bayinya.
Dia bahkan berusaha keras untuk menghindar dari bella, karena jika tidak seperti itu, mungkin Bella akan selalu menahannya untuk tidak pergi dari apartemennya. Wanita itu sudah pasti akan merengek lagi dan lagi untuk tidak ditinggalkan sendiri oleh Bumi. Untunglah, bumi punya seribu alasan untuk menjauh dulu dari wanita itu.
Sesampainya di rumah, Bumi langsung menyambungkan aplikasi perpesanan dari laptop ke ponselnya. Dia melihat pesan yang Ana kirim padanya, pesan itu berisikan tentang kepergiannya ke Busan.
Sebenarnya dia juga sudah mendapat laporan dari Johan, bahwa pria itu sudah mengantar keluarga anak ke Busan. Maka dari itu, tadi Bumi langsung menelpon Ana untuk memberinya kabar.
__ADS_1
Dia merasa sangat merindukan Ana, belum lagi tindakannya di Amerika yang membuat nya merasa bersalah pada wanita itu. dia merasa sudah mengkhianati Ana. Sekalipun, dia tidak ada niat seperti itu, tapi tetap saja.
Bumi pun menenggak air minum yang tadi dia isi, dia Menatap layar ponselnya tapi belum ada kabar apapun dari wanita itu. Dilihatnya juga waktu di Busan sudah menunjukan jam 10 malam,
ke mana Kamu Ana? bukannya di sana sudah larut malam ?
Bumi membatin, dia merasa khawatir setelah mengetahui Ana pergi keluar, sedangkan waktu di Busan sudah menunjukan jam malam.
Pria itu akan memcoba menghilangkan rasa khawatirnya dengan bekerja. Setelah selesai minum, Bumi menaruh gelasnya di wastafel. Dia berjalan ke arah ruang tamu lalu mulai membuka beberapa dokumen pekerjaannya sambil menunggu Ana memberi kabar.
Dia memeriksa segala dokumen yang dia butuhkan untuk pameran nanti. Sedangkan produk KIK otomotif yang akan ditampilkan di beberapa pameran sedang dalam perjalanan. Bumi sudah menyewa personal asisten untuknya di Inggris nanti, dia memang membutuhkan seorang asisten karena dia harus terfokus pada hal yang lebih penting, yaitu perkembangan perusahaannya.
Bumi dengan serius membuka satu persatu materi yang akan dia sampaikan saat pameran nanti, dia harus bisa mengambil hati konsumen mancanegara agar produkmya laku kerasa disana.
Beberapa jam dia menunggu Ana, tapi wanita itu belum terdengar kabarnya. Dia bahkan merasa hampa karena belum mendengar suara wanita itu,padahal dia sangat ingin melihat wajah cantik kekasihnya, dan juga senyuman manisnya.
Dia sangat merindukannya, bahkan dia jadi tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Dia merasa berat menjalani hubungan jarak jauh seperti itu.
Bumi pun memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya dan beristirahat sejenak. Tapi satu yang mengganggu pikirannya, yaitu kemana sebenarnya Ana pergi? dan bersama siapa? Kenapa dia tidak membawa ponselnya? Bumi pun jadi dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tidak jelas dikepalanya.
Lalu, ponselnya pun berdering. Dilihatnya, nama Bella yang tertera disana. Bumi mendengus lalu melempar ponselnya ke sofa. Bukan wanita itu yang dia harapkan kabarnya, tapi Ana.
Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi keluar sebentar, mencari makanan atau apapun yang bisa membuatnya sedikit tenang dan tidak bosan.
Hari sudah menjelang sore, Bumi sekarang menggunakan mobil sewaan tanpa supir. Dia berkendara disekitar daerah sana dan mencari pemandangan indah.
Dia harus menenangkan pikirannya dulu.
...****************...
__ADS_1
...****************...