MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 85 : Kado spesial


__ADS_3

Malam itu bulan bersinar terang, Dongmin segera bergegas keluar dari rumah dan mengendarai mobilnya untuk menjemput Anastasia. Sedangkan, di rumah Ana ke-3 sahabatnya masih berbincang bersama. Rupanya mereka akan menginap di apartemen wanita itu malam ini.


Anastasia sudah memakai gaun yang diberikan Dongmin tadi, wanita itu kini benar-benar sedang berdandan dan juga memakai aksesoris yang serasi dengan gaunnya. Malam ini pasti akan terasa sepi baginya, Walaupun dia di sekeliling orang yang menyayanginya, tapi jika satu orang yang dia harapkan tidak ada, rasanya pasti tetap sepi.


Anastasia berjalan dan duduk di tengah teman-temannya yang sedang memakan cemilan, " Wah kau cantik sekali baby, pantas saja jadi rebutan tiga orang sekaligus hahaha" ujar Somi bercanda.


Ana menghela nafas panjang, hatinya tetap tidak bisa dibohongi, dia masih merasa gelisah, karena bumi sama sekali tidak mengucap kan selamat ulang tahun padanya. Padahal hanya orang itulah yang paling dia harapkan untuk saat ini.


Ting tong


Suara bel terdengar lagi, kali ini Ana merasa malas untuk membukakan pintu. Bukan karena Dongmin yang akan datang tapi karena suasana hatinya saja yang sedang tidak baik.


Sekeras apa pun aku berlari dari kenyataan.


Sekeras apa pun aku berlari dari takdir.


Sekeras apa pun aku mencari jawaban dari semua pertanyaan, jawaban dari semua itu cuma ada satu yaitu kau, Bum.


Seketika Ana berubah menjadi wanita melankolis yang sedang patah hati, sejak tadi batinnya tidak berhenti menciptakan kata-kata yang indah juga menyayat hati.


Tatapannya yang sendu, bibirnya yang mengerucut, sangat menunjukkan mimik tidak bahagia. Lalu apa yang harus dia lakukan nantinya? Ini adalah Cinta Pertama baginya yang begitu menyakitkan.


Salah seorang dari mereka pun berjalan mendekat ke arah pintu, seperti biasa sebelum membuka pintu mereka mengecek dulu di layar bel pintar. Rupanya itu bukan Dongmin, tapi seorang pengantar paket lagi.


Akhirnya wanita itupun membukakam pintunya, "Nona Anastasia?" tanya pria itu.


Wanita tadi adalah Somi, dia pun menggeleng.


"Bukan, tunggu ya aku panggil kan orangnya." Somi melenggang masuk lagi ke dalam apartemen. Dia memanggil Ana yang sedang termenung duduk di tengah Lee Ze dan juga Yuri.

__ADS_1


"Ana Jung! Itu ada pengantar paket lagi, hmm sepertinya bingkisan lain sudah datang padamu." Somi menyeringai, dia ingin menggoda Ana, tapi wanita itu terlihat sangat menyedihkan jadi dia tidak tega.


Ana mendengus pelan, seharusnya dia merasa bersyukur karena banyak orang yang peduli padanya. Tapi, kenapa masih hampa saja rasanya.


Ana Berjalan dengan lemas dan menghadap ke pengantar paket itu, "ya saya Ana," jawabnya singkat.


"Ini ada kiriman paket dari Tuan Avaneesh Bumi," Seketika mata Ana membelalak dan berbinar. Ada rasa senang dan menggebu yang tidak dapat dia ungkapkan. Dia benar-benar merasakan jantungnya berdegup kencang.


"Avaneesh Bumi?" dia memastikan lagi bahwa nama itu yang disebut oleh pria tadi.


"Ya, di sini tertuliskan Avaneesh Bumi Kim." Kata pria itu, Ana pun langsung meraih kado itu dengan sangat gembira lalu membawanya masuk ke tengah teman-temannya.


Sayangnya dia lupa berterima kasih pada pengantar paket itu, jadi dia kembali lagi dengan berlari ke arah pintu. Dia melongok pria itu yang baru saja berjalan pergi.


"Terima kasih banyaaaaak!" Katanya agak berteriak, pria itu berbalik badan lalu membungkuk.


