
...INGGRIS...
Bumi mengehela nafas panjang, setelah menelepon Ana dan mengobrol dengannya walau singkat. Rasa rindunya sedikit terbayar, dia merasa bahagia setelah bersama wanita itu. Hari-harinya tanpa Ana rasanya terasa hambar. Bahkan bersama Bella, dia jarang merasa sebahagia itu.
Yang mengejutkan, nyatanya hari sudah larut malam di negara itu. Dia bahkan belum bisa memejamkan matanya, dia masih teringat dengan obrolan singkat tadi.
Walau dia merasa bahagia, tapi tetap saja dia agak sedikit kecewa karena merasa terabaikan. Pria itu berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur.
Batinnya menggema, Apakah dia sudah melupakanku? ...
Sesuatu hal yang dia buat sendiri kini yang paling dia sesali, saat itu emosinya memang tidak stabil. Sehingga dengan mudah melontarkan kata putus pada Ana.
Bumi merebahkan tubuhnya dikasur, beberapa kali dia mendengus pelan sambil melihat langit-langit kamar. Tapi tak lama, pria itu pun terjatuh ke dalam larutan mimpi.
*
*
Semua orang di ruang praktik kini sudah berhamburan pergi, ini waktunya pulang kerumah. Somi dan Lee Ze mendahului Anastasia. Sedangkan wanita itu, masih saja berkitat dengan sketsa patung yang harus dia sempurnakan.
"Apa kau akan terus disini?" Pria berambut cokelat itu bertanya datar pada gadis yang duduk di depannya.
Dia menoleh, "Ah maafkan aku, kau boleh pulang lebih dulu. Aku harus menyelesaikan ini," dia tersenyum lalu kembali fokus pada sketsanya.
"Kau serius?" pria tadi meyakinkan wanita itu.
__ADS_1
"Tentu," sebenarnya dia tidak pernah main-main dengan ucapannya, apa yang dia lontarkan sudah pasti telah di proses oleh pikirannya.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang lebih dulu, maaf tidak bisa menemanimu." Minhyun mengerutkan dahinya, dia merasa tidak enak karena harus meninggalkan wanita itu sendiri.
"Tidak apa-apa," Ana kini memerhatikan Minhyun yang akan segera keluar dari ruangan itu, dia melihat pria itu berjalan sampai batang hidungnya tidak terlihat lagi.
Sebenarnya, dia bisa saja melanjutkannya di rumah. Tapi, seringkali pikirannya tidak fokus saat di sana. Wanita itu mendapat tempat yang menyorot langsung ke arah jendela. Jadi, dia sesekali selalu melirik kesana.
*
*
Minhyun yang berjalan keluar dari kampus tidak sengaja berpapasan dengan kakaknya, Dongmin. Ibarat pucuk di cinta ulat pun tiba, begitulah pria itu. Dia menanyakan dimana keberadaan Ana.
"Dia masih di ruang praktik, memintaku pulang lebih dulu." jawab Minhyun.
Dongmin menepuk pundak adiknya sambil berjalan melewati pria itu, Minhyun yakin dia akan menemui Ana. Dongmin pun berjalan masuk ke ruangan praktik yang ada di lantai 2, di sana dia melihat Ana yang sedang fokus dengan buku gambarnya.
Pria itu pun langsung menemui Ana dan mendekat padanya, Ana yang sedang fokus bergulat dengan sketsa jadi tidak menyadari keberadaan Dongmin yang kini sudah ada di depannya.
"Apa aku mengganggumu?" Itulah yang ditanyakan oleh pria itu.
Ana yang membelalak mendengar suara Dongmin pun langsung menatap pria itu. Dia menggeleng "tidak! Tidak sama sekali " katanya sambil menyeringai ke arah Dongmin.
Pria itu pun langsung duduk di depan kursi yang tersedia di sana, Dongmin memerhatikan Ana dengan seksama. Melihat pria itu menatapnya Ana pun jadi merasa canggung san grogi.
__ADS_1
Kemudian, Dongmin bersandar dikursi yang dia duduki dan menemani Ana disana. Tidak lama ponsel wanita itu pun berdering lagi, rupanya panggilan itu dari Avaneesh Bumi. Ternyata pria itu tidak bisa tidur walau dia sudah mencobanya.
Itu semua karena pikirannya sedang membayangkan Ana, jadi dia mencoba untuk meneleponnya kembali. Ana yang melihat layar ponselnya langsung tertegun membaca nama yang muncul di layar itu. Sebenarnya, dia agak ragu untuk menjawab panggilannya, jadi dia memutuskan untuk mengabaikan panggilan itu.
Sudah cukup, karena dia harus fokus pada proyeknya kali ini. Dia tidak ingin merasa galau dan gundah karena cinta dulu untuk sementara waktu. Dia tidak mau ambil pusing dengan apapun yang Bumi lakukan di sana. Tapi, dia selalu berdoa agar pria itu selalu dalam kondisi yang baik-baik saja.
Panggilan yang tidak Ana jawab itu pun membuat Dongmin penasaram akan seseorang yang meneleponnya. Dia pun bertanya, "dari siapa itu?" katanya penasaran.
Ana Langsung menoleh ke arahnya dan tersenyum tipis, "bukan siapa-siapa!" katanya singkat.
"Aku ingin menemanimu di sini sampai kau selesai!" ujar Dongmiin yang masih memerhatikan Ana yang masih bergelut dengan buku gambarnya.
Dia menyeringai tanpa menoleh ke arah dongmin, "Sebenarnya aku tidak ingin merepotkan siapapun, tapi jika kau sendiri yang menginginkannya... Aku tidak bisa menolak!" Seru wanita itu.
Dia merasa tidak enak kalau harus menolak pria itu lagi dan lagi, sudah cukup dia merasa canggung di depan Dongmin. Padahal mereka seharusnya masih bisa berteman seperti biasa dan sebelumnya.
Tapi, karena Bumi dia jadi menghindar dari sahabatnya itu. Setidaknya dia harus menghargai Dongmin sebagai sahabatnya, tidak lebih dari itu.
Dia tidak perlu lagi merasa canggung, karena itu semua hanya akan menyakiti Dongmin. Ana tidak ingin pria itu merasa kecewa berulang kali karenanya.
Di sisi lain Bumi masih belum bisa tertidur lelap, itu semua karena dia memikirkan Ana. Pemuda itu menatap datar langit-langit kamar, dia sudah mencoba untuk memejamkan matanya dan tertidur tadi. Tapi dia kembali mengerjap dan malah tidak bisa tidur lagi sekarang.
...****************...
...****************...
__ADS_1