
Bumi merasa sangat bosan saat berada didalam pesawat, dia tidak bisa melakukan apapun selain mencoba untuk tertidur. Pikirannya bercabang, bukan hanya pada Bayi itu, tapi juga pada Ana. Dia tidak bisa membayangkan , betapa sedih dan kecewanya wanita itu.
Dia merasa bersalah karena sempat melupakannya, padahal dia sudah berjanji akan mengajak wanita itu ke Pantai sore nanti. Bumi menyandarkan kepalanya dikursi First Class nya.
Pria itu mencoba untuk tidur tapi tetap tidak bisa , dia yakin akan mengalami jet lag sesampainya disana.
Ana yang masih berada dirumah Bumi waktu itu, sudah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Mungkin benar, Bumi tidak mengabarinya karena ponselnya tertinggal.
Mungkin juga ada sesuatu yang membuatnya terburu-buru seperti itu, pikir Ana. Sekarang, wanita itu sedang menemani ibu Bumi menyiram tanaman bunga yang ia rawat sendiri.
Wanita berambut oendek itu dengan cekatan menyiram satu persatu bunga-bunga yang dia tanam sendiri. Ana yang ada disampingnya hanya menonton nya sambil tersenyum.
"Kau mau mencobanya?" Ibu Bumi menyodorkan alat untuk.menyiram tanamannya itu.
"Tentu.." Ana tersenyum gembira, dia mulai menyirami bunganya satu persatu.
"Kau pintar sekali. Hahaha" Ibu Bumi memuji Ana dengan kedua tangan yang menepuk satu sama lain, mungkin terkesan berlebihan tapi menurutnya itu hal yang mengagumkan.
Mempunyai menantu yang menyukai bunga adalah keinginannya sejak dulu, memang nya wanita mana yang tidak suka bunga? Maksudnya, dia ingin mempunyai seseorang untuk diajaknya menanam bunga bersama. Selama ini dia adalah menantu satu-satunya keluarga itu. Apalagi anaknya Bumi juga laki-laki.
Jadi, tidak ada yang mewarisi bakatnya dalam merawat tumbuhan. Ana dengan tersenyum menyiraminya.
"Eh yang itu jangan kebanyakan." spontan ibu Bumi menghentikan Ana, saat dia mulai menyirami tanaman lidah mertua , tanaman itu memang tidak perlu disiram setiap hari.
Ana tersenyum menatap ibu Bumi, "Maafkan aku" Kata Ana.
"Ah tidak apa-apa, ibu hanya kaget hehe" Ibu Bumi merasa salah tingkah karena sudah bersikap seperti tadi. Padahal Ana merasa baik-baik saja.
'"Hehehe tidak apa-apa, aku tahu ibu khawatir." Ana tersenyum dengan manis.
Ibu Bumi sesaat memperhatikan wanita itu, dia terkagum dengan aura kecantikan yang dimiliki anak ini.
Pantas saja Bumi tergila-gila pada Ana. Heheh
__ADS_1
Ibu Bumi membatin sambil tersenyum kecil. Dia juga merasa tidak enak pada Ana, kenapa Bumi bisa tidak mengabari wanita ini seperti itu.
Ana masih menyiram bunga-bunganya. Setelah itu semua selesai, Ibu Bumi menaruh tempat itu di janitor rumah mereka. Dia dan Ana sekarang ada di tempat cuci tangan khusus dipekarangan.
Hari sudah menunjukan jam 6 sore, mereka pun masuk lagi kedalam rumah. Ana melihat Dongmin yang sedang bermain game di ruang tamu. Sepertinya Ana ingin pulang saja saat itu, dia merasa canggung karena tidak ada Bumi yang menemaninya.
"Bu, aku pamit pulang boleh?" Ana berbicara agak gelagapan,
"Lohh kenapa cepat sekali Ana? Ibu masih kangen, dan ingin mengobrol banyak denganmu." Ibu Bumi agak mengayunkan bicaranya.
"Maaf sekali bu, orang tuaku akan ke apartemen jadi aku harus segera pulang." Ana mengernyitkan dahi sambil mengatupkan bibirnya.
"Baiklah, tapi tunggu sebentar." Ibu Bumi agak berlari menuju ke dalam rumah.
Ana mengangguk sambil memasukan ponselnya ke dalam tas, Dongmin berdiri dan menghentikan game nya. Sekarang dia meraih kunci mobil.
"Kau mau pulang sekarang?" tanyanya.