Kemudian dia menutup pintu itu lagi dan kembali ke ruang tengah bersama sahabatnya. Mereka yang melihat tingkah aneh itu hanya bisa menggeleng dan juga kebingungan.


"Entahlah," jawab Yuri singkat sambil menggeleng.


Ana pun bersimpuh lagi didepan kado itu, dengan gaunnya yang membuatnya kesusahan Ana langsung menarik gaun itu sampai hampir ke pangkal pahanya dengan semangat.


"Hey! Kakimu!" Somi memperingati, Ana hanya menyeringai tidak peduli. Wajahnya benar-benar berbinar bagai mendapatkan lotre.


Tanpa aba-aba wanita itu langsung membuka kotak yang lebih besar dari sebelumnya, dia membukanya secara perlahan. Yang pertama kali dilihat wanita itu adalah sebuah kartu ucapan yang sangat manis.


Selamat ulang tahun, kasih! Meskipun hari ini aku tidak bisa mendampingimu, doaku selalu menyertaimu.Tak masalah ketika umurmu bertambah, sebab rasa sayangku pun juga pasti akan terus bertambah. Selamat ulang tahun, semoga segala hal baik datang padamu, seperti aku datang kepadamu.


Mata wanita itu seketika berkaca-kaca, Dia sangat terharu membaca kartu ucapan yang dikirim oleh Bumi itu. Dia tidak menyangka bahwa pria itu ternyata mengingat hari ulang tahunnya. Sekarang, dia menjadi sedih dan mengingat pria itu lagi, rasanya malah kegelisahannya semakin besar setelah membaca surat ucapan itu.

__ADS_1


Ketiga sahabatnya hanya menatap dia dengan datar mereka tidak tahu harus berekspresi bagaimana lagi, tapi melihat temannya mendapatkan kado dari orang yang dia harapkan membuat ketiga sahabatnya merasa senang dan juga tenang.


ting tong


Tak lama bel pun berbunyi lagi, Ana langsung berdiri dengan semangat. Dia pun menutup bingkisan yang belum selesai dia buka dan membawanya ke kamar. Dia akan membukanya esok nanti, yang pasti dia sudah membaca pesan itu dan dia merasa senang karenanya.


Ana keluar lagi dari kamarnya, "Teman-teman, aku pergi dulu ya!" dia berpamitan. Padahal wanita itu pun belum tahu siapa yang sebenarnya datang di depan pintunya. Tapi dugaannya benar, rupanya itu adalah Dongmin yang menjemputnya.


Dengan wajah yang sumringah, wanita itu menyapa Dongmin.


"Selamat malam," kata Ana, sebelumnya dia sudah menyeka air mata yang berlinang tadi di kamarnya. Dongmin pun menatap wajah Ana yang ceria, dia merasa senang karena wanita itu sudah terlihat baik-baik saja.


"Selamat malam, Kau sudah siap?" tanya Dongmin dengan sopan.


Ana mengangguk, "ya aku sudah sangat siap" katanya. Mereka berdua pun langsung pergi keluar dari apartemen itu dan berjalan masuk ke lift.


Di dalam lift Ana dan Dongmin hanya berdiam diri canggung, "kau sudah terlihat membaik" kata Dongmin.


Ana pun mengangguk pelan, "Maafkan Aku, sebelumnya aku telah mengabaikanmu."


Dongmin pun mengerti kenapa wanita itu bersikap seperti sebelumnya, ini pasti ada kaitannya dengan Bumi.


Apakah Ana sudah tahu tentang kehamilan itu?


Batin Dongmin, tapi pria itu tidak bisa langsung bertanya. Pemuda itu membukakan pintu untuk Ana, dia membiarkan wanita tmyang di kasihinya tadi masuk lebih dulu. Kemudian, dia masuk setelahnya, berkendara dengan kecepatan normal sambil menikmati waktunya dengan gadis pujaannya.


Dongmin sudah cukup sabar dalam menunggu wanita itu, dia belum tahu kapan kah hatinya akan berubah pada Ana, atau kah dia akan selamanya seperti itu? Mencintai wanita yang tidak mencintainya.


Padahal dia merasa bahwa dia bisa mencintai Ana jauh lebih baik dari pada Bumi.

__ADS_1


...****************...


...****************...


__ADS_2