
Bohong sekali jika Ana tidak menyukai Dongmin, sulit untuk tidak jatuh cinta pada pria tampan dan baik seperti dia. Pasti banyak sekali wanita yang mengantri di belakang nya.
Keluarga KIK memang terkenal akan paras mereka yang tampan, bahkan sudah terkenal semenjak dari kakek buyutnya.
pasti banyak yang rela menunggu mereka untuk membuka hati.
Walaupun Ana mengakui bahwa dia menyukai Dongmin, dia tetap harus fokus pada tujuan utamanya ke Korea adalah untuk melanjutkan pendidikannya dengan serius. Supaya dia bisa membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa dia juga layak untuk dibanggakan.
Mereka memesan makanan lagi, tak lama setelah 15 menit menunggu makanan pun datang, Dongmin membukakan pintu untuk pengantar makanannya, lalu mengambil makanan itu dan langsung kembali duduk di samping Ana. Dia membuka bungkusan makanan lalu mengambil piring ke dapur,
"Anggap saja rumah sendiri ya!" Ana mengejek Dongmin, Dongmin pun tertawa sambil berjalan menuju dapur. Dia kembali dengan membawa piring besar juga gelas untuk minum soju,
Saking banyaknya makanan yang dibawakan oleh teman-temannya. Perut Ana sekarang sudah penuh bak ember berisi air. Dia melihat Dongmin yang cekatan menata makanan dan juga gelas untuk soju.
"Mari kita Makan!" Dongmin menatap Ana sambil tersenyum menyipitkan matanya.
Ting tong
Suara bel berbunyi lagi, keduanya daling bertukar tatap kebingungan. Sepertinya tidak ada orang lagi yang berencana datang ke situ.
"Siapa itu?" Tanya Dongmin sambil melahap ayamnya.
"Tidak tahu," Ana menggeleng sambil menjawab dengan lugas.
"Aku akan membuka pintunya," Dongmin berdiri lalu berjalan ke arah pintu.
"Mau apa kau kemari?" Tanya Dongmin ketus, Ana mencoba mencari tahu siapa yang datang, ternyata itu adalah Minhyun.
"Tidak baik membiarkan Ana berduaan denganmu!" Minhyun menerobos masuk.
"Minhyun, duduk dan makanlah!" Ajak Ana sambil menyeringai.
"Terimakasih untuk kalian, sudah repot-repot menemaniku" Lanjut Ana sambil tersenyum dan mengangguk.
"Aku tidak repot," ucapan mereka yang bersamaan berhasil membuat Ana tertawa.
Dongmin melihat Minhyun kesal, dia menjauhkan ayamnya dari adiknya itu, mereka nampak seperti anak kecil yang sedang berebut makanan. Tapi hal itu sukses mengundang gelak tawa Anastasia.
"Biarkan Minhyun memakannya juga!" Ana mendekatkan ayamnya ke arah Minhyun.
^^^
(Gambaran Minhyun malam itu)^^^
"Berhentilah bertengkar dan cobalah menjadi saudara yang baik untuk satu sama lain!" Ana menatap mereka berdua dengan serius.
Kedua pria itu saling bertukar tatap, mereka tidak mau membantah Ana jadi mereka menuruti kemauan wanita itu.
"Ngomong-ngomong apa kau punya keluarga disini?" Tanya Minhyun sambil meraih paha ayam di depannya.
"Punya, kakek dan nenek ku ada di Busan, sedangkan kedua orang tua ku ada di Indonesia." Ana memakan ayamnya juga.
"Mereka tidak akan peduli pada apapun yang menimpa diriku, jadi tidak perlu membahasnya. Lagipula, aku selalu menjadi anak yang tidak bisa dibanggakan," Lanjut Ana sambil dengan acuh tak acuh melahap ayam tadi.
"Tenang saja, kau punya aku. Apapun yang kau butuhkan aku akan membantumu." Dongmin tersenyum menatap wanita itu agak lama.
"Apalagi aku kan, aku lebih dekat denganmu. Jadi jangan sungkan untuk meminta bantuanku." Minhyun ikut tersenyum, mereka kemudian memakan ayamnya sambil berbincang.
"Tentu saja. Aku bersyukur dikelilingi teman-teman baik seperti kalian, Yuri, Somi, dan Ze." Ana menyeringai dengan tulus, mereka menghabiskan ayamnya sambil berbual satu sama lain.