Ana hanya nengangguk, tak lama kemudian... Ibu Bumi datang dengan dua tote bag yag Ana sendiri tidak tahu isinya apa.
"Terimakasih bu." Dia merasa malu, karena dia datang tanpa persiapan dan membawa apapun kesana.
Setelah itu Ana dan Dongmin keluar rumah, diikuti oleh Ibu Bumi yang mengantar Ana sampai depan rumah dan menunggu mereka pergi. Setelah Ana dan Dongmin pergi, ibu Bumi langsung menelepon sekretaris anaknya.
Dia menunggu beberapa saat sampai teleponnya tersambung. Setelah tersambung, tanpa basa-basi ibu Bumi langsung menanyakan kabar anaknya.
"Halo, Kenapa Bumi terburu-buru sekali tadi siang? Dia bahkan melupakan ponselnya." Ibu Bumi agak kesal, dia tidak tahu lagi harus menghubungi siapa sedangkan ponsel anak itu tertinggal.
"Halo bu, maafkan saya. Saya kurang tahu kenapa ponsel pak Bumi tertinggal, tapi untuk yang tadi, beliau memang sedang mengejar waktu keberangkatan." Sekretarisnya berusaha mencari-cari alasan yang masuk di akal.
"ck. Tapi kenapa dia tidak mengabari kekasihnya begitu? Memangnya mereka sedang bertengkar?" Ibu Bumi penasaran, walaupun Sekretarisnya bukanlah orang yang tahu segalanya tentang Bumi. Tapi ibunya yakin, wanita itu jauh lebih tahu dibanding dirinya.
"Sepertinya tidak, malahan tadi pagi Tuan Bumi buru-buru ke Hankuk untuk menemui Nona Anastasia." Sekretarisnya menjawab sebisanya.
"Kalau itu saya tahu, yasudah kalau negitu, jika ada kabar dari Bumi tolong minta dia hubungi saya langsung." Kata Ibu Bumi sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Baik bu." Jawan sekretarisnya singkat. Panggilan itu kemudian diakhiri.
Ibu Bumi berjalan ke dapur, dia duduk disana dan melamunkan alasan tentang kepergian Bumi yang terkesan buru-buru itu.
"Ada apa sebenarny?" Naluri seorang ibunya tidak bisa dibohongi. Dia tahu ada suatu hal yang membuat anaknya menjadi seperti itu.
Tapi apa?? .... Batinnya bertanya.
Ibu Bumi mendengus pelan, kemudian dia pergi ke kamarnya.
*
Diperjalanan Ana hanya mengamati pemandangan diluar jendela. Kendaraan yang masih padat terlihat menyesakkan. Entahlah, apa dia merasa sesak karena Bumi atau karena keramaian itu.
Yang pasti, dia masih menyisakan perih dihatinya. Dongmin sesekali menatap wanita itu, dia mengamati raut wajahnya yang tidak berubah sejak mengetahui Bumi pergi.
Setelah 1 jam berkendara, akhirnya Dongmin sampai mengantarkan Ana ke SeeU House. Dongmin yang belum sempat menyapa kedua orang tuanya, ingin ikut mengantar Ana sampai kedepan pintu apartemen dengan alasan tadi.
Pria itu dan Ana jalan beriringan, Ana masih menunduk tidak banyak bicara. Sesekali dia terlihat menghela nafas panjang.
"Kau harus kuat, apalagi proyek mu akan segera dilaksanakan" Kata Dongmin sambil melirik Ana.
"Oh yaampun.... Aku sampai lupa ingin memberi Minhyun sketsa patungku." Ana menepuk keningnya sendiri. Dia merasa bodoh karena tidak fokus pada proyeknya. Padahal dia sudah berjanji pada Minhyun, akan memberikannya sketsa patung yang akan mereka buat.
"Kau ceroboh sekaliiiii," Dongmin mengacak rambut Ana pelan.
"Aaah Dongmin, hentikan." Ana tersenyum, sata mereka beecanda seperti itu, pintu lift malah terbuka lebar.
Dilihatnya, ibu dan ayah Ana yang baru juga sampai di ambang pintu. Melihat candaan Dongmin dan Ana, Ibu Ana melihat mereka dengan sinis. Sedangkan ayahnya, tersenyum ramah pada Dongmin.
"Selamat malam pak, bu." Dongmin dan Ana berjalan menghampiri orang tua Ana. Pria itu memberi salam dengan menunduk sebentar.
"Selamat malam, kau yang waktu itu dipesta juga kan?" Tanya Mr.Jung.
...****************...
__ADS_1
...****************...