Waktu menunjukan jam 12 malam....
__ADS_1
Minhyun melihat Ana yang dilihatnya menguap beberapa kali, kemudian pria yang peka itu meminta saudaranya juga pulang dari sana.
"Kau mengantuk?" Tanya Minhyun sambil memerhatikan wajah Ana, mata wanita itu terlihat sembab, sepertinya dia memang mengantuk.
"Lumayan hehe," Kata Ana sambil menyandarkan kepalanya ke bantal sofa yang ia pegangi.
"Baiklah kalau begitu istirahat lah! Pergilah ke kamar tidur sekarang, aku dan Dongmin akan pulang." Minhyun mengkode Dongmin agar pria itu juga ikut pulang dengannya.
"Pulang? Aku mau menemani Ana!" Dongmin bersikeras ingin tetap disana.
"Tidak bisa Ana harus segera istirahat, ayo cepat ikut aku!" Minhyun menarik lengan Dongmin untuk keluar dari apartemen itu.
"Terimakasih sudah menemaniku, sampai besok!" Ana melambaikan tangannya pada mereka berdua.
Sedangkan Minhyun masih menarik lengan Dongmin yang membrontak, keluar dari apartemen Ana.
"Lepaskan!" Dongmin melepaskan tangan Minhyun.
"Di jam seperti ini kau menyuruhku pulang?" Dongmin bernada tinggi, dia agak geram dengan Minhyun karena memintanya pulang tengah malam begini.
"Ana butuh istirahat! Ikut aku, tidur saja diapartemen ku!" Ujar Minhyun yang berjalan lebih dulu.
"Tidak mau!" Dongmin si keras kepala itu menolak ajakan adiknya.
"Terserah kau saja," kata Minhyun meninggalkan dia sendiri.
"Aku ikuuut!" Kata Dongmin sambil mengikuti Minhyun dari belakang seperti anak kucing dan induknya. Mereka pun masuk ke dalam lift untuk ke lantai 7.
Setelah sampai di depan apartemennya, Minhyun mengajak pria itu masuk. Dongmin pun melenggang masuk dan melihat ke sekeliling apartemen.
"Anggap saja apartemen sendiri, aku mengantuk." Kata Minhyun melenggang pergi meninggalkan kakaknya sendiri.
"Heh bagaimana denganku? Dimana aku tidur?" Dongmin mengernyitkan dahi.
"Di mana saja!" Minhyun menutup pintu kamarnya lalu mengabaikan Dongmin.
Pria itu kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Kemudian dia melihat foto adiknya itu bersama seorang perempuan. Dia yakin kalau itu adalah ibunya. Luka lama yang ia ingat lagi membuat ia memalingkan pandangannya dari foto itu.
Pria itupun segera menenggak segelas air yang sudah dia ambil dan kembali berjalan ke ruang tv untuk tidur disana. Dia merebahkan tubuhnya di sofa, lalu memejamkan mata.
PAGI, JAM 06.00....
Di pagi buta sekali, ponsel Ana tiba-tiba saja berdering. Wanita itu dengan mata yang masih terkantuk meraih benda persegi panjang itudiatas nakas.
"Halo," katanya sambil mengucek mata.
"Aku akan segera kesana, jadwal kita sekitar jam 8 pagi." Pria di telepon itu rupanya adalah Bumi. Ana langsung membelalak saat mendengar pria itu akan menemuinya di apartemen.
"Tidak perlu, pak. Aku akan pergi kesana sendiri." Ana gelagapan menjawab pernyataan Bumi.
"Akan lebih mudah jika kau datang bersamaku, lagipula aku tidak ingin mendengar penolakan." ujarnya dengan lugas.
tut tut tut
Suara panggilan terputus didengar oleh wanita itu, mau tidak mau dia harus mengikuti apa kata pria itu. Perkataan Bumi juga tidak salah, lagipula Bumi menjadi saksi juga atas kejadian itu.
Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa Ana merasa sedikit kesal, sayangnya dia tidak bisa marah. Karena dia juga lah, Bumi jadi terbawa masalah ini, bahkan orang sibuk sepertinya harus bolak balik kantor polisi untuk memberi keterangan sebagai saksi.
Ana segera mengirim pesan teks pada Dongmin,
^^^Dari : Ana ^^^
^^^Dongmin, pagi ini kantor polisi menginginkanku datang di jam 8, Bumi memintaku untuk datang bersamanya, ku rasa itu ide yang bagus karena akan memudahkan proses hukum ini.^^^
__ADS_1
^^^Tapi, kau tidak perlu khawatir, aku akan memberi kabar padamu nanti.^^^
Wanita itu menghela nafas panjang, dia merasa bersalah karena harus membatalkan rencananya dengan Dongmin. Tak lama, dia pun mendapatkan balasan dari pesannya.
^^^Dari : Dongmin^^^
^^^Baiklah, hati-hati dijalan dan semoga lancar. Aku juga harus berangkat bekerja, seharusnya sudah dari kemarin, ^^^
^^^api karena ada masalah jadi aku baru memulai hari ini, ^^^
^^^oh iya apa kau sudah bisa bekerja nanti?^^^
Ana membaca pesannya dengan seksama, wanita itu masih belum pukih seutuhnya. Jadi, dia belum bisa bekerja di cafe perusahaan itu. Dia juga belum tahu kapan dia siap menjalankan tugas itu.
^^^Dari : Ana^^^
^^^Kurasa aku belum bisa bekerja, ^^^
^^^ada banyak hal yang harus diurus, ^^^
^^^dan juga semoga sukses ya untukmu.^^^
Tidak sampai 10 detik laporan terbaca sudah diterima Dongmin pun membalas pesan itu secepat kilat.
^^^Dari : Dongmin^^^
^^^Terimakasih Anastasia :)^^^
Rupanya, saat pria itu mengirimkan pesan. Dia masih ada di apartemen Minhyun. Dengan muka bantalnya pria itu langsung bergegas ke kamar mandi dan membasuh wajahnya yang bening bak kristal.
Sedangkan adiknya, Minhyun sudah rapih di pagi buta seperti ini untuk berangkat ke kampus. Katanya dia ada jadwal olah raga bersama temannya di kampus.
Setelah mencuci wajahnya, Dongmin dan Minhyun beriringan keluar dari apartemen. Tidak ada yang berbicara sepatah katapun saat didalam lift. Dongmin memutuskan untuk menemui Ana dulu.
Sedangkan Minhyun akan pergi langsung ke kampus. Sesaat sudah di depan apartemen Ana, pria itu menekan belnya. Lalu dilihatnya gadis cantik berhidung tinggi dan juga rambut terikat ke belakang mengenakan mini dress berwarna hitam.
"Pagi," sapa pria itu sambil tersenyum.
"Pagi, kau belum siap ke kantor? Ini sudah jam 7 lewat." Ana melihat Dongmin dengan tatapan keheranan.
"Aku akan pulang sekarang, hehe" Dongmin menyeringai malu.
Kemudian, tibalah Bumi dengan setelan tuxedo rapih keluar dari lift . Pria yang baru sampai itupun keheranan melihat sepupunya yang masih ada disana.
"Kau belum berangkat? Aku sedang tidak dikantor jadi cepatlah kesana dan urus pekerjaanku." Bumi menyeringai, seolah sekarang dia sedang menggunakan sepupunya itu sebagai alat bantunya. Dongmin mendengus kesal.
"Baiklah, aku pergi dulu. Semoga lancar Ana, sampai jumpa." Dongmin tersenyum ke arah Anastasia. Sedangkan Bumi menyinyir memajukam bibir bawahnya ke depan.
"Cih," katanya sambil tertawa kecil.
"Ya ya ya , sudah sana pergi! Hush" Bumi mengusir Dongmin sambil tertawa, pria itu kemudian memerhatikan Ana yang ada di depannya sambil melingkarkan tangan ke dada.
"Kau sudah siap?" Tanyanya kepada Ana.
"Tunggu aku ambil tasku dulu," Ana kembali kedalam lalu mengambil tasnya, tak lama dia berjalan sambik mengeratkan tas kecil berwarna hitam di pundaknya.
Tapi tak disangka, rupanya ada seorang paparazzi yang memotret mereka saat itu.
...****************...
...****************...
__ADS_1
Kamus Author
PMS ¹ : periode menstruasi (yang sering dialami wanita)